Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merangkak Keluar dari Dasar Neraka
Episode 1
Malam itu, Kota Azure seharusnya bersukacita. Lampion-lampion merah tergantung di setiap sudut kediaman Keluarga Gu, menerangi kegelapan dengan cahaya hangat yang melambangkan kemakmuran. Aroma anggur terbaik tercium di udara, dan suara tawa para tamu undangan memenuhi aula besar. Hari itu adalah hari ulang tahun Gu Sheng yang ke-17, sekaligus hari di mana ia akan secara resmi dinobatkan sebagai calon pemimpin keluarga berikutnya.
Gu Sheng berdiri di balkon aula, menatap kerumunan dengan senyum tipis. Wajahnya tampan, dengan gari rahang yang tegas dan mata yang memancarkan kecerdasan luar biasa. Di usianya yang masih sangat muda, ia telah mencapai tingkat puncak Qi Refinement, sebuah prestasi yang mustahil diraih tanpa adanya Tulang Dewa yang bersemayam di dalam dadanya.
"Sheng-er, kenapa kamu malah melamun di sini?"
Sebuah suara lembut, semerdu kicauan burung di pagi hari, menyapa telinganya. Gu Sheng berbalik dan melihat Mu Ruoxue berjalan ke arahnya. Gadis itu mengenakan gaun sutra putih dengan sulaman perak yang berkilau di bawah cahaya bulan. Kecantikannya sering kali disebut sebagai Bencana Negara, dan Gu Sheng merasa menjadi pria paling beruntung di dunia karena memilikinya sebagai tunangan.
"Aku hanya berpikir, Ruoxue... betapa cepatnya waktu berlalu. Sebentar lagi kita akan menikah, dan aku berjanji akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk membawamu ke puncak dunia kultivasi," ucap Gu Sheng sambil menggenggam tangan halus gadis itu.
Mu Ruoxue tersenyum, tapi jika Gu Sheng lebih teliti, ia akan menyadari bahwa senyum itu tidak mencapai matanya. Mata indah itu menyimpan kedinginan yang amat dalam, seperti jurang yang tak berdasar.
"Aku tahu, Sheng-er. Kamu selalu memberikan yang terbaik untukku," bisik Mu Ruoxue. "Itulah sebabnya... aku ingin meminta satu hal terakhir darimu malam ini."
"Katakan saja, Ruoxue. Apapun itu, akan kuberikan."
"Aku ingin... Tulang Dewamu."
Deg.
Sebelum Gu Sheng bisa mencerna kata-kata itu, sebuah rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba meledak di punggungnya. Sebuah belati hitam, yang dilapisi racun penghancur Qi, menembus dari belakang dan keluar melalui perutnya.
Gu Sheng membelalak. Tubuhnya seketika lemas. Ia menoleh ke belakang dan melihat sesosok pria berjubah biru tua berdiri dengan seringai kejam. Lin Tian, Tuan Muda dari Sekte Pedang Langit yang selama ini pura-pura menjadi sahabat baiknya.
"Kau... Lin Tian... Ruoxue... apa artinya ini?" Gu Sheng jatuh berlutut, darah mulai merembes dari luka tikaman itu.
Mu Ruoxue melangkah maju, wajahnya yang cantik kini tampak seperti iblis di mata Gu Sheng. Tanpa ragu, ia menancapkan tangannya yang berselimut energi Qi tajam tepat ke arah dada Gu Sheng yang terluka.
"AARRGGHHHHH!"
Jeritan memilukan Gu Sheng membelah keheningan malam, namun entah kenapa, tidak ada penjaga yang datang. Aula yang tadi ramai mendadak sunyi, seolah-olah semua orang telah disingkirkan.
Mu Ruoxue menarik tangannya keluar. Di telapak tangannya, terdapat sepotong tulang kecil yang bersinar keemasan, berdenyut dengan energi murni yang luar biasa. Itulah Tulang Dewa, sumber kekuatan Gu Sheng.
"Dengan tulang ini, Ruoxue akan memiliki bakat yang setara dengan para jenius di Benua Pusat," Lin Tian tertawa sambil merangkul pinggang Mu Ruoxue di depan mata Gu Sheng yang sedang sekarat. "Dan aku, sebagai suaminya, akan memimpin Sekte Pedang Langit menuju kejayaan. Terima kasih, Gu Sheng. Pengorbananmu tidak akan sia-sia."
