NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Dua minggu telah berlalu seperti neraka bagi Rina.

Ruang kerja Adrian yang biasanya dingin kini terasa membara oleh kekecewaan sang produser.

Rina sudah menyisir puluhan pasar, menghubungi ratusan pengunggah video, hingga menyewa detektif media sosial, namun sosok penari misterius itu seolah menguap ditelan bumi.

Video itu memang viral, tapi sang pengunggah asli telah menghapusnya, meninggalkan jejak yang buntu.

Adrian berdiri di depan jendela besar kantornya, menatap kemacetan kota dengan rahang mengeras.

"Dua minggu, Rina. Dua minggu untuk mencari satu orang di kota ini, dan kamu membawakanku tangan kosong?"

"Maaf, Pak. Video itu diambil di pasar yang sangat ramai, dan wajahnya benar-benar tidak terlihat karena efek blur. Kami sudah mencoba bertanya pada pedagang di pasar-pasar besar, tapi—"

"Cukup!" Adrian memotong dengan tajam.

Suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengancam.

"Kamu tahu proyek ini bergantung pada 'nyawa' penari itu. Jika kita tidak menemukannya, film ini hanya akan jadi sampah mahal lainnya."

Adrian menyambar kunci mobil sport-nya yang terletak di atas meja marmer. Matanya berkilat penuh tekad yang hampir terlihat seperti obsesi.

"Pak, Bapak mau ke mana?" tanya Rina panik.

"Melakukan pekerjaan yang tidak bisa kamu selesaikan," jawab Adrian dingin tanpa menoleh.

"Aku akan mencarinya sendiri. Jika dia nyata, dia pasti meninggalkan jejak. Getaran seperti itu tidak mungkin hilang begitu saja."

Adrian melangkah lebar keluar ruangan, mengabaikan tatapan heran para stafnya.

Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin yang menderu garang, dan membiarkan instingnya menuntun.

Ia mulai mendatangi pasar-pasar pinggiran yang belum sempat didatangi timnya.

Bagi Adrian, ini bukan lagi sekadar mencari pemain film.

Ini adalah perburuan untuk menemukan kembali gairah seninya yang sempat mati.

Ia bersumpah, siapa pun wanita di balik bayangan buram itu, ia akan menemukannya.

Ia tidak peduli berapa banyak pasar yang harus ia masuki atau berapa banyak debu yang harus ia hirup.

Adrian tidak bisa lagi duduk diam di balik meja marmernya.

Selama berhari-hari, ia mengemudikan mobilnya sendiri, menyusuri pasar demi pasar di pinggiran kota hingga merambah ke daerah satelit yang berdebu.

Ia mengabaikan setelan jas mahalnya yang mulai kusut dan bau asap knalpot yang melekat di rambutnya.

Baginya, penari misterius itu adalah kunci dari mahakarya yang sedang ia bangun, dan ia tidak akan berhenti sampai kunci itu ada di tangannya.

Siang itu, matahari membakar atap seng Pasar Induk dengan beringas.

Di tengah kebisingan pedagang cabai dan bau amis ikan, sebuah melodi dari radio tua pengamen mulai mengalun. Iramanya cepat, menghentak, dan penuh nyawa.

Liana, yang sedang merapikan gantungan baju, merasakan denyut itu lagi.

Seolah ada magnet yang menarik jiwanya, ia melangkah keluar dari lapaknya.

Di tengah lorong pasar yang sempit, di antara kerumunan ibu-ibu pembawa belanjaan, Liana mulai bergerak.

Tubuhnya yang berisi meliuk dengan kelincahan yang mustahil, menciptakan kontras yang indah dengan latar belakang pasar yang kumuh.

Di ujung lorong, Adrian menghentikan langkahnya.

Ia baru saja turun dari mobilnya yang diparkir sembarangan di pinggir jalan.

Matanya yang tajam langsung menangkap sosok itu.

"Ketemu," bisik Adrian.

Tanpa sadar, Adrian berjalan mendekat. Ia tidak berteriak atau memanggil.

Secara mengejutkan, Adrian—yang selama ini dikenal sebagai produser dingin yang kaku—mulai menggerakkan kakinya.

Ia mengikuti ketukan musik itu, masuk ke dalam lingkaran penonton, dan mulai menari di hadapan Liana.

Liana terkejut ketika melihat seorang pria asing dengan pakaian pesolek kota tiba-tiba menyelaraskan gerakan dengannya. Namun, alih-alih merasa terganggu, Liana merasakan sebuah koneksi.

Gerakan pria itu tegas dan penuh teknik, sangat kontras dengan tarian Liana yang liar dan bebas.

Liana tersenyum tipis. Ia menerima "tantangan" itu.

Ia mengikuti gerakan Adrian, berputar mengelilinginya, menciptakan sebuah dialog tanpa kata di tengah pasar.

Mereka menari seperti dua kutub yang berbeda namun saling melengkapi; yang satu adalah teknik yang sempurna, dan yang lainnya adalah jiwa yang merdeka.

Para pembeli dan pedagang yang melihat pemandangan langka itu seketika berhenti beraktivitas.

Mereka bersorak dan bertepuk tangan meriah, terpesona oleh harmoni yang tercipta di antara dua orang asing tersebut.

Begitu musik berakhir, Liana membungkukkan tubuhnya sedikit, mengatur napasnya yang memburu.

