Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Terdiam!
Jam praktikum berakhir. Aku merapikan barang-barangku dengan gerakan seperti robot. Aku ingin segera keluar dari ruangan ini, lari sejauh mungkin dari tatapan membunuhnya.
Namun takdir sepertinya belum selesai menyiksaku hari ini.
Saat istirahat pertama, aku beralasan ingin mengembalikan buku paket Biologi ke perpustakaan agar bisa sendirian. Lidya dan Bella masih terlalu emosi untuk membantah, sementara Siska membiarkanku pergi dengan senyum pengertian palsunya.
Aku berjalan gontai menyusuri koridor lantai dua yang sepi menuju perpustakaan. Lorong ini adalah lorong yang sama di mana aku sering diam-diam memperhatikannya.
Saat aku melewati rak-rak buku tua di koridor luar perpustakaan, sebuah tangan yang besar dan kuat tiba-tiba mencengkeram lengan atasku. Cengkeraman itu sangat erat, menyentakku dengan keras hingga tubuhku tertarik mundur dan punggungku menghantam rak buku berbahan kayu itu dengan suara bruk yang cukup keras.
Aku tersiap, napasku terputus. Mataku membelalak lebar.
Rendi berdiri tepat di depanku.
Jarak kami hanya tersisa beberapa sentimeter. Tubuh tingginya menjulang, mengurungku di antara dinding rak dan dada bidangnya. Kedua tangannya menekan rak buku di sisi kiri dan kanan kepalaku, memblokir seluruh akses jalan keluar. Aroma keringat dan sabun murahan itu kembali menyerbu indra penciumanku, namun kali ini bercampur dengan hawa kemarahan murni yang membuat lututku kehilangan tulang-tulangnya.
"R-Ren..." panggilku parau, seluruh tubuhku gemetar hebat.
Mata elangnya menatapku dengan kilat amarah yang sangat menakutkan. Rahangnya mengeras. Ia menatap wajahku yang memucat pasi, tapi tak ada setitik pun rasa iba di sana.
"Kamu pikir saya sebodoh itu, Keyla?" desis Rendi. Suaranya sangat rendah, hanya satu oktaf di atas bisikan, namun tekanannya terasa seperti halilintar di telingaku.
Aku menelan ludah, menempelkan punggungku sedekat mungkin dengan rak kayu. "A-aku nggak ngerti maksud kamu..."
"Jangan pura-pura bodoh!" geram Rendi. Ia memajukan wajahnya, menipiskan jarak kami hingga embusan napasnya yang memburu menerpa dahiku. "Malam Minggu kemarin. Di pasar malam. Kamu pikir saya buta? Kamu pikir saya tidak bisa melihat sepatu kets putihmu dan hoodie hitammu bersembunyi di balik pohon sialan itu?!"
Seketika, seluruh darah di tubuhku seakan mengalir turun ke kaki. Wajahku memucat pasi. Jantungku berhenti berdetak sesaat.
Ia tahu. Ya Tuhan, ia melihatku.
"Inikah akhir dari segalanya? Di saat aku mengira aku telah berhasil menjadi malaikat penolong yang tak terlihat, kau justru menarikku paksa dari persembunyianku, menelanjangiku di bawah terik kemarahanmu yang membakar." (Buku Harian Keyla, Halaman 80)
"Ren... aku bisa jelasin..." suaraku nyaris tak terdengar, air mata kepanikan mulai menggenang.
"Jelasin apa?!" potong Rendi kasar, urat lehernya terlihat sangat jelas. "Jelasin bagaimana kamu menjadikan kemiskinan saya sebagai panggung hiburanmu? Jelasin bagaimana kamu menyuruh anak pemulung itu untuk membodohi saya dengan uang dua ratus lima puluh ribu rupiahmu?!"
"Bukan hiburan, Ren! Demi Tuhan, bukan!" tangisku pecah. Aku mencoba mengangkat tanganku untuk menyentuh lengannya, untuk memohon padanya agar mendengarkanku, tapi ia menepis tanganku bahkan sebelum aku berhasil menyentuhnya.
"Lalu apa?!" tuntut Rendi, matanya kini berkaca-kaca menahan emosi yang teramat dalam. "Kamu menguntit saya. Kamu melihat saya memakai kostum badut yang menjijikkan itu. Kamu melihat saya diusir, dibentak, dan duduk memelas di tanah dekat tempat sampah. Kamu melihat semua kehancuran harga diri saya malam itu, Keyla!"
