Khusus Dewasa 📌
"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Malam itu, rintik hujan menghantam kaca jendela kamar dengan irama yang monoton, menciptakan suasana melankolis di dalam kemegahan kamar utama yang sunyi. Calista berdiri mematung di balkon yang tertutup, menatap kosong ke arah taman yang gelap gulita. Di balik punggungnya, kemewahan kamar itu dengan seprai sutra, lampu kristal, dan furnitur jati terasa seperti sangkar emas yang setiap harinya terasa semakin sempit dan menyesakkan dada. Ia merasa seperti seorang aktor yang kelelahan setelah pertunjukan panjang, di mana tepuk tangan penonton hanyalah kebencian dari orang-orang di sekitarnya.
Pikirannya melayang pada kejadian di meja makan pagi tadi. Tamparan yang ia layangkan pada Puput terus terbayang, meninggalkan rasa panas yang aneh di telapak tangannya dan denyut penyesalan yang samar. Calista menghela napas panjang, bahunya merosot menghilangkan segala postur tegak, dagu yang terangkat, dan tatapan angkuh yang ia paksakan sepanjang hari di hadapan penghuni rumah lainnya. Ia menyentuh permukaan kaca yang dingin, merasakan kontras antara suhu di luar dan gejolak emosi yang membakar di dalam dirinya.
Aku lelah harus menjadi wanita galak ini, batinnya perih sembari menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Calista hanyalah wanita yang mendambakan ketenangan dan kehangatan. Ia adalah sosok yang lebih suka mengalah daripada berkonfrontasi, seorang wanita yang hatinya mudah rapuh oleh kata-kata kasar dan tatapan penuh kebencian. Namun, keadaan hidup yang kejam memaksanya memakai topeng keberanian yang tajam, dingin, dan tak tersentuh. Ia harus berpura-pura menjadi "singa" yang siap menerkam hanya agar tidak dimangsa hidup-hidup oleh serigala-serigala di rumah Satrya yang penuh intrik dan kelicikan. Ia merasa jiwanya perlahan mengering, tertutup oleh lapisan es yang ia bangun sendiri demi bertahan hidup. Ia merindukan masa-masa di mana ia bisa tersenyum tanpa harus memikirkan strategi pertahanan diri.
"Kenapa? Kau menyesali tamparan itu? Atau kau sedang meratapi nasibmu sebagai antagonis di rumah ini, Calista?"
Suara bariton yang dingin memecah lamunan Calista dengan tajam. Denis berdiri di ambang pintu balkon, memperhatikan Calista dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara pengamatan dingin dan ketertarikan yang dalam. Ia melangkah maju, melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas nakas dengan bunyi denting yang tegas, menunjukkan otoritas yang tetap kental meski ia hanya mengenakan kemeja yang lengannya sudah digulung.
Calista menoleh perlahan, matanya yang biasa terlihat berani kini tampak sedikit sembab dan redup di bawah cahaya lampu temaram. "Aku hanya berpikir... sampai kapan aku harus terus berpura-pura menjadi wanita pemberani dan kasar seperti ini, Mas? Ini bukan aku yang sebenarnya. Aku merasa kehilangan diriku sendiri di balik topeng yang kau minta aku pakai. Aku merindukan ketenangan, bukan peperangan di setiap sudut rumah."
Denis berjalan mendekat tanpa suara di atas karpet tebal, berhenti tepat di depan Calista hingga wanita itu harus mendongak untuk menatapnya. Ia tidak memberikan kata-kata penghiburan yang manis atau pelukan hangat. Sebaliknya, ia menatap Calista dengan tatapan tajam yang mengingatkan pada kenyataan pahit dan kontrak yang menjadi pengikat mereka.
