bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.
Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari pertama latihan
Program pelatihan militer untuk anak-anak prajurit resmi dimulai. Setelah berminggu-minggu persiapan dan pendaftaran, Kakek Xu akhirnya mengumumkan hari pertama akan dilaksanakan pada tanggal 2 Mei.
Pagi itu, Jinyu bersiap dengan baju latihan yang telah disiapkan Ibu Liu setelan berwarna hijau tentara yang dibuat khusus menjahitnya, ukuran disesuaikan dengan tubuh Jinyu yang tinggi. Ibu Liu merapikan kerah baju putrinya dengan penuh kasih.
"Kamu cantik sekali, Yuyu," puji Ibu Liu. "Ingat, jaga sikap, dengarkan instruktur, dan jangan sungkan berteman."
Jinyu mengangguk patuh. "Iya, Bu."
su weimin yang sejak tadi sudah siap dengan seragamnya sendiri, ia juga ikut program karena usianya 10 tahun masuk kuota berjingkrak di depan pintu. "Yuyu, ayo cepat! Aku mau tunjukin kamu ke teman-temanku!"
"Awas saja kalau kau bikin ulah," Ibu Liu mengingatkan. "Jaga adikmu baik-baik."
"Siap, Bu!" Su weimin memberi hormat ala tentara, membuat Ibu Liu tertawa.
Markas pelatihan terletak di kompleks terpisah, tak jauh dari kantor Kakek Xu. Lapangan luas dengan barak-barak kecil di sekelilingnya. Pagar kayu mengelilingi area, dan di tengah lapangan berdiri tiang bendera merah berkibar.
Saat Jinyu dan Kakak Ketiga tiba, sudah ada belasan anak berkumpul. Usia mereka bervariasi dari yang tampak baru 5 tahun hingga yang hampir 11 tahun. Beberapa digandeng orang tua, beberapa sudah berkumpul dengan teman. Suasana ramai oleh celoteh anak-anak.
"Wah, lihat itu!" seru seorang anak laki-laki gemuk menunjuk Jinyu. "Rambutnya aneh, warnanya cokelat!"
Anak di sampingnya, kurus dengan mata sipit, ikut menatap. "Iya, matanya juga kuning! Kayak kucing!"
Kakak Ketiga langsung memasang badan di depan Jinyu. "Heh! Jangan macam-macam sama adikku!"
Anak-anak itu sedikit mundur, tapi masih cengar-cengir. Seorang anak perempuan dengan dua kuncir mendekat, matanya berbinar. "Aku suka rambutmu! Warnanya cantik! Seperti madu!"
Jinyu tersenyum tipis. "Terima kasih."
"Namaku Xiaoling, umur 6 tahun. Ayahku Letnan Kolonel. Kamu?"
"Su Jinyu, 4 tahun. Ayahku Komandan Divisi."
Xiaoling membelalak. "4 tahun? Tinggimu tinggi sekali!"
Belum sempat Jinyu menjawab, suara peluit keras berbunyi. Seorang instruktur pria muda tegap dengan seragam rapi berdiri di tengah lapangan.
"BERKUMPUL! Bentuk barisan dua banjar!"
Anak-anak berhamburan, kacau balau. Ada yang lari ke kiri, ada yang ke kanan, ada yang menangis karena terpisah dari orang tua. Jinyu diam-diam mengamati dengan heran. Di dunia kiamat, pasukanku bisa berbaris rapi dalam 10 detik. Ini...
Su weimin menarik tangannya. "Yuyu, sini! Ikut aku!"
Mereka berdua mengambil posisi di barisan belakang. Jinyu berdiri tegak, posturnya alami sempurna kebiasaan ratu iblis yang terbiasa memimpin. Di sampingnya, Xiaoling juga sudah berdiri dengan rapi.
Instruktur itu berjalan di depan barisan, mengecek satu per satu. Saat matanya jatuh pada Jinyu, ia sedikit terkejut. Postur anak ini... terlalu sempurna untuk anak 4 tahun. Tapi ia hanya mengangguk dan melanjutkan.
"Selamat pagi, calon prajurit kecil!" suaranya lantang. "Aku Instruktur Zhao. Selama tiga bulan ke depan, kalian akan belajar baris-berbaris, disiplin, kerja sama, dan dasar-dasar bela diri. Kalian tidak wajib jadi tentara, tapi kalian akan belajar jadi pribadi yang kuat. Mengerti?!"
"MENGERTI!" teriak anak-anak, tak kompak.
Instruktur Zhao menghela napas. "Baiklah, kita mulai dari dasar. Belajar menghormat!"
Satu jam pertama diisi dengan latihan hormat dan sikap sempurna. Hasilnya? Bencana.
Anak laki-laki gemuk tadi—namanya Xiaogang, 8 tahun—salah terus tangannya. Anak kurus bermata sipit—Xiaoming, 7 tahun—bukannya hormat malah garuk-garuk kepala. Xiaoling lumayan, sudah bisa meski masih kaku. Kakak Ketiga cukup baik, mungkin karena sering lihat Ayah Su latihan.
