NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Pantang Meminta-minta

Gemetar tangan Bu Karto meremas kertas buram berstempel biru terang.

Sebuah nota cap lunas dari Toko Mebel Koh Abun di kecamatan. Rinciannya tertulis jelas: sepuluh kilogram kapuk randu kualitas super untuk isian kasur pengantin. Di balik nota itu, terselip dua lembar uang puluhan ribu.

Sore tadi, sebelum mengayuh sepeda kembali ke desanya, Sukma Ayu memaksa menjejalkan kertas-kertas ini ke tangannya. Alasannya sekadar ongkos lelah untuk Paklik Karto yang sudah bantu-bantu babat jerami di ladang.

Omong kosong. Bu Karto tahu persis tabiat warga desa. Bayaran bantu ladang paling mentok hanya sepiring nasi pecel dan segelas teh manis. Bukan uang tunai dan nota lunas kapuk randu yang harganya selangit.

Mata Bu Karto memanas. Ingatannya langsung melayang pada Sri, anak gadis semata wayangnya yang akan menikah bulan depan.

Keluarganya miskin. Calon besan memang memaklumi, tapi batinnya sebagai ibu hancur karena tak sanggup membelikan kasur kapuk baru untuk putrinya.

Diusapnya sudut mata yang basah menggunakan ujung lengan kebaya pudar. Nota berharga itu dilipatnya kecil-kecil, lalu diselipkan aman ke balik kutangnya.

"Gusti Allah sing mbales kebaikanmu, Sukma," gumamnya tulus.

Malam turun dengan cepat. Suara jangkrik mulai bersahutan di sekitar gubuk keluarga Karto.

Pintu depan berderit terbuka. Sri baru saja pulang dari pabrik rokok, menenteng rantang kosong. Wajah manis gadis sembilan belas tahun itu tampak letih, tapi senyumnya merekah melihat ibunya duduk di amben.

"Mak, aku pulang," sapa Sri seraya mencium tangan ibunya.

Belum sempat Bu Karto membalas, decakan sinis dari arah pintu dapur memotong suasana.

"Halah, sok rajin!" Surti, menantu kedua Bu Karto yang terkenal bermulut ember, bersandar di kusen pintu sambil mengikir kukunya. Matanya menatap sinis ke arah adik iparnya.

"Kamu itu mau nikah, Sri. Lekas ke dapur sana! Kalau ndak pintar masak, suamimu nanti lari cari perempuan lain!"

Sri menunduk. Ia sudah kebal dengan sindiran tajam kakak iparnya itu.

"Surti! Jaga mulutmu!" Bu Karto membentak marah.

"Sri itu capek kerja seharian buat bantu bayar utang bapakmu! Kamu yang seharian cuma ongkang-ongkang kaki di rumah, cepat masak sana!"

Surti mendelik tak terima. Alat kikir kukunya dilempar kasar ke meja bambu.

"Apa, Mak?! Nyuruh aku masak?! Karyo! Karyo! Lihat ini ibumu ngajak ribut!" jerit Surti memanggil suaminya.

Karyo muncul dari dalam kamar dengan wajah bantal. Pria bertubuh kurus itu menguap malas, enggan mencampuri ketegangan antara istri dan ibunya.

"Ada apa to, Dek? Yang rukun sama Emak," tegur Karyo kelewat lemah.

"Rukun apanya?! Ibumu ini pilih kasih! Mentang-mentang Sri mau nikah, dia terus yang dibela! Kamu jadi laki-laki kok diam saja istrimu diinjak-injak!" Surti mencak-mencak.

Lasinem, menantu pertama Bu Karto yang baru selesai memandikan anaknya, muncul dari arah sumur. Perempuan sabar itu menaruh ember plastiknya ke lantai tanah.

"Sudah, Surti. Jangan ribut terus. Kemarin kan aku yang masak, giliranmu hari ini. Tapi ya sudah, aku saja yang ke dapur," lerai Lasinem lembut.

Surti mendengus beringas. Sengaja ia menabrak bahu Lasinem kasar hingga kakak iparnya itu terhuyung ke belakang.

"Makan tempe terus! Bosen aku! Karyo, ayo kita makan di warung depan!" Surti menarik tangan suaminya keluar gubuk, membanting pintu depan hingga bergetar.

Lasinem mengelus dada. Matanya berkaca-kaca menatap punggung adik iparnya yang tak berguna itu. Suaminya sendiri sedang bekerja serabutan di kota, sementara ia harus menghadapi parasit di rumah mertuanya.

Di dalam kamar yang temaram, Bu Karto menarik tangan Sri duduk di tepi dipan.

Tangan keriputnya merogoh kutang, mengeluarkan lipatan nota lunas dan uang kertas itu.

"Nduk," suara Bu Karto bergetar. "Ini... rezeki nomplok. Dari Mbakyu Sukma."

Mata Sri terbelalak.

