Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Andin hanya bisa menatap Darrel dari kejauhan. Tubuh anak itu terbaring lemah di ranjang UKS, dengan wajah yang pucat dan napas yang terasa berat.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang tergesa dari arah lorong.
Andin menoleh pelan.
Dan benar saja, Nathan datang dengan langkah cepat. Tatapannya langsung jatuh pada perempuan yang berdiri di ambang pintu itu. Namun bukan kehangatan yang terlihat di sana, melainkan tatapan dingin yang nyaris seperti tidak ingin melihat keberadaan Andin.
“Minggir!” katanya sinis.
Tanpa diminta dua kali, Andin langsung menyingkir dari depan pintu.
Kakinya melangkah mundur dengan pelan, meskipun hatinya terasa sangat berat meninggalkan Darrel dalam keadaan seperti itu.
“Aku tahu… aku bukan siapa-siapa,” gumam Andin lirih. “Aku hanya bisa mengikuti alurnya seperti apa.”
Perempuan itu pun berlalu pergi, meskipun langkahnya terasa begitu berat.
Sementara itu, Nathan langsung masuk ke dalam ruang UKS. Begitu melihat anaknya terbaring di atas ranjang, rasa khawatir langsung menyeruak di dadanya. Ia segera mendekat, lalu menyentuh dahi Darrel.
Panas.
Sangat panas.
“Nak… ini Daddy,” ucap Nathan dengan suara tertahan. “Kau dengar Daddy, kan?”
Darrel hanya mengangguk lemah. Kelopak matanya bergetar, seolah ingin membuka mata namun tubuhnya terlalu lemah untuk melakukannya.
Beberapa detik kemudian bibir kecil itu bergerak pelan.
“Mbak… Mbak Kantin… jangan tinggalin aku…”
Racauan itu keluar begitu saja.
Deg!
Nathan tertegun.
Di tengah panas tinggi seperti ini… anaknya justru memanggil nama perempuan yang selama ini paling ia hindari.
“Nak, bangun… ini Daddy,” tekan Nathan lagi dengan suara sedikit bergetar.
Namun Darrel tidak menjawab. Matanya tetap terpejam, tubuh kecil itu hanya bergerak gelisah sambil sesekali mengigau.
Melihat kondisi anaknya yang semakin lemah, Nathan tidak bisa lagi menunda. Dengan perasaan panik yang mulai menguasai dirinya, ia segera memutuskan membawa Darrel ke rumah sakit.
☘️☘️☘️☘️
Sesampainya di rumah sakit, Nathan langsung berteriak memanggil perawat yang berjaga di depan.
“Perawat! Tolong!” serunya panik.
Tidak lama kemudian dua orang perawat berlari mendekat.
“Cepat bawa anakku!” ujar Nathan dengan suara tegang.
Tanpa menunda waktu, para tenaga medis segera mengangkat tubuh Darrel ke atas brankar dan membawanya masuk ke ruang UGD.
Nathan mengikuti dari belakang dengan langkah gelisah. Dadanya terasa sesak melihat tubuh kecil itu terbaring lemah dengan wajah yang pucat dan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
Di dalam ruang UGD, para perawat mulai menangani Darrel dengan cepat. Salah satu dari mereka mengukur suhu tubuhnya.
“Dok, suhunya hampir empat puluh derajat,” lapor perawat itu ketika dokter datang.
Dokter langsung mendekat dan memeriksa kondisi Darrel dengan serius. Ia memeriksa denyut nadi, menekan pelan bagian perut anak itu, lalu melihat kondisi matanya yang masih terpejam.
Sementara itu Darrel terus meracau dengan suara lemah.
“Mbak… Mbak Kantin… jangan tinggalin aku…”
Nathan yang berdiri di samping ranjang hanya bisa terdiam. Hatinya terasa teriris setiap kali mendengar nama itu keluar dari bibir anaknya.
Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan, dokter akhirnya menatap Nathan dengan wajah serius.
“Anak Bapak mengalami demam sangat tinggi. Dari gejala yang terlihat—panas yang terus meningkat, tubuh lemah, dan nafsu makan yang menurun—kami menduga ini mengarah pada tifus atau demam tifoid,” jelas dokter dengan tenang.
