Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19—Pertarungan ll
Dengan satu gerakan cepat pria bertudung hitam memutar tubuhnya dan segera mengambil keseimbangan, membuatnya mendarat dengan selamat tanpa terluka sedikitpun. Jelas, hanya mendorongnya seperti itu tak akan memberikan efek apapun.
“Bodoh! Dasar bodoh!” teriak Wuxu tepat disamping telinga Yuofan. Ia terlihat sangat frustasi dengan kecerobohan yang di ambil bocah itu, padahal tadi kesempatan mereka sangatlah bagus.
“Memangnya siapa yang terus mengoceh hingga aku kehilangan fokus dan tak menyadari ada ranting didepan ku, hah?!” balas Yuofan seraya mendekatkan wajahnya pada rubah kecil yang melayang itu.
Wuxu tak mau kalah, ia ikut mendekatkan wajahnya dengan kesal hingga dahi mereka bertabrakan. “Apa hubungannya, bocah? Tetap saja kau seharusnya bisa langsung menusuk nya!”
“Kau kira mengumpulkan keberanian itu mudah?! Keberanian ku langsung goyah gara-gara ranting itu! AKU INI HANYA BOCAH 8 TAHUN!”
Mereka berdua terus beradu dahi, bahkan sebuah kilatan petir muncur diantara kedua mata mereka. Hingga Yuofan merasakan sesuatu menancap tepat dilehernya, membuatnya terdiam begitupun dengan Wuxu.
“Apa ini?” ucapnya seraya meraba lehernya yang terdapat jarum disana. Ia dengan santai mencabut jarum itu dan membuangnya sembarangan.
“Kau diam! Aku akan fokus.” lanjut Yuofan yang menyadari bahwa serangan itu berasal dari pria bertudung hitam.
Yuofan memasang kuda-kudanya, menurunkan pusat berat tubuhnya dan menstabilkan napasnya terlebih dahulu. Dengan gerakan yang lembut dan terkontrol, ia memutar tangannya perlahan, dan seiring gerakan itu, jejak-jejak pedang mulai terbentuk di belakangnya. Jejak itu awalnya samar, lalu perlahan menjadi semakin jelas, tersusun rapi mengikuti arah putaran tangannya.
[Varka Tausanblad]
_Tarian Seribu Pedang_
Dengan satu ayunan yang lebih keras dari sebelumnya, pedang-pedang di belakangnya langsung melesat ke arah target secara bersamaan. Serangan itu bergerak cepat, memotong udara dengan arah yang berbeda-beda namun tetap terarah. Bersamaan dengan itu, Yuofan melompat dari lereng tempat ia berdiri. Tubuhnya meluncur turun, dan di tengah gerakan itu ia mengayunkan pedangnya sekali lagi, menghasilkan tebasan berenergi yang meluncur lurus ke arah pria bertudung di depannya.
Pria itu bergerak cepat, menghindari satu per satu serangan Yuofan. Ia memiringkan tubuhnya, melangkah ke samping, dan mundur beberapa langkah untuk keluar dari jalur serangan pedang dan tebasan energi yang datang berurutan.
Saat tubuhnya hampir menyentuh tanah, Yuofan segera memusatkan energi qi nya pada telapak kaki untuk meredam benturan dan menjaga keseimbangan. Ia pun mendarat dengan sempurna, kedua kakinya menyentuh tanah dengan stabil. Pandangannya lalu langsung tertuju pada pria bertudung yang kini mengalami sedikit luka goresan.
_Bagaimana bisa bocah itu baik-baik saja?_ Batin pria bertudung sembari memegangi bahu kanannya yang tergores.
Sementara itu di sisi lain, Di Xinyuan melompat tinggi ke langit hingga tubuhnya terlihat kecil dari bawah. Di udara, ia melapisi seluruh tubuhnya dengan energi qi yang sangat panas, membuat udara di sekitarnya bergetar. Setelah itu, ia meluncur turun dengan cepat ke arah para praktisi berjubah hijau, seperti meteor panas yang jatuh dari langit.
Beberapa praktisi dengan sigap langsung memasang formasi pelindung dengan menggabungkan kekuatan mereka. Lapisan energi terbentuk di depan mereka untuk menahan serangan yang datang. Namun situasi mereka tetap tidak mudah, karena pada saat yang sama mereka juga diserang oleh Bai Luan dari sisi lain. Ketika kera itu hampir menyentuh tanah, Bai Luan segera mengepakkan sayapnya dan menciptakan pelindung dari es di sekelilingnya agar terhindar dari serangan Di Xinyuan yang akan menghantam area tersebut. Sedangkan tiga praktisi yang menjadi target utama tidak sempat menghindar, sehingga mereka terkena serangan itu secara langsung.
