Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah di Balik Puing-Puing
Hujan mulai turun menyapu sisa asap mesiu di halaman mansion. Arkan meringis saat Liana mengikatkan kain robekan gaunnya dengan kencang di bahu kirinya. Mereka berdua terduduk di antara mayat tentara bayaran dan kelongsong peluru, napas mereka beradu dalam udara malam yang dingin.
"Kau menembak dengan sangat baik untuk ukuran seorang pelayan toko bunga," gumam Arkan, mencoba mencairkan ketegangan.
Liana tidak membalas candaannya. Ia menatap tajam ke arah gerbang tempat mobil Baskoro menghilang. "Hendra melatihku. Dia bilang, jika aku ingin membunuh iblis, aku harus menjadi lebih dingin dari neraka itu sendiri."
Arkan terdiam. Ia membiarkan Liana membantunya berdiri. Baron mulai siuman di dekat mereka, memegangi kepalanya yang berdarah.
"Tuan... mereka menuju galangan kapal tua di pesisir utara," lapor Baron dengan suara parau. "Itu satu-satunya tempat persembunyian Ayahanda yang tidak terdaftar di aset The Void."
Arkan mengangguk. Ia menoleh ke arah Liana. "Liana, dengarkan aku. Pergilah sekarang. Polisi akan sampai dalam hitungan menit. Aku akan menyerahkan diri setelah aku menyelesaikan urusan dengan ayahku. Kau punya paspor dan uang itu, hiduplah dengan tenang."
Liana justru mengokang kembali Glock-nya. "Kau pikir aku menyelamatkanmu agar kau bisa menjadi martir sendirian? Tidak, Arkan. Aku ingin melihat wajah pria yang memberi perintah itu. Aku ingin dia tahu siapa yang akan mengakhiri dinasti berdarahnya."
Melihat tekad di mata Liana, Arkan tahu ia tidak bisa melarangnya lagi. Mereka bertiga segera masuk ke dalam satu-satunya SUV yang masih berfungsi dan melesat menuju pesisir utara sebelum fajar menyingsing.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat berat. Arkan menyerahkan sebuah ponsel tua yang layarnya retak kepada Liana.
"Buka folder rekaman suara tanggal 12 Juli sepuluh tahun lalu," perintah Arkan.
Liana membukanya dengan tangan gemetar. Suara statis terdengar, disusul suara teriakan seorang wanita dan suara dingin Baskoro.
"Arkan, ambil obor itu. Bakar rumah di depanmu sekarang, atau ibumu tidak akan pernah melihat matahari besok pagi."
"Tidak, Ayah! Ada anak kecil di dalam! Ada keluarga di sana!" suara Arkan remaja terdengar histeris, pecah oleh tangisan.
"Pilih satu keluarga asing, atau ibumu sendiri. Tiga... dua..."
Suara hantaman keras, lalu suara api yang mulai berkobar.
Liana menutup telinganya, air mata tumpah membasahi pipinya. Ia mendengar suara Arkan remaja yang meraung kesakitan di rekaman itu.
"Setelah aku menyulut api itu, dia tetap menembak ibuku di depan mataku," Arkan berbicara pelan, matanya menatap lurus ke jalanan yang gelap. "Dia bilang, itu adalah pelajaran pertama untuk menjadi pemimpin The Void: jangan pernah memiliki kelemahan. Sejak hari itu, aku bersumpah akan menghancurkannya, tapi aku butuh waktu untuk mengumpulkan kekuatan dari dalam."
Liana menoleh ke arah Arkan. Kebencian yang selama sepuluh tahun ini ia pelihara seolah mulai terkikis oleh kenyataan yang jauh lebih mengerikan. Arkan bukan hanya pelaku, dia adalah korban pertama dari kekejaman Baskoro.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada Hendra? Atau pada polisi?" tanya Liana lirih.
"Karena polisi di kota ini adalah miliknya. Dan Hendra... dia hanya ingin dendamnya terbalas, dia tidak peduli siapa yang dikorbankan," jawab Arkan. "Satu-satunya cara menghancurkan Baskoro adalah dengan menariknya ke dalam kegelapan bersamaku."
Mereka sampai di galangan kapal tua saat langit mulai berubah kelabu keunguan.
Bangunan-bangunan karatan itu tampak seperti raksasa yang tertidur. Di ujung dermaga, sebuah kapal kargo tua menyala lampunya.
"Dia akan pergi ke luar negeri," ucap Baron.
"Tidak akan kubiarkan," desis Arkan.
Mereka mulai menyelinap di antara kontainer besi. Namun, langkah mereka terhenti saat suara speaker besar bergema di seluruh galangan kapal.
"Arkan! Anakku yang malang... kau membawa gadis itu bersamamu? Sungguh puitis. Korban dan algojo berjalan beriringan untuk menemui ajal mereka."
Tiba-tiba, lampu sorot raksasa menyala, membutakan pandangan mereka. Dari atas kontainer, belasan moncong senjata sudah membidik ke arah mereka.
Baskoro muncul di dek kapal kargo, duduk di kursi rodanya dengan tenang. "Kau tahu, Arkan? Aku selalu menyukai Liana. Dia memiliki api kebencian yang sama denganku. Sayang sekali, api itu harus padam malam ini."
"Liana, merunduk!" teriak Arkan.
Namun, sebelum tembakan dilepaskan, sebuah ledakan besar terjadi di bagian mesin kapal kargo. Guncangan hebat membuat para penembak jitu di atas kontainer kehilangan keseimbangan.
Liana melihat ke arah pintu masuk galangan. Beberapa unit taktis dengan seragam yang berbeda menyerbu masuk. Bukan polisi korup kota, melainkan pasukan khusus pusat.
"Siapa mereka?" tanya Liana bingung.
Arkan tersenyum tipis, meski wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah. "Selama tiga tahun ini, aku bekerja sama dengan intelijen pusat sebagai informan. Aku hanya butuh dia berada di satu tempat yang tidak bisa ia hindari... dan malam ini adalah jebakannya."
Arkan menatap Liana.
"Sekarang, Liana. Waktunya kau menghadapi iblis yang sebenarnya."