Wanita modern yang bertransmigrasi ke dalam sebuah novel kuno. Berjuang dari nol sampai akhirnya menjadi immortal, bagaimana kisahnya? Ikuti terus perjalanannya!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluhenam
“Di zaman ini ada sekolah ngga sih? eh Ziang pernah ngomong katanya umur Zhao udah terlambat buat masuk sekolah ya? kasian banget.” Gumam Jessy dengan bahasa santai.
“OCOONGGG.” Teriak Jessy.
Clinggg\~
“Saya di sini nona, ada yang perlu saya lakukan?.” Ocong datang masih memakai celemek penuh susu, dia tadi sedang memerah susu sapi.
“Ah maaf mengganggu pekerjaan mu, Ocong apa mustahil bagi Zhao untuk mendapatkan pendidikan seperti anak seusianya?.” Tanya Jessy.
“Ya, tuan muda sudah sangat terlambat karena biasanya akademi di mulai dari usia 8 tahun.” Jawab Ocong.
“Itu di zaman mu kan?.” Jessy curiga itu aturan ketinggalan zaman.
“Di zaman ini pun masih sama nona, tapi jika nona ingin memasukan Tuan muda ke akademi bisa melalui turnamen terbuka dari akademi besar. Biasanya setiap tahun mereka mengadakan turnamen terbuka untuk mencari anak berbakat, jika Tuan muda terpilih maka bisa masuk akademi melewati jalur itu.” Ucap Ocong.
“Turnamen terbuka akademi besar? memangnya dimana akademi besar itu?.” Jessy penasaran.
“Di wilayah Changhai, di sana di kenal sebagai wilayah terpelajar karena pendidikan di sana sangat maju.” Ucap Ocong.
“Changhai? itu kekaisaran?.” Tanya Jessy.
“Bukan, itu wilayah yang lokasinya berada di tengah perbatasan bebas. Wilayah yang di apit empat kekaisaran besar, tempat itu tadinya wilayah aman tapi tidak memiliki pemimpin. Banyak imigran yang mulai tinggal di sana dan membentuk kota besar, orang-orang terpelajar yang memulai pendidikan pertama dari sana. Orang paling terpelajar di kota itu di sebut Pemimpin kota, dia lah yang berperan penting dalam perkembangan wilayah itu.” Ucap Ocong.
“Wahh kota terpelajar ya, terdengar hebat sekali. Apa ada banyak anak bangsawan yang belajar di sana?.” Tanya Jessy.
“Benar, para pangeran dan putri juga bersekolah di sana. Karena harga yang mahal serta lokasi yang jauh, hanya orang-orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya di sana.” Ucap Ocong.
“Sejauh apa?.” Jessy penasaran.
“Dari sini wilayah Changhai itu berada di ujung paling selatan perbatasan, saat ini kita berada di ujung paling utara kekisaran Ruan. Jadi perlu waktu setidaknya satu bulan untuk bisa sampai ke selatan dengan naik kereta kuda, dari perbatasan selatan sampai ibu kota Changhai memerlukan waktu dua minggu karena wilayah itu berada di perbukitan.” Jelas Ocong.
“Sejauh itu?.” Syok Jessy.
“Yahh memang, untuk biaya perjalanan saja psti mahal. Biaya masuk dan lain-lainnya juga tidak mungkin murah.” Ucap Ocong.
“Tapi di sana mungkin pilihan yang tepat, apa kau tau kapan turnamen terbuka akan di gelar?.” Tanya Jessy.
“Biasanya saat musim panas.” Jawab Ocong.
“Kalau begitu tolong caritahu ya, aku akan membicarakan ini dengan Ziang malam nanti.” Jessy menemukan jalan keluar.
“Baik nona.” Ocong pamit kembali ke kandang sapi.
Sore hari saat matahari mulai terbenam, Ziang dan Zhao pulang membawa ratusan orang yang entah budak atau pendekar. Sepertinya Ziang mencari mereka dari banyak tempat, Ziang dan Zhao juga terlihat lelah.
Setelah makan malam Zhao langsung tidur di kamarnya karena lelah, Ziang dan Jessy menyempatkan untuk mengobrol sebelum tidur. Karena Jessy sudah tidak tahan untuk membicarakan soal Changhai.
“Dulu Kakakku bersekolah disana, memang dia jadi memiliki potensi dan kekuatannya berkembang dengan baik. Hanya saja dia bertemu dengan teman yang buruk, dia jadi suka bermain wanita dan minum-minum karena pengaruh dari teman-temannya. Aku hanya mendengar kisah itu dari oranglain karena aku belum lahir saat Kakakku berada di akademi itu.” Jujur Ziang.
