Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Setelah aksi balapan off-road yang memompa adrenalin, Kaelan dan Anya menghabiskan sisa sore itu dengan berenang di laut. Mereka berkejaran ombak, saling menenggelamkan, dan tertawa lepas seolah beban dunia mafia tidak pernah ada di pundak Kaelan.
Namun, mengendurkan kewaspadaan dan bertingkah seperti manusia normal seharian penuh ternyata memakan tol fisik yang luar biasa bagi sang Ketua Klan. Saat makan malam, Anya menyadari Kaelan lebih banyak diam. Kantung matanya terlihat lebih gelap, dan bahunya yang biasa tegap kini sedikit merosot. Tubuh yang terbiasa tegang karena selalu waspada itu kini kehabisan daya.
"Kau terlihat seperti zombi kurang darah, Bos Es," tegur Anya sambil menyodorkan segelas air putih. "Tidurlah lebih awal malam ini. Biar aku yang menghabiskan sisa dessert-nya."
Kaelan tidak membantah, sesuatu yang sangat langka terjadi. Ia hanya mengangguk pelan, memijat pelipisnya. "Aku memang sangat lelah. Jangan tidur terlalu larut, Anya."
Setelah Kaelan masuk ke kamarnya pada pukul delapan malam, vila itu terasa sangat sepi. Anya memutuskan untuk kembali ke kamarnya sendiri, mandi air hangat, lalu melompat ke atas kasur king size-nya dengan piyama kaus longgar bergambar dinosaurus.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika Anya sedang asyik membaca komik action di tabletnya. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan yang sangat ragu-ragu di pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
Anya mengernyitkan dahi. Ragas tidak pernah mengganggunya selarut ini, dan Kaelan biasanya masuk tanpa mengetuk selembut itu.
"Masuk saja, tidak dikunci," seru Anya.
Gagang pintu berputar perlahan. Pintu terbuka sedikit, dan menyembullah sebuah kepala dari balik celah. Mata hitam legam yang biasanya memancarkan kilat mematikan itu kini membulat lebar, berbinar-binar, dengan bulu mata yang mengerjap polos.
Pria bertubuh raksasa itu menyelinap masuk. Ia mengenakan piyama sutra lengan pendek berwarna biru muda. Di pelukannya, ia mendekap erat sebuah bantal guling.
"A-Anya..." panggilnya dengan suara melengking pelan yang sangat khas. "Bolehkah aku masuk? Di luar gelap... dan terdengar suara burung hantu yang menyeramkan."
Anya meletakkan tabletnya, matanya membelalak tak percaya. "Milo?"
Pria itu mengangguk dengan semangat, berlari kecil menghampiri sisi tempat tidur Anya. Kaelan tertidur terlalu lelap karena kelelahan, membuat benteng pertahanan mentalnya runtuh, dan Milo mengambil alih tubuh itu di tengah malam.
"Si Kaku itu tidur seperti orang pingsan," Milo mengerucutkan bibirnya yang tebal, menatap Anya dengan puppy eyes andalannya. "Aku terbangun dan merasa kesepian. Ragas sudah tidur. Bolehkah... bolehkah aku tidur di sini bersamamu?"
Melihat bos mafia paling ditakuti di kota memeluk guling dengan wajah memelas seperti balita yang kehilangan ibunya, sungguh pemandangan yang membuat otak Anya korslet. Apalagi otot lengan pria itu terlihat sangat mencolok dari balik piyama sutranya. Benar-benar kontras yang absurd.
Namun, hati Anya yang dulu sekeras batu jalanan, kini melembut seketika. Ia menghela napas panjang, lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Kemarilah, Bayi Raksasa," ucap Anya sambil tersenyum geli.
Milo memekik girang tertahan. Ia memanjat ke atas kasur dengan gerakan lincah, lalu tanpa sungkan membaringkan tubuh besarnya di samping Anya. Tidak cukup sampai di situ, Milo menggeser tubuhnya mendekat, lalu menyandarkan kepalanya yang berat tepat di atas paha Anya, menjadikan pangkuan gadis tomboy itu sebagai bantalnya.
Anya sedikit terkesiap menerima beban itu, tapi ia tidak menolak. Tangan Anya secara refleks bergerak, jari-jarinya menyusup ke sela-sela rambut Kaelan yang lebat dan mulai mengelusnya dengan gerakan memutar yang lembut.
Milo memejamkan matanya, mendesah puas seperti kucing besar yang sedang dimanja. "Nyaman sekali... Tanganmu hangat, Anya."
"Kau ini manja sekali, ya. Pantas saja Kaelan selalu berusaha menyembunyikanmu. Kalau musuh melihatnya, mereka tidak akan menembaknya, tapi memberinya permen lollipop," goda Anya, terus mengelus rambut Milo hingga pria itu semakin meringkuk mendekat padanya.
Milo terkikik pelan, melingkarkan lengannya yang besar di pinggang Anya, memeluk gadis itu erat. "Anya... bolehkah aku minta sesuatu lagi?"
"Minta apa? Jangan minta aku memakai masker wajah jam sebelas malam, ya."
Milo membuka sebelah matanya, menatap Anya dari bawah dengan penuh harap. "Bacakan aku dongeng. Dulu... sebelum kejadian buruk itu, ibuku selalu membacakanku dongeng agar aku bisa tidur."
Tangan Anya terhenti sejenak di udara. Tenggorokannya mendadak terasa tercekat. Ia menatap wajah pria dewasa di pangkuannya yang menyimpan trauma luar biasa di balik kepolosannya ini.
"Dongeng, ya?" Anya berdehem, mencoba menutupi rasa harunya. "Masalahnya, aku ini preman pasar, Milo. Aku tidak tahu cerita Putri Salju atau Cinderella. Aku cuma tahu cerita si Pitung atau preman terminal."
"Tidak apa-apa!" sahut Milo antusias. "Karang saja cerita baru! Cerita tentang putri yang tangguh sepertimu!"
Anya tersenyum miring. "Baiklah. Dengarkan baik-baik. Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan beton yang berisik, hiduplah seorang Putri. Tapi dia bukan putri biasa yang suka memakai gaun merepotkan. Dia memakai jaket kulit dan bersenjatakan... tongkat bisbol peninggalan kakeknya."
Milo terbelalak kagum. "Wow! Lalu? Apakah dia bertemu pangeran?"
"Suatu hari," lanjut Anya dengan nada mendramatisir, "Putri itu bertemu dengan seekor naga es yang sangat pemarah dan suka menyuruh-nyuruh. Naga es itu sangat kaya, tapi dia punya satu rahasia... di dalam perut naga es itu, ada seekor kelinci merah muda yang sangat cerewet dan suka dipeluk."
Milo tertawa renyah hingga bahunya bergetar, menyadari bahwa dongeng itu adalah tentang mereka berdua. Ia semakin menyembunyikan wajahnya di perut Anya, mencari kehangatan.
Anya terus mengarang cerita konyol tentang Putri Preman dan Naga Es, dengan bumbu adegan action ala film kungfu yang membuat Milo sesekali memekik ngeri dan tertawa. Perlahan, suara tawa Milo mulai mereda. Kedipan matanya semakin lambat.
"Ceritanya bagus sekali, Anya..." gumam Milo dengan suara yang kini nyaris berbisik. "Tapi aku masih belum bisa tidur lelap. Nyanyikan sesuatu untukku... kumohon."
Anya mengusap rahang Kaelan yang sedikit bertekstur, memandang wajah damai pria itu. Tanpa berpikir panjang, Anya mulai bersenandung. Suaranya bukanlah suara merdu penyanyi seriosa, melainkan suara serak basah yang lembut. Ia menyanyikan lagu indie-rock lawas yang temponya ia perlambat menjadi sebuah lullaby (lagu pengantar tidur) akustik yang menenangkan.
I'll be your safe haven... When the world comes crashing down... Close your eyes, you're not alone...
Tangan Anya tak henti mengelus rambut dan menepuk pelan bahu lebar pria itu. Getaran suara Anya dari dadanya merambat langsung ke kepala Milo, memberikan rasa aman yang tak terlukiskan.
Dalam hitungan menit, napas pria itu menjadi sangat teratur. Pelukannya di pinggang Anya mengendur. Milo telah jatuh tertidur, membawa tubuh Kaelan ke dalam fase istirahat terdalam yang mungkin belum pernah dirasakan pria itu selama dua puluh tahun terakhir.
Anya berhenti bernyanyi. Ia menatap lekat-lekat wajah tertidur sang bos mafia di pangkuannya. Pemimpin klan paling mematikan, pria yang bisa meruntuhkan kota hanya dengan satu perintah, kini tertidur pulas seperti bayi tak berdosa di dalam dekapannya.
Anya menunduk, mengecup pelan dahi pria itu.
"Selamat tidur, Kaelan... Selamat tidur, Milo," bisik Anya. Preman pasar itu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, memutuskan untuk tidur dalam posisi duduk malam itu, demi menjaga mimpi indah pria yang tanpa sadar telah mencuri seluruh hatinya.