"Terima kasih," ucap Liana tulus dengan suara lembut, memberikan senyum terakhir sebelum berbalik dan kembali masuk ke dalam tokonya yang dipenuhi tumpukan pakaian.

Adrian terpaku di tempatnya berdiri. Ia masih bisa merasakan sisa getaran tarian itu di ujung jemarinya.

Ia menatap punggung Liana yang menghilang di balik kain-kain dagangan, menyadari bahwa ia baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar penari utama.

Adrian tidak membuang waktu. Dengan langkah mantap yang masih menyisakan sisa energi dari tarian tadi, ia melangkah masuk ke dalam toko pakaian yang sempit itu.

Aroma kain baru dan parfum murah menyeruak, sangat kontras dengan wangi maskulin mahal yang menguar dari tubuh Adrian.

Liana sedang merapikan beberapa potong daster saat bayangan pria jangkung itu menutupi cahaya matahari di ambang pintu tokonya.

Ia mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Adrian yang tajam dan penuh ambisi.

"Tarianmu, itu bukan sekadar gerakan. Itu adalah kebebasan murni," ujar Adrian tanpa basa-basi.

Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam elegan dengan tulisan emas yang timbul.

"Nama saya Adrian Pratama. Saya seorang produser film. Saya sudah mencari Anda selama dua minggu di setiap sudut kota ini."

Liana tertegun sejenak melihat kartu nama itu, namun ia tidak menerimanya. Ia hanya menatap benda itu dengan ragu.

"Saya sedang mengerjakan sebuah proyek mahakarya, sebuah film tentang pencarian jati diri melalui seni. Saya butuh sosok seperti Anda untuk menjadi bintang utamanya," lanjut Adrian, suaranya kini terdengar seperti magnet yang berusaha menarik siapa pun ke dalam dunianya.

"Dunia perlu melihat apa yang baru saja saya lihat di luar sana. Saya bisa memberikan panggung paling megah yang pernah Anda bayangkan."

Liana menarik napas dalam-dalam. Ia melirik ke arah Mamanya yang sedang melayani pembeli di pojok lain toko, lalu kembali menatap Adrian.

Ada binar ketulusan di mata pria itu, namun Liana merasakan ada sesuatu yang "terpenjara" di balik tawaran tersebut.

"Terima kasih atas pujiannya, Pak Adrian," ucap Liana pelan namun suaranya tidak goyah sedikit pun.

"Tetapi, maaf Pak Adrian, saya tidak bisa menerima tawaran Anda."

Adrian terdiam, alisnya bertaut heran. Ini adalah pertama kalinya dalam kariernya seseorang menolak tawaran emas darinya begitu saja.

"Kenapa? Anda khawatir tentang kontrak? Atau masalah teknis? Saya bisa menjamin kenyamanan Anda—"

"Bukan itu," potong Liana dengan senyum tipis yang terasa pahit.

"Tarian saya adalah rahasia saya. Itu adalah cara saya bernapas untuk diri saya sendiri. Jika saya membawanya ke panggung Anda, di bawah lampu sorot dan arahan kamera, tarian itu bukan lagi milik saya. Tarian itu akan menjadi milik penonton, dan saya akan kehilangan kebebasan saya."

Adrian terpaku. Ia melihat keteguhan di mata wanita di depannya—sebuah benteng yang tidak bisa ditembus hanya dengan uang atau popularitas.

Adrian melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka.

Matanya berkilat, bukan lagi oleh kekaguman, tapi oleh ambisi yang mendesak.

Ia terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan dengan angka-angka di atas kertas cek.

"Tolonglah, Liana. Jangan keras kepala," ujar Adrian, suaranya merendah namun penuh penekanan.

"Aku tahu hidup di pasar ini berat. Aku bisa mengubah nasibmu dan ibumu dalam semalam. Aku akan memberikan uang yang kamu inginkan. Kamu mau berapa? Satu miliar? Dua atau tiga?"

Liana tertegun sejenak. Angka yang disebutkan Adrian terdengar seperti dongeng di telinganya.

Dengan uang sebanyak itu, ia bisa membelikan Mama rumah yang layak, toko yang lebih besar, dan masa tua yang tenang tanpa harus berpeluh peluh di pasar setiap hari.

Namun, Liana menghela napas panjang. Ia menatap deretan daster murah yang tergantung di tokonya, lalu kembali menatap Adrian dengan tatapan yang justru membuat pria itu merasa kecil.

"Pak Adrian," ucap Liana lembut, namun ada ketegasan yang tak tergoyahkan di sana.

"Uang satu atau tiga miliar memang bisa membeli pakaian yang paling mahal di dunia, tapi uang itu tidak bisa membeli jiwa dari tarian saya."

Liana menyandarkan tangannya di atas tumpukan kain.

"Jika saya menari karena uang Anda, maka setiap gerakan kaki saya akan terasa berat oleh beban kontrak. Saya tidak akan lagi menari karena bahagia, tapi karena kewajiban. Dan saat itu terjadi, tarian yang Bapak cari, akan mati dengan sendirinya."

Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menutup diskusi itu.

"Terima kasih atas tawarannya, tapi kebahagiaan saya tidak dijual."

Adrian terdiam membisu. Ia melihat Liana kembali sibuk merapikan dagangannya, seolah-olah tawaran miliaran rupiah tadi hanyalah angin lalu. Untuk pertama kalinya, Adrian merasa senjatanya yang paling ampuh—kekuasaan dan uang—sama sekali tidak berguna.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!