“Lalu kau bersekolah dimana?.” Tanya Jessy.
“Akademi umum di kekaisaran Mo.” Jawab Ziang.
“Bukankah itu tidak adil?.” Heran Jessy.
“Memang biasanya yang bersekolah di sana adalah para pewaris, entah pewaris tahta atau pewaris perusahaan keluarga. Intinya biaya di sana tidak murah, jadi hanya anak pilihan yang bisa masuk ke sana.” Ucap Ziang.
“Ohh semacam investasi ya, memberikan pendidikan yang mahal dan terjamin berharap mereka akan menjadi pemimpin yang lebih baik. Bukan keputusan yang buruk sih, tapi bagaimana? apa menurutmu Ziang bisa masuk ke sana?.” Tanya Jessy.
“Kau ingin dia berpartisipasi dalam turnamen terbuka?.” Tebak Ziang.
“Ya.” Jessy mengangguk semangat.
“Musim panas dua bulan lagi, dengan kekuatan Zhao saat ini seharusnya dia bisa menang dengan mudah.” Ucap Ziang mendukung.
“Baiklah kalau begitu___
“Tapi apa mentalnya sudah siap?.” Tanya Ziang.
“Itu.. seharusnya dia bisa kan?.” Jessy jadi kepikiran.
“Saat bersama kita saja dia terkadang mengalami kesulitan dan kita perlu membantunya. Tapi saat di sana, dia harus hidup dalam asrama yang jauh dari orangtua. Apa dia akan baik-baik saja?.” Ziang cukup khawatir.
“Lebih baik kita bertanya saja pada Zhao besok, keputusan ada di tangannya. Kita hanya perlu memberikan dukungan apapun yang dia inginkan.” Putus Jessy.
“Itu pilihan terbaik.” Ucap Ziang.
Akhirnya Ziang dan Jessy memutuskan untuk bicara dengan Zhao, biarkan anak itu sendiri yang memutuskan. Jessy tidak ingin memaksa anak sesuai keinginan nya, setiap anak memiliki mimpi dan keinginan yang berbeda-beda.
Esok harinya saat sarapan Jessy langsung memberitahu Zhao mengenai Changhai. Dia menceritakan semua yang dia tahu dan ingin tau apakah Zhao ingin pergi ke sana atau ada tempat lain yang sudah Zhao impikan selama ini.
“Ayah dan Ibu tidak akan memaksa, pilihan ada ditanganmu.” Ucap Jessy.
“Apa di sana aku akan bertemu banyak teman?.” Tanya Zhao.
“Ya, di sana ada banyak sekali macam teman. Ada yang baik, licik , buruk, sangat buruk dan sampah. Kau harus berhati-hati dalam memilih teman, tapi disana kau bisa berkembang dengan pesat karena bertemu dengan anak-anak seuisamu.” Ucap Jessy.
“Apa itu jauh?.” Tanya Zhao.
“Ya tempatnya memang sangat jauh.” Jessy tau Zhao pasti akan menolak karena tidak mau jauh dari rumah.
“Kalau begitu aku ingin masuk ke sana.” Jawab Zhao.
Eh?
Loh?
“Kau serius?.” Kaget Jessy.
“Kau harus tinggal di sana sampai lulus.” Ucap Ziang.
“Yaa, itu tidak masalah. Aku ingin jadi kuat seperti Ayah, aku ingin tahu apakah aku bisa menjalani hidup tanpa bantuan kalian.” Ucap Zhao.
“Zhao, Ibu menginginkan pendidikan terbaik untukmu bukan Ibu ingin jauh darimu.” Jessy takut Zhao salah paham.
“Aku mengerti Ibu, aku ingin menjadi kuat dan bersaing dengan mereka semua.” Ucap Zhao tegas.
“Kalau begitu persiapkan dirimu, karena turnamen terbuka akan di mulai tiga bulan lagi. Setelah turnamen selesai, jika kau menang maka akan ada surat panggilan yang datang 2 bulan setelahnya.” Ucap Ziang memberitahu.
“Lalu bagaimana dengan umurku?.” Zhao tidak mau bertambah umur, tapi itu akan aneh di mata orang lain.
“Bagaimana jika kau mulai dari usia 10 tahun?.” Jessy memberikan usul.
“Tapi aku tidak mau jadi kecil.” Zhao tidak mau.
Ziang dan Jessy hanya bisa menggaruk kepalanya bingung, bagaimana jalan keluarnya? Zhao tidak mau jadi anak kecil tapi juga tidak mau bertambah tua.
Season 2 aku tunggu❤
mosok ceritane Podo Karo Yuwen biyen? reinkarnasi maneh .