Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Akad di Taman Mawar
Angin sepoi-sepoi di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda membawa aroma melati yang menenangkan. Tidak ada karpet merah beludru, tidak ada denting gelas kristal, dan tidak ada tamu-tamu politik yang datang untuk mencari muka. Yang ada hanyalah deretan kursi kayu sederhana yang diisi oleh anak-anak yatim dengan pakaian terbaik mereka, serta beberapa sahabat setia yang telah melewati badai bersama Arkan dan Aisyah.
Arkan Xavier berdiri di depan cermin kecil di ruang tamu panti. Ia mengenakan baju koko putih bersih dengan sulaman perak halus di bagian kerah, dipadukan dengan peci hitam yang membuatnya tampak sangat berbeda dari citra "Sang Serigala" yang dulu ditakuti. Tangannya sedikit bergetar saat merapikan kancing lengan kemejanya.
"Grogi, Arkan?" Hamdan muncul dari balik pintu, tersenyum lebar sambil menepuk bahu adik iparnya itu.
Arkan menarik napas panjang. "Aku pernah menghadapi moncong senjata tanpa berkedip, Hamdan. Tapi menghadapi Ayahmu di depan meja akad... rasanya seluruh persendianku lemas."
Hamdan tertawa kecil. "Itu karena kau sadar, yang kau ambil hari ini bukan sekadar wanita, tapi amanah paling berharga dalam hidup Ayah. Tenanglah, dia sudah menganggapmu lebih dari sekadar menantu."
Di kamar sebelah, Aisyah duduk diam dalam balutan gamis putih tulang yang elegan namun tetap syar’i. Cadarnya, yang kini berbahan sutra lembut dengan warna senada, menutupi wajahnya, namun binar matanya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan sekaligus haru yang meluap. Di sampingnya, Sofia Xavier—yang mendapatkan izin keluar khusus untuk hari ini—menggenggam tangan Aisyah.
"Aisyah," bisik Sofia, suaranya parau oleh emosi.
"Terima kasih telah mencintai putraku di saat dunia membuangnya. Kau adalah mukjizat yang dikirim Tuhan untuk menghentikan kegelapan di keluarga kami."
Aisyah memeluk ibu mertuanya itu erat. "Kita adalah keluarga sekarang, Ibu. Tidak ada lagi kegelapan, hanya ada cahaya yang akan kita jaga bersama."
Saat Arkan melangkah keluar menuju meja akad yang diletakkan di bawah pohon mangga besar, suasana mendadak hening. Rahman Malik duduk di kursi kebesarannya, menatap Arkan dengan pandangan yang dalam. Di atas meja, telah tersedia dua buah saksi, penghulu, dan sebuah mushaf Al-Qur'an.
Arkan menjabat tangan Rahman Malik. Kulit pria tua itu terasa kasar namun hangat, simbol dari perjuangan hidup yang jujur.
"Arkan Xavier bin Xavier," ucap Rahman dengan suara yang mantap meski sedikit bergetar. "Aku nikahkan engkau dan aku kawinkan engkau dengan putri kandungku, Aisyah Malik, dengan mas kawin hafalan Surah Ar-Rahman dan janji pembangunan sepuluh klinik gratis untuk kaum dhuafa, tunai."
Arkan memejamkan mata sejenak, memantapkan hatinya, lalu mengucapkan kalimat kabul dengan satu napas yang tegas. "Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Malik binti Rahman Malik dengan mas kawin tersebut dibayar tunai karena Allah."
"Saksi? Sah?"
"Sah!"
Kata "Sah" yang menggema di halaman panti itu seolah meruntuhkan tembok terakhir yang memisahkan masa lalu Arkan dengan masa depannya. Aisyah keluar dari kamar, dibimbing oleh Sofia dan beberapa anak panti yang membawa keranjang bunga. Saat mereka duduk berdampingan, Arkan meletakkan tangannya di atas kepala Aisyah, membacakan doa keberkahan bagi istri yang telah menyelamatkan jiwanya.
