Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengajian Pagi dan Tatapan Santri
Pagi di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah datang dengan suara ayam berkokok dan adzan Subuh yang berkumandang merdu.
Raina terbangun dengan mata bengkak karena menangis semalam. Kepalanya terasa berat, tubuhnya pegal karena kasur lipat yang keras. Ia melirik jam dinding kecil di kamar — masih pukul 04.30.
“Ugh… ini beneran neraka,” gumamnya pelan sambil menarik selimut menutupi kepala.
Tapi tak lama kemudian, pintu asrama mulai ramai. Suara langkah kaki santriwati yang bergegas ke masjid terdengar jelas. Beberapa orang berbisik-bisik di koridor.
Raina menghela napas panjang. Ia tahu kalau ia tidak ikut pengajian pagi, Bu Nyai atau Gus Haris pasti akan datang menjemputnya. Dengan enggan, ia bangkit, mencuci muka sekilas, dan mengenakan kemeja hitam yang sama kemarin ditambah jaket tipis.
Ketika ia keluar kamar, koridor asrama sudah cukup ramai.
Beberapa santriwati yang berusia sekitar 18–22 tahun berjalan beriringan sambil membawa Al-Qur’an dan mukena. Mereka memakai gamis panjang dan kerudung rapi. Begitu melihat Raina dengan rambut pendek terurai, kemeja hitam, dan rok hitam pendek, hampir semua langsung berhenti sejenak dan menatap.
“Ya Allah… itu yang baru kemarin ya?” bisik salah seorang santriwati dengan suara pelan tapi masih terdengar oleh Raina.
“Iya, katanya namanya Raina. Pakaiannya… bold banget.”
Raina berhenti melangkah. Dagunya terangkat tinggi, mata birunya menyipit tajam.
“Lo pada ngomong apa? Mau bilang sesuatu langsung aja, jangan bisik-bisik kayak pengecut,” katanya dengan suara keras dan bandel.
Koridor langsung hening. Beberapa santriwati mundur selangkah, ada yang menunduk takut, tapi ada juga yang menatap Raina dengan ekspresi tidak suka.
Seorang santriwati yang agak tinggi dan berkerudung cokelat mendekat. Namanya Sinta, salah satu santri senior yang cukup dihormati.
“Di sini biasanya santri pakai pakaian yang lebih sopan, Mbak. Bukan maksud apa-apa, tapi biar tidak mengganggu konsentrasi pengajian,” kata Sinta dengan nada yang sopan tapi tegas.
Raina tersenyum sinis.
“Oh, jadi sekarang aku yang mengganggu? Gue cuma pakai baju biasa. Kalian yang terlalu sensitif. Kalau nggak suka, ya jangan dilihat.”
Beberapa santriwati lain mulai berbisik lagi.
“Astaghfirullah… mulutnya kasar banget.”
“Gimana bisa dijodohkan sama Gus Haris ya? Kasihan Gus…”
Raina mendengar bisikan itu dengan jelas. Dadanya panas. Ia melangkah mendekati kelompok itu, sikapnya seperti preman kecil yang siap berkelahi.
“Kasihan? Lo pada kasihan sama siapa? Sama gue atau sama calon suami gue itu?” tantang Raina dengan suara lantang.
“Kalau lo pada nggak suka sama gue, bilang langsung. Jangan ngomong di belakang punggung kayak gini. Gue nggak takut sama kalian semua.”
Suasana semakin tegang. Sinta mencoba menengahi.
“Mbak Raina, kami nggak bermaksud jahat. Ini pesantren, tempat belajar. Kami hanya ingin semuanya nyaman.”
Raina hendak membalas lagi ketika suara lembut yang sudah familiar terdengar dari ujung koridor.
“Raina.”
Gus Haris muncul dengan langkah tenang. Ia memakai koko putih bersih dan peci hitam. Wajahnya tetap tampan dan sabar seperti biasa.
Semua santriwati langsung menunduk hormat dan memberi salam.
“Assalamualaikum, Gus…”
Gus Haris menjawab salam mereka dengan lembut, lalu menatap Raina dengan sorot mata yang hangat.
