Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Malam di Boston semakin larut, namun udara di dalam apartemen mewah itu terasa lebih mencekik daripada badai salju di luar. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika pintu kamar Rose diketuk dengan kasar.
Rose, yang baru saja mencoba memejamkan mata setelah hari yang melelahkan terutama setelah pertemuan panas dan emosional dengan Nikolai di kantor—terpaksa bangkit. Ia membuka pintu dengan wajah mengantuk yang segera berubah menjadi tatapan dingin saat melihat Asher berdiri di sana dengan wajah tanpa dosa.
"Rose, bisakah kau ke dapur? Masakkan sesuatu untukku," ucap Asher tanpa basa-basi. "Mia sedang sangat lelah, dia tidak kuat untuk berdiri, apalagi memasak."
Rose terdiam sejenak, lalu tawa kecil yang penuh penghinaan meledak dari bibirnya. Ia menyandarkan bahunya di kusen pintu, menatap pria yang masih berstatus suaminya itu dengan tatapan tidak percaya.
"Apa maksudmu, Asher? Kau memintaku memasak karena istri mudamu kelelahan?" Rose tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Kau lupa? Aku hanya istrimu di atas kertas sekarang. Aku bukan pelayanmu, apalagi pelayan gundikmu."
Asher mengernyit, tampak tersinggung. "Apa aku tidak boleh meminta bantuanmu? Kita masih tinggal satu atap, Rose. Setidaknya tunjukkan sedikit rasa peduli."
"Rasa peduli?" Rose melipat tangan di dada. "Mia kelelahan karena apa, Asher? Apa kau sedang pamer kemesraan padaku? Oh, biarkan kutebak... dia kelelahan karena kalian sedang 'kejar target' untuk memberikan cucu bagi orang tuamu yang terhormat itu? Good job."
Wajah Asher memerah, antara malu dan marah.
"Pagi sampai malam aku melihat kau tidak lagi sesibuk dulu di kantor," lanjut Rose, suaranya kini setajam silet. "Waktu luangmu ternyata sangat banyak ya. Bahkan kulihat kau pulang cepat setiap hari. Sebelum aku pulang pun, kalian sudah mengunci kamar. Jadi, jangan berani-berani mengetuk pintuku hanya untuk urusan perutmu saat kau sudah kenyang dengan urusan ranjangmu."
Asher terdiam, ia menunduk sejenak sebelum bergumam, "Aku minta maaf karena belum bisa membagi waktuku untukmu, Rose. Aku... aku sedang fokus dengan Mia. Orang tuaku terus menekan, mereka ingin kepastian tentang pewaris..."
"Cukup!" Rose memotong dengan nada muak. "Aku tidak butuh penjelasanmu, dan aku sama sekali tidak butuh ditiduri olehmu. Membayangkan sentuhanmu saja sudah membuatku ingin muntah. Kau tahu kenapa? Karena kau adalah pria paling lemah yang pernah kutemui. Kau menjual istrimu demi warisan, dan sekarang kau punya nyali meminta bantuanku?"
Rose membanting pintu di depan wajah Asher, memutus segala bentuk komunikasi. Ia berjalan menuju meja riasnya, namun matanya tidak tertuju pada cermin. Ia mengambil ponsel tersembunyi yang ia simpan di dalam laci.
Kehadiran Nikolai Volkov tadi siang telah mengubah segalanya. Sentuhan Nik, gairah pria itu, dan perlindungan yang ditawarkannya telah menyadarkan Rose bahwa ia tidak perlu berlama-lama di neraka ini hanya untuk membalas dendam. Balas dendam terbaik adalah menjadi bahagia dan bebas, sementara membiarkan Asher membusuk dengan pilihannya.
Ia menekan sebuah nomor yang sudah ia simpan sejak beberapa jam lalu.
"Halo, Tuan Marcus?" Rose berbicara dengan suara rendah namun tegas kepada pengacara perceraian paling kejam di Boston. "Ini Rose Moore. Aku ingin prosesnya dimulai besok pagi. Ya, semuanya. Aku ingin gugatan cerai, tuntutan harta bersama, dan aku ingin bukti pernikahan siri Asher Hudson dipublikasikan di saat yang tepat."
Setelah menutup telepon, Rose menarik napas panjang. Ia merasa beban seberat gunung terangkat dari bahunya. Ia tidak lagi peduli pada "darah murni" keluarga Hudson. Ia tidak lagi peduli pada kesucian yang mereka tuntut.
Rose duduk di tepi ranjang, jari-jarinya menyentuh lehernya sendiri, di tempat Nikolai meninggalkan tanda merah yang ia tutupi dengan foundation tadi siang. Ingatan tentang bagaimana Nikolai mengungkungnya di kamar peristirahatan kantor, bagaimana pria itu menghujaninya dengan kehangatan yang jujur, membuatnya yakin bahwa ia masih berharga.
Nikolai telah memberinya keberanian untuk berhenti bermain cantik. Jika Asher ingin fokus pada Mia, maka Rose akan membiarkan mereka fokus sepenuhnya, di jalanan, tanpa harta keluarga Hudson yang selama ini mereka banggakan.
Rose tahu, keputusannya untuk bercerai akan memicu perang besar. Arthur dan Eleanor Hudson tidak akan tinggal diam. Namun, Rose juga tahu bahwa di belakangnya sekarang ada sosok raksasa seperti Nikolai Volkov yang siap meratakan apa pun demi dirinya.
Ia mengambil sebuah koper kecil dari atas lemari. Ia mulai memasukkan barang-barang berharganya. Bukan baju-baju mahal, melainkan sketsa desainnya, paspor, dan dokumen-dokumen Moore Designs.
Tepat tengah malam, Rose berdiri di jendela kamarnya, menatap lampu-lampu Boston. Ia teringat bagaimana ia datang ke kota ini sebagai pelarian dari Texas, berharap menemukan cinta yang menerima masa lalunya. Ia menemukannya pada Asher, atau setidaknya ia pikir begitu, sebelum topeng pria itu terbongkar.
Sekarang, ia akan pergi bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai pemenang.
"Kau ingin fokus pada Mia, Asher?" bisik Rose pada kegelapan malam. "Silakan. Fokuslah padanya saat kau menyadari bahwa istrimu yang 'tidak suci' ini adalah satu-satunya hal yang membuat namamu tetap terpandang di kota ini. Tanpaku, kau hanya pria pengecut yang dikendalikan orang tuanya."
Rose berbaring di tempat tidur, untuk terakhir kalinya di apartemen itu. Ia memejamkan mata, dan bayangan yang muncul bukan lagi wajah Asher yang memohon memasak, melainkan wajah Nikolai yang menatapnya dengan cinta yang membara lima tahun lalu—dan siang tadi.
Besok, Boston akan gempar. Besok, Rose Moore akan melepaskan nama Hudson. Dan besok, ia akan menemui Nikolai, bukan sebagai Rosemary yang malang, tapi sebagai wanita bebas yang siap merebut kembali kebahagiaannya.
Di luar pintu, terdengar suara langkah kaki Asher yang menjauh, kembali ke kamar Mia. Rose tersenyum miring. Itu adalah langkah terakhir Asher dalam hidupnya. Mulai besok, satu-satunya pria yang boleh melangkah di sampingnya hanyalah dia yang tahu bagaimana cara memuja seorang ratu, terlepas dari masa lalu yang dimilikinya.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