Ledakan besar pun terjadi saat Di Xinyuan menghantam tanah. Gelombang panas menyebar ke segala arah, menyapu salju dan tanah di sekitarnya hingga membentuk lubang besar di permukaan tanah. Ketiga praktisi itu langsung terpental dan jatuh dalam keadaan pingsan setelah menerima serangan tersebut. Di Xinyuan tertawa puas melihat serangannya berhasil mengenai target. Tetapi tidak lama kemudian, kera itu terlihat terhuyung dan hampir terjatuh. Energi di dalam tubuhnya ternyata sudah banyak terkuras akibat serangan barusan. Menyadari hal itu, Bai Luan langsung maju dan berdiri di depannya untuk melindunginya.
Ia mengepakkan sayapnya sekali, membuat udara di sekitar menjadi jauh lebih dingin. Dari tanah, bongkahan-bongkahan es mulai muncul dan naik ke atas, lalu membentuk sebuah penjara es yang mengurung dua praktisi tingkat dua yang masih tersisa. Setelah itu, Bai Luan mengangkat tangannya dan membentuk puluhan tombak es di langit. Tombak-tombak itu melayang sesaat, lalu secara bersamaan diarahkan menuju penjara es tersebut.
“TIDAKK!” Para praktisi di dalam penjara berteriak ketakutan. Wajah mereka pucat dan penuh kepanikan, tetapi mereka tidak memiliki ruang untuk melarikan diri. Ketika tombak-tombak es itu meluncur dan menembus penjara dari berbagai arah, mereka tidak mampu bertahan lagi dan akhirnya tewas di tempat.
Bai Luan berusaha mengatur nafasnya, ia menyadari bahwa racun di tubuhnya perlahan mulai menyebar hingga membuat pandangan nya menjadi kabur. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengambil kembali kesadaran nya. Ia berjalan pelan menuju Di Xinyuan yang terduduk ditanah dengan nafas berantakan, ia berniat untuk mengajak kera itu membantu Yuofan yang melawan pria bertudung. Namun sebuah ledakan kembali terjadi membuat mereka terkejut.
Keduanya kemudian menoleh ke arah sumber ledakan yang terdengar tidak jauh dari posisi mereka. Ledakan itu berasal dari pertarungan antara Yuofan dan pria bertudung yang sejak tadi bertarung di dekat lereng. Dari kejauhan terlihat tubuh Yuofan terlempar dan menghantam lereng dengan keras, menyebabkan longsoran kecil dan debu beterbangan. Bocah itu terjatuh di tanah dan terlihat batuk darah akibat benturan tersebut, sedangkan pria bertudung itu berdiri dengan memegang dua buah jarum besar di kedua tangannya.
Melihat Yuofan terluka, Di Xinyuan langsung terkejut dan wajahnya berubah tegang. Tanpa banyak berpikir, ia segera bangkit dan berniat pergi membantu tuannya. Ia baru saja melangkah beberapa langkah ketika tiba-tiba sebuah pedang melesat cepat ke arahnya dari samping. Serangan itu datang terlalu cepat dan membuatnya tidak sempat menghindar. Akhirnya pedang itu langsung menembus bahunya dan membuat tubuhnya terdorong sedikit ke belakang. Darah segera mengalir dari luka tersebut, dan Di Xinyuan menahan napasnya sambil menahan rasa sakit yang menjalar dari bahu ke lengannya.
Bai Luan dan Di Xinyuan menengok kearah serangan itu berasal. Disana jantung mereka seolah dibuat berhenti sedetik, bola mata mereka membulat, keringat dingin muncul dan wajah mereka memucat. Diatas lereng mereka melihat sekumpulan orang berjubah hijau datang kembali dengan jumlah yang lebih banyak. Beberapa diantara mereka kebanyakan berada di ranah Pembentukan fondasi dan pengumpulan qi, tetapi bukan ranah yang menjadi masalahnya saat ini, melainkan jumlah mereka yang lebih dari dua puluh.
“Sial!” Bai Luan mengerutkan keningnya khawatir.