"Kalian... berdua... akan masuk neraka..." Gu Sheng berbisik, matanya mulai memerah karena kebencian yang mendalam.
Neraka? Mu Ruoxue menatapnya dengan jijik. "Keluarga Gu sudah habis, Sheng-er. Ayahmu sudah dikhianati oleh para tetuamu sendiri. Saat ini, kepalanya mungkin sudah dipisahkan dari tubuhnya. Kau tidak punya tempat untuk kembali."
Lin Tian kemudian melangkah maju dan menghantam perut Gu Sheng dengan tendangan yang mengandung energi destruktif. Krak! Suara hancurnya Dantian Gu Sheng terdengar jelas. Harapan terakhirnya untuk berkultivasi kembali telah dipadamkan secara brutal.
"Buang sampah ini ke Tebing Keputusasaan," perintah Lin Tian pada pengawalnya yang muncul dari kegelapan. "Pastikan dia mati perlahan di sana."
Gu Sheng yang setengah sadar diseret seperti anjing mati menuju pinggir tebing yang curam. Di bawah guyuran hujan yang tiba-tiba turun dengan deras, tubuhnya dilemparkan ke dalam jurang yang gelap.
Angin kencang bersiul di telinganya saat tubuhnya melayang jatuh. Dalam detik-detik terakhir sebelum ia menghantam dasar jurang, Gu Sheng merasakan kemarahan yang begitu hebat hingga jiwanya seolah-olah akan meledak. Ia membenci kelemahannya, ia membenci cintanya yang buta, dan ia membenci dunia yang tidak adil ini.
Tiba-tiba, saat darahnya yang bercampur racun membasahi cincin hitam di jarinya, sebuah getaran hebat mengguncang ruang dan waktu di sekitarnya.
Sebuah suara yang sangat tua, sangat kuat, dan sangat jahat menggema di dalam kepalanya, memadamkan semua suara hujan dan angin.
"Bocah... apakah kau ingin menelan dunia yang telah membuangmu ini?"
Gu Sheng tidak lagi memiliki rasa takut. Di ambang kematian, hanya ada satu keinginan di hatinya.
"Ya! Aku akan menelan mereka semua! Aku akan membantai setiap orang yang membuatku menderita!"
"Bagus... kalau begitu, biarkan Iblis ini menjadi Dantianmu. Mulai hari ini, kau adalah Iblis Penelan Langit!"
....
EPISODE 1
MERANGKAK KELUAR DARI DASAR NERAKA
Kegelapan di dasar Tebing Keputusasaan bukanlah kegelapan biasa. Ini adalah kegelapan yang terasa padat, lembap, dan berbau busuk seperti ribuan tahun kematian yang terkumpul di satu tempat. Kabut beracun berwarna abu-abu pekat menyelimuti bebatuan tajam, menghalangi cahaya bulan yang mencoba menembus dari atas. Di sini, di tempat yang bahkan para tetua sekte pun takut untuk mendekat, sesosok tubuh tergeletak hancur, nyaris tak menyerupai manusia.
Gu Sheng.
Pewaris agung Keluarga Gu yang dulu begitu bersinar, kini hanya tumpukan daging dan tulang yang patah. Napasnya terdengar seperti embusan angin di tenggorokan yang penuh dengan pasir dan darah. Setiap kali dadanya naik-turun, rasa sakit yang melumpuhkan menjalar dari luka menganga di dadanya tempat di mana Tulang Dewa-nya pernah bersemayam dengan agung.
“Mu... Ruoxue...”
Nama itu bergetar di sela giginya yang pecah. Setiap kali ia membayangkan wajah cantik yang tersenyum dingin saat merobek dadanya, kebencian di hati Gu Sheng membakar sisa-sisa kesadarannya. Ia ingin mati, namun api dendam di jiwanya menolak untuk padam. Kematian terlalu murah untuk pengkhianatan sebesar ini.
Tiba-tiba, jari manis tangan kirinya terasa panas. Sangat panas, seolah-olah sepotong besi mendidih sedang ditekan ke kulitnya.