Dan Jinyu?
Jinyu berdiri dengan sempurna. Setiap gerakan hormatnya presisi, seperti sudah dilatih ribuan kali. Instruktur Zhao mengamatinya dengan tatapan aneh.
"Su Jinyu, kamu sudah pernah latihan sebelumnya?"
Jinyu tersadar. Awas, jangan terlalu mencolok. Ia pura-pura berpikir, lalu menggeleng polos. "Belum, Instruktur. Aku cuma lihat Ayah latihan di rumah."
Instruktur Zhao mengangguk, menerima penjelasan itu. Tapi Xiaogang yang dari tadi salah melirik Jinyu dengan sinis.
"Halah, pamer."
Jinyu mendengar, tapi memilih mengabaikan. Anak kecil.
Istirahat siang tiba. Anak-anak duduk di bawah pohon rindang, membuka bekal masing-masing. Ibu Liu sudah menyiapkan bekal untuk Jinyu dan Kakak Ketiga—nasi gulung nori dan telur dadar.
Jinyu makan dengan tenang. Xiaoling duduk di sampingnya, asyik bercerita tentang kucing peliharaannya. Kakak Ketiga bergabung dengan teman-teman sebayanya di kejauhan.
Tiba-tiba, bayangan menutupi Jinyu.
Ia menengadah. Xiaogang berdiri di depannya, diikuti Xiaoming dan dua anak lain. Wajah mereka tidak ramah.
"Hei, Si Rambut Aneh," sapa Xiaogang dengan nada mengejek. "Kau pikir kau hebat karena bisa hormat? Itu mah gampang."
Jinyu mengunyah perlahan, lalu menelan. "Tidak. Aku tidak pikir aku hebat."
Xiaogang sedikit kehilangan kata-kata. Ia mengira akan dapat perlawanan. Tapi ia cepat pulih. "Orang tuamu cuma komandan divisi. Ayahku perwira tinggi di markas pusat! Lebih tinggi dari ayahmu!"
Jinyu mengangguk datar. "Oh."
"Oh" saja?! Xiaoming ikut nimbrung. "Iya! Ayah Xiaogang itu—"
"Sudah," potong Jinyu. "Aku tidak peduli."
Xiaogang merah padam. "KAU—!"
Sebuah suara berat memotong. "Ada apa di sini?"
Semua menoleh. Kakek Xu berdiri beberapa meter dari mereka, tangan di belakang punggung, wajah tegas seperti biasa. Di belakangnya, Instruktur Zhao ikut mengawasi.
Xiaogang langsung pucat. "K-Kami cuma ngobrol, Kakek Komandan!"
Kakek Xu menatap mereka bergantian. Matanya yang tajam membuat Xiaogang dan kawan-kawan gemetar. Lalu matanya jatuh pada Jinyu yang masih duduk tenang dengan bekal di pangkuan.
"Jinyu," panggilnya lembut—nada yang berbeda dari biasanya. "Ada masalah?"
Jinyu menggeleng. "Tidak ada, Kakek Xu. Hanya ngobrol biasa."
Kakek Xu tersenyum tipis. Ia tahu Jinyu berbohong, tapi ia juga tahu Jinyu bisa menangani ini sendiri. "Baiklah. Istirahat yang cukup. Latihan sore akan lebih berat."
Ia berbalik pergi. Instruktur Zhao mengikuti, tapi sempat melirik Jinyu dengan tatapan penasaran.
Begitu mereka pergi, Xiaogang menghela napas lega. Tapi rasa malunya berubah jadi amarah. Ia menatap Jinyu dengan tatapan beracun.
"Hati-hati kau, Si Rambut Aneh. Aku akan buat kau menyesal."
Jinyu hanya menatapnya datar. "Terserah."
Sore harinya, latihan dilanjutkan dengan lari keliling lapangan. Tiga putaran untuk pemanasan. Anak-anak mulai kelelahan di putaran kedua. Xiaoming sudah tersengal-sengal, Xiaogang berkeringat deras, Xiaoling hampir jatuh tersandung.
Tapi Jinyu?
Jinyu berlari dengan santai, napasnya teratur, wajahnya tidak berkeringat. Tubuh kecilnya yang tinggi membantunya melangkah lebih jauh, dan latihan rutin dengan Ayah Su membuatnya kuat.
Saat melewati Xiaogang yang tertinggal, ia sempat melirik sekilas. Xiaogang membalas dengan tatapan marah—tapi terlalu lelah untuk berkata apa-apa.
Putaran ketiga selesai. Instruktur Zhao mengumpulkan mereka.
"Bagus! Kalian hebat! Istirahat lima menit, lalu kita belajar jatuh!"
Anak-anak langsung ambruk di rumput. Jinyu duduk dengan tenang, mengambil minum dari tasnya. Xiaoling merayap mendekat.
"Jinyu, kamu kuat sekali! Aku sudah capek banget!"
