Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Pekerjaan
Rutinitas pulang malam bersama Liam kini punya satu pola yang tetap, ketegangan saat melewati jalan protokol yang di sana berdiri kantor polisi distrik.
Setiap kali mobil mewah Liam mulai mendekati gedung dengan lambang kepolisian itu, Cassie secara refleks akan menggeser duduknya, menempelkan wajah ke kaca jendela. Matanya dengan cepat menyisir area parkir atau deretan jendela kantor yang terang, berharap bisa menangkap sekilas bayangan Ethan yang sedang berjalan atau sekadar duduk di meja kerjanya. Sudah cukup lama sejak terakhir kali ia berbicara dengan polisi ramah itu, dan ada bagian dari diri Cassie yang merindukan rasa aman yang normal seperti yang Ethan berikan.
Namun, Liam bukan orang yang tidak peka. Ia tahu persis apa yang dilakukan Cassie setiap kali mereka berada di radius satu kilometer dari kantor polisi.
"Cari pahlawanmu lagi?" gumam Liam dengan suara yang tiba-tiba mendingin.
Sebelum Cassie sempat menjawab, Liam biasanya akan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Raungan mesin mobil sport itu membelah kesunyian malam, membuat tubuh Cassie terdorong ke sandaran jok karena percepatan yang mendadak.
"Liam! Pelankan mobilnya! Kau bisa kena tilang!" seru Cassie sambil berpegangan erat pada handle pintu.
"Kalau dia memang polisi sehebat yang kau pikirkan, biarkan saja dia mengejarku," jawab Liam ketus. Wajahnya yang tadi santai kini mengeras. Ia sengaja memacu kendaraan secepat mungkin setiap kali melewati kantor polisi, seolah-olah gedung itu adalah tempat yang paling ia benci di seluruh dunia.
Liam benar-benar menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan. Ia tidak suka melihat Cassie yang begitu mendambakan sosok Ethan. Baginya, tatapan Cassie ke jendela kantor polisi itu seperti sebuah penghinaan atas semua perlindungan dan kenyamanan yang sudah ia berikan selama ini.
"Kenapa kau selalu ngebut setiap lewat sini?" tanya Cassie kesal setelah mereka menjauh dari area tersebut.
"Karena aku tidak suka membuang waktu melihatmu bertingkah seperti penggemar fanatik yang menyedihkan," balas Liam pedas. Ia memutar setir dengan kasar menuju Raven's Gate. "Lagi pula, aku punya bisnis yang harus dijalankan. Aku tidak punya waktu seharian untuk membiarkanmu mengagumi jendela kaca kantor polisi."
Cassie hanya bisa mendengus dan kembali menatap ke depan. Ia tahu berdebat dengan Liam soal Ethan hanya akan berakhir dengan ejekan yang lebih tajam. Tapi dalam hatinya, Cassie bertanya-tanya, apakah Liam hanya kesal karena dia membenci polisi, ataukah ada rasa cemburu yang mulai terselip di balik sikap dinginnya itu?
Sesampainya di lobi, Liam turun tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Cassie yang harus berjalan cepat mengejarnya ke lift.
Langkah Liam yang mendadak berhenti di tengah lorong lantai tiga membuat Cassie tidak sempat mengerem.
Dug!
Wajah Cassie menabrak punggung tegap Liam yang keras seperti papan kayu.
"Aduh! Bisa tidak sih kalau berhenti itu kasih aba-aba?" gerutu Cassie sambil mengusap hidungnya yang terasa nyut-nyutan.
Liam tidak berbalik. Ia tetap membelakangi Cassie, menatap pintu kamarnya sendiri sebelum akhirnya bersuara dengan nada yang tidak sedingin biasanya.
"Pindahlah dari apartemen kumuh ini," ucap Liam tiba-tiba. "Bekerjalah di rumahku. Kau bisa tinggal di sana dan meninggalkan tempat rongsokan ini."
Cassie membeku. Pertanyaan itu terlalu mendadak, seperti petir di siang bolong. Ia menatap punggung Liam dengan penuh kebingungan. Selama ini, rahasia terbesar yang ia simpan adalah rasa penasarannya. Jika Liam punya mobil mewah dan uang yang seolah tidak habis, kenapa pria itu masih bertahan tinggal di unit 305 yang sempit dan berbau lembap ini?
"Bekerja?" tanya Cassie hati-hati. "Maksudmu... kau menawariku pekerjaan sebagai pelayan di rumahmu?"
Liam akhirnya berbalik. Ia menyandarkan bahunya di pintu, menatap Cassie dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Memangnya kau berharap bekerja sebagai apa?" ejek Liam, bibirnya menyunggingkan senyum miring. "Manajer keuangan? Dengan kemampuanmu yang tidak ada selain makan dan mengeluh, posisi pelayan adalah yang paling realistis. Kau hanya perlu mengurus rumah, memastikan semuanya rapi, dan aku akan memberimu uang saku yang jauh lebih besar daripada gaji kafemu itu."
