Charlotte tidak pernah meminta dilahirkan kembali sebagai mekanik kelas teri di zona perang paling mematikan. Namun, sebuah antarmuka Sistem yang dingin dan sarkastik muncul di pelupuk matanya, mengubah setiap tetes keringat dan darah menjadi poin statistik yang berharga.
Masalahnya, sistem ini tidak didesain untuk menjadi pahlawan. Sistem Charlotte bekerja seperti algoritma pemangsa yang mengoptimalkan penderitaan demi keuntungan pribadi. Baginya, para "Pahlawan" terpilih hanyalah sumber daya pengalaman yang bisa diperas, dan kiamat yang mengancam dunia hanyalah sebuah fluktuasi data yang perlu dikelola.
Dengan kunci inggris berlumuran oli dan logika mesin yang tanpa ampun, Charlotte mulai memanipulasi takdir. Jika dunia harus hancur, setidaknya ia harus memastikan bahwa dialah yang memegang kendali atas rongsokannya. Siapa sangka, menjadi dalang di balik layar ternyata jauh lebih menguntungkan daripada menyelamatkan dunia yang sudah rusak ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: DEMONSTRASI PERTAMA
Udara di dalam ruang simulasi tempur utama Sektor 1 terasa sangat dingin, sebuah kontras yang tajam dengan ketegangan yang menyelimuti wajah-wajah para petinggi militer yang hadir. Cahaya lampu dari langit-langit yang tinggi memantul pada lantai marmer hitam, menciptakan bayangan panjang dari setiap orang yang berdiri di sana. Charlotte berdiri di tengah ruangan, mengenakan jubah teknisnya yang bersih, dengan kotak hitam metalik berada di samping kakinya. Di hadapannya, Jenderal Kaelen dan barisan perwira elit Radiant menunggu dengan napas tertahan, mata mereka penuh dengan keraguan sekaligus harapan terakhir.
Rumor tentang kegagalan logistik dan kematian Jenderal Aris masih menghantui koridor markas, namun hari ini, Charlotte akan mengubah narasi ketakutan itu menjadi narasi kekaguman. Ia menatap ke arah balkon pengawas, di mana beberapa anggota Dewan Tinggi duduk dalam kegelapan, mengawasi setiap gerakannya.
Tuan-tuan, apa yang Anda lihat selama ini adalah kegagalan dari sebuah era yang sudah usang. Zirah yang berat, perisai yang tidak stabil, dan senjata yang macet di saat kritis. Hari ini, saya memperkenalkan Aegis. Bukan sekadar peralatan, melainkan standar baru untuk kelangsungan hidup kalian, suara Charlotte bergema dengan nada yang datar namun memiliki otoritas yang mutlak.
Jenderal Kaelen melangkah maju, wajahnya tampak lebih kuyu dari biasanya. "Charlotte, dewan sudah mulai kehilangan kesabaran. Mereka mendengar musuh di utara telah mengembangkan proyektil anti-materi. Jika benda ini tidak sekuat yang kau katakan, maka Sektor 1 benar-benar berada dalam bahaya besar."
"Jangan bandingkan karya saya dengan sampah yang kalian gunakan sebelumnya, Jenderal," balas Charlotte sambil berlutut dan membuka kotak hitamnya.
Dari dalam kotak itu, ia mengeluarkan sebuah unit perisai portabel Aegis-01. Permukaannya yang hitam dop tampak seolah menyerap cahaya di sekelilingnya, sementara sirkuit ungu yang melingkar di tengahnya berdenyut dengan pendaran yang tenang. Charlotte memasang perangkat itu ke lengan mekanik Phantom Reach miliknya, membiarkan koneksi saraf mekaniknya menyatu dengan firmware perisai tersebut.
Sistem, aktifkan mode demonstrasi. Nonaktifkan semua protokol pembatas kecuali Backdoor tersembunyi. Pastikan visualisasi perisai tampak semegah mungkin, perintah Charlotte dalam hati.
[Mode Demonstrasi Aktif. Mengatur Output Energi pada Kapasitas 110 Persen untuk Efek Dramatis.]
[Status Sistem: Optimal. Memulai Sinkronisasi dengan Ruang Simulasi.]
Charlotte menoleh ke arah unit robot penyerang yang berdiri di ujung ruangan. "Aktifkan meriam plasma tingkat empat. Targetkan langsung ke arah saya."