Nathan langsung menegang.
“Tifus?” ulangnya pelan.
“Iya. Biasanya penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Anak yang mengalami tifus biasanya mengalami demam tinggi selama beberapa hari, tubuh lemas, pusing, dan sering kehilangan nafsu makan,” lanjut dokter.
Nathan langsung teringat sesuatu. Darrel memang sudah beberapa hari hampir tidak menyentuh makanannya.
“Untuk memastikan, kami akan melakukan pemeriksaan darah. Tapi sementara ini anak Bapak harus segera dirawat dan mendapatkan cairan infus karena tubuhnya sudah cukup lemah,” tambah dokter.
Nathan hanya bisa mengangguk pelan. Sementara di atas ranjang, Darrel masih mengigau dengan suara lirih yang hampir tak terdengar.
“Mbak… nasi goreng… Mbak Kantin…”
Untuk pertama kalinya, dada Nathan terasa seperti ditusuk sesuatu yang tajam. Seolah racauan anak itu sedang menegurnya tanpa kata-kata.
☘️☘️☘️☘️☘️
Beberapa jam sudah berlalu. Dokter kembali menatap hasil pemeriksaan sementara di tangannya. Ia terlihat berpikir sejenak sebelum kembali menoleh ke arah Nathan.
“Pak, saya ingin bertanya sesuatu,” ucap dokter itu dengan nada hati-hati.
Nathan yang sejak tadi berdiri di samping ranjang langsung mengangguk. “Apa Dok?”
Dokter melirik sekilas ke arah Darrel yang masih terbaring dengan napas yang sedikit berat.
“Apakah anak ini sedang mengalami tekanan emosional belakangan ini?”
Pertanyaan itu membuat Nathan sedikit terdiam, bahkan tanpa ditanya seperti itu hatinya sudah mengarah kesitu.
“Tekanan emosional?” ulangnya pelan.
“Iya,” lanjut dokter. “Kadang pada anak-anak, kondisi seperti ini bisa dipicu bukan hanya karena kelelahan atau makanan yang kurang bersih, tapi juga karena stres yang dipendam. Apalagi jika anak tersebut menahan sesuatu sendirian.”
Nathan tidak langsung menjawab. Tatapannya justru jatuh pada wajah Darrel yang masih pucat di atas ranjang, hatinya berdesir, tapi apalah daya egonya terlalu tinggi.
“Beberapa hari terakhir anak Bapak terlihat kehilangan nafsu makan. Itu juga salah satu tanda yang sering kami temui pada pasien tifus yang sedang mengalami tekanan batin,” jelas dokter lagi.
Nathan menelan ludahnya. Ingatan tentang beberapa hari terakhir mulai bermunculan di kepalanya. Darrel yang tidak menyentuh bekalnya. Darrel yang diam saat di dalam mobil.
Dan… racauan anak itu yang terus menyebut satu nama.
“Mbak… Mbak Kantin…”
Nathan mengepalkan tangannya perlahan.
Dokter kembali menatapnya.
“Jika memang ada sesuatu yang membuat anak ini tertekan, sebaiknya jangan dibiarkan terlalu lama, Pak. Anak-anak sering terlihat kuat di luar, tapi sebenarnya mereka belum bisa memproses perasaan mereka dengan baik.”
Nathan masih terdiam, sejak masuk ke ruang UGD tadi, ia merasa seperti seseorang yang sedang dihakimi tanpa perlu kata-kata.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu jawabannya. Tekanan itu mungkin datang dari dirinya sendiri.
Sementara di atas ranjang, Darrel kembali meracau dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Mbak… jangan pergi…”
Dan kali ini…
Nathan benar-benar tidak bisa lagi berpura-pura tidak mendengar, jika ia terus menerus seperti ini, yang ada malah kondisi sang anak yang semakin parah.
Tapi hatinya masih terasa sakit, pengkhianatan itu masih terngiang di dalam pikirannya, bagaimana ia mengingat, perempuan yang ia cintai tidur dengan pria lain, dan itu menjadi cambuk besar bagi dirinya.
Nathan bingung, apakah ia mampu mendekatkan sang anak pada masalalu yang benar-benar membuatnya hancur.
Bersambung ....