Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Aku Tidak Akan Mengambil Mereka
Malam di kediaman mewah keluarga Smith di Seoul seharusnya menjadi malam yang hangat, namun bagi Matteo Adrian Reins Smith, udara musim semi terasa mencekik. Lima bulan telah berlalu sejak ia menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiran ibunya, membangun imperium M-Nexus hingga menjadi "The Titan". Ia telah berubah, setidaknya itu yang ia tunjukkan pada dunia. Namun, pertemuannya dengan Chae-young dan si kembar menghancurkan topeng ketenangan yang ia bangun dengan susah payah.
Di sudut lain ruang tengah, Sheena duduk dengan jari-jari yang saling bertautan erat. Ia merasa was-was. Kenangan pahit lima bulan lalu di Manila, tentang jentikan dahi yang intim dan kecupan manis didahi dari Matteo sebelum pria itu pergi meninggalkannya, masih menghantuinya. Ia takut tatapan ice blue itu akan kembali menuntut sesuatu yang tidak bisa ia berikan. Mark pun tak jauh berbeda, ia berdiri dengan protektif di dekat Sheena, matanya sesekali melirik ke arah balkon tempat saudara kembarnya berada. Mark enggan kemari, namun permohonan ibunya, Lee Young-ae, yang mengatakan Matteo sudah berubah, ditambah rencana Marian untuk berziarah ke makam kakek-nenek mereka, membuat klan Smith akhirnya berkumpul di satu atap.
Matteo berdiri mematung di balkon, menatap lampu-lampu Seoul yang berkelap-kelip. Pikirannya tidak di sini. Pikirannya ada pada sepasang mata biru mungil milik si kembar dan aroma vanilla dari rambut bronte waves Chae-young yang baru saja menghilang dari dekapannya.
"Matteo, ada apa? Kau tampak kacau."
Suara lembut ibunya memecah kesunyian. Lee Young-ae berdiri di ambang pintu balkon, menatap putra bungsunya dengan dahi berkerut.
"Tidak apa-apa, Ibu," jawab Matteo tanpa menoleh. Suaranya datar, namun ada getaran yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
"Tidak. Wajahmu tampak kusut. Ceritakan pada Ibu, apa yang kau sembunyikan? Apa ada masalah besar di perusahaanmu?" desak ibunya, melangkah mendekat dan menyentuh lengan Matteo.
Matteo menoleh, menatap ibunya dengan tatapan yang sangat dalam. Di dalam kepalanya, berkecamuk sebuah pengakuan yang sanggup meledakkan kedamaian keluarga ini.
Bagaimana jika Ibu tahu bahwa putranya ini telah menghancurkan hidup seorang wanita lima tahun lalu dan membiarkannya membesarkan dua nyawa sendirian?
"Ibu..." Matteo menjeda, suaranya berat. "Bagaimana kalau Matteo tiba-tiba punya anak?"
Lee Young-ae tertegun sejenak, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya. "Apa? Anak? Apa kau ingin mengadopsi anak karena terlalu sibuk bekerja? Matteo, kalau kau terus membujang seperti ini, Ibu benar-benar akan menjodohkanmu dengan sepupumu di Irlandia."
"Tidak, Ibu. Aku serius," potong Matteo, matanya berkilat tajam. "Bukan anak adopsi. Tapi anak sungguhan. Darah dagingku sendiri. Yang mungkin wajahnya sangat mirip dengan Kendrick."
Senyum di wajah ibunya memudar, digantikan oleh ekspresi bingung yang campur aduk dengan kecurigaan. "Anak sungguhan? Mirip Kendrick? Matteo, kau... jangan bilang kau bicara seperti ini karena kau belum bisa melupakan Sheena? Kau membayangkan Kendrick adalah anakmu?"
Matteo mengembuskan napas kasar. Ibunya benar-benar tidak nyambung, atau mungkin logika ibunya menolak percaya bahwa putranya yang perfeksionis ini bisa melakukan kesalahan sebesar itu. "Sudahlah, Bu. Matteo capek. Matteo mau istirahat."
Matteo melangkah masuk ke dalam rumah, melewati ruang tengah di mana Mark dan Sheena sedang memperhatikan interaksi Kendrick dan Sophie. Saat mata Matteo tak sengaja beradu dengan mata Sheena, ia hanya memberikan tatapan dingin yang sangat formal—jauh dari kesan pria yang dulu pernah memujanya.
"Matteo mau ke mana?" tanya Marian saat melihat adiknya itu tidak menuju kamar, melainkan menyambar kunci mobil di atas meja.
"Ada urusan mendesak," jawab Matteo pendek tanpa menoleh.
