"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf Rajendra
Bi Ani mengetuk pintu kamar Cya dengan hati-hati, takut gadis itu kesal jika pintunya diketuk terlalu keras.
“Siapa?” teriak Cya dari dalam.
“Ini Bibi, Non,” sahut Bi Ani.
“Masuk, Bi! Nggak dikunci kok.”
Setelah mendapat izin, Bi Ani memutar knop dan membuka pintu perlahan. Ia melangkah masuk, mendekati Cya yang sedang duduk di depan meja belajar dengan laptop menyala di hadapannya.
Dari layar, terlihat Cya sedang menonton film romantis luar negeri. Jika menebak, mungkin drama Korea atau China.
“Kenapa, Bi?” tanya Cya sambil menjeda video agar tidak terlewat.
“Anu, Non. Tuan sama Nyonya ngajak Non Cya makan malam.”
Cya melirik jam di sudut layar. Sudah pukul tujuh lewat lima belas menit.
“Oh iya, Bi.”
Keduanya lalu berjalan beriringan menuju lantai bawah. Begitu sampai di ruang makan, Cya langsung menuju meja, sementara Bi Ani berbelok ke dapur belakang.
“Loh…” gumam Cya pelan.
Ia baru menyadari bahwa bukan hanya orang tuanya yang duduk di meja makan. Rajendra dan kedua orang tuanya juga ada di sana.
“Malam, Cya,” sapa Bu Kiran dengan senyum lebar.
“Malam, Tante,” balas Cya, meski senyumnya terasa sedikit dipaksakan.
“Sini duduk, sayang,” ujar Bu Diana sambil menepuk kursi kosong di sampingnya, tepat berhadapan dengan Rajendra.
Cya menurut, lalu duduk. Tatapannya sempat melayang tajam ke arah Rajendra.
“Ayo makan semuanya,” seru Bu Diana.
***
Setelah makan malam, kedua keluarga berkumpul di ruang tamu. Karena masih kesal, Cya berniat langsung naik ke kamar.
“Cya, kamu mau ke mana?” tanya Pak Adit saat melihat putrinya berjalan ke arah tangga.
“Mau ke kamar, Pi. Istirahat.”
“Sini dulu, Nak. Calon suami kamu mau ngomong sesuatu.”
Cya langsung menatap Rajendra yang duduk dengan wajah datarnya. Baru melihat wajahnya saja sudah membuat kesalnya muncul lagi, apalagi harus berbicara.
Ia ingin menolak, tapi urung. Ia tau akan mendapat teguran jika membantah.
Akhirnya, Cya berjalan mendekat dan duduk di samping Bu Diana.
“Mau ngomong apa?” tanyanya tanpa basa-basi.
Bu Kiran menyenggol lengan Rajendra, memberi isyarat agar ia mulai.
“Ekhem…” Rajendra berdehem, berusaha menenangkan diri.
“Saya mau minta maaf… sama kamu dan juga orang tua kamu. Karena tadi di butik… saya mencium kamu, lalu meninggalkan kamu begitu saja,” ucapnya dalam satu tarikan napas.
Alih-alih lega, Cya justru meringis malu. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Pak Adit dan Bu Diana saling berpandangan. Mereka tidak menyangka Rajendra akan seberani itu.
Rahang Pak Adit mengeras. Ia memang berharap hubungan mereka berjalan baik, tapi bukan berarti ia menyetujui hal seperti itu terjadi sebelum pernikahan.
Bu Diana segera mengelus lengan suaminya. “Sabar, Mas. Namanya juga anak muda,” bisiknya.
Ia bukan membenarkan, hanya mencoba menenangkan. Bagaimanapun, menurutnya hal itu belum sampai pada batas yang terlalu fatal.
“Saya kecewa sama kamu,” ujar Pak Adit tegas. “Saya berharap kamu bisa menjaga Cya sampai kalian menikah. Tapi nyatanya kamu malah menyentuh dia sebelum waktunya.”
“Papi, kami gak bikin anak kok,” sahut Cya polos.
Semua orang langsung terdiam, bahkan cenderung melongo.
“Cya, sayang…” Bu Diana memijat pelipisnya. “Kalau sampai seperti itu, justru itu sudah sangat fatal.”
Cya mengernyit. “Berarti nanti kalau aku sudah nikah… aku juga gak boleh punya anak sama dia?” tanyanya sambil menunjuk Rajendra.
Rajendra langsung mengalihkan pandangan, menahan rasa panas dingin yang tiba-tiba menjalar di wajahnya.
“Aduh, Mas… kayaknya kita salah bahas ini di depan Cya,” gumam Bu Diana pelan.
“Cya, kamu masih terlalu polos,” lanjutnya lembut. “Hal seperti itu nanti bisa kamu tanyakan ke suami kamu. Sekarang Papi mau selesaikan dulu yang tadi.”
Cya mengangguk pelan, lalu berkata santai, “Tadi Om Jendra cuma cium punggung aku kok, Pi. Memangnya separah itu?”
Pak Adit terdiam, ekspresinya berubah bingung. “Loh… jadi?”
“Iya, Om. Maaf… saya tidak sengaja melakukannya,” ujar Rajendra jujur. “Waktu itu Cya sedang membantu Cya memakai gaun pengantin yang kami pilih… Ia kesulitan untuk menaikkan resleting gaunnya."
Pak Adit menghela napas panjang. “Maaf… saya sempat berpikir yang tidak-tidak.”
“Tidak apa-apa, Om,” jawab Rajendra. “Memang saya yang salah.”
***
Setelah masalah di ruang tamu selesai, Rajendra mengajak Cya ke teras rumah.
Malam itu cukup dingin. Angin berembus pelan, membuat Cya refleks mengelus kedua lengannya.
“Kamu kedinginan?” tanya Rajendra.
“Gak usah banyak nanya. Om mau ngomong apa?” jawab Cya ketus tanpa menoleh.
Meski permintaan maaf tadi sudah disampaikan, rasa kesalnya belum benar-benar hilang.
Rajendra menarik napas pelan. “Kejadian di butik… saya minta kamu jangan diingat-ingat lagi. Anggap saja itu gak pernah terjadi.”
Padahal, justru dirinya sendiri yang terus mengingat kejadian itu. Tapi anehnya, ia malah meminta Cya untuk melupakannya.
Cya langsung menoleh, kedua alisnya terangkat tinggi. “Om ngajakin saya ke sini cuma buat ngomong itu?”
Rajendra mengangguk pelan. “Iya.”
Cya mendengus kesal. “Gak penting banget tau gak sih, Om. Mungkin saya lebih senang kalau Om minta maaf karena kemarin udah membentak saya, daripada minta maaf soal… itu.”
Ucapan Cya membuat Rajendra terdiam sejenak. Ia baru sadar, ada hal lain yang belum ia selesaikan.
“Saya tidak bermaksud membentak kamu,” ucapnya akhirnya. “Saya hanya tidak suka kamu bicara seperti itu tentang istri pertama saya.”
Cya tertawa kecil, tapi tanpa kehangatan. “Kalau Om masih sayang sama istri Om, ya gak usah nikahin saya.”
Rajendra terdiam. Rahangnya mengeras sesaat sebelum akhirnya menjawab pelan, “Saya memang masih mencintai dia. Tapi saya tidak mungkin bisa bersama dia lagi, Cya.”
Jawaban itu—entah kenapa—menusuk lebih dalam dari yang Cya kira.
Ia menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang tiba-tiba terasa tidak nyaman di dadanya.
“Jadi… Om cuma mau jadiin saya pelampiasan?” tanyanya lirih, tapi tetap terdengar tajam.
Rajendra langsung menggeleng. “Bukan pelampiasan. Saya hanya… berharap kalau saya menikah dengan kamu, kamu bisa membantu saya keluar dari masa lalu.”