Suara Rendi bergetar di kalimat terakhirnya. Ada rasa sakit yang tak terlukiskan dari nada suaranya. Bukan rasa sakit karena uang, melainkan rasa sakit seorang laki-laki yang kelemahannya, kehancurannya, dan titik terendah dalam hidupnya ditonton secara langsung oleh perempuan yang... entah mengapa, tak pernah ia inginkan untuk melihatnya dalam keadaan seperti itu.
"Aku cuma mau bantu kamu, Ren," isakku memilukan, air mataku menetes deras membasahi kerah seragamku. "Aku lihat kamu kesusahan. Aku lihat kamu lelah. Aku nggak bermaksud ngerendahin kamu. Aku nyuruh anak itu karena aku tau kamu bakal marah kalau aku yang ngasih langsung. Aku cuma mau kamu pulang cepet dan istirahat... Aku cuma mau Nanda bisa makan..."
Mendengar penjelasanku, raut wajah Rendi tak melunak sedikit pun. Tatapannya justru berubah menjadi tatapan yang sangat dingin dan merendahkan.
"Itulah masalahnya dengan anak orang kaya seperti kamu," ucap Rendi dengan suara yang mendadak menjadi sangat pelan, sangat datar, namun efeknya meremukkan setiap tulang di tubuhku. "Kamu pikir dengan melemparkan uangmu, kamu sedang menyelamatkan hidup seseorang. Kamu pikir empati murahanmu itu adalah sebuah tindakan mulia."
Ia menarik tubuhnya mundur, melepaskan kungkungannya dariku. Ia memandangku dari atas ke bawah, seolah aku adalah sesuatu yang sangat kotor.
"Harga diri saya mungkin terlihat murah di matamu karena saya harus memungut koin demi koin di jalanan," lanjutnya, matanya menatap tepat ke dalam manik mataku, menjatuhkan vonis mati atas semua niat baikku. "Tapi asal kamu tahu, Keyla. Harga diri saya tidak untuk dijual. Dan terlebih lagi, ia tidak akan pernah sudi dibeli oleh rasa kasihanmu."
Aku menggeleng lemah. "Itu bukan rasa kasihan, Ren. Itu cintaku..." ucapku nyaris berbisik, memohon agar ia bisa melihat setitik saja kejujuran di mataku.
Namun, pengakuanku justru menjadi bumerang yang paling menghancurkan.
Rendi tertawa kecil. Tawa yang sangat hambar dan kosong. "Cinta?" Ia memalingkan wajahnya sejenak ke arah jendela, lalu kembali menatapku dengan kekecewaan absolut. "Jika itu yang kamu sebut cinta, maka cinta adalah hal paling menjijikkan yang pernah saya temui. Cinta yang kamu agungkan itu hanya membuat saya merasa menjadi laki-laki paling tidak berharga di dunia ini."
Kata-katanya memukul dadaku dengan telak. Napasku tercekat. Aku tak bisa bernapas. Ia tidak hanya menolak perasaanku, ia menghancurkan esensi dari perasaanku itu sendiri.
"Dengar ini baik-baik, karena ini yang terakhir kalinya saya membuang waktu berbicara denganmu," ancam Rendi, matanya menyorotkan peringatan keras. "Uang dua ratus lima puluh ribu itu sudah saya sumbangkan ke kotak amal masjid pagi ini. Saya tidak sudi memakan uang dari rasa kasihanmu. Dan mulai detik ini, jangan pernah lagi menguntit saya. Jangan pernah lagi menyapa saya. Jangan pernah bertingkah seolah kita saling mengenal. Anggap saja saya mati di matamu, seperti kamu mati di mata saya."
Setelah mengucapkan kalimat yang menamatkan seluruh harapanku, Rendi berbalik.
Ia melangkah pergi menyusuri koridor perpustakaan yang sunyi. Langkahnya tegas, tanpa ragu sedikit pun. Ia tidak menoleh ke belakang, tak memedulikan aku yang meluruh jatuh ke atas lantai keramik, terduduk lemah dengan punggung bersandar pada rak buku tua.
Aku terdiam. Suaraku hilang ditelan isak tangis yang tertahan di kerongkongan.
Inilah puncak dari segalanya. Usahaku untuk menjadi bayangan yang melindunginya justru membuatku terlihat seperti penguntit yang menertawakan kemiskinannya. Ia menyumbangkan uang itu. Ia rela membiarkan dirinya dan adiknya kembali hidup dalam ancaman kelaparan, hanya demi membuktikan bahwa ia tak sudi menerima ketulusanku.
