NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Malam Kedua Dan Setiap Malam

"Astaga... Bunda kenapa membelikan pakaian-pakaian seperti ini?"

Suara keheranan Kharisma rasanya terlalu berlebihan. Tapi nyatanya, itulah yang gadis itu lakukan.

Memandangi pakaian-pakaian yang dibelikan oleh Bunda Nada siang tadi, yang tentu saja sangat kontras dengan pakaian-pakaian yang biasa ia kenakan.

Jika Kharisma biasanya mengenakan gaun-gaun panjang berwarna cerah yang mencerminkan kepribadiannya sendiri, maka pakaian-pakaian ini adalah lawan dari kepribadiannya yang manis.

Kata Bunda, semua ini harus digunakan setiap malam. Jadi, kalau siang-siang apakah tidak boleh? Kharisma jadi bertanya-tanya.

Semuanya rata-rata adalah gaun tidur berbahan tipis yang Kharisma khawatirkan bisa robek bahkan jika disentuh dengan hati-hati.

Kainnya terasa nyaman jika disentuh. Tapi Kharisma yakin bahwa jika ia menggunakan semua gaun tidur ini, sama saja dengan ia bertelanjang diri.

Kharisma melipat semua pakaian barunya di sofa, membiarkan tas-tas belanjaan dari berbagai macam merek tergeletak begitu saja pada lantai yang dialasi oleh karpet merah.

"Pakai yang mana, ya? Apa Mas Prabu marah jika aku menggunakan pakaian seperti ini?"

Kharisma mengetuk dagu, bibirnya mengerucut bingung. Dia memandangi tiga gaun tidur yang dianggapnya paling cantik diantara yang lainnya.

Yang pertama berwarna putih polos dengan jaring-jaring yang menjuntai. Tapi tak ada bagian lain yang mampu menutupi bagian bawahnya jika mengenakan yang satu itu. Lalu di tengah-tengah ada yang berwarna biru tua, terlihat lebih gelap tapi juga tak kalah terbuka. Terakhir ada yang berwarna merah cerah, begitu mencolok jika dipadukan dengan seprei pucat di tempat tidur.

Ayolah, Kharisma benar-benar bingung. Semuanya indah.

Setelah melalui pertimbangan yang cukup panjang, Kharisma akhirnya memutuskan untuk mengenakan yang putih saja.

Menurutnya, akan samar-samar jika menyatu dengan seprei tempat tidur. Bahannya juga paling nyaman menurutnya.

Kharisma melipat gaun tidur lainnya dengan senyum simpul di bibir, meletakkan mereka dengan hati-hati ke dalam lemari lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

...***...

Hamil. Anak. Pewaris. Laki-laki.

Semuanya yang menekan di kepala membuat Prabujangga pening sendiri. Percakapannya dengan sang ayah tentu saja menyimpulkan satu hal yang bisa langsung disederhanakan.

Istri dari sepupunya hamil, dan itu berarti dia bisa mengancam posisi Prabujangga untuk memberikan cucu laki-laki pertama di keluarga ini. Cucu laki-laki pertama yang akan menjadi jembatan baginya untuk meraih perhatian sang kakek. Sang Tuan besar Wimana.

"Dua bulan," Prabujangga mengulangi kata-kata itu lagi.

"Usia kandungan wanita itu sudah dua bulan, dan perlu tiga bulan lagi untuk mengetahui jenis kelaminnya."

Prabujangga mengalihkan pandangan pada jendela yang terbuka di ruang kerja pribadinya. Selain di kantor, di Mansion ini pula ia memiliki ruangan pribadi untuk bekerja.

Bukankah itu cukup untuk membuktikan bahwa tak ada hal lain yang Prabujangga lakukan selain bekerja?

Dia lantas kembali memperhatikan benda di hadapannya, yang beberapa saat lalu ia minta Meara membelinya setalah ia kembali dari ruangan sang ayah.

Sebuah botol berisi gel bening yang Prabujangga tak terlalu hiraukan mereknya. Yang ia tau adalah benda itu akan membantunya malam ini untuk mengejar ketertinggalan yang semakin mendekatkannya pada kegagalan.

Sebuah pelumas.

Sesuai artikel tak penting yang Prabujangga baca, benda itu bisa meringankan rasa sakit saat bercinta.

Seharusnya ia tak repot-repot untuk membaca artikel semacam itu dan membeli benda ini. Tapi setelah melihat seberapa parah luka yang ia sebabkan pada sang istri setelah malam pertama membuat rasa kemanusiaan sedikit tumbuh di dalam dirinya.

Meskipun biasanya tidak.

Prabujangga mana mau repot-repot memikirkan rasa sakit orang lain?

Prabujangga menghela napas lantas meraih botol itu dan memasukannya dengan santai ke dalam saku celana. Dia melangkah mendekati pintu dengan tujuan yang jelas.

Kamar.

Meskipun Kharisma kesakitan, Prabujangga tak bisa menunda waktu lagi.

Dalam sekejap kini ia berhenti, mendorong pintu kamar yang tidak dikunci.

Ekspektasi Prabujangga setelah membuka pintu adalah pemandangan sang istri yang berada di atas ranjang, tapi nyatanya ia tak bisa melihat perempuan itu di tempat ini sekarang. Hanya ada tas-tas belanjaan kosong yang berserakan di lantai.