Cya terkekeh, tapi terdengar hambar. “Saya bukan obat, Om. Saya juga bukan dokter. Saya gak bisa nyembuhin orang, apalagi penyakitnya patah hati.”
Ucapan itu membuat Rajendra terdiam. Ia sadar… kalimatnya tadi memang terdengar salah.
Dan sebelum ia sempat memperbaiki—
Cya sudah berdiri. “Udah ya. Saya capek,” ucapnya singkat.
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Rajendra sendiri di teras.
Angin malam masih berembus, tapi kali ini terasa lebih dingin.
Rajendra menyandarkan punggungnya pada kursi kayu, mengusap wajahnya kasar. “Kayaknya… aku salah ngomong lagi,” gumamnya pelan.
Ia menatap kosong ke halaman depan.
Bukan hanya salah bicara.
Tapi mungkin… sejak awal, caranya menjalani semua ini memang sudah salah.
***
Setelah kejadian malam itu, Cya dan Rajendra tidak pernah bertemu lagi. Keduanya seolah sama-sama menghindar.
Dan sekarang—hanya tersisa dua hari sebelum pernikahan mereka.
Pagi itu, Bu Diana membuka gorden kamar Cya. Cahaya matahari langsung masuk, menyelinap di sela-sela jendela dan mengenai wajah Cya.
“Cya, bangun, Nak!”
Cya mengerjap, mengernyit karena silau. “Kenapa sih, Mi…? Aku kan udah gak sekolah. Mau tidur sepuasnya,” keluhnya sambil menarik selimut.
“Kamu itu sebentar lagi jadi istri orang. Harus mulai terbiasa bangun pagi, ngurus keperluan suami.”
Cya mendengus, lalu duduk di tepi kasur dengan rambut berantakan. “Masih dua hari lagi, Mi. Lagian, Om Rajendra kan orang kaya. Pasti punya pembantu di rumahnya.”
Bu Diana menatap putrinya datar. “Memang dia punya pembantu. Tapi beda rasanya kalau istrinya sendiri yang ngurus.”
Cya langsung mengangkat alis. “Kalau gitu aku jadi pembantunya aja, Mi. Gak usah jadi istrinya.”
Diana langsung menyentil kening Cya. “Kamu pikir jadi pembantu itu enak?”
Cya mengusap keningnya sambil meringis. “Gapapa gak enak, yang penting gak nikah sama Om Rajendra itu.”
Diana menghela napas panjang. “Dia bukan Om kamu, Cya. Dan dia juga belum setua itu buat kamu panggil ‘Om’.”
“Iya, siapapun dia,” jawab Cya cuek. “Pokoknya aku mending jadi pembantunya aja.”
Diana hanya bisa geleng-geleng kepala. “Kamu ini ya… aneh-aneh aja. Udah, sana mandi.”
Cya mengerucutkan bibir, tapi akhirnya bangkit juga dari tempat tidur.
Beberapa menit kemudian, di dalam kamar mandi— Air mengalir membasahi wajah Cya. Ia menatap bayangannya di cermin dengan ekspresi datar.
Pernikahan.
Dua hari lagi.
Ia seharusnya bahagia… atau setidaknya bersemangat.
Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya.
Cya menghela napas pelan.
Ucapan Rajendra malam itu kembali terngiang di kepalanya.
“Saya masih mencintai dia…”
Tangannya mengepal tanpa sadar. “Nyebelin…” gumamnya pelan.
Ia tidak tau kenapa perkataan itu terus teringat. Harusnya ia tidak peduli. Toh, ia juga tidak punya perasaan apa-apa untuk laki-laki itu.
Harusnya.
Tapi kenapa rasanya… seperti tidak dianggap?
Seperti… ia hanya pilihan kedua.
Cya menunduk, membiarkan air terus mengalir. “Kenapa sih aku mikirin itu terus…” bisiknya kesal.
apa Bela itu sebenarnya Aurel