Acara syukuran berlangsung hangat. Anak-anak panti menikmati hidangan nasi kebuli yang dimasak sendiri oleh para pengurus. Namun, di tengah kegembiraan itu, Leo mendekat ke arah Arkan dan membisikkan sesuatu.
"Arkan, ada kiriman di depan gerbang. Tanpa nama, tapi aku tahu siapa pengirimnya."
Arkan dan Aisyah berjalan menuju gerbang panti. Di sana terparkir sebuah mobil boks kecil. Saat pintunya dibuka, isinya bukan bom atau ancaman, melainkan ribuan buku medis terbaru, peralatan laboratorium canggih, dan sebuah surat pendek di atas kertas berlogo Xavier International yang sudah lama dibekukan.
"Untuk keponakanku yang telah memilih jalan sulit. Anggap ini sebagai sisa-sisa 'sampah' dari masa lalu yang mungkin bisa kau jadikan pupuk untuk masa depanmu. Jangan cari aku, aku sudah tidak ada. – G"
Arkan menatap peralatan itu dengan getir. Paman Gideon mungkin telah menghilang ke persembunyiannya di luar negeri, namun ia memberikan "modal" bagi Arkan untuk memulai kembali studinya.
"Dia tahu Anda akan kembali kuliah, Arkan," ucap Aisyah, menyentuh salah satu mikroskop canggih itu.
"Dia ingin aku tetap menjadi Xavier, Aisyah. Tapi kali ini, aku akan menggunakan alat-alat ini untuk menyembuhkan, bukan untuk merakit racun," jawab Arkan tegas.
Setelah tamu terakhir pulang dan panti kembali tenang, Arkan membawa Aisyah ke rumah kecil yang telah disiapkan di samping kompleks panti.
Rumah itu sederhana, didominasi warna putih dan kayu, dengan taman mawar yang luas di bagian belakangnya.
Di dalam rumah yang masih beraroma cat baru itu, Arkan duduk di tepi tempat tidur, melihat Aisyah yang perlahan membuka cadarnya. Inilah pertama kalinya Arkan melihat wajah istrinya secara utuh tanpa ada batasan apa pun.
Kecantikan Aisyah bukan hanya pada fitur wajahnya yang lembut, tapi pada kedamaian yang terpancar dari sana.
"Aisyah," Arkan memulai, suaranya sedikit serak.
"Aku tidak menjanjikan hidup yang mudah. Masih banyak orang di luar sana yang akan memandang kita dengan sebelah mata. Tapi aku berjanji, di rumah ini, kau tidak akan pernah merasa takut lagi."
Aisyah tersenyum, menyentuh luka parut di bahu Arkan—bekas peluru di ruang sidang yang kini sudah mengering. "Ketakutan adalah masa lalu kita, Arkan. Masa depan kita adalah tentang bagaimana kita memberikan arti pada setiap detik yang Tuhan berikan."
Malam itu, Arkan mengeluarkan buku catatan barunya. Ia tidak lagi menulis tentang strategi perang atau koordinat gudang senjata. Ia menulis:
Hari ini, aku belajar bahwa kemenangan paling besar bukanlah saat kita berhasil membunuh musuh, tapi saat kita berhasil membunuh ego di dalam diri kita. Aisyah adalah rumahku, dan rumah ini dibangun di atas pondasi sujud yang panjang. Esok, aku akan melamar kembali ke universitas. Aku akan menjadi dokter, seperti janji yang kubuat di balik jeruji.
Fajar mulai mengintip dari balik jendela taman mawar. Kehidupan baru mereka bukan lagi sebuah mimpi; itu adalah kenyataan yang indah, meskipun tantangan besar—seperti yang diramalkan Leo tentang kembalinya "The Ghost"—sudah mulai membayangi di ufuk masa depan. Namun bagi Arkan, selama Aisyah ada di sisinya, ia siap menghadapi neraka sekalipun untuk melindungi surga kecil yang baru saja ia bangun.