Jinyu mengulurkan tempat minumnya. "Minum."
Xiaoling tersenyum lebar. "Makasih!"
Latihan jatuh ternyata tidak semudah kelihatannya. Instruktur Zhao mengajarkan cara jatuh yang benar ke depan, ke samping, ke belakang agar tidak cedera. Anak-anak bergantian mencoba, kebanyakan jatuh dengan kaku dan mengeluh sakit.
Xiaogang maju, mencoba jatuh ke samping. Gerakannya kaku, dan ia jatuh dengan posisi salah. "Aduh!" pekiknya.
Instruktur Zhao menggeleng. "Salah. Coba lagi."
Giliran Jinyu. Ia maju, lalu dengan gerakan cair dan alami, ia menjatuhkan diri ke samping, berguling, lalu bangkit lagi dalam satu gerakan mulus. Seperti kucing jatuh dari ketinggian.
Instruktur Zhao terbelalak. "Itu... sempurna."
Xiaogang yang melihat langsung panas. "Dia curang! Pasti dia sudah bisa sebelumnya!"
Instruktur Zhao menatap Xiaogang tajam. "Diam. Di sini kita belajar, bukan saling tuduh."
Xiaogang membungkam, tapi matanya terus menatap Jinyu dengan dendam.
Setelah latihan selesai, anak-anak dijemput orang tua masing-masing. Su weimin berlari menghampiri Jinyu.
"Yuyu! Aku dengar kamu hebat tadi! Semua gerakanmu sempurna!"
Jinyu tersenyum tipis. "Kakak Ketiga juga hebat."
Mereka berdua berjalan menuju gerbang, tempat Ayah Su sudah menunggu dengan mobil jip. Tapi sebelum sampai, Xiaogang menghadang mereka.
"Hei, Si Rambut Aneh." Kali ini ia sendirian, tanpa teman. "Aku belum selesai denganmu."
Kakak Ketiga langsung maju. "Mau apa kau?! Jangan macam-macam sama adikku!"
Xiaogang mundur selangkah, su weimin lebih besar darinya tapi tetap menantang. "Ayahku perwira tinggi! Aku bisa bikin kalian—"
"Bikin apa?" Suara lembut tapi dingin memotong.
Jinyu melangkah maju, menatap Xiaogang dengan mata keemasannya. Tatapan itu—bukan tatapan anak 4 tahun. Tatapan seseorang yang sudah melihat ribuan pertempuran, yang sudah menghadapi monster dan iblis, yang tidak akan gentar oleh ancaman bocah sombong.
Xiaogang merinding. Tanpa sadar ia mundur dua langkah.
"Kau... kau..."
Jinyu tersenyum, senyum yang sama sekali tidak hangat. "Besok kita latihan lagi. Kalau kau ingin buktikan kau lebih hebat, silakan. Tapi kalau cuma bisa mengancam di belakang... lebih baik kau fokus belajar jatuh."
Ia berbalik, meninggalkan Xiaogang yang terpaku.
Su weimin mengikutinya, mulut menganga. "Yuyu... kamu hebat banget!"
Jinyu hanya mengangkat bahu. "Ayo pulang. Ibu pasti sudah masak."
Malam harinya, di rumah keluarga Su, suasana hangat seperti biasa. Ibu Liu menyiapkan makan malam, Ayah Su membaca koran, Kakak Ketiga bercerita dengan semangat tentang latihan hari pertama.
"Bu, Yuyu hebat! Semua gerakannya sempurna! Instruktur Zhao sampai heran!"
Ibu Liu tersenyum bangga. "Pantas saja, anak Ayahnya."
Ayah Su mengelus kepala Jinyu. "Kamu capek, Nak?"
Jinyu menggeleng. "Tidak, Ayah. Latihannya ringan."
Kakak Ketiga memprotes. "Ringan? Aku capek banget!"
Semua tertawa.
Malam itu, saat berbaring di ranjang, Yoyo muncul.
Shshsss~ "Hari pertama pelatihan, udah punya musuh. Cepat sekali."
Jinyu memutar mata. "Dia anak kecil. Besok lupa."
Shshsss~ "Kau pikir? Anak kecil kadang lebih pendendam dari orang dewasa."
["Yoyo benar,"] sistem ikut berkomentar. ["Anak itu, Xiaogang, ayahnya memang perwira tinggi. Bisa jadi masalah kalau tidak hati-hati."]
Jinyu menghela napas. "Aku tahu. Tapi aku juga tahu cara menghadapi orang seperti dia."
Shshsss~ "Oh? Dengan tatapan menyeramkan tadi?"
Jinyu tersenyum tipis. "Itu baru permulaan."
Di luar, angin malam berdesir. Jinyu memejamkan mata, memikirkan besok. Latihan hari kedua. Xiaogang mungkin akan coba lagi. Tapi itu justru menarik.
Hidup damai? Mungkin tidak.
Tapi hidup jadi lebih berwarna.