Betapa bencinya ia padaku.
Aku memeluk lututku erat-erat. Ruang koridor perpustakaan itu menjadi saksi bisu dari kematian cinta pertamaku. Rendi telah membunuhnya dengan sangat sempurna, tanpa meninggalkan sisa apa pun selain penyesalan yang membakar batinku.
"Kamu memang gadis yang keras kepala, Keyla."
Sebuah suara lembut namun bernada sinis menyapa telingaku.
Aku mendongak perlahan. Mataku yang buram oleh air mata menangkap siluet Siska berdiri tak jauh dariku. Sahabatku itu rupanya mengikutiku dari kelas. Entah sejak kapan ia berdiri di sana, menguping seluruh kehancuranku.
Siska berjalan menghampiriku. Alih-alih berjongkok untuk memelukku atau menghapus air mataku seperti biasanya, ia berdiri menjulang di atasku. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatapku dengan ekspresi yang sangat berbeda dari Siska yang kukenal. Tidak ada lagi senyum malaikat. Tidak ada lagi kelembutan palsu.
Wajahnya memancarkan sebuah kepuasan yang dingin.
"Sekarang kamu dengar sendiri kan kata-katanya?" ucap Siska pelan. Nada suaranya tak lagi mendayu-dayu, melainkan penuh dengan ketegasan yang memojokkan. "Dia membencimu. Dia merasa jijik padamu. Dia bahkan lebih memilih kelaparan daripada harus menerima bantuanmu."
"Sis... tolong, tinggalin aku sendiri..." ratapku memohon. Kepalaku berdenyut sakit luar biasa. Aku tak sanggup mendengarkan racunnya hari ini.
Namun Siska tidak pergi. Ia membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajahku yang basah oleh air mata. Matanya menatap tajam ke dalam mataku.
"Kamu tahu kenapa dia begitu membencimu, Key?" bisik Siska tajam. "Karena kamu egois. Kamu memaksakan cara cintamu pada orang yang tidak membutuhkannya. Kamu ingin terlihat seperti dewi penolong yang mulia, padahal di matanya, kamu hanyalah gadis manja yang tak tahu malu. Keberadaanmu hanya menambah beban dalam hidupnya."
"Enggak, Sis... aku nggak egois..." isakku menggeleng kuat-kuat.
"Ya, kamu egois!" potong Siska kejam. "Kalau kamu benar-benar mencintainya seperti yang kamu bilang, seharusnya kamu mendengarkan permintaannya. Tinggalkan dia! Berhenti membuatnya merasa seperti pengemis. Kembalilah ke duniamu bersama Indra, dan biarkan Rendi hidup damai di lumpurnya sendiri. Selama kamu masih mencoba masuk ke hidupnya, kamu hanya akan terus melukai harga dirinya."
Kata-kata Siska membungkamku seketika.
Meski Siska mengucapkannya dengan niat buruk yang tersembunyi, kalimatnya merasuk tepat ke inti lukaku. Jika keberadaanku, niat baikku, dan usahaku justru hanya membuat Rendi merasa terhina dan menjijikkan... lalu untuk apa aku terus berjuang? Bukankah cinta yang sejati adalah cinta yang tidak melukai?
Jika mencintainya berarti aku harus menghilang, agar ia bisa mempertahankan satu-satunya hal berharga yang ia miliki—harga dirinya—maka mungkin, inilah pengorbanan terakhir yang bisa kuberikan padanya.
Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, menyerah pada kelamnya takdir.
"Hari itu, di bawah rak buku perpustakaan yang berdebu, aku kehilangan suaraku. Aku terdiam. Bukan karena aku kehabisan kata-kata untuk membela diriku, melainkan karena aku menyadari kebenaran yang paling menyakitkan: caraku mencintaimu, Rendi, adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu." (Buku Harian Keyla, Halaman 82)
Aku membiarkan Siska akhirnya menarik lenganku, memapahku berdiri, dan membawaku kembali ke kelas. Aku berjalan bersamanya layaknya boneka rusak yang kehilangan jiwanya. Aku tak lagi peduli jika Siska tersenyum penuh kemenangan di balik bahuku. Aku tak lagi peduli pada Deandra yang mungkin menertawakanku.
Satu-satunya hal yang kupedulikan kini telah mati. Mulai detik ini, aku akan memenuhi permintaannya. Aku akan menjadi mayat di matanya, tak terlihat, tak bersuara, dan tak lagi menyimpan harapan apa pun untuk gunung es yang tak sudi kucairkan.
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik