Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.
Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.
Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.
Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Bantuan
Ribuan kilometer dari sana, di sebuah desa di pedalaman Kalimantan, suasana berbeda. Hutan lebat di sekeliling desa itu gelap dan lembab.
Pepohonan besar dengan akar-akar yang menjalar seperti ular menutupi hampir seluruh permukaan tanah. Udara terasa berat, penuh dengan suara serangga dan suara-suara aneh yang tidak bisa diidentifikasi.
Kabut tipis menggantung di antara dahan-dahan pohon, membuat segalanya terlihat buram dan tidak nyata.
Bu Sumarni berjalan pelan di jalan setapak yang berlumpur, diikuti oleh seorang pemuda desa yang menjadi penunjuk jalan. Kaki tuanya terasa pegal, sepatu sandalnya yang tipis sudah basah dan berlumuran tanah.
Jilbab putih yang ia kenakan basah oleh embun, beberapa helai rambut putihnya terlepas di pelipis. Kemeja lengan panjang berwarna krem yang ia kenakan berkeringat menempel di punggungnya yang mulai membungkuk.
Tas kain kecil di pundaknya berisi bekal dan uang—uang yang hampir habis untuk ongkos perjalanan dari Jawa ke Kalimantan.
Ia sudah tiga hari di desa ini.
Tiga hari mencari rumah dukun yang namanya hanya berbisik di kalangan tertentu. Tiga hari berkeliling hutan, menanyakan pada penduduk desa yang kebanyakan tutup mulut.
Tiga hari dan akhirnya, sore ini, ia diantar ke sebuah rumah di ujung desa—rumah yang tidak seperti rumah lainnya.
Rumah itu terbuat dari kayu ulin yang hitam, berdiri di atas tiang-tiang tinggi seperti rumah panggung. Atapnya dari daun rumbia yang sudah kering, beberapa bagian terlihat bolong.
Tangga menuju rumah itu hanya satu papan kayu yang licin, tanpa pegangan. Di bawah rumah, terlihat tulang-tulang hewan bergantungan di balok-balok penyangga—tengkorak monyet, rahang babi hutan, sesuatu yang mirip tengkorak manusia tapi terlalu kecil untuk manusia dewasa.
Bu Sumarni merasakan bulu kuduknya berdiri. Tapi ia tidak bisa mundur. Ia sudah sampai di sini. Ia tidak punya pilihan lain.
"Mak, ini rumahnya," kata pemuda penunjuk jalan itu dengan suara berbisik. "Saya tunggu di sini. Mak masuk sendiri. Beliau tidak suka banyak orang."
Bu Sumarni mengangguk. Ia menaiki tangga papan kayu yang licin dengan susah payah. Tangannya gemetar memegang pegangan seadanya—tali rotan yang menggantung di sisi tangga.
Di atas, di teras rumah, sesosok pria duduk bersila. Pria itu tidak muda, tidak juga tua. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahun, tapi sulit memastikan karena wajahnya dipenuhi tato—tato hitam yang membentuk pola-pola rumit di pipi, di dahi, di dagu, di leher.
Matanya gelap, hampir hitam seluruhnya, tanpa putih mata yang terlihat. Rambutnya panjang, diikat ke belakang dengan tali kulit.
Badannya kekar, dipenuhi tato juga di lengan dan dada yang terlihat dari balik rompi kulit hitam yang ia kenakan. Di lehernya, ada kalung dari tulang-tulang kecil dan gigi binatang. Di tangannya, ia memegang sebilah pisau kecil dengan gagang dari tanduk.
"Bu Sumarni," sapa pria itu. Suaranya berat, dalam, seperti suara yang keluar dari gua.
"Aku sudah menunggumu."
Bu Sumarni membungkuk hormat. "Maaf mengganggu, Ki. Saya datang dari jauh. Saya butuh bantuan—"
"Aku tahu," potong pria itu. "Aku sudah tahu sejak tiga hari lalu, ketika kau pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. Aku sudah lihat dalam mimpiku. Kau datang dengan masalah yang berat. Masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh ustad-ustadmu."
Ia menunjuk ke kursi di depannya. "Duduk."
Bu Sumarni duduk di kursi rotan yang kasar. Tangannya yang gemetar membuka tas kecil, mengeluarkan foto Rafiq—foto yang diambil Aisyah beberapa tahun lalu ketika Rafiq masih menjadi imam masjid.
Wajah Rafiq di foto itu masih bersih, jenggot rapi, senyum hangat, mata teduh. Sangat berbeda dengan Rafiq yang sekarang.
"Ini orangnya, Ki. Rafiq Al Farisi. Mantan suami anak saya. Beliau sekarang... beliau sudah berubah. Ada sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang sangat kuat. Kami sudah minta tolong pada banyak ustad, bahkan kyai yang ilmunya sangat dalam. Tapi tidak ada yang berhasil. Bahkan Kyai Mansur—"
Pria itu mengangkat tangannya. Bu Sumarni berhenti bicara.
"Aku tidak perlu tahu siapa yang sudah kau datangi," katanya. "Tunjukkan foto itu."
Bu Sumarni menyerahkan foto Rafiq. Pria itu mengambilnya dengan jari-jari yang penuh tato. Ia menatap foto itu lama. Matanya yang hitam pekat menyipit.
Tangannya yang memegang pisau kecil mulai bergerak, menggores-gores udara di atas foto, seperti sedang menulis sesuatu di ruang kosong.
Ia menutup matanya.
Semenit. Dua menit. Lima menit.
Bu Sumarni tidak berani bersuara. Ia hanya duduk diam, jantungnya berdegup kencang, menunggu apa yang akan terjadi.
Pria itu membuka matanya.
Wajahnya berubah. Tidak lagi tenang seperti tadi. Ada sesuatu di matanya—bukan ketakutan, tapi kewaspadaan. Kewaspadaan yang serius. Kewaspadaan yang mengatakan bahwa ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh.
"Ini bukan gangguan biasa," katanya. Suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Aku sudah merasakannya. Ada sesuatu di dalam diri pemuda ini. Sesuatu yang sangat tua. Sangat gelap. Selevel dengan... dengan penguasa di sini."
Bu Sumarni menelan ludah. "Bisa diusir, Ki?"
Pria itu tidak menjawab. Ia berdiri, berjalan ke tepi teras, menatap hutan yang mulai gelap. Kabut semakin tebal. Suara-suara aneh semakin keras.
"Mengusir tidak akan berhasil," katanya akhirnya. "Kekuatan yang ada di dalam dirinya sudah menyatu. Sudah menjadi bagian dari dirinya. Tidak ada yang bisa memisahkan kecuali kematian."
Bu Sumarni merasakan dadanya sesak. "Lalu... lalu bagaimana, Ki? Apa tidak ada cara?"
Pria itu berbalik. Matanya yang hitam pekat menatap Bu Sumarni dengan tatapan yang membuat wanita tua itu merasakan dingin menjalar di tulangnya.
"Ada satu cara," katanya. "Tapi tidak mudah. Tidak murah. Dan ada syarat yang mungkin tidak akan kau terima."
"Apa pun, Ki. Saya akan lakukan apa pun."
Pria itu tersenyum. Senyum yang tidak ramah. Senyum yang membuat Bu Sumarni ingin lari, tapi kakinya tidak bisa bergerak.
"Aku bisa memanggil penguasa kegelapan dari hutan ini. Penguasa yang selevel dengan yang bersekutu dengan menantumu. Jika mereka bertarung... mungkin salah satu akan kalah. Tapi untuk memanggilnya, aku butuh sesuatu. Bukan sekadar sesajen. Bukan sekadar darah hewan."
Ia berjalan mendekati Bu Sumarni. Ia menunduk, membisikkan sesuatu di telinga wanita tua itu.
Bu Sumarni mendengar kata-kata itu. Wajahnya berubah pucat. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Tidak... tidak mungkin, Ki... itu..."
"Itu satu-satunya cara," potong pria itu. Suaranya tegas, tidak bisa ditawar. "Aku harus melihat Tono dan Aisyah melakukan hubungan badan. Di depan aku. Di depan sesajen. Di depan penguasa kegelapan yang akan aku panggil.
Karena hanya dengan energi dari hubungan itu—energi kehidupan, energi nafsu, energi yang paling mendasar dari manusia—aku bisa membangunkan makhluk yang selama ini tertidur di hutan ini."
Bu Sumarni menunduk. Air mata mengalir di pipinya yang keriput. Tangannya yang gemetar menggenggam ujung jilbabnya.
"Anak saya... anak saya hamil, Ki..."
"Aku tahu. Itu sebabnya energi yang akan keluar dari mereka lebih kuat. Kehamilan adalah pintu antara dunia manusia dan dunia lain. Darah, air, nyawa yang baru terbentuk... itu semua adalah bahan yang paling kuat untuk ritual semacam ini."
Pria itu berjalan kembali ke tempat duduknya, mengambil pisau kecilnya, menggores-gores udara lagi.
"Kau punya waktu tiga minggu untuk memutuskan. Setelah itu, aku tidak bisa menjamin apa-apa. Penguasa kegelapan yang bersekutu dengan menantumu akan semakin kuat setiap hari. Setiap darah janin yang ia kumpulkan. Setiap ritual yang ia lakukan. Jika kau menunggu terlalu lama... tidak akan ada yang bisa menghentikannya."
Bu Sumarni duduk di kursinya, tubuhnya gemetar. Ia menatap foto Rafiq yang masih ada di meja—wajah muda yang tersenyum hangat, mata yang teduh, jenggot yang rapi.
"Apa yang terjadi padamu, Nak?" bisiknya.
"Apa yang telah kami lakukan padamu?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara hutan yang semakin keras, dan kabut yang semakin tebal, dan kegelapan yang mulai merayap dari balik pohon-pohon besar.
Bu Sumarni menggenggam foto itu erat-erat. Ia harus memutuskan. Cepat. Sebelum semuanya terlambat.
sakit yg d luar batas merengut akal nya
kuat ya Rafiq💪💪💪
mmng sgt sulit utk ikhlas pasrah PD ujian yg bertubi tubi,.melawan RS sakit hati,mnhdpi runtuhnya dunia,.dendam dn kecewa mengambil alih😭
tp utk mngmbil jln sesat jg akibatnya g main main,.yg ad hidup sudah hancur mlh mkin hancur,rugi dn menderita dunia akhirat, astaghfirullah
ini dunia yg sesungguhnya, yg menghujat karna matanya masih tertutup, skarang matamu sdh terbuka dan kamu tdk takut, itu yg jd kekuatanmu