Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Yang Chen masuk ke dalam kabut.
Dunia di dalam hutan itu hening, tapi bukan hening yang kosong. Itu adalah keheningan penuh kewaspadaan. Suara ranting patah, suara gesekan daun, suara serangga... semuanya adalah informasi.
Yang Chen tidak berjalan di jalan setapak. Dia menerobos semak belukar. Jubah hitamnya tersangkut duri tanaman liar, tapi Yang Chen tidak peduli. Kulit di balik jubah itu sekarang sekeras kulit kayu, duri biasa tidak akan bisa menggoresnya.
Tiba-tiba, telinga Yang Chen berkedut.
Kresek.
Suara itu berasal dari arah jam dua. Jarak sekitar lima belas meter. Di balik rumpun pakis raksasa.
Yang Chen berhenti bernapas. Sang pemuda mengaktifkan teknik Penyembunyian Napas. Detak jantungnya ditekan melambat.
Seekor makhluk keluar dari balik pakis.
Itu adalah seekor Kelinci Angin (Wind Rabbit). Ukurannya sebesar anjing kampung. Bulunya berwarna abu-abu kehijauan, memungkinkannya berkamuflase dengan semak. Kakinya panjang dan berotot. Di kepalanya, ada satu tanduk kecil sepanjang jari telunjuk.
Kelinci Angin adalah monster Tingkat 0 (binatang buas biasa yang mulai bermutasi). Mereka sangat cepat. Bagi pemburu pemula, menangkap kelinci ini adalah mimpi buruk karena kecepatannya.
Mata kelinci itu, yang berwarna merah delima, menatap ke sekeliling dengan waspada. Hidungnya bergerak-gerak mencium udara.
Kelinci itu tidak mencium bau Yang Chen, karena Yang Chen berdiri melawan arah angin.
"Target dikunci," batin Yang Chen.
Yang Chen tidak punya panah. Tidak punya tombak. Hanya pisau belati pendek. Untuk membunuh kelinci yang bisa berlari secepat angin itu, Yang Chen harus mendekat.
Yang Chen merendahkan tubuhnya, menekuk lutut. Otot paha Yang Chen menegang, memadat seperti pegas baja yang ditekan maksimal. Energi dari Inti Monster dialirkan ke telapak kaki.
Kelinci itu mulai menunduk untuk memakan rumput.
Sekarang!
DHUAR!
Tanah tempat pijakan Yang Chen meledak, meninggalkan lubang kecil. Tubuh Yang Chen melesat maju seperti peluru meriam.
Kecepatan ini... gila!
Dalam satu kedipan mata, Yang Chen sudah melintasi jarak sepuluh meter. Angin menderu di telinganya.
Kelinci Angin itu bereaksi. Refleksnya luar biasa. Telinganya tegak, dan kaki belakangnya menendang tanah untuk melompat kabur ke samping.
Di mata orang biasa, kelinci itu akan terlihat seperti bayangan kabur.
Tapi di mata Yang Chen—mata yang diperkuat oleh persepsi jiwa Kaisar—gerakan kelinci itu terlihat Slow Motion. Yang Chen bisa melihat otot kaki kelinci itu menegang. Yang Chen bisa melihat arah lompatannya.
"Terlalu lambat," pikir Yang Chen.
Tangan kanan Yang Chen terulur. Bukan menebas dengan pisau, tapi mencengkeram.
Jari-jari Yang Chen yang kini sekeras besi mencengkeram leher kelinci itu tepat di udara, setengah detik sebelum kelinci itu sempat melesat menjauh.
Grep.
Momentum lari Yang Chen masih kencang. Yang Chen tidak berhenti. Dia membanting tubuh kelinci yang ada di genggamannya itu ke batang pohon terdekat sambil terus berlari.
BRAK!
Darah segar muncrat.
Tubuh kelinci itu lemas seketika. Tulang leher dan tulang punggungnya hancur total akibat benturan itu.
Yang Chen berhenti berlari, terengah-engah sedikit. Bukan karena lelah, tapi karena kaget dengan lonjakan tenaga barusan.
Yang Chen melihat tangannya. Darah kelinci membasahi sarung tangan dan lengan bajunya. Kelinci itu sudah mati, matanya melotot keluar.
"Kekuatan ledakan setara dengan banteng," analisis Yang Chen. "Tapi kontrolnya nol. Aku hampir menabrak pohon tadi."
Perut Yang Chen meraung lagi, kali ini lebih keras karena mencium bau darah segar. Rasa lapar itu berubah menjadi rasa sakit yang menusuk.
Yang Chen tidak menunggu api unggun. Dia tidak punya waktu untuk menguliti dan memanggangnya dengan bumbu.
Yang Chen duduk di akar pohon besar itu. Dia merobek kulit leher kelinci itu dengan pisau belatinya.
Dia menampung darah yang mengalir keluar ke dalam mulutnya.
Darah itu hangat, amis, dan kental. Bagi manusia beradab, itu menjijikkan. Tapi bagi tubuh Yang Chen yang sedang dalam kondisi Starvation Mode, itu adalah Elixir.
Darah monster mengandung Qi alami yang belum dimurnikan.
Saat darah itu masuk ke tenggorokan Yang Chen, sensasi hangat menyebar. Inti Monster di perutnya bergetar senang, menyerap energi dari darah itu dengan rakus. Rasa sakit di perut Yang Chen perlahan mereda.
Yang Chen meminum darah itu sampai tetes terakhir. Wajahnya kini belepotan darah, membuatnya terlihat seperti iblis hutan.
Lalu, dia memotong daging paha kelinci itu. Dagingnya masih hangat, ototnya masih berkedut.
Yang Chen memakannya mentah.
Gigi Yang Chen—yang juga diperkuat oleh energi Earth—merobek serat daging yang alot itu dengan mudah. Dia mengunyahnya kasar dan menelannya.
Satu gigitan. Dua gigitan.
Yang Chen menghabiskan separuh kelinci itu dalam waktu lima menit.
Barulah dia merasa 'hidup' kembali. Matanya yang tadi liar perlahan kembali tenang dan jernih. Warna kekuningan di pupilnya memudar, kembali menjadi hitam pekat.
Yang Chen menyeka mulutnya dengan punggung tangan. Dia melihat sisa bangkai kelinci di tangannya.
"Menyedihkan," gumam Yang Chen, menertawakan dirinya sendiri. "Seorang Kaisar yang makan seperti binatang buas."
Tapi Yang Chen tidak menyesal. Martabat bisa dibangun nanti. Bertahan hidup adalah sekarang.
Setelah perutnya terisi, pikiran Yang Chen kembali tajam. Dia merasakan aliran energi baru di dalam tubuhnya. Qi dari daging kelinci itu kecil, sangat kecil, tapi itu adalah Qi eksternal pertama yang berhasil dia serap.
Yang Chen berdiri. Dia membuang sisa bangkai kelinci itu ke semak-semak—umpan untuk predator lain.
"Ujian kecepatan selesai," kata Yang Chen. "Sekarang ujian pertahanan."
Yang Chen melihat ke arah yang lebih dalam di hutan. Kabut di sana lebih tebal.
Dia butuh lawan yang lebih tangguh daripada kelinci. Dia butuh sesuatu yang bisa memukul balik.
Sesuatu seperti... Babi Hutan Besi (Iron Boar).
Monster Tingkat 1 Awal. Kulitnya sekeras perisai besi, taringnya bisa merobek baju zirah. Itu adalah lawan yang sempurna untuk menguji seberapa keras Stone Skin milik Yang Chen.
Yang Chen melangkah lebih dalam ke Hutan Kabut. Bayangannya ditelan oleh kabut putih, meninggalkan jejak darah dan jejak kaki yang dalam di tanah lembap.
Perburuan yang sebenarnya baru saja dimulai.