Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Karbon yang Abadi
Senin pagi di Sukabumi menyambut Della dengan rutinitas yang tampak normal, namun terasa asing. Suara bising angkot di Jalan Bhayangkara dan aroma bubur ayam Bunut di persimpangan jalan seolah menjadi latar belakang yang tidak selaras dengan apa yang terjadi di Gunung Parang semalam.
Della berdiri di garasi, menatap Scoopy-nya. Secara fisik, motor itu kembali ke wujud aslinya: krem bersih, spion kiri yang utuh tanpa retakan (meski ada ukiran mawar kecil di sudutnya), dan tidak ada lagi cairan perak yang menetes. Namun, saat Della menyentuh joknya, ada getaran halus yang merambat, seolah motor itu sedang bernapas lega.
"Kita berangkat, Bibi Mei," bisik Della pelan.
Setibanya di parkiran kampus, Della menyadari satu hal: ia menjadi pusat perhatian, tapi bukan karena kecantikannya. Orang-orang yang memiliki sensitivitas tinggi kucing-kucing kampus yang biasanya cuek, hingga beberapa dosen yang dikenal "punya pegangan" tampak menyingkir saat Della lewat.
Di kantin, Sasha sudah menunggu dengan gelisah. Ia terus-menerus mengaduk jus alpukatnya tanpa meminumnya.
"Del, semalem gue nggak bisa tidur," kata Sasha langsung tanpa basa-basi. "Gue terus-menerus denger suara sisir di atas meja rias gue, Dan pas gue cek pagi ini... sisir plastik gue patah semua."
Della meletakkan tasnya. "Energi dari sisir perak itu masih membekas, Sha. Maafin gue udah bawa lo ke masalah ini."
Tiba-tiba, seorang pria asing dengan kemeja flanel gelap duduk di meja sebelah mereka. Ia tidak memesan makanan, hanya meletakkan sebuah majalah otomotif jadul di atas meja. Di sampul majalah itu, ada artikel berjudul: "Misteri Hilangnya Koleksi Tan: Motor-Motor yang Memiliki Nyawa."
Pria itu melirik Della lewat kacamata hitamnya. "Spion yang bagus, Nona. Jarang ada orang yang bisa dapet 'penglihatan' jernih di Sukabumi akhir-akhir ini."
Della waspada. "Siapa Anda?"
"Cuma penggemar barang antik. Panggil saya Raka," ucapnya dengan nada datar. "Saya cuma mau kasih peringatan, Pak Hendra itu cuma ikan kecil. Dia cuma mau uang. Tapi orang yang mengirim pesan 'Arsip 1998' ke HP kamu... dia mau sesuatu yang lebih dari itu. Dia mau Mata Kanan."
Della merasa tengkuknya mendingin. Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Raka sudah berdiri dan pergi, meninggalkan majalah itu di meja.
Saat jam kuliah usai, Della kembali ke parkiran. Geri sudah di sana, sedang memeriksa bagian mesin Scoopy Della dengan wajah bingung.
"Del, loe harus lihat ini," Geri menunjuk ke arah lubang busi. "Gue tadi iseng mau cek pengapian karena gue ngerasa ada yang aneh pas loe jalan tadi pagi."
Geri menunjukkan sebuah busi yang baru saja ia lepas. Busi itu tidak hitam karena kerak karbon, melainkan berwarna merah darah. Ujung elektrodanya tidak berbentuk besi biasa, tapi melintir membentuk pola seperti jemari tangan yang sedang mencengkeram.
"Busi ini nggak nge bakar bensin, Del," bisik Geri. "Dia ngebakar 'emosi'. Pantesan motor lo bisa jalan tanpa bensin semalam. Dia dapat tenaga dari rasa takut atau keberanian loe."
Tiba-tiba, mesin motor di samping Scoopy Della sebuah motor sport besar milik mahasiswa lain tiba-tiba meledak kecil di bagian mesinnya. Asap hitam mengepul, dan bau busuk menyengat keluar.
"Dia mulai makan lagi, Ger," ucap Della ngeri. "Bibi Mei butuh energi untuk tetap stabil di dunia ini, dan dia ngambil dari motor-motor di sekitarnya."
Della segera naik ke motornya, mencoba menjauh dari kerumunan mahasiswa yang mulai berdatangan karena ledakan kecil tadi.
Namun, saat ia menyalakan mesin, lampu depan Scoopy-nya tidak menyala kuning hangat seperti semalam.
Lampu itu berkedip dengan pola aneh sebuah kode Morse.
Dash-dot-dash...
Geri yang mengerti dasar-dasar sandi pramuka terbelalak. "Del... motor loe bilang: 'DIA DI SINI'."
Della melirik spion kirinya.
Di pantulan kaca yang jernih itu, ia melihat bayangan Raka, si pria flanel tadi, berdiri di atap gedung kampus, sedang memegang sebuah cermin besar yang diarahkan tepat ke arah Della.
Pantulan cahaya dari cermin Raka menghantam mata kiri Della, membuat segalanya mendadak menjadi putih.
