sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
..
..
Kantin SMA Galaksi jam istirahat kedua itu ibarat medan perang. Berisik, gerah, dan penuh dengan aroma bakso bercampur keringat. Axelle berjalan paling depan dengan gengnya—Ferro, Zayden, Jaxon, Liam, dan Arkan. Langkah mereka santai, tapi otomatis bikin murid-murid lain minggir kasih jalan.
Mata tajam Axelle langsung tertuju ke meja pojok dekat jendela. Di sana, Rea sedang duduk berhadapan dengan Bagas. Mereka kelihatan serius banget bahas lembaran kertas di meja, yang Axelle tebak pasti soal program kerja OSIS yang membosankan itu.
"Eh, lihat deh. Si Ketos kita lagi 'rapat' ya sama wakilnya?" celetuk Zayden sambil menyikut lengan Axelle. "Serasi juga ya, sama-sama anak rajin."
Axelle menyeringai tipis. Dadanya terasa sedikit panas, entah karena suhu kantin atau karena melihat tangan Bagas yang hampir menyentuh tangan Rea saat menunjuk kertas.
"Gue mau duduk di sana," ucap Axelle datar.
"Lah? Biasanya kita di pojok belakang, Xel?" Ferro bingung, tapi dia tetap ikut saat Axelle melangkah menuju meja tepat di sebelah Rea dan Bagas.
Brak!
Axelle menggeser kursi dengan sengaja hingga menimbulkan bunyi nyaring yang memicu perhatian seisi kantin, termasuk Rea yang langsung mendongak kaget. Mata mereka bertemu. Rea tampak pucat, sementara Axelle hanya menaikkan satu alisnya dengan santai.
"Duh, sorry ya, ganggu rapat penting," ucap Axelle dengan nada yang dibuat-buat, lalu dia duduk membelakangi Bagas, tapi posisinya sangat dekat dengan Rea.
"Lo bisa pelan-pelan nggak, Xel? Kita lagi fokus," tegur Bagas dengan nada tidak suka.
Axelle menoleh sedikit, menatap Bagas dari atas sampai bawah. "Laper gue, Gas. Emang meja ini punya nenek moyang lo?"
"Udah, Gas, nggak apa-apa. Kita lanjut aja," bisik Rea menenangkan Bagas, meski tangannya di bawah meja meremas roknya sendiri. Dia tahu Axelle sedang mencari gara-gara.
Axelle menyandarkan punggungnya, lalu dengan gerakan super berani yang hanya bisa dilihat oleh Rea, dia sengaja menyentuhkan sikutnya ke lengan Rea yang sedang menulis.
"Aduh, sori, Ketos. Kursinya sempit banget ya?" goda Axelle. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan di telinga Rea.
Rea bergidik. Bau parfum wood-musky Axelle kembali menginvasi indranya, mengingatkannya pada kejadian di gudang tadi pagi. "Axelle, tolong... hargai orang lain," desis Rea pelan.
"Oh, gue hargai kok. Makanya gue jagain... biar nggak ada 'hama' yang deket-deket," sahut Axelle sambil melirik sinis ke arah Bagas yang masih sibuk menjelaskan sesuatu soal anggaran.
Ferro dan yang lain mulai tertawa-tawa melihat tingkah Axelle yang nggak biasanya mau duduk di tengah keramaian. Mereka nggak tahu kalau "Bos" mereka ini lagi menandai wilayah.
...----------------...
Pukul 15.00 WIB - Bel Pulang Sekolah
Parkiran sudah mulai sepi. Rea berdiri di dekat gerbang, menunggu waktu lima menit sesuai perjanjian mereka tadi pagi. Tiba-tiba, Bagas menghampirinya dengan menuntun motor Ninja hijaunya.
"Re, bareng yuk? Kan searah ke kompleks lo," tawar Bagas dengan senyum tulus.
Rea baru saja mau menjawab saat dia melihat Axelle berdiri di kejauhan, bersandar di pintu Porsche-nya sambil memutar-mutar kunci mobil. Axelle menatap mereka dengan tatapan dingin yang mematikan.
"Eh, Gas... itu... makasih, tapi gue—"
"Loh? Kok ban gue kempes?!" seru Bagas tiba-tiba. Dia berjongkok dan menekan ban belakang motornya yang benar-benar rata dengan aspal. "Perasaan tadi pagi aman. Anjir, kena paku di mana gue?"
Rea melirik ke arah Axelle. Cowok itu tiba-tiba saja menunjukkan seringai kemenangan, lalu masuk ke dalam mobilnya dan perlahan menjalankan mesinnya hingga suara knalpotnya menderu keras.
