"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: PERPISAHAN DI AMBANG CAHAYA
Mansion Ryker yang biasanya megah kini terasa seperti makam yang sunyi. Di tengah taman, di bawah guyuran air terjun suci yang kini meredup warnanya, Alurra terbaring lemah. Warna ungu di matanya hampir hilang, berganti dengan abu-abu pudar. Jaring perak kutukan Jayden telah meninggalkan luka bakar hitam yang menjalar di kulit sucinya.
Nael berlutut di sampingnya, menggenggam tangan Alurra yang sedingin es. Wajahnya menunjukkan ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat ia menghadapi todongan pistol.
"Nael..." bisik Alurra, suaranya nyaris hilang. "Ayahku... Dewa Langit... dia sudah membuka gerbangnya. Aku harus pergi atau jiwaku akan luntur menjadi debu Bumi."
Nael menggeleng kuat. Matanya memerah, ia ingin memohon, ia ingin berteriak agar Alurra tetap tinggal. Namun, rasa sakit karena akan ditinggalkan ini mulai menyumbat kerongkongannya. Trauma lama itu merayap kembali, mengunci pita suaranya dengan gembok besi yang dingin.
Tiba-tiba, langit Jakarta yang cerah terbelah oleh pilar cahaya emas murni. Dua sosok agung turun dari angkasa. Dewa Langit, sang ayah dengan jubah awan yang bergemuruh, dan di sampingnya berdiri Dewa Matahari, sang calon tunangan yang auranya menyilaukan namun tampak angkuh.
"Cukup, Putriku," suara Dewa Langit menggelegar penuh otoritas. "Lihatlah dirimu. Kau hampir punah karena mencintai manusia fana ini. Kembalilah ke surga, pulihkan cahayamu di Kolam Abadi."
Alurra mencoba bangkit, bersandar pada dada Nael yang berdetak kencang. "Tidak, Ayah! Jika aku kembali, kau akan memaksaku menikah dengan Dewa Matahari! Aku lebih baik hancur di sini daripada menjadi pengantin di atas takhta yang tidak kucintai!"
Dewa Matahari melangkah maju, menatap Nael dengan tatapan meremehkan. "Manusia ini bahkan tidak bisa melindungimu dari jaring perak murahan, Alurra. Bagaimana kau bisa memilihnya daripada aku yang menguasai fajar?"
"Dia melindungiku dengan nyawanya!" bentak Alurra.
Dewa Langit menatap putrinya yang sekarat, lalu menatap Nael yang hanya bisa diam membeku. Sang Ayah akhirnya menghela napas, sebuah getaran angin yang menenangkan taman.
"Alurra, dengarkan ayahmu," ucap Dewa Langit. "Aku tidak akan memaksamu menikah dengannya lagi. Dewa Matahari telah setuju untuk membatalkan perjodohan ini, asal kau kembali dan pulih. Aku berjanji, takdirmu adalah milikmu sendiri setelah cahayamu kembali utuh."
Alurra menoleh ke arah Nael, air mata emas menetes di pipinya. "Nael... kau dengar? Ayah berjanji... aku tidak akan dipaksa menikah. Aku hanya pergi untuk memulihkan kekuatanku... aku akan kembali padamu."
Nael hanya bisa menatap Alurra dengan pandangan kosong. Ketakutan akan ditinggalkan yang amat sangat mulai melumpuhkan kesadarannya. Bayangan orang tuanya yang pergi selamanya kini tumpang tindih dengan sosok Alurra yang mulai terangkat oleh cahaya.
"Bicara, Nael! Katakan sesuatu!" isak Alurra saat tubuhnya mulai melayang. "Katakan kau akan menungguku! Jangan biarkan suaramu hilang lagi!"
Nael membuka mulutnya. Ia ingin berteriak "Jangan pergi!" atau "Aku mencintaimu!". Namun, trauma itu telah memenangkan pertarungan. Blek! Tenggorokannya terkunci rapat. Kesunyian kembali menelan suaranya. Kegelapan masa lalu menariknya kembali ke dalam lubang kehampaan.
Nael hanya bisa bersimpuh, tangannya yang gemetar mencoba menggapai butiran cahaya yang ditinggalkan Alurra.
ZINGGG!
Pilar cahaya itu melesat kembali ke angkasa, membawa Alurra pergi. Seketika, taman itu menjadi gelap. Air terjun suci menghilang, menyisakan kolam ikan biasa yang kotor. Mansion Ryker kembali menjadi bangunan beton yang dingin dan sunyi.
Nael memegang lehernya, mencoba mengeluarkan suara, namun yang keluar hanyalah isakan bisu yang menyayat hati. Ia kembali menjadi pria malang yang tak bisa bicara. Di kamarnya yang gelap, Nael meringkuk memegangi kalung akar perak, tenggelam dalam ketakutan yang sama: Bahwa semua yang indah di hidupnya, pada akhirnya akan selalu pergi meninggalkannya sendirian.
...****************...
aku suka namanya Nael ....