Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRAMA PENCULIKAN
Ayahnya, Jendral Gondesh bisa memberi kebebasan padanya kali ini. Dia bisa berlibur di negara tetangga kali ini karena merayakan ulang tahunnya yang ke-17.
Dia senang sekali. semua temannya sebanyak 100 orang yang diundang ekslusif bukanlah sembarang teman, mereka adalah influencer, artis ternama, dan beberapa teman sekolahnya, begitu juga lima orang sepupunya juga hadir.
Belum lagi pengawal yang diutus ayahnya, 10 orang, serta pengawal khusus dari presiden, karena dia adalah calon mantu presiden nantinya.
DOR!!!
Tiba-tiba ruangan berubah menjadi area peperangan, tembok yang menaungi jendela hancur porak-poranda, begitu juga pintu di tempat acara ultahnya berlangsung. Hancur.
Sepuluh orang yang bekerja di ruangan itu mati terkapar, 10 orang pengawal yang berjaga di depan pintu mati bersimbah darah. Para tamu berhamburan, berlari. Ada yang terinjak, ada yang pingsan karena ketakutan, dan Belinda adalah gadis yang histeris melihat kejadian itu.
Dia tidak pernah menyaksikan kejadian itu. bahkan di dalam rumahnya pun, Chanel tv kabel atau Chanel siaran tv resmi, tidak diperkenankan ditonton Belinda bila ada unsur kekerasan atau peperangan dalamnya. apalagi melihat kejadian mengerikan seperti itu di depan matanya.
Dia merunduk, dia histeris, Patricia bersimbah darah, di sampingnya.
"Patriciaaa...akuuu takut!" - Belinda
Belinda melihat Patricia sudah bersimbah darah di lantai begitu juga peran anggota busana, serta temannya yang lain.
"Bangun!!!" - Belinda
Dia mengguncang-guncang badan Patricia yang berlumuran darah. Dua orang pengawal yang terluka berusaha menyelamatkannya.
Mereka menariknya dan melindunginya dari rongrongan peluru yang entah datang dari mana. Karena banyaknya rentetan peluru, mereka akhirnya KO juga.
Belinda makin histeris. Di sebelahnya Afgazindro, ketakutan.
Dari luar muncullah Bram, membawa senapan besar, dan puluhan kaki tangannya memberondong masuk.
Bram menginstruksikan kaki tangannya membawa Belinda keluar dari tempat itu.
Orang-orang di hotel itu tidak ada yang berani mendekat. Mereka keluar hotel dengan ketakutan, berteriak, dan histeris.
Mereka bisa menebak bahwa telah terjadi kegaduhan yang ditimbulkan siapa lagi kalau bukan oleh Bram si pembunuh bayaran.
Belinda diangkat oleh kaki tangannya,dengan satu tangan mereka menggotongnya di punggung seakan mengangkat sekarung beras. Ia diangkat dan dipaksa ikut.
Belinda meronta-ronta.
Ia ketakutan.
Pengawal Belinda yang tersisa melawan kaki tangan Bram. Mereka tahu akan dapat hukuman penggal bila tidak berhasil menyelamatkan anak jendralnya.
"Dorrrrr....Dorrrrrr"
Selongsong peluru, tiada henti, bunyi letusan senapan mengema berulang-ulang. Bram dan kaki tangannya berhasil masuk ke mobil yang diparkir di depan Hotel Xandrilla.
Mereka membawa Belinda dalam mobil yang melaju kencang.Belinda meronta-ronta. Ia berusaha melepaskan ikatan tangannya. Ikatan itu Belinda tidak kuasa untuk bergerak.
Gaunnya berwarna coklat terkena noda darah. Darah Patricia dan beberapa pengawalnya.
Dia menatap ketakutan pada Bram.
Dia takut sekaligus marah.
Bram yang duduk di sebelahnya melihat dengan tatapan tajam. Belinda beranjak menjauh, dia menjarakkan badannya ke arah kaca. Belinda menghentakkan badannya ke pintu mobil, lalu berusaha membuka pintu dengan dorongan badannya.
Tidak mungkin memang.Badannya yang kecil itu tidak akan bisa membuka pintu mobil yang kokoh.
Itu membuat Bram menjadi terganggu. Ia melihat ke arah Belinda.
Belinda dilihatnya seperti anak kecil yang sedang merajuk meminta dibelikan permen pada ayahnya lalu memaksa meminta membuka pintu mobil.
Dia melihat sekilas lagi, baju Belinda tersingkap, gaunnya naik ke atas paha, kulit pahanya yang putih menggoda imannya. Bram berusaha menutupnya.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