"Waduh, Gas. Kayaknya lo harus ke bengkel dulu tuh. Gue... gue duluan ya, udah dijemput!" Rea buru-buru pamit sebelum Bagas curiga.
Rea berjalan cepat menuju jalan raya, lalu masuk ke dalam Porsche hitam yang sudah menunggunya beberapa ratus meter di depan. Begitu pintu tertutup, Rea langsung menoleh ke arah Axelle yang sedang asyik memakai kacamata hitam.
"Lo yang ngelakuin itu, kan?!" tuduh Rea.
Axelle tidak menjawab. Dia malah memasukkan gigi dan menginjak gas hingga mobil melesat membelah jalanan Bandung.
"Ngelakuin apa? Gue cuma bantuin dia biar dia nggak capek boncengin lo," sahut Axelle santai, suaranya terdengar sangat puas.
"Axelle! Itu jahat banget! Dia harus nuntun motor itu ke depan!"
Axelle tiba-tiba mengerem mendadak di pinggir jalan yang agak sepi, membuat Rea tersentak ke depan. Axelle melepas kacamatanya, menatap Rea dengan intensitas yang bikin Rea membeku.
"Denger ya, Xavandra. Lo itu istri gue, mau lo suka atau nggak. Gue nggak suka ada cowok lain yang sok pahlawan mau nganterin lo pulang. Paham?"
Rea tertegun. Suara Axelle nggak lagi bercanda, ada nada posesif yang kental di sana. "Gue cuma nggak mau rahasia kita ketahuan, Axelle..."
"Makanya jangan bikin gue marah sampai gue pengen ngumumin di speaker sekolah kalau lo itu punya gue," potong Axelle tajam. Dia kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di dalam mobil yang melaju, Rea hanya bisa terdiam. Dia merasa dunianya semakin tidak terkendali. Menikah dengan Axelle ternyata bukan cuma soal berbagi apartemen, tapi juga soal menghadapi sisi axelle yang ternyata sangat berbahaya.
suasana di dalam mobil Porsche itu hening. Hanya ada suara deru mesin dan lagu rock alternatif yang diputar pelan dari speaker mobil. Rea menatap keluar jendela, melihat deretan pohon di jalanan Bandung yang melesat cepat. Pikirannya masih tertuju pada Bagas yang mungkin sekarang sedang berkeringat menuntun motornya.
"Gak usah dipikirin terus si Bagas itu. Dia punya kaki, bisa jalan," celetuk Axelle tiba-tiba, seolah bisa membaca pikiran Rea.
Rea menoleh, menatap profil samping wajah Axelle yang tampak tegas di bawah sinar matahari sore. "Lo bener-bener kekanak-kanakan, Xel. Gimana kalau dia telat sampai rumah atau kenapa-kenapa di jalan?"
Axelle mendengus, lalu memutar kemudi masuk ke area parkir apartemen mewah mereka. "Gue cuma kasih dia pelajaran dikit. Biar dia tau batasannya sama cewek orang."
"Cewek orang?" Rea mengernyit. "Kita nikah karena terpaksa, Axelle! Jangan seolah-olah lo beneran sayang sama gue."
Axelle menginjak rem mendadak tepat di slot parkirnya. Dia mematikan mesin, lalu melepas sabuk pengaman dan condong ke arah Rea. Jarak mereka kembali menipis, membuat Rea menahan napas.
"terpaksa atau nggak, di atas kertas dan di mata agama, lo punya gue, Xavandra. Dan gue nggak suka berbagi. Inget itu," bisik Axelle tajam sebelum dia keluar dari mobil, meninggalkan Rea yang sudah mengerutu dengan wajah yang masam
valery di lawan singa betina nya xander lo 🤣🤣🤣🤣
gemes jadi nya🤣🤣🤣🤣
rea keceplosan 🤣🤣🤣
semngat thor
tapi aku suka terimakasih kk author 😘😘
ceritanya hampir mirim kyk kisah hidup ku , axelle adalah aku si manusia kesepian yang terabaykan😭😭😭😭
jd curhat kan aku , btw makasih kk author 😘😘😘
kasian bgt my bad boy
cepet sadar ready
cepet bucin
cepet ada junior kalian
wkwkwkwkww
biar author pusing🥳🥳
tapi percaya sih , semua di bawah kendali kk author, ya ikuti alur nya aja , walau baca nya sambil nangis😭😭
rea pinter ngeles nye yeee🤣🤣
kak up 2 dong kepo sama yg ini😁😁😁