Tepat saat ia hendak melangkah lebih jauh ke dalam kamar, tiba-tiba suara kusen pintu yang diputar terdengar dari arah kamar mandi. Itu langsung menarik perhatiannya.

"Wahh—"

Beo kekaguman Kharisma seketika berhenti begitu mendapati sosok Prabujangga yang berdiam diri sembari memandanginya.

Prabujangga tak menyadari napasnya yang berhenti sepersekian detik kala memandangi penampilan Kharisma yang muncul dari balik pintu.

Rambut hitam panjang tergulung berantakan, tali gaun tidur yang terlalu tipis mengekspos selangka, dan dilanjutkan pula kain berenda yang menjuntai hingga paha. Kainnya transparan, menampakkan jelas tubuh polos di baliknya yang tanpa dalaman.

Tonjolan di tenggorokan Prabujangga bergerak-gerak.

"Di mana kamu mendapatkan pakaian seperti itu?" Prabujangga tak menyadari suaranya yang berubah serak.

Dia melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapan Kharisma yang jauh lebih kecil. perempuan itu menunduk, bibirnya sedikit mengerucut, sementara tangannya terjalin gugup di pangkuan.

"Dari bunda, Mas," Kharisma menjawab dengan nada berbisik.

"Mas Prabu kenapa menatap seperti itu?" Kharisma memberanikan diri untuk mendongak, menatap tampang lempeng Prabujangga. "Tidak indah ya, gaunnya?"

Prabujangga memejamkan mata sejenak, entah mengapa jengkel sekali dengan tingkah polos mendekati bodoh dari istri mudanya ini.

"Lepaskan."

Kharisma mengerjap. "A-apa?"

"Lepaskan gaun itu," ulang Prabujangga dengan penekanan.

"Tapi kenapa harus dilepas? Mas Prabu tidak suka?" Kharisma bertanya dengan raut mukanya yang tiba-tiba saja berubah kecewa.

Prabujangga menelan sabar dibuatnya.

Apakah perempuan itu berharap agar Prabujangga memujinya? Mengatakan bahwa gaun tidur konyol itu membuatnya terlihat seperti tuan putri?

"Jika saya menyuruh kamu untuk melepaskannya, itu berarti kamu harus melepaskannya tanpa harus banyak bertanya," bentaknya kehabisan rasa sabar.

Saat Kharisma tak kunjung bergerak dan justru memandanginya dengan tampang bodoh, Prabujangga dengan geram langsung meraup pinggang kecil istrinya hingga sang empunya memekik kaget. Dia membawa perempuan itu kembali ke kawasan kamar mandi.

"Mas Prabu!"

Kharisma secara naluriah melingkarkan tangannya di leher Prabujangga, kakinya melayang di atas marmer basah kamar mandi karena Prabujangga mengangkat tubuhnya.

"Sepertinya telinga dan otak kecilmu itu memang bermasalah. Saya menyuruhmu untuk melepaskan pakaian konyol itu tapi kamu hanya berdiri diam dan memandangi saya seperti seorang balita." Prabujangga mendudukkan tubuh Kharisma di tepian wastafel, di mana cermin bundar menempel di hadapannya.

"T-tapi kenapa? Kan bunda yang membelikan ini," tanya Kharisma, memandangi penampilannya sendiri dan tak melihat ada hal yang salah.

"Saya tidak peduli siapa yang membelikan, di sini saya hanya menekankan bahwa kamu akan melakukan apapun yang saya perintahkan tanpa bertanya." Prabujangga mengeratkan lengannya pada pinggang Kharisma, tak memperdulikan gaun tidur tipis yang mengkerut di bawah sentuhannya. "Kamu tidak akan menggunakan pakaian-pakaian seperti ini lagi dihadapan saya ataupun orang lain."

Kharisma menekuk bibir. "Iya, Mas Prabu," gumamnya menurut.

Tak lagi menanggapi, Prabujangga tanpa aba-aba sedikit mengangkat pinggang Kharisma dan menyingkap bagian bawah gaun tidur perempuan itu.

Kharisma kelimpungan, gugup kembali menyerang karena tindakan Prabujangga yang tiba-tiba. "M-mas Prabu sedang apa?"

Prabujangga tak menjawab, tangannya mengeluarkan botol pelumas yang telah ia simpan di saku celana, membuka penutupnya dengan satu jentikan.

Dia melipat lengan kemejanya hingga mencapai bawah siku, lalu menuangkan gel bening itu pada dua ruas jari.

"Mas Prabu—" Suara Kharisma tercekat, otot-ototnya menegang karena sensasi dingin dari gel yang dioleskan Prabujangga pada area kewanitaannya yang masih terasa perih.

"Masih terasa sakit?" Prabujangga memperhatikan garis-garis wajah istrinya yang meringis. Jarinya bergerak perlahan mengoleskan pelumas pada kulit yang sebelumnya memerah dan bengkak.

Kharisma mengangguk.

"Tidak akan menyakitkan seperti kemarin jika kamu tidak membuat saya kesal," Prabujangga berbisik, matanya turun menatap bibir istrinya yang cemberut menahan sakit.

"M-mas ingin melakukan... yang seperti kemarin?" tanya Kharisma begitu polos, tak ragu-ragu langsung mendapatkan anggukan dari Prabujangga.

"Setiap malam," bisiknya dengan nada rendah, "saya akan melakukan hal seperti kemarin malam sampai kamu mengandung anak saya."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!