Darah hitam yang terkontaminasi racun dari belati Lin Tian mengalir deras dari luka-lukanya, membasahi cincin hitam kusam yang melingkar di jarinya. Cincin itu, yang selama tujuh belas tahun dianggap sebagai sampah tak berguna, mulai bergetar hebat.
Weng!
Sebuah dengungan rendah frekuensi tinggi meledak, seketika membekukan kabut beracun di sekitar Gu Sheng. Dari permukaan cincin yang berkarat, muncul untaian gas hitam yang merayap seperti tentakel bayangan. Gas itu tidak hanya menyentuh luka-lukanya, tapi seolah-olah mulai "memakan" racun dan darah kotor yang menempel di tubuhnya.
“Dendam yang murni... Keinginan untuk membantai yang begitu indah... Akhirnya, seseorang dengan garis keturunan yang tepat memberikan 'makan malam' yang cukup lezat.”
Suara itu terdengar berat, kuno, dan penuh dengan aura jahat yang tak tertandingi. Suara itu bergema langsung di dalam sumsum tulang Gu Sheng, membuat jiwanya bergetar hebat.
“Siapa...?” Gu Sheng mencoba bersuara, tapi hanya darah yang keluar.
“Aku? Aku adalah akhir dari segala sesuatu. Aku adalah Iblis yang menelan langit ketika para Dewa terlalu takut untuk berkedip. Namun bagimu, bocah sekarat, aku adalah satu-satunya kesempatanmu untuk merangkak kembali ke dunia dan menginjak-injak wajah mereka yang mengkhianatimu.”
Bayangan raksasa samar-samar muncul dari dalam cincin, berbentuk sosok pria dengan jubah kekaisaran yang compang-camping, matanya bersinar merah seperti lautan darah.
“Tubuhmu hancur. Dantianmu hanyalah puing-puing. Tulang Dewamu telah dicuri. Dalam hukum dunia ini, kau adalah sampah. Tapi dalam hukumku... kau adalah wadah yang sempurna. Karena hanya sesuatu yang benar-benar kosong yang bisa melahap seluruh alam semesta.”
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, bayangan hitam itu meledak dan masuk ke dalam lubang di dada Gu Sheng.
"AAAAAARRRRGGGGHHHHH!"
Jeritan Gu Sheng meledak, memecah kesunyian tebing maut. Rasanya seribu kali lebih sakit daripada saat Tulang Dewanya dicabut. Energi hitam itu mulai membakar jalur meridiannya yang putus, menyambungnya kembali dengan paksa menggunakan energi gelap yang kasar. Tulang-tulangnya yang patah bergeser, saling mengunci kembali dengan suara krak yang mengerikan.
Namun, perubahan paling mengerikan terjadi di pusat tubuhnya. Di tempat Dantian-nya yang hancur, energi hitam itu mulai berputar dengan kecepatan gila, menciptakan sebuah pusaran yang menyerupai lubang hitam kecil.
Dantian Penelan Langit.
Pusaran itu mulai menghisap segala sesuatu di sekitarnya. Kabut beracun yang mematikan di dasar tebing, energi spiritual tipis yang tersisa di udara, bahkan serangga-serangga berbisa yang berada di dekatnya semuanya ditarik masuk ke dalam tubuh Gu Sheng, diuraikan, dan diubah menjadi energi Qi hitam yang murni.
“Ini adalah Teknik Penelan Langit Kuno,” suara kaisar iblis itu kembali bergema. “Jangan simpan energimu seperti kultivator lemah lainnya. Telanlah! Telanlah musuhmu, telanlah duniamu, dan jadikan semuanya milikmu!”
Setelah berjam-jam dalam siksaan yang tak tertahankan, rasa sakit itu perlahan memudar, digantikan oleh kekuatan dingin yang mengalir deras di pembuluh darahnya. Gu Sheng perlahan membuka matanya. Pupil matanya tidak lagi berwarna cokelat biasa, melainkan memiliki lingkaran merah darah yang tipis di sekeliling pupil hitam yang pekat.
