Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Tirai Keramat di Balik Gubuk Bambu
Arjuna kemudian menyiramkan air itu dengan gerakan yang sangat mantap ke empat sudut tanahnya. Setiap tetesan air yang jatuh tidak meresap ke bumi, melainkan memercikkan cahaya perak yang sangat sejuk. Tiba-tiba, suara Arjuna yang biasanya pelan berubah menjadi sangat berwibawa:
"Saksikan wahai Bumi, saksikan wahai Langit... Ini Arjuna! Ini wilayah Arjuna! Siapa pun yang hendak mengganggu, harus melewati jasadku terlebih dahulu! Zikir Sirri... Lailahaillallah... TUTUP JATI!"
Wuuusss!
Seketika, angin puyuh kecil berputar di sekeliling Arjuna. Kayu-kayu jati berukuran raksasa tiba-tiba turun dari alam gaib, menyusun diri dengan sangat cepat menjadi sebuah Rumah Joglo yang sangat megah. Tiang-tiangnya diukir emas, dan lantainya dari marmer putih yang paling mahal.
Namun, begitu bangunan itu sempurna, Arjuna mengusap wajahnya sambil bergumam, "Ilang... Dadi gembel!"
Dalam sekejap mata, rumah megah itu "berubah" rupa bagi pandangan orang lain. Di mata penduduk desa yang lewat, rumah itu hanyalah sebuah gubuk bambu reyot yang hampir roboh. Atapnya dari rumbia yang sudah menghitam, dan dinding bambunya (gedhek) penuh tambalan sana-sini.
"Lho, Kang? Kok rumahnya jadi gubuk begini lagi?" tanya Aminah Az-Zahra dengan wajah kecewa.
Arjuna tersenyum misterius. "Masuklah dulu, Nduk."
Begitu Siti dan Aminah melangkah melewati pintu gubuk yang nampak rapuh itu, mereka terperangah. Di dalam gubuk itu ternyata adalah sebuah Istana yang sangat luas, sejuk, dan wangi bunga melati. Lantainya sangat bersih dan mengkilap, namun saat mereka melihat keluar melalui jendela kayu, yang tampak tetaplah sawah berlumpur dan jalanan desa yang rusak.
"Inilah rumah kita. Di luar kita nampak miskin, tapi di dalam kita mulia. Ini rahasia kita. Jangan ceritakan pada siapa pun, agar dunia tidak mengejar-ngejar kita," kata Arjuna dengan tenang.
Sore harinya, seorang warga desa bernama Pak Kromo lewat memikul rumput. Ia melihat Arjuna sedang duduk di depan gubukannya yang nampak mlarat itu sambil mengunyah singkong mentah.
"Juna! Kasihan sekali kamu, sudah pernah gila, sekarang tinggal di gubuk mau roboh begitu! Makanya, jangan kebanyakan zikir, nanti tambah stres!" ledek Pak Kromo sambil tertawa mengejek.
Arjuna hanya tertawa konyol. "Iya, Pak Kromo. Namanya juga orang susah, yang penting bisa tidur dan tidak kehujanan."
Di dalam rumah, Siti dan Aminah hanya bisa tersenyum. Mereka melihat suami mereka dihina, namun mereka tahu Arjuna adalah seorang wali besar yang derajatnya sangat tinggi.
Namun, ketenangan itu terusik saat Arjuna melihat sebuah mendung hitam kecil melayang tepat di atas atap gubukannya. Itu bukan awan hujan, melainkan Kiriman Santet dari musuh lama.
"Siti, Aminah... masuklah ke kamar zikir. Ada tamu gelap yang mau mencoba kekuatan dinding bambu kita. Biar Arjuna yang menyambutnya," perintah Arjuna, matanya mendadak berubah tajam dan penuh wibawa
Mendung hitam itu semakin rendah, berputar tepat di atas gubuk bambu Arjuna yang terlihat rapuh. Hawa di sekitar mendadak menjadi sangat panas dan tercium bau bangkai yang menyengat. Itulah Santet Pring Sedapur, kiriman ilmu hitam yang bertujuan merubuhkan rumah dan menghancurkan isinya.
.
Siti Khumairoh dan Aminah Az-Zahra sudah berada di dalam kamar zikir, melantunkan ayat-ayat suci dengan suara gemetar. Mereka melihat dari celah dinding bambu, suami mereka—Arjuna—justru sedang asyik memegang sebuah Sapu Lidi yang sudah rombeng (rusak).
.
"Kang Juna! Masuk, Kang! Langitnya merah begitu!" teriak Aminah dari dalam.
.
Arjuna tidak menjawab. Ia malah mulai menyapu halaman tanahnya yang penuh debu dengan santai. "Sraak... sruuk... sraak... sruuk..."
.
Tiba-tiba, dari dalam mendung hitam itu meluncur belasan paku berkarat dan jarum yang membara, melesat bak anak panah menuju jantung Arjuna.
.
"Hahaha! Tamu kok nggak sopan, kasih paku segala!" teriak Arjuna sambil tertawa konyol.
.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Arjuna mengibaskan sapu lidinya ke udara. Anehnya, setiap helai lidi itu seolah memancarkan garis cahaya putih yang sangat tajam. Paku-paku dan jarum itu bukannya menancap di tubuh Arjuna, malah terpental balik ke arah datangnya mendung tadi.
.
Ting! Ting! Ting!
.
Suara logam beradu dengan lidi terdengar nyaring. "Sekarang giliranku menyapu sampah-sampah ini!" Arjuna kemudian memutar sapu lidinya di atas kepala. Seketika, muncul angin puyuh kecil yang menyedot mendung hitam itu masuk ke dalam ikatan sapu lidi Arjuna.
.
"Zikir Sirri... Baliko menyang asale! ILANG!"
.
Arjuna menghentakkan sapu lidi itu ke tanah sekali. DHUARR! Suara ledakan terdengar di kejauhan, tepatnya di sebuah rumah dukun di luar kota yang mengirim santet tersebut. Di sana, sang dukun muntah darah karena serangannya dikembalikan seribu kali lipat oleh Arjuna.
.
Seketika langit kembali cerah. Bau bangkai hilang berganti wangi melati dari dalam rumah. Arjuna kembali menyapu dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
.
"Sudah bersih, Nduk. Keluar saja, bantu aku siapkan teh. Tamunya sudah pulang bawa oleh-oleh paku," ucap Arjuna sambil nyengir.
.
Pak Kromo yang kebetulan lewat lagi dengan pikulan rumputnya, melihat Arjuna sedang menyapu halaman sambil bicara sendiri. Pak Kromo menggeleng-gelengkan kepala.
.
"Dasar Juna... sudah gila, rumah mau roboh bukannya diperbaiki malah sibuk nyapu tanah kering. Kasihan istrimu yang cantik-cantik itu punya suami setengah waras," ejek Pak Kromo sambil terus berjalan.
.
Arjuna hanya menunduk dan tertawa kecil. "Iya, Pak Kromo. Orang gila memang hobinya nyapu debu."
.
Begitulah cara Arjuna menjaga rahasianya. Baginya, dihina manusia itu murah, yang mahal adalah tetap terjaga di mata Tuhan. Di dalam gubuk reyot itu, istana cahayanya tetap berdiri kokoh, tak tersentuh oleh api maupun sihir.