Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Dia nggak rewel kan Sus?" tanya Syela pada suster yang menjaga Putranya. Dia tiba dirumah sakit sudah beberapa menit yang lalu.
"Nggak kok Bu, pinter dia" jawab si Suster dengan senyum sopan., memberikan panggilan Ibu pada Syela karena pasiennya adalah Putranya, walaupun Syela masih muda tapi itu adalah panggilan sopan untuknya.
"Terima kasih Sus, sudah menolong saya" ucap Syela tulus.
"Sama sama, tapi Bu......, " Suster itu menjeda kalimatnya membuat tatapan Syela yang tadi tertuju pada sang Putra beralih padanya. Dia memiringkan kepala menunggu lanjutan kalimatnya. "Tapi apa Ibu baik baik saja, Ibu habis menangis sepertinya. "
Ditanyai begitu dan tatapan si Suster yang tertuju pada matanya membuat Syela mencoba tersenyum, "Oh ini dijalan tadi banyak debu, mata saya alergi debu" jawabnya bohong sambil mengucek matanya sebentar.
Si Suster pun memahami kemudian pergi meninggalkan Ansel dan Ibunya berdua. Setelah kepergian Suster itu Syela menjatuhkan tubuhnya dikursi, dia menyentuh matanya yang sepertinya bengkak itu sembab pula mungkin. Dia terlalu banyak menangis sepertinya sejak semalam dan sampai beberapa menit yang lalu. Perdebatan yang baru saja terjadi dengan Handoko membuatnya sempat menangis ditaxi tadi.
Mengingat itu Syela kembali melamun. Dia kembali memikirkan perkataan Handoko tadi, apa benar mantan Papanya itu hanya kecewa padanya, makanya tak mengusirnya dari rumah. Orang tua itu hanya ingin memberi pelajaran padanya, tapi bukanlah itu terlalu berlebihan.
Syela menggelengkan kepalanya mencoba sadar "Nggak, itu siasatnya supaya aku mau nikah sama Andre" gumamnya.
"Tapi kenapa dia memaksaku menikahi Andre, nggak mungkinkan cuman karena minta tanggung jawab laki laki itu aja?"
Otak Syela kembali bekerja keras memikirkan alasan Handoko memaksanya menikah dengan Bagas, jika hanya masalah pertanggung jawaban sepertinya tidak mungkin mengingat watak sang Diktator itu.
"Atau kalau aku menikah dengan Bagas, Catherine bisa kembali membujuk Miko untuk melanjutkan pernikahan mereka?". Syela menganggukkan kepalanya sepertinya memang itu adalah alasan paling masuk akal untuk saat ini.
Dia baru berhenti berpikir saat Ansel mulai bersuara Anak itu harus sepertinya. Syela pun bersiap mengasihi sang Putra yang kondisinya mulai membaik itu. Saat Ansel kembali tidur Syela berniat ingin mengganti pakaian Putranya agar bayi itu nampak lebih segar.
Syela pun membuka tas yang tadi dibawanya lalu memilih pakaian yang nyaman untuk putranya, namun saat melihat benda asing didalamnya dia mengernyit. Syela mengambil benda itu lalu memperhatikannya.
"Ini Diary Catherine kenapa ada didalam sini, apa nggak sengaja kebawa ya?" gumamnya. Mengingat buku catatan itu adalah milik Catherine yang ditemukannya saat membersihkan kamar gadis itu. Syela sempat melupakannya karena terlalu sibuk akhir akhir ini.
Tanpa ragu Syela pun membuka benda itu dan menyita niatnya untuk mengganti baju sang Putra, dia malah membaca Diary itu dengan seksama. Berbagai ekpresi menguasai wajahnya dan akhirnya dia tau jawaban dari berbagai pertanyaan yang selama ini masih mengambang dikepalanya.
*****
POV CATHERINE.
Syela. Kenapa dia selalu beruntung, kenapa hidupnya selalu dilimpahi kebahagiaan. Orang tuanya kaya baik pula, sedangkan aku hanya gadis miskin yang tinggal bersama Kakek dan Nenek yang renta tak punya harta. Syela juga selalu mendapat banyak teman entah dimanapun itu, mungkin karena dia kaya dan cantik jadi semua bisa didapatkannya dengan mudah.
"Catherine lihat Papa membelikanku boneka baru" ujar Syela memperlihatkan boneka boneka barunya padaku. Boneka yang selama ini aku impikan tapi waktu aku meminta pada Kakek dan Nenek mereka hanya menyuruhku bersabar, tanpa benar benar membelikannya untukku. Cihhh dasar orang tua miskin.
Aku hanya tersenyum pura pura ikut bahagia karena dirinya punya mainan baru, dia memainkan boneka itu dengan amat bahagia, tanganku terkepal sangking kesalnya. "Boleh Aku pinjam?" pintaku memancing dirinya bersedia apa tidak.
"Boleh dong, kamu kan sahabatku, ini Aku punya 2 Ambillah satu untukmu". Dengan santainya dia memberikan satu bonekanya padaku, apakah Aku senang?. Tidak Aku benci, Aku benci karena dia terlalu baik, Aku benci karena dia selalu mengasihaniku.
Sifatnya yang baik begini, sopan, lemah lembut juga selalu mengalah membuatku semakin iri dengannya. Dia juga punya banyak teman entah karena kekayaannya atau kecantikkannya tapi Aku tak menyukainya. Dia juga pintar saat disekolah dia selalu mendapatkan peringkat pertama padahal belajar pun jarang, dan aku sudah belajar mati matian tapi tak juga bisa mengejar dirinya.
" Catheriinnnnnnnnnnnnnn" Syela memanggilku dengan wajah bahagianya dia berlari mendekatiku.
"Kenapa" aku bertanya seperti biasa.
"Ket, aku bentar lagi mau tunangan sama Miko, Orang tua kita udah setuju acaranya sebulan lagi aku seneng banget deh" ujar Syela bercerita dengan bahagianya tapi tidak denganku.
Aku terdiam. Dia memiliki kekasih saja Aku iri setengah mati apalagi sekarang dia akan bertunangan, Aku bisa benar benar mati kesal karenanya.
Lagi lagi keberuntungan berpihak padanya, Siyalan. Kenapa bukan aku, aku juga tak kalah cantik dari dia, aku hanya miskin saja tapi satu pemuda pun tak ada yang mau mendekati ku apalagi bersedia jadi kekasihku. Dimana salahku.
Diacara pertunangan Syela dan kekasihnya aku benar benar kesal. Melihatnya bahagia bersama kedua orang tuanya disana membuatku ingin mengambil semua apa yang dimilikinya. Ya, aku harus merampas semua yang dimilikinya, tapi aku masih tak tau bagaimana caranya aku hanya anak SMA yang tidak punya apa apa.
Sampai beberapa bulan kami lulus SMA. Syela berniat melanjutkan ke jenjang perkuliahan dan dengan gampangnya gadis muna itu diterima disalah satu kampus ternama, sedangkan aku hanya kampus biasa. Dan untuk biayanya aku harus bekerja sendiri agar bisa masuk kesana, karena selama ini biaya pendidikanku ditanggung orang tua Syela.
Disinilah ide kecil datang, aku mulai sedikit demi sedikit menyusun rencana untuk membuat apa yang dimiliki Syela menjadi milikku.
Pasti bakal muncul kok, cuman belum waktunya
sesuai sama judul sih aku buat ceritanya, kalau cepet ketemunya bakal pendek ceritanya