Ia keluar dari rumah, memacu mobil sportnya membelah malam Seoul dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kacau. Ia tahu Chae-young bukan tipe wanita yang akan menunggu di rumah untuk diseret paksa. Wanita itu pasti sedang merencanakan pelarian. Dan Matteo, dengan segala kekuasaan yang ia miliki, tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.
Sementara itu, di apartemennya, Chae-young bergerak dengan panik yang terkendali. Ia sudah memasukkan pakaian si kembar ke dalam dua koper besar. Air matanya terus mengalir, namun ia menyapunya dengan kasar.
"Kita harus pergi sekarang, Sayang. Ayo, pakai jaket kalian," bisik Chae-young pada Chan-yeol dan Chae-rin.
"Kita mau ke mana, Mommy? Apa kita akan pergi ke rumah Daddy?" tanya Chae-rin, memeluk boneka kelincinya erat-erat.
"Tidak, Chae-rin-ah. Kita akan pergi ke tempat yang jauh dari Uncle itu," jawab Chae-young tegas.
Namun, tepat saat ia hendak membuka pintu apartemen, terdengar suara langkah kaki yang berat dan teratur di koridor. Chae-young membeku. Ia tahu irama langkah itu. Irama langkah seorang pria yang tidak terbiasa menerima kata tidak.
Tok! Tok! Tok!
"Chae-young, buka pintunya. Aku tahu kau di dalam."
Suara bariton Matteo terdengar dari balik pintu, tidak lagi sedingin papan triplek, melainkan penuh dengan otoritas yang mendesak. Chae-young memegang gagang pintu dengan tangan gemetar, namun ia tidak membukanya.
"Pergilah, Tuan Matteo! Saya sudah bilang, lupakan semuanya!" teriak Chae-young dari dalam.
"Aku tidak akan pergi sampai kau membuka pintu ini, atau aku akan memanggil tim keamanan untuk membongkar pintumu jika kau tidak membukanya!" ancam Matteo. Ia bersandar di pintu, dadanya naik turun karena emosi. "Kau bisa lari dariku, tapi kau tidak bisa lari dari fakta bahwa anak-anak itu membutuhkanku. Aku melihat cara Chan-yeol menatapku, Chae-young. Dia butuh jawaban, bukan pelarian!"
Di dalam, Chan-yeol menatap ibunya dengan tatapan yang sangat dewasa. "Biarkan Daddy masuk, Mommy. Aku ingin mendengar apa yang akan dia katakan."
Chae-young merasa kalah. Ia perlahan membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka, sosok Matteo yang tampak berantakan—jasnya entah ke mana dan kemejanya kusut—berdiri di sana. Matanya langsung tertuju pada koper-koper yang sudah siap di ruang tamu.
"Kau ingin kemana lagi?" tanya Matteo dengan tawa getir. "Setelah lima tahun, kau masih berpikir bahwa melarikan diri adalah solusinya?"
"Apa lagi yang bisa saya lakukan?!" balas Chae-young, air matanya tumpah. "Anda datang dengan kekuasaan Anda, dengan uang Anda, dan sekarang, apa yang ingin Anda lakukan? Anda pikir saya tidak tahu niat hati Anda? Tolong jangan mengambil anak-anakku. Hanya mereka berdua yang aku punya."
Matteo tertegun. Ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya, mengunci dunia luar. Ia mendekati Chae-young, lalu tanpa peringatan, ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Chae-young meronta, memukul dada Matteo, namun pria itu tidak melepaskannya.
"Dengarkan aku," bisik Matteo di telinga Chae-young, aromanya yang maskulin bercampur dengan wangi vanilla Chae-young yang memabukkan. "Aku tidak akan mengambil mereka. Mana bisa aku melakukan itu."
Chae-young perlahan berhenti meronta, isakannya mereda di pundak Matteo.
"Kenapa baru sekarang?" tanya Chae-young parau.
"Karena aku bodoh," jawab Matteo jujur. "Karena aku terlalu fokus pada rasa sakitku sendiri hingga aku tidak melihat ada cahaya yang kau bawa malam itu. Tapi sekarang aku sudah bangun, Chae-young-ah. Dan aku tidak akan membiarkan cahayaku hilang lagi di kegelapan."
Di ambang pintu kamar, si kembar memperhatikan dalam diam. Chan-yeol sedikit tersenyum melihat pria yang ia panggil Daddy itu akhirnya bisa menenangkan ibunya. Malam itu, di apartemen sempit di Mapo, seorang Titan sedang berjanji untuk meruntuhkan dunianya sendiri demi membangun dunia baru bagi wanita dengan rambut bronte waves dan dua malaikat bermata biru.