Beberapa perwira tersentak. Plasma tingkat empat biasanya digunakan untuk menghancurkan tank berat atau tembok benteng. Kaelen tampak ingin memprotes, namun Charlotte sudah memberikan sinyal kepada teknisi simulasi.
Suara dengungan energi yang memekakkan telinga mulai memenuhi ruangan. Meriam robot itu bersinar biru terang, mengumpulkan daya selama beberapa detik sebelum melepaskan tembakan plasma yang sangat panas. Semburat cahaya biru meluncur dengan kecepatan luar biasa menuju Charlotte.
Pada saat yang tepat, Charlotte mengangkat lengan kirinya. Perisai Aegis beraksi dengan suara desis elektrik yang halus. Seketika, sebuah dinding cahaya heksagonal berwarna ungu transparan terbentuk di depannya. Saat plasma menghantam perisai tersebut, tidak terjadi ledakan besar yang biasanya menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. Sebaliknya, energi plasma itu seolah-olah tersedot dan tersebar merata ke seluruh permukaan heksagonal Aegis, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya tanpa sisa.
Keheningan yang mencekam menyusul. Tidak ada asap, tidak ada bau terbakar, dan Charlotte berdiri tegak tanpa bergeser satu sentimeter pun dari posisinya.
[Analisis Kinerja: Serangan Plasma Terserap 100 Persen.]
[Respon Penonton: Tingkat Kekaguman Meningkat 85 Persen.]
[Poin Administrator: Mendapatkan 3.500 MP dari Demonstrasi Kekuatan.]
"Luar biasa..." bisik salah satu perwira elit yang berdiri di belakang Kaelen. "Aku belum pernah melihat perisai portabel yang bisa menahan beban sebesar itu tanpa mengalami overheating."
Charlotte tidak berhenti di sana. Ia tahu bahwa pujian atas kinerja optimal adalah kunci untuk mendapatkan akses penuh ke anggaran faksi. "Itu hanyalah pertahanan pasif. Aegis dirancang untuk beradaptasi. Sistem, aktifkan Mode Refleksi."
[Protokol Refleksi Energi Aktif. Mengalihkan Jalur Konduktor ke Output Depan.]
"Tembak lagi. Kali ini dengan rentetan beruntun," perintah Charlotte.
Robot penyerang itu melepaskan lima tembakan plasma berturut-turut. Kali ini, saat setiap tembakan menghantam Aegis, perisai itu berpendar lebih terang. Pada tembakan kelima, Aegis melepaskan gelombang kejut balik yang sangat kuat. Energi yang terserap dikembalikan dalam bentuk pulsa elektromagnetik yang langsung menghantam robot penyerang, membuatnya meledak dan hancur menjadi tumpukan logam yang terbakar.
Di balkon pengawas, para anggota dewan berdiri dari kursi mereka. Suara tepuk tangan mulai terdengar, awalnya ragu-ragu, lalu menjadi riuh. Kaelen mendekati Charlotte dengan mata yang bersinar penuh kegembiraan.
"Ini... ini adalah apa yang kita butuhkan! Charlotte, kau baru saja menyelamatkan masa depan Radiant di Sektor 1. Dengan perisai ini, prajurit kita akan menjadi tak terkalahkan di medan perang!" teriak Kaelen sambil menepuk bahu Charlotte.
Charlotte hanya memberikan senyum tipis yang penuh dengan rahasia. "Ini hanyalah prototipe, Jenderal. Dengan dukungan penuh dan fasilitas manufaktur yang telah saya ambil alih, saya bisa memproduksi massal unit-unit ini dalam hitungan minggu. Namun, saya butuh otoritas mutlak atas distribusi produk ini. Aegis tidak boleh jatuh ke tangan sembarang teknisi yang bisa merusak integritas sistemnya."
"Kau memilikinya! Aku akan memastikan Dewan Tinggi menandatangani kontrak eksklusif ini sekarang juga. Apa pun yang kau butuhkan, entah itu material langka atau tenaga kerja tambahan, semuanya akan disediakan," jawab Kaelen tanpa berpikir panjang.
[Manipulasi Sukses. Faksi Radiant Telah Menelan Umpan Aegis Sepenuhnya.]
[Pujian Terdeteksi. Reputasi Anda di Mata Dewan Tinggi Mencapai Level: Jenius Teknologi.]
