NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Kapten

Terjerat Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Kapten Damar

Satu hari lagi, tugas pengawalan Kapten Damar terhadap Kirana akan berakhir. Suasana di posko liputan terasa sedikit berbeda ada kelegaan, tapi juga sisa-sisa ketegangan yang belum benar-benar hilang.

Kirana sibuk melipat pakaiannya dengan rapi ke dalam koper. Di sudut ruangan, Carmen dan Dion juga melakukan hal yang sama, meskipun mulut mereka tak berhenti berbicara.

“Gila sih, rating liputan kita tinggi banget,” ujar Dion sambil mengangkat ponselnya, memperlihatkan grafik yang terus menanjak.

“Lihat ini, tiap hari naik nggak pernah turun.”

“Bukan cuma itu,” lanjutnya lagi tanpa jeda,

“viewers di YouTube juga tembus jutaan komentar di mana-mana semua pada bahas kapten Damar.”

Carmen melirik sekilas, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding.

“Ya wajar sih dramanya dapet, netizen kita kan suka gimik begini,” kata Carmen lagi Dion tersenyum penuh arti.

“Nah, itu dia. Popularitas Kapten Damar lagi naik banget." Ungkap Dion antusias merasa bangga dengan keberhasilannya mengangkat Populeritas Kapten Damar.

"Sampai-sampai komandannya langsung ngucapin terima kasih ke produser kita lho.” Kata Dion merendahkan suaranya Carmen mengernyit.

“Eh, tapi gue penasaran deh Kapten Damar itu sebenarnya siapa sih?" Tanya Carmen penasaran karena instansinya ingin sekali Kapten Damar naik dan di kenal masyarakat.

Dion langsung menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka. Dion lalu mendekat, merendahkan suaranya.

“Lu serius mau tahu?” kata Dion nampak hati-hati.

“Ya iyalah gue penasaran banget,” bisik Carmen tak sabar.

Dion mendekatkan mulutnya ke telinga Carmen dan berbisik pelan.

Beberapa detik kemudian, mata Carmen langsung membesar.

“Hah?! Yang bener lu?!” serunya, sedikit terlalu keras.

“Ssst! Pelan dikit!” Dion buru-buru menegur. “Ini rahasia cuma orang-orang atas yang tahu.”

Carmen menutup mulutnya, lalu berbisik lagi.

“Pantes aja produser sampai minta kita buat menampilkan dia secara masif Ternyata ada orang dalam.”

“Makanya, lu jangan asal ngomong,” Dion menatap Carmen serius.

“Kalau ini bocor, bisa panjang urusannya.”

Tanpa mereka sadari, Kirana yang sejak tadi berada tak jauh dari sana, menangkap setiap potongan percakapan itu.

“Pantas saja…” gumamnya dalam hati, sudut bibirnya sedikit terangkat.

Kirana tidak mendengar dengan jelas siapa orang tua Kapten Damar, tapi cukup untuk membuatnya mengerti arah permainan yang sedang terjadi.

Dengan langkah santai, Kirana masuk ke dalam ruangan. Dion dan Carmen langsung tersentak dan buru-buru mengganti topik.

“Eh, Mbak Kirana!” Carmen tersenyum lebar, sedikit terlalu dibuat-buat. “Akhirnya ya, tugas kita selesai juga.”

“Iya,” Dion menimpali cepat, “satu minggu rasanya cepet banget. Kayak baru kemarin datang.”

Kirana menatap mereka bergantian, ekspresinya tenang, nyaris tak terbaca.

“Dan kalian sudah melakukan pekerjaan dengan baik,” kata Kirana datar menatap Carmen dan Dion bergatian.

Dion dan Carmen saling melirik, mencoba membaca maksud di balik kata-kata itu.

Kirana kemudian melangkah mendekat, menutup koper dengan pelan.

“Ngomong-ngomong…” ucap Kirana ringan, “Kapten Damar itu anaknya siapa sih, sampai kalian harus bisik-bisik segala?”

Dion dan Carmen langsung kaku.

“Ng- ngomong apa sih, Mbak?” Dion tertawa kecil, tapi terdengar kering.

“Iya, nggak ada apa-apa kok,” sambung Carmen cepat.

Kirana tersenyum tipis. “Santai saja. Cepat atau lambat juga akan dipublikasikan, kan?”

Hening beberapa detik akhirnya Dion menghela napas.

“Ya sudah daripada Mbak Kirana dengar dari orang lain…”

Carmen menatapnya ragu, tapi Dion mengangguk.

“Kapten Damar itu… anaknya Panglima Besar, Jenderal Kristanto Wicaksono.”