Ia bangkit berdiri. Gerakannya yang dulu anggun kini terasa lebih tajam, lebih predator. Ia melihat tangannya, kulitnya yang pucat kini memiliki tekstur yang lebih padat, dan luka-luka di tubuhnya telah menutup, meninggalkan bekas luka putih yang samar sebagai pengingat akan pengkhianatan malam itu.
Meskipun ia saat ini berada di tingkat pertama Body Tempering, Gu Sheng bisa merasakan bahwa kualitas tubuhnya jauh melampaui tingkat puncak Qi Refinement yang ia miliki sebelumnya.
Grrrr...
Sebuah geraman rendah terdengar dari balik kabut. Seekor Serigala Tulang Hitam, monster tingkat dua yang menghuni dasar tebing, muncul dengan mata hijau yang kelaparan. Monster itu biasanya akan dengan mudah mencabik-cabik manusia mana pun, apalagi seseorang yang baru saja bangkit dari kematian.
Gu Sheng menatap serigala itu tanpa rasa takut. Alih-alih gemetar, ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam perutnya.
Rasa lapar. Bukan lapar akan makanan, tapi lapar akan energi.
"Mencari mati," bisik Gu Sheng. Suaranya kini terdengar lebih berat dan dingin.
Serigala itu menerjang, taringnya yang tajam mengarah ke leher Gu Sheng. Namun, bagi mata Gu Sheng saat ini, gerakan monster itu terasa sangat lambat. Dengan satu langkah kaki yang mantap, ia menghindar ke samping.
BUM!
Gu Sheng menghantamkan tinjunya ke leher serigala itu. Kekuatan fisiknya meledak, namun yang lebih mengerikan adalah apa yang terjadi selanjutnya. Saat tangannya menyentuh bulu serigala, pusaran di Dantian-nya bergejolak.
Sruuuuut!
Energi kehidupan dan Qi dari serigala itu seolah-olah tersedot keluar secara paksa melalui pori-pori kulitnya. Dalam hitungan detik, serigala yang tadi gagah dan besar itu mulai menyusut, kulitnya mengeriput, dan matanya kehilangan cahaya. Serigala itu jatuh ke tanah sebagai mumi kering sebelum ia sempat mengeluarkan jeritan terakhirnya.
Gu Sheng merasakan aliran energi hangat masuk ke tubuhnya, memperkuat otot-ototnya dan membuat kultivasinya stabil di tingkat kedua Body Tempering.
Satu pembunuhan. Satu tingkat kenaikan.
Ini adalah kecepatan kultivasi yang menantang langit. Di dunia luar, seorang jenius mungkin butuh satu bulan untuk naik satu level di tahap awal, tapi Gu Sheng melakukannya hanya dengan satu sentuhan maut.
"Kekuatan ini..." Gu Sheng mengepalkan tangannya. "Ini benar-benar kekuatan Iblis."
Ia menatap ke atas, ke arah puncak tebing yang tertutup awan hitam. Di sana, di atas sana, Mu Ruoxue mungkin sedang merayakan keberhasilannya mendapatkan Tulang Dewa. Lin Tian mungkin sedang meminum anggur kemenangan sambil menertawakan kematiannya.
"Mu Ruoxue, Lin Tian... Kalian mencuri tulangku karena kalian ingin menjadi dewa. Kalau begitu, aku akan menjadi Iblis yang mematahkan setiap tulang di tubuh kalian," gumam Gu Sheng.
Ia tidak langsung memanjat keluar. Ia tahu, dengan kekuatannya saat ini, ia masih terlalu lemah untuk menghadapi Sekte Pedang Langit secara langsung. Dasar tebing ini, yang dianggap sebagai neraka bagi orang lain, adalah surga baginya. Di sini, ada ribuan monster dan energi kematian yang menunggu untuk dilahap.
Gu Sheng berbalik dan berjalan masuk lebih dalam ke kegelapan dasar tebing. Dia membutuhkan lebih banyak nutrisi. Dia membutuhkan lebih banyak nyawa untuk ditelan.
"Qing Er... tunggu aku," bisiknya saat teringat pada satu-satunya orang yang mungkin masih menangisinya di kediaman Gu. "Tuanmu ini akan segera kembali, dan kali ini, aku akan memastikan tidak ada satu pun orang yang berani menatap matamu dengan rendah."