Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 12. Bertemu
Arya berjalan perlahan memasuki kantor. Setelah mengantar Rani pulang ke Jogja dan setelah mengantarkan mobil milik Rengganis di sebuah penginapan, lelaki itu memilih untuk segera kembali ke kantor. Ia tidak ingin lama-lama mengajukan izin mengingat saat ini ia harus bekerja keras untuk bisa menabung demi menghalalkan sang calon istri.
"Tumben kamu izin, Ar. Memang dari mana kamu? Biasanya kamu itu paling anti dengan yang namanya izin."
Sambutan Krisna membuat Arya yang tengah berjalan menunduk, mulai ia angkat kepalanya. Ia tersenyum sumbang mengingat ada rasa bersalah yang bersembunyi dalam hati karena pada akhirnya ia sendirilah yang membocorkan rahasia sang bos.
"Saya mengantar pulang pacar saya ke kotanya, Pak. Jadi saya harus izin."
"Loh kamu sudah punya pacar?" tanya Krisna sedikit terkejut. "Memang pacarmu orang mana?" sambung Krisna ingin tahu.
"Orang Jogja, Pak."
"Wah, wah, ternyata dunia sempit sekali ya, sampai-sampai orang yang menjadi kepercayaanku akan mendapatkan orang Jogja," ucap Krisna terkekeh kecil.
"Betul Pak, dunia memang sempit. Saking sempitnya sampai saya baru tahu kalau pacar saya itu bekerja di toko kue milik istri Pak Krisna."
Krisna sedikit terhenyak. "Hah, kamu kok bisa tahu kalau istriku punya toko kue Ar? Perasaan aku belum pernah cerita."
Arya menghela napas dalam untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Kali ini ia harus jujur kepada sang bos jika rahasianya sudah terbongkar di hadapan sang istri pertama.
"Bagaimana saya tidak tahu Pak? Kemarin lusa pacar saya datang kemari bersama istri Bapak, bu Rengganis."
Kedua bola mata Krisna membulat penuh. "Apa? Rengganis datang ke sini bersama pacarmu dan menemuimu?"
"Iya Pak."
"Jadi, itu artinya, sandiwara yang kamu mainkan pada saat aku video call itu sudah terbongkar?" tanya Krisna menegaskan.
Arya menganggukkan kepala. "Betul Pak, mau tidak mau saya harus membongkar semuanya. Jika tidak, maka hubungan saya dengan pacar saya yang akan menjadi korban."
Bibir Krisna membulat penuh. "Itu artinya saat ini Rengganis sudah mengetahui bahwa aku memiliki istri kedua?"
"Benar Pak, istri Bapak bu Rengganis sudah tahu jika Pak Krisna memiliki istri kedua yang tengah hamil."
"Duh, duh, bagaimana ini?"
Mendadak kepala Krisna terasa teramat pusing. Ia memijit pelipis mencoba membuang rasa pening yang terasa. Tubuhnya seakan melemas seketika. Lelaki itu sedikit terhuyung lalu cepat-cepat ia tarik kursi plastik yang ada di dekatnya. Ia pun terduduk di atas kursi plastik itu seraya mengatur napasnya.
"Maafkan saya ya Pak. Saya benar-benar terdesak. Jika saya tetap menjaga rahasia Bapak, maka hubungan saya yang akan kandas. Saya tidak mau hal itu terjadi Pak. Karena saya sudah terlanjur cinta sama pacar saya. Saya tidak mau kehilangannya."
Krisna paham dengan apa yang disampaikan oleh Arya. Bagaimanapun juga hubungannya dengan sang kekasih yang harus dia jaga juga ia pertahankan. Terlebih kebohongan seperti ini pastinya akan ketahuan seiring waktu berjalan. Namun Krisna tidak menyangka jika akan secepat ini terbongkar semua.
"Tunggu, kamu tadi mengatakan jika kamu mengantar pacarmu pulang ke Jogja. Itu artinya Ganis tidak kembali ke Jogja?"
Arya mengangguk. "Betul Pak."
"Lalu, menginap di mana ia sekarang?"
"Di salah satu penginapan yang ada di pusat kota, Pak."
"Lantas, menurutmu apa yang akan dilakukan Ganis, Ar?"
"Saya tidak tahu, Pak," ucap Arya seraya mengedikkan bahu. "Tapi menurut saya, bu Ganis akan menemui Dinda untuk menyelesaikan semuanya."
Krisna dibuat terkejut dengan apa yang menjadi analisa Arya. Lelaki itu beranjak seketika dan segera melenggang pergi meninggalkan kantor.