“Ayo ikut pengajian Subuh dulu. Nanti kita bicara pelan-pelan,” katanya tanpa nada marah sedikit pun.
Raina menggigit bibir. Ia ingin melanjutkan pertengkaran, tapi kehadiran Gus Haris membuat amarahnya sedikit surut. Dengan kesal, ia mengikuti Gus Haris menuju masjid perempuan tanpa bicara lagi.
Di masjid, Raina duduk di barisan paling belakang.
Ia tidak memakai mukena, hanya duduk dengan tangan bersedekap. Saat pengajian dimulai, ia mencoba mendengarkan, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Suara santriwati yang tartil mengaji terdengar indah, tapi Raina merasa semakin asing.
Setelah pengajian selesai, saat semua santriwati keluar, ada seorang gadis kecil berusia sekitar 17 tahun yang mendekati Raina dengan ragu-ragu. Namanya Lila, santri baru seperti Raina tapi sudah lebih dulu mondok dua bulan.
“Mbak Raina… maaf ya tadi,” kata Lila pelan, suaranya lembut.
“Saya Lila. Kalau Mbak butuh teman atau ada yang bingung, boleh tanya saya kok.”
Raina menatap Lila dengan mata birunya yang besar. Untuk sesaat, sikap bandelnya melunak sedikit.
“Lo nggak takut sama gue?” tanyanya datar.
Lila tersenyum kecil.
“Takut sih… tapi Mbak kelihatan kesepian. Di sini susah kalau nggak punya teman.”
Raina tidak menjawab langsung. Ia hanya mengangguk pelan sebelum berbalik pergi.
Sepanjang pagi, Raina merasa tatapan santri lain terus mengikutinya. Ada yang kasihan, ada yang iri karena tahu ia akan menikah dengan Gus Haris, dan ada yang jelas-jelas tidak suka dengan sikapnya yang bandel.
Saat istirahat pagi, Raina duduk sendirian di bawah pohon rindang dekat asrama.
Ia memeluk lututnya, rambut pendeknya acak-acakan ditiup angin. Untuk pertama kalinya sejak tiba di pesantren, ia merasa benar-benar sendirian.
“Gue benci tempat ini…” gumamnya pelan.
Tiba-tiba bayangan seseorang muncul di depannya. Gus Haris berdiri dengan dua gelas teh hangat di tangan.
“Ini untuk kamu,” katanya lembut sambil menyodorkan satu gelas.
“Minum dulu, biar hangat.”
Raina mengambil gelas itu tanpa bicara. Ia menyesap tehnya pelan, rasa manisnya sedikit menenangkan hati yang gelisah.
Gus Haris duduk di batu besar di sebelahnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk berbicara.
“Aku dengar ada sedikit keributan tadi pagi,” katanya pelan, tanpa nada menyalahkan.
Raina mendengus.
“Mereka yang mulai duluan. Bisik-bisik tentang pakaian gue, tentang lo… gue cuma nggak suka dibicarain di belakang.”
Gus Haris mengangguk mengerti.
“Mereka belum terbiasa. Kamu juga baru datang. Butuh waktu untuk saling mengenal. Aku yakin lama-lama mereka akan melihat sisi baik kamu.”
Raina menoleh tajam.
“Sisi baik? Gue ini preman kecil dari Surabaya. Nggak ada sisi baiknya di tempat kayak gini.”
Gus Haris tersenyum tipis, matanya penuh kesabaran yang dalam.
“Setiap orang punya sisi baik, Raina. Termasuk kamu. Mungkin kamu sendiri belum melihatnya.”
Raina diam lama.
Ia menatap gelas teh di tangannya, lalu melirik Gus Haris yang duduk tenang di sebelahnya. Dada nya kembali terasa aneh — campuran antara kesal, bingung, dan sesuatu yang lebih lembut yang ia belum mau akui.
Pagi itu, Raina belajar satu hal baru: di pesantren ini, bukan hanya Gus Haris yang sabar.
Tapi juga tatapan santri lain, bisikan mereka, dan rasa kesepian yang mulai merayap pelan-pelan ke hatinya.
Dan di tengah semua itu, Gus Haris tetap ada — dengan kesabaran yang tak pernah habis.