Cassie melongo. "Kau serius? Tapi kenapa sekarang?"
"Mau atau tidak?"
"Pikirkan malam ini. Aku akan memberimu bayaran yang sangat lumayan, cukup untuk membayar kuliahmu tanpa harus pusing mencari kerja sampingan lagi."
Liam membuka pintu kamarnya, namun sebelum masuk, ia menoleh sedikit. "Pikirkan baik-baik, Cassie. Di rumahku, kau tidak perlu mengintip jendela bus untuk merasa aman. Keamananmu sudah jadi tanggung jawabku."
Klik.
Pintu unit 305 tertutup, meninggalkan Cassie yang berdiri sendirian di lorong yang remang. Kepalanya berputar hebat. Tawaran itu sangat menggiurkan bagi finansialnya, tapi tinggal satu atap dengan Liam? Pria yang identitas aslinya saja ia belum tahu pasti?
Malam itu, Cassie berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit. Bayangan rumah mewah, makanan enak setiap hari, dan tidak adanya teror di Raven's Gate mulai menari-nari di pikirannya. Tapi di sudut hatinya yang lain, ia teringat peringatan Ethan. Jangan terlalu dekat dengan orang seperti dia.
***
Pagi harinya, Cassie hampir tidak bisa fokus saat kuliah. Pikirannya terus memutar kata-kata Liam tentang "bayaran lumayan" dan "meninggalkan tempat rongsokan ini". Logikanya terus berperang. Satu sisi dia tidak bisa melupakan peringatan Ethan, tapi sisi lainnya membayangkan kenyamanan yang ditawarkan Liam.
Begitu sampai di apartemen sore itu, Cassie tidak menunggu Liam menjemput. Ia langsung mengetuk pintu Unit 305 dengan mantap.
Pintu terbuka, menampakkan Liam yang hanya mengenakan kaos putih polos
"Sudah selesai menghitung untung-ruginya?"
"Aku terima," ucap Cassie cepat sebelum nyalinya ciut. "Tapi dengan banyak syarat! Aku punya daftar yang tidak bisa diganggu gugat."
Liam menaikkan sebelah alisnya, bersandar di bingkai pintu dengan tangan bersedekap. "Daftar syarat? Kau pikir kau sedang negosiasi kontrak dengan CEO?"
"Terserah! Kalau kau tidak setuju, aku tetap tinggal di sini," balas Cassie berani. Ia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. "Pertama, jam kerjaku tidak boleh mengganggu jadwal kuliah. Kedua, kau dilarang memerintahku secara kasar seperti pelayan zaman kuno. Ketiga, privasiku di rumahmu harus terjamin, tidak boleh ada kamera atau kau yang tiba-tiba masuk ke kamarku."
Cassie menarik napas panjang. "Dan yang terakhir... kau harus berhenti meledekku setidaknya sepuluh menit dalam sehari."
Liam terdiam sejenak, lalu tawa rendahnya pecah. Ia mengambil kertas itu dari tangan Cassie, meliriknya sekilas, lalu memasukkannya ke saku celana.
"Sepuluh menit sehari? Itu syarat yang paling sulit," ejek Liam. Namun, ekspresinya kemudian sedikit melembut. "Baiklah. Aku terima syarat-syarat konyolmu. Bereskan barang-barangmu. Kita pindah malam ini juga."
"Malam ini?! Aku bahkan belum mengepak buku-bukuku!"
"Tidak perlu membawa barang-barang rongsokan dari sini. Bawa saja yang penting. Sisanya biar aku yang urus," Liam masuk ke kamarnya, lalu melemparkan sebuah tas olahraga besar ke arah Cassie. "Cepat. Aku tidak suka menunggu."
***
Beberapa jam kemudian, Cassie menemukan dirinya duduk di kursi penumpang mobil mewah Liam, meninggalkan gedung Raven's Gate yang suram. Di kursi belakang, hanya ada dua koper kecil dan tas berisi pakaian dan buku-buku kuliahnya.
Perjalanan kali ini jauh lebih lama dari biasanya. Mereka keluar dari pusat kota, menuju area perbukitan yang lebih asri dan eksklusif. Di sana, mobil Liam berhenti di depan sebuah gerbang hitam yang tinggi. Begitu gerbang terbuka, Cassie ternganga melihat sebuah rumah modern minimalis dengan dinding kaca besar yang menghadap ke arah hutan pinus.
"Ini... rumahmu?" bisik Cassie tak percaya.
"Bukan, ini sarang serigala," jawab Liam sambil mematikan mesin. Ia menoleh ke arah Cassie, menyeringai tipis.
"Selamat datang di pekerjaan barumu, Cassie. Mulai besok, kau punya banyak lantai yang harus dipel."
di dalam hatinya, Cassie tidak bisa menyembunyikan rasa takjub. Ia mulai merasa, meski Liam sangat menyebalkan, hidup di rumah ini jauh lebih baik daripada ketakutan sendirian di apartemen tua.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