Arya hanya menatap punggung sang boss dengan tatapan penuh kebingungan seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Ternyata memiliki istri dua sungguh membuat pusing tiada terkira," ucap Arya lirih.
****
Taksi online yang membawa tubuh Ganis berhenti di depan rumah mewah yang berada di pinggiran kota. Rumah modern dengan desain Skandinavia seakan menjadi satu bukti jika rumah ini dibangun dengan konsep yang sangat matang. Rumah yang berawal dari sebuah mimpi besar, di mana rumah ini akan menjadi tempat berteduh dan tempat untuk bercengkrama di hari tua.
Ganis turun dari taksi online yang membawanya. Setelah semalaman menepi di salah satu penginapan yang ada di kota ini, Ganis memutuskan untuk mendatangi rumah miliknya yang saat ini ditinggali oleh istri simpanan sang suami.
Untuk sejenak, ia berdiri di depan halaman. Mencoba menata hati untuk memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti setelah bertemu langsung dengan orang-orang yang telah membuat luka di hatinya. Luka yang entah bagaimana caranya untuk sembuh dan kembali seperti sedia kala.
Ganis mengayunkan tungkai kaki. Di depan pintu tangannya terangkat seperti seorang tamu yang akan mengetuk pintu namun buru-buru ia urungkan niatnya. Ia dorong pintu itu dan ternyata tidak terkunci. Dengan langkah pelan dan santai, Ganis mengitari setiap ruangan yang ada di lantai bawah. Air matanya menetes setelah tersadar jika rumah impian di hari tuanya ini sudah di tempati oleh wanita lain.
Ganis duduk santai di atas sofa yang berada di ruang tengah. Matanya fokus pada gawai di genggaman tangan sembari berselancar di dunia maya. Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru ruangan dan ia pun hanya berdecak pelan.
"Rumah berpenghuni mengapa terlihat kotor sekali?" decak Ganis ketika melihat kondisi rumah yang nampak kotor ini. Bahkan debu-debu banyak yang menempel di permukaan perabotan yang terbuat dari kayu.
"Itu sudah pasti Din. Kamu harus segera mencari pembantu agar kamu tidak kerepotan membersihkan dan beres-beres rumah sebesar ini."
"Iya Ma, aku juga sudah meminta mas Krisna untuk mencarikan pembantu. Biar aku tidak terlalu capek."
"Roda benar-benar berputar ya Din. Sekarang posisi kita ada di atas. Kita yang biasa hidup susah, kini bisa jadi majikan dengan memiliki pembantu."
Sayup-sayup terdengar suara dua orang yang tengah bercengkrama sembari menuruni anak tangga. Ganis menghentikan aktivitasnya sejenak namun tidak menoleh ke arah sumber suara. Ia yakin jika salah satu dari dua orang yang tengah mengobrol itu adalah Dinda. Ia biarkan dua orang itu sadar dengan sendirinya bahwa ada pemilik rumah ini yang tengah mendatanginya.
"Iya Ma, aku juga tidak me.... Hah!!! Siapa kamu? Kenapa kamu ada di rumahku?"
Dinda berteriak lantang ketika melihat ada sosok wanita yang sedang duduk santai di ruang tengah. Ia dan sang ibu bergegas menghampiri wanita asing yang masih saja memunggunginya ini.
"Siapa kamu? Mengapa kamu masuk ke dalam rumahku tanpa permisi?" teriak Dinda di belakang punggung Ganis.
Ganis membuang napas kasar kemudian beranjak dari posisi duduknya dan ia pun berbalik punggung. Kini, ia berhadapan langsung dengan Dinda juga Rika.
"Tak ada kewajiban bagiku untuk mengucap salam masuk ke dalam rumahku sendiri. Harusnya aku yang bertanya, siapa kalian? Mengapa kalian masuk kemari tanpa izin dariku?"
Dahi Dinda dan Rika sama-sama berkerut. Seperti tidak paham dengan apa maksud yang dibicarakan oleh wanita asing ini.
"Siapa kamu? Mengapa kamu sangat tidak sopan seperti ini?" tanya Rika sedikit gemas.
Ganis tersenyum sinis. Sepertinya dua orang ini belum tahu jika ia adalah istri pertama Krisna.
"Aku Rengganis, istri sah mas Krisna!"
Ceklekkk....
"Sayang, kamu di sini?"
Panggilan sayang dari seorang laki-laki yang muncul dari pintu depan membuat Ganis dan Dinda sama-sama menoleh ke arah sumber suara.
"Mas Krisna...." ucap Ganis dan Dinda bersamaan.
.
.
.