"Jangan pernah melupakan kesepakatan kita, Calista. Penyesalan adalah kemewahan yang tidak bisa kau beli saat ini," ucap Denis dengan nada datar namun menghunjam tepat ke ulu hati. "Kau sudah menyetujui peran ini sejak awal dengan penuh kesadaran. Kau setuju untuk menjadi perisai dan pedangku di rumah ini untuk menebas siapapun yang menghalangi jalanku. Sebagai gantinya, aku memberikan semua yang kau inginkan biaya pengobatan ibumu yang selangit, fasilitas mewah yang tak terbayangkan, dan perlindungan penuh dari nama besar Satrya."
Denis menatap lekat-lekat ke dalam mata Calista, seolah sedang membaca setiap ketakutan yang tertulis di sana. "Ingat, kelembutan hanya akan membuatmu hancur di tangan orang-orang seperti Ibu dan Puput. Aku tidak menyewa seorang martir; aku menyewa seorang pendamping yang tangguh."
Denis mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Calista dan mengangkatnya sedikit agar mata mereka saling mengunci dalam keheningan yang mencekam. Kehangatan jarinya terasa kontras dengan kata-katanya yang sedingin es kutub. Ia ingin Calista ingat bahwa setiap fasilitas yang ia nikmati memiliki harga yang sepadan.
"Aku membiayai napas ibumu setiap detiknya, dan sebagai imbalannya, kau memberikan hidupmu untuk menjalankan skenarioku," lanjut Denis. Suaranya merendah, menjadi lebih dalam, berat, dan penuh nada posesif yang mengintimidasi. "Jangan pernah merasa lemah atau bertingkah seperti korban, karena saat ini kau membawa namaku di pundakmu. Dan ingatlah satu hal lagi yang paling mendasar..."
Denis mendekatkan wajahnya ke telinga Calista, membuat napasnya yang hangat menerpa kulit Calista yang mulai meremang hebat. Jantung Calista berdegup kencang, antara takut dan sesuatu yang tidak bisa ia definisikan.
"Seluruh keberadaanmu, setiap jengkal tubuhmu, kini adalah milikku secara hukum dan kontrak yang sah. Aku memang belum mengambil hakku malam itu karena aku menghargai keadaanmu yang bingung. Tapi jangan salah paham, suatu saat nanti, kau harus memberikan apa yang seharusnya memang menjadi milikku sejak awal. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini, Calista. Dan aku adalah penagih janji yang sangat disiplin. Persiapkan dirimu, karena aku tidak akan menunggu selamanya."
Calista tertegun, lidahnya seolah kelu dan tenggorokannya tercekat. Ia diingatkan kembali bahwa di balik perlindungan dan kemewahan ini, ada harga yang sangat mahal dan sangat personal yang harus ia bayar. Ia bukan hanya mitra; ia adalah aset yang telah dibayar lunas, dan Denis Satrya adalah pemilik yang tidak akan pernah merelakan investasinya hilang tanpa mendapatkan hasil yang ia inginkan. Setiap bantuan yang Denis berikan adalah rantai yang mengikat Calista semakin kuat ke dalam genggamannya. Ia menyadari bahwa penyerahan dirinya kepada Denis hanyalah masalah waktu.
"Aku mengerti, Mas. Maafkan kelancanganku karena telah menunjukkan kelemahan," bisik Calista lirih. Ia menelan semua keraguan, rasa sakit, dan kelemahannya kembali ke dalam hati yang paling dalam, menguburnya di bawah lapisan es baru.
Denis menatapnya sejenak, mencari sisa-sisa pemberontakan di mata itu, sebelum akhirnya melepaskan dagu Calista dengan perlahan namun tegas. Ia berbalik menuju tempat tidur, meninggalkan Calista dalam keheningan malam yang kembali membeku. Calista menyadari bahwa di rumah ini, air mata adalah kelemahan yang tak terbeli oleh dolar mana pun, dan ia harus segera memasang kembali topeng ratu esnya sebelum fajar menyapa, karena besok, ia harus kembali menjadi wanita yang ditakuti semua orang demi menjaga nyawa ibunya. Perjalanan ini masih sangat panjang, dan ia harus memastikan hatinya tidak ikut hancur dalam prosesnya.
Pastikan membaca sampai akhir yaaaa ❤🥰😊🤭