[Poin Administrator Bonus: 8.000 MP atas Kesuksesan Demonstrasi.]
Charlotte berjalan kembali ke kotak hitamnya, melepaskan Aegis dari lengannya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menangani barang pecah belah yang sangat berharga. Di matanya, perisai itu bukan hanya alat pelindung. Itu adalah tali kekang yang baru saja ia pasangkan ke leher faksi Radiant.
Selama demonstrasi tadi, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa Charlotte terus memantau data dari Backdoor yang ia tanam. Saat perisai itu menyerap energi plasma, sistem secara diam-diam mengirimkan salinan biometrik prajurit terdekat dan data frekuensi energi markas ke server pribadi Charlotte. Setiap kali Aegis digunakan, ia akan belajar tentang penggunanya, mengumpulkan data personal mereka, dan memetakan setiap kelemahan di lingkungan pertempuran mereka.
"Kinerja yang sangat optimal, bukan?" gumam Charlotte pelan saat Kaelen dan para perwira lainnya mulai sibuk mendiskusikan rencana pengadaan massal di ujung ruangan.
"Benar-benar sempurna, Tuan Charlotte. Anda adalah pahlawan yang sebenarnya di balik layar," kata seorang teknisi muda yang bertugas di ruang simulasi, menatap Charlotte dengan tatapan memuja.
"Ingatlah satu hal, Nak. Kesempurnaan selalu memiliki harga. Pastikan kalian siap membayarnya ketika tagihannya datang," balas Charlotte dengan nada bicara yang membuat teknisi itu merinding tanpa tahu alasannya.
Charlotte melihat ke arah layar besar di ruangan itu yang menampilkan logo Aegis—perisai heksagonal ungu yang kini telah menjadi simbol harapan bagi Sektor 1. Baginya, itu adalah tanda kemenangan pertamanya dalam skala yang lebih luas. Ia telah berhasil meyakinkan satu faksi kuat untuk bergantung sepenuhnya pada teknologinya. Pujian demi pujian yang ia terima hanyalah pelumas bagi mesin ambisinya yang tidak akan pernah berhenti.
Di dalam benaknya, Charlotte sudah menyusun langkah selanjutnya. Demonstrasi ini hanyalah pembukaan. Dengan kontrak eksklusif di tangannya, ia akan mulai melakukan ekspansi cepat. Produksi massal akan segera dimulai, namun ia tidak akan membagikannya secara cuma-cuma. Setiap unit Aegis yang didistribusikan adalah mata-mata yang ia kirim ke medan perang. Setiap pujian yang ia terima adalah paku tambahan pada peti mati kemandirian faksi pahlawan.
"Sistem, siapkan lini produksi manufaktur 01 sampai 05. Kita akan mulai mencetak sejarah yang baru," perintah Charlotte sambil melangkah keluar dari ruang simulasi.
[Instruksi Diterima. Memulai Persiapan Ekspansi Cepat.]
[Log Aktivitas: Poin Administrator Terkumpul Mencapai 55.000 MP.]
[Status: Administrator Siap Mendominasi Pasar.]
Langkah kaki Charlotte terasa lebih ringan saat ia berjalan melewati koridor markas. Para prajurit yang berpapasan dengannya kini memberikan hormat dengan rasa hormat yang tulus, bukan lagi karena perintah. Mereka menganggapnya sebagai penyelamat yang akan memberikan mereka zirah dewa. Charlotte membalas dengan anggukan dingin, sementara di balik monokelnya, ia sedang menghitung berapa banyak kredit dan poin yang akan ia peras dari setiap nyawa yang akan menggunakan Aegis.
Matahari mulai terbenam di luar jendela kaca Sektor 1, menyinari cakrawala dengan warna oranye yang membara. Bagi faksi Radiant, ini adalah akhir dari hari yang penuh kemenangan. Bagi Charlotte, ini adalah fajar bagi kekuasaannya yang absolut. Ia telah memamerkan Aegis, ia telah mendapatkan pujian, dan sekarang, ia akan memulai proses untuk memiliki dunia ini secara perlahan, satu perisai pada satu waktu.
Pujian atas kinerja optimal hari ini akan menjadi fondasi dari monopoli yang tidak akan bisa mereka hancurkan. Dan ketika badai perang yang sesungguhnya datang, mereka semua akan menyadari bahwa satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan terus membayar kepada Aegis—dan kepada Charlotte.