"Nota lunas kapuk randu?! Astaga! Ini mahal banget, Mak! Mbak Sukma kok berani ngasih barang ginian?"

"Dia bilang ini tambahan modal buat kasur barumu." Bu Karto mengusap rambut putrinya penuh kasih. "Kamu simpan yang rapat. Besok kita tukarkan ke toko. Jangan sampai Surti tahu. Kalau dia tahu, bisa dirampas buat beli perhiasan!"

Di luar dugaan, Sri justru mendorong tangan ibunya pelan. Gadis itu menggeleng tegas.

"Mak, aku ndak mau. Kembalikan ke Mbak Sukma."

"Loh? Kenapa, Nduk?"

"Mak, calon suamiku orang biasa. Dia nerima aku apa adanya. Aku ndak butuh kasur baru kalau harus ngerepotin orang lain."

Suara Sri terdengar mantap, sangat dewasa untuk usianya.

"Mbak Sukma itu istri prajurit yang ditinggal tugas. Uang gajinya Mas Trisno pasti pas-pasan buat makan empat anak. Belum lagi bentar lagi musim hujan, anak-anaknya butuh baju hangat. Kita ndak boleh serakah, Mak. Tolong kembalikan besok pagi."

Hati Bu Karto terasa hangat. Putrinya mewarisi sifat pantang meminta-minta yang selalu ia ajarkan. Sambil meneteskan air mata bangga, Bu Karto memeluk Sri erat.

Sementara itu, di dapur rumah bata milik Sukma.

Aroma pekat kaldu dari rebusan kaki sapi menguar liar, menggoda cacing-cacing di perut siapa saja yang menghirupnya. Minyak samin dan irisan daun bawang melayang di permukaan kuah soto kikil yang mendidih meletup-letup.

"Sigit! Gito!" panggil Sukma sambil menata rantang kaleng usang di atas meja bambu.

Dua bocah itu langsung nongol di ambang pintu. Hidung Gito kembang kempis.

"Soto kikil sapi wes mateng, Bu?!" Gito bertanya dengan liur yang nyaris menetes.

"Sudah. Tapi rantang yang ini bukan buat kita." Sukma menutup satu rantang kaleng itu rapat-rapat, lalu membungkusnya dengan kain lap bersih agar panasnya tak merembes ke tangan.

"Loh? Buat siapa, Bu?" Sigit mengerutkan dahi. Curiga ibunya kumat membagi-bagikan makanan mahal ke orang yang salah.

"Buat Mas Arman," jawab Sukma pelan.

Mata Sigit dan Gito membelalak kompak.

"Mas Arman yang buangan itu, Bu?!" Gito setengah berteriak.

"Sstt! Jangan keras-keras!" Sukma membekap mulut Gito. "Kakeknya lagi sakit parah. Mereka butuh makan enak biar badannya kuat. Kalian berdua antar rantang ini sekarang. Jangan sampai kelihatan orang lain."

Sigit menatap ibunya lekat-lekat. Instingnya mengatakan ibunya tak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan kuat. Tanpa banyak protes, bocah sembilan tahun itu mengangguk.

"Ayo, Gito. Kita berangkat sekarang." Sigit menyambar gagang rantang itu.

Dua saudara itu mengendap-endap keluar dari dapur. Kegelapan malam menyelimuti pekarangan. Namun baru saja mereka melewati sumur, sebuah siluet perempuan hamil mencegat langkah mereka.

Wati sedang berdiri menuntun Toni yang baru selesai buang air kecil di parit.

"Loh, Sigit, Gito? Mau ke mana malam-malam bawa rantang?" selidik Wati heran.

Langkah Gito terhenti. Wajah bocah tujuh tahun itu panik, takut ketahuan.

Namun Sigit, dengan ketenangan luar biasa hasil didikan jalanan, langsung menjawab lancar tanpa berkedip.

"Mau ambil keranjang sisa rumput pakan kambing yang ketinggalan di ladang tadi sore, Bulik Wati. Rantangnya mau dipakai buat wadah katul."

Wati tersenyum maklum. Tak ada sedikit pun curiga di wajahnya yang letih.

"Ya ampun, kalian ini rajin banget bantu Ibu cari pakan. Ya sudah, hati-hati di jalan gelap. Jangan sampai tersandung."

"Iya, Bulik."

Begitu Wati masuk ke dalam rumah, Sigit langsung menarik kerah baju adiknya dan berlari kencang menembus kegelapan malam, menuju jalan setapak ke arah gubuk reyot Arman.

Dari balik celah anyaman bambu dapur, Sukma mendengus geli melihat adegan tadi.

"Hamil tua memang bikin otak gampang dikibuli. Masa iya rantang kaleng begini wangi soto malah dikira wadah katul kambing?" kekeh Sukma pelan, kembali sibuk menyiapkan mangkuk-mangkuk soto untuk anak-anaknya yang tersisa di rumah.

1
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
SENJA
pinter sukma 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!