Della mengerang, menutupi mata kirinya yang terasa seperti ditusuk jarum panas. Cahaya dari cermin Raka bukan sekadar pantulan matahari; itu adalah serangan frekuensi yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang terhubung dengan dunia kaca.
"Del! Lo kenapa?!" Geri sigap memegangi bahu Della agar tidak jatuh dari motor.
"Raka... di atas gedung..." Della menunjuk dengan tangan gemetar, namun saat Geri mendongak, atap gedung kampus itu kosong. Tidak ada pria berbaju flanel, tidak ada cermin besar. Hanya ada langit Sukabumi yang mendadak berubah warna menjadi ungu pucat, warna yang tidak wajar untuk jam dua siang.
Keanehan tidak berhenti di situ.
Di kejauhan, suara bising Jalan Bhayangkara mendadak hilang. Satu per satu, mesin motor mahasiswa yang sedang dipanaskan di parkiran mati serentak. Bukan mati karena kehabisan bensin, tapi mati seolah-olah "jiwa" dari mesin-mesin itu tersedot keluar.
"Ger, HP gue mati!" teriak Sasha panik, menekan-nekan tombol power ponselnya yang tiba-tiba terasa dingin seperti es.
Geri mencoba menyalakan motor trail-nya. Ceklek... ceklek... Nihil. "Bukan cuma HP, Sha. Semua alat elektronik mati. Ini electromagnetic pulse (EMP), tapi versinya mereka."
Hanya satu mesin yang masih menderu halus: Scoopy Della.
Lampu depan motor itu masih berkedip-kedip, tapi polanya berubah menjadi lebih cepat dan agresif. Getaran dari blok mesin menjalar ke kaki Della, terasa seperti jantung yang sedang mengalami panic attack.
"Sembunyikan... sembunyikan aku..." suara Bibi Mei berbisik di telinga kiri Della, kali ini dengan nada ketakutan yang amat sangat.
Dari gerbang parkiran, muncul sebuah mobil jenazah tua mobil Chevrolet Suburban tahun 80-an yang cat hitamnya sudah mengelupas.
Mobil itu melaju tanpa suara mesin, perlahan mendekati posisi mereka. Di spion kanan mobil itu, terdapat sebuah kaca spion yang bentuknya identik dengan milik Della, namun ukirannya bukan bunga mawar, melainkan ukiran seekor ular yang sedang melilit.
"Itu Mata Kanan," bisik Della. Ia bisa merasakannya. Spion kiri di motornya mendadak berembun dari dalam, seolah-olah sedang menangis.
Pintu mobil jenazah itu terbuka.
Raka tidak keluar dari sana, melainkan seorang pria tua dengan setelan jas rapi namun kuno, memegang sebuah tongkat jalan berkepala perak. Matanya tertutup perban hitam, namun ia berjalan dengan sangat pasti ke arah Della.
"Tan Hok Gie selalu bilang keturunannya akan lebih lemah," suara pria itu berat dan berwibawa. "Tapi ternyata dia salah. Kamu punya mata yang jauh lebih cerah dari kakekmu, Della."
"Siapa kamu?" Della mencoba menghidupkan gas, tapi Scoopy-nya seolah tertahan oleh gravitasi yang sangat kuat.
"Saya adalah kurator dari apa yang seharusnya tidak pernah dipisahkan," pria itu tersenyum tipis. "Mata Kiri melihat masa lalu, Mata Kanan melihat masa depan. Dan untuk melihat takdir yang sempurna, saya butuh keduanya berada di satu kendaraan."
Melihat pria itu makin dekat, Geri tidak tinggal diam. Ia mengambil busi merah darah yang tadi ia lepas dan menggenggamnya kuat-kali ini tanpa rasa takut. "Jangan deket-deket, Pak Tua. Saya nggak tahu ini benda apa, tapi saya tahu dia nggak suka sama Anda!"
Geri melemparkan busi itu ke arah si pria tua. Begitu busi itu melayang di udara, busi itu meledak dalam kilatan api merah marun.
BOOM!
Ledakan itu menciptakan gelombang kejut yang mengembalikan kelistrikan di area parkiran secara mendadak. Alarm mobil-mobil berbunyi bersahutan, dan mesin Scoopy Della tiba-tiba terlepas dari "ikatannya".
"Ger, naik!" teriak Della.
Della tidak menunggu jawaban, Ia menarik gas sedalam mungkin. Scoopy itu melesat maju, ban depannya sedikit terangkat (standing) saat mengeluarkan tenaga yang sangat besar tenaga yang membakar karbon dari emosi kemarahan Geri.
Mereka melesat keluar dari kampus, menembus kemacetan Sukabumi yang mendadak pulih.
Di spion kiri, Della melihat pria tua itu tetap berdiri tenang di tengah kepulan asap merah, sambil memegang potongan busi merah yang tadi dilempar Geri.
Pria itu menjilat ujung busi yang masih panas itu, lalu menatap ke arah kepergian Della dengan mata yang tertutup perban.
"Lari sejauh mungkin, Della. Karena semakin cepat kamu memacu motor itu, semakin cepat Mata Kanan akan menangkap bayanganmu."