NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Bab 18

Hutan malam itu seperti menahan napas.

Udara dingin menyelimuti kulit, menyusup sampai ke tulang, namun tubuh Bumi justru terasa panas. Bukan karena suhu—melainkan karena rasa takut yang merambat pelan, seperti racun yang tidak terlihat. Di hadapan mereka, berdiri seekor beruang coklat yang luar biasa besar. Tingginya hampir dua kali tinggi manusia, tubuhnya penuh otot tebal yang tampak jelas bahkan dalam cahaya redup senter mereka. Bulunya gelap, kusut, sebagian tampak basah oleh embun atau mungkin… sesuatu yang lain.

Bumi berdiri kaku.

Keringat menetes di pelipisnya, padahal angin malam cukup dingin untuk membuat napas mereka berembun. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia berusaha menahannya. Matanya tidak berani berpaling dari makhluk itu.

Di sebelahnya, Nuri menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak Bumi mengenalnya di dunia ini, kakaknya itu terlihat benar-benar takut.

Pam, yang berdiri di sisi lain Nuri, menatap beruang itu dengan fokus yang tajam. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, seolah siap bergerak kapan saja.

“Dia yang bawa pesawat kita?” bisik Pam, suaranya hampir tidak terdengar.

“Kayaknya…” jawab Nuri pelan, tanpa mengalihkan pandangan.

Bumi mengerutkan kening, meski situasi tidak memungkinkan untuk berpikir logis.

“Kok bisa muat ya?” gumamnya. “Pesawatnya kecil…”

“Mungkin… membungkuk?” jawab Nuri singkat.

“Beruang bisa membungkuk?” Bumi masih tidak puas, tapi juga tidak berani bersuara keras.

Pam menyipitkan mata. Ia menunjuk ke arah cakar beruang itu.

“Ada inti bumi di sana…”

Cahaya redup dari cincin di cakar beruang itu berkilau samar. Energi itu seperti berdenyut, hidup, memancarkan aura yang terasa bahkan dari jarak mereka berdiri.

“Gimana dia ngambil cincin itu dari bagian bahan bakar?” tanya Bumi lagi, kali ini lebih pelan.

Pam mengangkat bahu kecil. “Mungkin… cakarnya lentur?”

Jawaban itu jelas tidak masuk akal.

Namun di dunia ini, apa lagi yang masih masuk akal?

Nuri menarik napas dalam, mencoba menguatkan diri.

“Kita harus ambil energi inti bumi itu,” bisiknya.

Bumi langsung menoleh sedikit. “Gimana caranya?”

Matanya masih tertuju pada beruang, seolah jika ia berkedip terlalu lama, makhluk itu akan langsung menerkam mereka.

Pam berbicara cepat, pikirannya bekerja di bawah tekanan.

“Kita kepung. Kalian tangkep beruang itu, aku ambil cincinnya.”

Bumi hampir tersedak mendengar rencana itu.

“Jangan dong!” bisik Nuri cepat. “Kalau Bumi yang nangkep, kita malah mati!”

“Oke…” Pam berpikir lagi, cepat. “Kalau gitu aku sama Kak Nuri yang kepung. Bumi ambil cincinnya.”

Bumi langsung menggeleng pelan.

Itu sama saja.

“Katanya…” Bumi mencoba mengingat sesuatu, “beruang takut kalau kita terlihat lebih besar dari mereka…”

Tanpa pikir panjang, ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, berusaha memperbesar tubuhnya, lalu—

“HAAAH!”

Suara itu memecah keheningan.

Nuri dan Pam langsung menoleh ke arahnya dengan panik.

“Ssst!” Pam berbisik tajam. “Jangan gitu, nanti dia kabur!”

Bumi langsung menurunkan tangannya, wajahnya canggung.

“Terus harus gimana?” bisiknya.

Nuri menghela napas pendek, lalu dengan gerakan cepat mengambil senjata dari paha Bumi.

“Kita bunuh aja.”

Bumi langsung menahan tangannya.

“Eh, jangan!”

“Nggak ada waktu!” Nuri mencoba menarik senjata itu.

Mereka saling tarik.

Situasi jadi kacau.

Tegangan yang tadinya sunyi berubah jadi gerakan kecil yang berisik.

Dan tiba-tiba—

“STOOOP!”

Suara itu menggema.

Dalam.

Berat.

Tapi… jelas.

Mereka bertiga langsung membeku.

Perlahan, mereka menoleh ke arah beruang itu.

Pam berbisik, matanya membesar.

“Dia… bisa bicara…”

Bumi menelan ludah. Otaknya berusaha mengejar kenyataan yang terasa terlalu aneh.

“Berarti… yang naik pesawat kita bukan alien… bukan manusia… bukan mutan manusia…”

Ia berhenti.

Nuri menyelesaikan dengan suara datar, “Binatang mutan.”

Hening kembali turun, tapi kali ini berbeda.

Bukan lagi ketakutan murni—melainkan kebingungan yang aneh.

Nuri melangkah maju satu langkah. Pelan. Hati-hati.

“Kamu… bisa ngomong?” tanyanya.

Beruang itu mundur satu langkah.

Gerakannya tidak agresif.

“Iya,” jawabnya.

Suaranya berat, tapi ada sesuatu di dalamnya… sesuatu yang tidak liar.

“Kamu kenapa ngambil pesawat kami?” tanya Nuri lagi.

Beruang itu menundukkan kepala.

Gerakan itu mengejutkan.

Seolah ia… malu.

“Aku mau cari keluarga aku.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Dan tiba-tiba, hutan terasa berubah.

Bumi, Nuri, dan Pam saling melirik.

Ada sesuatu yang bergeser di dalam dada mereka.

Beruang itu kemudian duduk perlahan. Tubuh besarnya membuat tanah sedikit bergetar.

“Aku… namaku Hanoon,” katanya. “Keluargaku… hilang.”

Ia mengangkat sedikit cakarnya, cincin energi itu berkilau lagi.

“Koloni… mereka ambil semua.”

“Koloni?” ulang Bumi pelan.

“Mereka datang… bawa banyak cahaya… suara… bau aneh…” Hanoon menutup matanya sejenak, seperti mengingat sesuatu yang menyakitkan. “Aku sembunyi… tapi aku lihat…”

Suaranya bergetar.

“Mereka bawa ibu… adik… semua…”

Hutan kembali sunyi.

Tidak ada suara burung.

Tidak ada angin.

Hanya suara berat dari napas Hanoon.

“Aku nggak tahu mereka mau makan… atau pelihara…” lanjutnya pelan. “Aku cuma… mau cari mereka.”

Kata-kata itu sederhana.

Tapi beratnya terasa sampai ke dada.

Pam menunduk.

Nuri menghela napas pelan.

Bumi menggigit bibirnya.

Situasi ini… tidak lagi tentang pesawat.

Mereka menjauh sedikit, berdiskusi.

“Kalau kita bantu dia…” Bumi berbisik, “kita nggak bisa langsung balik.”

Nuri diam.

Pam berpikir.

“Aku bisa tinggal,” kata Pam akhirnya. “Kalian balik ke 2026. Aku bantu dia.”

Bumi langsung menoleh. “Sendirian?”

Pam mengangguk.

Namun Hanoon menggeleng cepat.

“Tidak!” suaranya lebih keras dari sebelumnya. “Kalau kalian pergi… kalian nggak akan balik…”

Ia mundur sedikit, lalu—duduk bersimpuh.

Seekor beruang raksasa.

Duduk seperti manusia.

Menundukkan kepala.

Dan… menangis.

Air matanya jatuh pelan ke tanah.

“Aku… selalu ditinggal…” suaranya pecah.

Pemandangan itu terasa tidak masuk akal.

Tapi justru itulah yang membuatnya… menyakitkan.

Bumi menatap Nuri.

Matanya penuh pertanyaan.

“Gimana, Kak?” tanyanya pelan. “Kita bantu dulu?”

Nuri tidak langsung menjawab.

Matanya tertuju pada Hanoon.

Pada air mata yang jatuh dari makhluk yang seharusnya menakutkan itu.

Pada rasa kehilangan yang… terlalu manusiawi.

Angin malam berhembus pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di dunia ini—

Pilihan mereka terasa… benar-benar berarti.

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!