Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Janji, Tangis, dan Kedatangan”
“Terus… bagaimana, Oma? Acaranya jadi telat, tidak?” tanya Nayla.
“Acaranya diundur satu jam,” jawab Oma tenang.
“Wah… cepat juga, ya. Padahal cari jas pengantin tidak segampang itu,” ujar Nayla kagum.
Oma tersenyum bangga. “Siapa dulu asistennya Oma.”
Nada suaranya jelas menunjukkan kebanggaan.
Nayla langsung mengangguk-angguk.
Oh iya! Mbak Siska gercep sekali. Dia menyiapkan semua kebutuhanku secepat kilat. Aku sampai kaget, loh, Oma. Aku cuma istirahat sebentar, tahu-tahu semuanya sudah rapi.”
Saat ini, Arkan sudah selesai makan. Ia duduk di pangkuan Nayla sambil memainkan mainan T-rex miliknya. Mereka pun sudah berpindah ke ruang keluarga.
“Siska itu sudah ikut Oma sejak lulus kuliah,” lanjut Oma. “Dulu dia mau melamar jadi satpam kantor.”
Nayla sedikit terkejut.
“Padahal dia lulusan sarjana ekonomi,”
Tambah Oma. “Tapi waktu itu memang sulit cari kerja. Dia sudah sampai tahap wawancara, tinggal menunggu panggilan saja.”
Oma berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Waktu itu ada kejadian yang membuat Oma akhirnya menerima dia. Tapi bukan sebagai satpam.”
Nayla makin penasaran.
“Padahal untuk kualifikasi satpam, dia lolos. Dia sabuk hitam, disiplin, tegas, dan gesit.”
Nayla mengangguk pelan.
“Hebat sekali…” gumamnya.
Pantas saja gerakannya cekatan begitu, batin Nayla.
“Jadi sekarang dia sudah ikut Oma sekitar empat belas tahun. Dia sudah terbiasa mengurus apa pun,” lanjut Oma.
“Kamu panggil dia ‘kakak’ saja, Nay. Dia bilang ke saya kemarin, dia tidak nyaman dipanggil ‘mbak’.”
Nayla tersenyum kecil.
“Iya, Oma.”
Oma kemudian menatap Nayla dengan lembut.
“Makasih ya, Nay.”
Nayla sedikit terkejut.
“Arkan biasanya tidak setenang ini. