NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: RANGGA NATA DAN PERGURUAN MELATI PUTIH

Tiga hari telah berlalu sejak badai besar yang membawa Rangga Nata kembali ke pangkuan Perguruan Melati Putih. Langit pagi ini tampak begitu cerah, biru bersih tanpa noda awan, seolah alam ingin merayakan kemenangan hidup atas maut. Udara pegunungan yang segar berhembus, membawa harum bunga melati yang mulai bermekaran kembali, menggantikan aroma obat-obatan yang tajam.

Namun di dalam kompleks perguruan, sisa-sisa ketegangan belum sepenuhnya menguap. Murid-murid masih berjaga dengan waspada, meski gurat kecemasan di wajah mereka telah berganti dengan rasa syukur yang mendalam.

Di sebuah paviliun kayu yang menghadap ke taman teratai yang tenang, Dewi Melati duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra. Wajahnya kini telah kembali menampakkan rona kehidupan; bibirnya tak lagi hitam, meski gurat kelelahan akibat sisa racun masih tampak di sudut matanya.

Di sampingnya, Selasih duduk bersimpuh dengan anggun. Gadis itu sudah jauh lebih sehat, namun pikirannya tampak mengembara jauh. Sepasang matanya yang jernih tak henti-hentinya melirik ke satu arah di halaman bawah.

Ke arah sosok pemuda yang tengah berdiri di bawah pohon beringin tua.

Rangga Nata. Pemuda itu tampak tengah berbincang santai dengan beberapa murid senior. Sesekali ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus namun tetap menyimpan wibawa yang tak bisa disembunyikan. Tak ada sedikit pun kesombongan dalam gerak-geriknya, seolah perjalanan maut ke Gunung Tiga Puluh hanyalah sebuah jalan-jalan sore yang biasa.

“Dia memang pemuda yang berbeda, Selasih…” gumam Dewi Melati pelan, memecah keheningan paviliun.

Selasih tersentak, wajahnya sedikit memerah. Ia segera menunduk, memainkan ujung selendangnya tanpa berani menjawab.

“Selasih…” panggil Dewi Melati dengan nada yang lebih lembut, hampir seperti seorang ibu.

Gadis itu langsung mendongak. “Ya, Guru?”

Dewi Melati menatap murid kesayangannya itu dengan pandangan yang dalam. “Kau tahu betul siapa yang telah menarik nyawamu kembali dari ambang gerbang kematian?”

Selasih tersenyum kecil, sorot matanya melembut. “Rangga Nata… Pendekar Naga Emas.”

“Dan dia juga menyelamatkan nyawaku, serta masa depan perguruan ini,” tambah Dewi Melati.

Selasih mengangguk pelan. Namun, ada sesuatu yang tersirat di wajahnya—sebuah perasaan yang belum tuntas, sebuah kekaguman yang bercampur dengan kegelisahan yang ia sendiri belum mampu definisikan. Dewi Melati menangkap kilat itu, namun ia memilih untuk menyimpan komentarnya.

“Panggil dia kemari, Selasih. Ada hal penting yang ingin kubicarakan,” perintah Dewi Melati.

Selasih bangkit berdiri, merapikan jubah putihnya yang bersih. Ia melangkah perlahan menuju halaman. Langkahnya terasa sedikit canggung saat ia mendekati kerumunan murid di bawah pohon.

“Rangga…” panggilnya. Suaranya lembut, namun sanggup menembus keriuhan kecil di sana.

Rangga menoleh. Matanya bertemu dengan mata Selasih. Untuk sekejap, gadis itu merasa jantungnya berdesir hebat hingga ia harus membuang muka ke arah lain.

“Ada apa, Selasih?” tanya Rangga seraya berjalan mendekat.

“Guru ingin berbicara denganmu di paviliun,” jawab Selasih pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan.

Rangga mengangguk tanpa banyak tanya. “Baiklah.”

Ia mengikuti langkah Selasih. Rangga memperhatikan bahwa langkah gadis itu hari ini terasa berbeda—lebih lambat, lebih ragu, seolah setiap jengkal tanah yang mereka lalui membawa beban pikiran yang berat.

Sesampainya di paviliun, Rangga segera merangkapkan kedua tangannya, membungkuk hormat. “Salam hormat, Dewi Melati. Senang melihat Anda sudah bisa duduk dengan tegak kembali.”

Dewi Melati tersenyum lebar, senyuman yang penuh rasa terima kasih. “Duduklah, Rangga. Jangan sungkan di rumah kami sendiri.”

“Maaf… aku lebih nyaman berdiri, Guru. Luka di kakiku terasa kaku jika dipaksa menekuk,” dalih Rangga dengan halus, meski sebenarnya ia hanya ingin tetap dalam posisi waspada.

Dewi Melati mengangguk paham. “Keadaan kami sudah jauh membaik, semua berkat pengorbananmu.”

“Jika bukan karena Empedu Macan Putih yang kau bawa dengan taruhan nyawa itu,” lanjut Dewi Melati dengan nada serius, “barangkali hari ini kau hanya akan melihat pusara yang berjejer di halaman depan.”

Rangga menggeleng pelan. “Jangan berkata begitu. Menolong yang membutuhkan adalah kewajiban mutlak bagi siapa pun yang memegang pedang di jalan kebenaran.”

Selasih yang berdiri di samping mereka melirik Rangga sekilas. “Kewajiban?” gumamnya lirih, seolah menguji kata itu di hatinya.

Rangga menoleh padanya. “Ya. Bukankah itu esensi dari menjadi seorang pendekar? Melindungi yang lemah dan menebus keadilan?”

Selasih terdiam, namun hatinya bergetar hebat. Jawaban Rangga begitu murni, tanpa pamrih sedikit pun.

“Kalau semua pendekar di rimba ini memiliki hati semurni dirimu, Rangga,” ucap Dewi Melati, “maka dunia persilatan tidak akan menjadi genangan darah sesadis sekarang.”

Dewi Melati menyesap teh hangatnya, lalu tatapannya berubah lebih ringan, sedikit menggoda. “Ngomong-ngomong… bagaimana dengan gadis pendekar yang bersamamu saat penyerbuan itu?”

Rangga langsung teringat pada sosok yang tertinggal di balik kabut kelabu. “Ayu Wulandari.”

Mendengar nama itu, Selasih tanpa sadar menegakkan tubuhnya, telinganya menajam.

“Dia terluka parah akibat pukulan licik Macan Hitam,” lanjut Rangga, suaranya memberat. “Organ dalamnya hancur. Aku harus membawanya ke tempat yang paling ekstrem untuk menyelamatkannya.”

“Lalu di mana dia sekarang?” tanya Dewi Melati penasaran.

“Aku menitipkannya pada sahabat guruku. Namanya Nini Ruai, di Lembah Mayat.”

Dewi Melati tersentak, cangkir tehnya hampir terlepas. “Nini Ruai? Dukun maut dari Lembah Mayat itu? Kau berani masuk ke sana?”

Rangga mengangguk tenang. Selasih pun ikut terkejut, matanya membelalak. “Lembah Mayat… tempat yang konon tak ada jalan keluarnya?”

“Memang menyeramkan,” Rangga tersenyum tipis melihat ekspresi Selasih, “tapi di bawah perlindungan Nini Ruai, dia aman. Tak ada satu pun anak buah Macan Hitam yang berani menginjakkan kaki di sana.”

“Aman ya…” ulang Selasih pelan. Ada nada aneh dalam suaranya—sebuah rasa lega yang bercampur dengan sesuatu yang menyerupai kecemburuan kecil yang tak beralasan.

“Dan Ayu…” lanjut Rangga, sorot matanya melembut, memancarkan kehangatan yang tak ia tunjukkan pada orang lain. “Dia gadis yang luar biasa. Berani, tulus, dan tidak ragu mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku. Gelar Bidadari Penebus Nyawa memang sangat pantas untuknya.”

Selasih menggigit bibirnya, merasakan sedikit perih di dadanya yang ia sendiri tidak mengerti asalnya.

Sunyi menyelimuti paviliun selama beberapa saat. Selasih akhirnya memberanikan diri berkata, “Sepertinya… kau sangat mengaguminya, Rangga.”

Rangga menoleh, sedikit terkejut dengan nada bicara Selasih. “Aku hanya mengatakan kenyataan atas apa yang telah ia lakukan padaku.”

“Begitu…” jawab Selasih singkat, kembali menunduk dalam.

Dewi Melati menangkap dinamika perasaan antara kedua anak muda di depannya. Ia tersenyum tipis, merasa saatnya telah tiba untuk menyampaikan niatnya.

“Rangga…” panggil Dewi Melati dengan suara yang berwibawa.

“Ya, Guru?”

“Aku punya satu permintaan besar padamu.”

Rangga menatapnya dengan seksama. “Silakan katakan, jika itu dalam kemampuanku, akan kulakukan.”

Dewi Melati menarik napas panjang, lalu berkata dengan mantap, “Jadilah bagian dari Perguruan Melati Putih secara permanen. Aku ingin kau menjadi pilar utama di sini, dan… aku ingin menjodohkanmu dengan murid kesayanganku, Selasih.”

“GURU!” Selasih menjerit kecil, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Ia tak menyangka gurunya akan sefrontal itu.

Rangga terdiam seribu bahasa. Wajahnya tetap tenang, namun matanya menatap kejauhan, menembus cakrawala pegunungan. Keheningan yang tercipta terasa begitu panjang dan menyiksa bagi Selasih.

Akhirnya, Rangga menarik napas dalam dan berkata dengan suara yang sangat lembut namun memiliki ketegasan baja.

“Maafkan aku, Dewi Melati.”

Dewi Melati menatapnya, menunggu kelanjutan kalimat itu.

“Aku tidak bisa menerima tawaran itu.”

Jawaban itu jatuh bagaikan palu godam bagi Selasih. Ia menunduk semakin dalam, dadanya terasa sesak seolah pasokan udara mendadak hilang.

“Alasannya?” tanya Dewi Melati, suaranya tetap tenang meski tersirat sedikit kekecewaan.

“Jalanku sebagai pendekar belum selesai,” jawab Rangga mantap. “Urusanku dengan Gunung Tiga Puluh dan Macan Hitam masih menyisakan utang darah. Dunia ini terlalu luas untukku berdiam diri di satu tempat, dan tanggung jawabku sebagai murid Naga Emas menuntutku untuk terus mengembara.”

Ia menoleh pada Selasih yang masih menunduk. “Selain itu… pernikahan adalah ikatan suci yang harus dibangun di atas perasaan yang sama, bukan sekadar pelunasan rasa terima kasih atau balas budi.”

Selasih memejamkan matanya rapat-rapat. Kalimat itu menusuk telak, menghancurkan fantasi kecil yang sempat muncul di kepalanya. Namun di sisi lain, ia semakin mengagumi kejujuran Rangga.

Rangga membungkuk hormat. “Maaf jika kejujuranku ini mengecewakan Anda.”

Dewi Melati tersenyum tipis, lalu menghela napas panjang. “Tidak, Rangga. Justru kejujuranmu membuktikan bahwa kau memang pemuda berhati mulia.”

Ia bangkit berdiri dengan perlahan, meski tubuhnya masih terasa berat. “Selasih, tinggalkan kami sebentar. Ada hal yang ingin kusampaikan secara pribadi padanya.”

Selasih terdiam sejenak, lalu mengangguk lemah. “Baik, Guru…” Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa berani menatap Rangga, langkahnya terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.

Kini hanya tersisa Rangga dan Dewi Melati di paviliun.

“Rangga…” ucap Dewi Melati pelan. “Jawabanmu tadi benar. Seorang naga sepertimu memang tidak boleh terikat terlalu cepat pada satu sarang.”

Ia menatap Rangga dengan pandangan yang sulit diartikan. “Namun sebagai seorang wanita yang telah melihat banyak hal… aku tetap berharap suatu saat nanti jalannmu akan kembali bersinggungan dengan muridku. Bukan karena balas budi, tapi karena takdir yang nyata.”

Rangga terdiam, ia hanya menunduk hormat sebagai tanda mengerti tanpa memberikan janji yang tak pasti.

“Kalau begitu…” Dewi Melati berbalik menghadap taman. “Pergilah ketika waktumu telah tiba. Melati Putih akan selalu terbuka bagimu.”

Di luar paviliun, di bawah rimbunnya pohon kamboja, Selasih berdiri menyendiri. Ia menatap langit biru yang cerah, namun matanya tampak berkaca-kaca. Ia tidak menangis, ia hanya merasa sedikit hampa.

Dalam hatinya, ia sudah memahami satu kenyataan pahit yang harus ia terima: Seekor Naga Emas tidak akan pernah tinggal lama di satu lembah yang tenang. Ia diciptakan untuk terbang menembus awan dan menghadapi badai.

Dan Selasih pun tahu, perpisahan ini hanyalah awal dari pengembaraan besar yang akan mengubah sejarah dunia persilatan.

Bersambung…

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!