Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Ini, Bukan Besok
Pagi itu, kafe “Kopi dan Tawa” tampak lebih hidup dari biasanya. Lampu kuning lembut memantul di cangkir-cangkir kopi yang baru diseduh, dan musik jazz pelan mengalun dari sudut ruangan. Namun bagi Raka dan Lala, suasana kafe terasa seperti dunia mereka sendiri kecil, hangat, dan aman.
Raka menatap Lala dari seberang meja, tangannya sedikit gemetar saat memegang cangkir kopi panas. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang berdebar. “Lala… hari ini… aku nggak akan bilang ‘ya mungkin besok.’ Aku mau bilang sekarang,”
ucapnya, serius tapi ada senyum canggung di bibirnya.
Lala menatapnya, mata berbinar. “Apa maksudmu?”
Raka tersenyum, menunduk sebentar, lalu menatap mata Lala dengan penuh perhatian. “Aku… aku ingin kita jalani semua hari ini bersama. Setiap tawa, setiap kesalahan kecil, setiap momen aneh yang kita buat. Aku nggak mau menunda lagi. Aku mau sekarang, bersama kamu.”
Lala tersenyum pelan. Hatinya terasa hangat, seolah ada sinar matahari yang tiba-tiba masuk melalui jendela kafe. “Aku senang dengar itu, Raka. Aku juga nggak mau menunggu besok. Aku mau sekarang.”
Raka tertawa pelan, menatap tangannya yang menggenggam tangan Lala. “Jadi… kita jalani semuanya sekarang, bersama?”
“Bersama,” jawab Lala, menggenggam tangannya lebih erat.
Mereka duduk diam beberapa saat, menikmati kehangatan yang sederhana tapi sangat berarti. Tak ada kata-kata panjang yang biasanya membuat Raka menunda, hanya saling menatap dan tersenyum.
Pintu kafe tiba-tiba terbuka, dan angin membawa aroma hujan segar. Raka menoleh, sedikit tegang. Ternyata Nadia muncul, tersenyum lembut dan tenang.
“Selamat pagi,” sapanya ringan. “Aku cuma ingin bilang… terima kasih.”
Raka sedikit panik. “Untuk apa?”
Nadia menatap mereka berdua, kemudian menoleh ke Lala. “Untuk menjaga Raka. Dan untuk membuatnya bahagia. Hubungan kami dulu sudah selesai, tapi aku senang melihat dia memilihmu dengan tulus.”
Lala menatap Nadia dengan mata hangat. “Terima kasih. Aku janji akan menjaga dia, sama seperti dia menjaga aku.”
Nadia tersenyum dan berdiri. “Aku tahu kalian akan baik-baik saja. Jangan khawatir… aku pergi sekarang, sungguh.”
Raka menghela napas lega, dan Lala tersenyum. Mereka kembali menatap satu sama lain. “Lihat?” kata Lala. “Semua masa lalu sudah selesai. Sekarang giliran kita menulis cerita kita sendiri.”
Raka tersenyum, menarik napas panjang. “Benar. Dan aku mau cerita itu penuh tawa, cinta… dan kopi panas.”
Mereka tertawa bersama, dan tawa itu terasa seperti musik yang menyelaraskan hati mereka. Hari itu, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman dekat kafe. Hujan gerimis ringan menetes, tapi Raka membuka payung untuk mereka berdua.
Ia menunduk, menatap mata Lala, dan berkata pelan:
“Kamu tahu… aku selalu bilang ‘besok’ untuk banyak hal… tapi hari ini, aku sadar… aku nggak mau menunda lagi untuk kamu.”
Lala tersenyum, menunduk sebentar agar tetesan hujan tidak mengenai wajahnya. “Aku senang akhirnya kamu ngerti.”
Raka menggenggam tangannya lebih erat. “Aku mau kita jalani semua hari-hari kita… sekarang, bukan besok.”
Mereka terus berjalan, tertawa, dan berbagi cerita kecil. Setiap langkah terasa ringan, meski hujan membuat jalanan basah. Ada sesuatu yang menenangkan tentang momen itu: mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi, tanpa menunda cinta yang sebenarnya ingin mereka jalani.
Saat sore tiba, mereka kembali ke kafe, duduk di sudut favorit mereka. Raka menatap Lala, dan untuk pertama kalinya, ia tidak menunda kata-katanya.
“Kamu tahu… aku senang aku menunggu besok. Tapi aku lebih senang lagi karena akhirnya hari ini ada kamu,” katanya, tulus.
Lala menatapnya dengan mata berbinar, membalas senyum itu. “Dan aku senang aku nggak menunggu besok untuk bilang aku mencintaimu.”
Hujan gerimis kembali turun di luar, tapi mereka tak peduli. Payung, kopi panas, dan satu sama lain sudah cukup. Masa lalu sudah pergi, besok tak lagi menjadi alasan, dan mereka siap menjalani hari-hari sekarang bersama, tanpa menunda, dan dengan cinta yang nyata.
Dan di dalam hati Raka, satu hal jelas: “Ya mungkin besok” kini bukan lagi kata yang akan digunakan untuk cinta. Sekarang adalah waktu mereka. Sekarang adalah hari untuk Lala.