“Oh…” Kirana hanya mengangguk pelan, seolah informasi itu tidak terlalu mengejutkannya.

"Itu bukan berita yang mengejutkan," ungkap Kirana seraya berlalu tak lupa tersenyum ke arah Dion dan Carmen.

Namun saat berbalik, terdengar gumaman pelan dari bibirnya,

“Dia sok paling anti pencitraan ternyata sama saja.”

Meski pelan, kalimat itu cukup terdengar oleh Dion dan Carmen keduanya hanya bisa saling pandang tanpa berani menanggapi.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kirana keluar dari ruangan dia berjalan menyusuri desa, mencari sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Tak butuh waktu lama, Kirana menemukan Kapten Damar. Pria itu sedang berbincang dengan beberapa warga desa, wajahnya terlihat serius namun hangat.

Kirana tidak langsung menghampiri dia berdiri agak jauh, memperhatikan cara Damar mendengarkan, cara dia menanggapi, cara dia menundukkan tubuhnya saat berbicara dengan orang yang lebih tua semuanya terlihat tulus.

“Menarik…” gumam Kirana pelan.

Setelah percakapan mereka selesai, Kirana baru melangkah mendekat. Damar menoleh sesaat menyadari kehadiran Kirana lalu Kirana tersenyum ke arahnya.

“Besok kita sudah harus kembali ke Jakarta,” ucap Kirana membuka percakapan.

Damar hanya mengangguk singkat.

“Iya." Tak ada antusiasme tak ada basa-basi.

Damar bahkan hanya melirik Kirana sebentar, lalu berbalik seolah ingin pergi. Kirana menyipitkan mata, lalu berkata dengan nada lebih tajam,

“Dan anda, Kapten Damar selamat ya." Kirana menjeda kalimatnya.

"Misi Anda untuk menjadi populer sudah tercapai.” Kata-kata itu membuat Damar sangat tidak nyaman.

Langkah Damar terhenti dia berbalik perlahan, menatap Kirana dengan sorot mata yang tajam.

“Maaf, maksud Anda apa?” Damar berusaha meredakan amarahnya nada suaranya di buat rendah.

Kirana tersenyum kecil menatap Damar

“Ah, jangan pura-pura semua ini untuk kepentingan Anda, bukan?” Ungkap kirana membuat Damar mengernyit.

“Anda salah paham.” Damar masih tidak paham dengan arah pembicaraan itu Kirana tertawa kecil sedikit meledek.

“Setidaknya Papah saya melakukannya secara terbuka semua orang tahu dia akan maju pilpres.” Damar terdiam mencoba mencerna ucapan itu.

Kirana melanjutkan, suaranya semakin tenang namun menusuk.

“Coba tanya Orang tua mu, siapa yang menghubungi stasiun TV untuk ‘mendongkrak’ nama Anda? Lebih licik, bukan?” Mendengar ucapan Kirana wajah Damar langsung berubah rahangnya mengeras.

“Saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Mbak Kirana.”

“Baiklah,” Kirana mengangkat bahu nada sinis masih terdengar dari nada bicaranya.

“Kita bicara sederhana saja.” Kirana melangkah lebih dekat ke arah Damar.

“Rating kita bagus masyarakat suka melihat kita bersama." Kata-kata itu terdengar seperti tawaran kerja sama.

"Kenapa tidak kita lanjutkan saja gimik ini sampai pilpres nanti," Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Kirana, tanpa rasa sungkan, dan tanpa rasa malu, Damar menatapnya tajam.

“Lagipula,” lanjut Kirana, “Bapak Kristanto juga akan maju pilpres kan,"

Damar menelan ludahnya ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya marah, kecewa, sekaligus tersinggung.

Selama ini, Damar selalu menjaga jarak dari bayang-bayang ayahnya dia ingin dikenal sebagai prajurit, bukan sebagai anak seorang jenderal.

“Saya tidak peduli dengan politik,” katanya tegas. “Saya prajurit saya mengabdi untuk negara, bukan untuk kepentingan siapapun.”

“Benarkah?” Kirana menatap Damar dalam-dalam senyuman tipis tersungging di bibirnya..

“Kalau begitu, kenapa kita berdiri di sini, dalam satu panggung yang sama?” Seketika suasana menjadi Hening.

Angin sore berhembus pelan, membawa ketegangan yang menggantung di antara mereka Damar tidak langsung menjawab.

Dan untuk pertama kalinya, Damar mulai meragukan bukan hanya situasi di sekitarnya, tapi juga semua yang selama ini Damar yakini.

1
sitanggang
mcnya ternyata goblok🤦🤦
Rosie: Baca J.R.R Tolkien aja cocok buat anda jangan novel online.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!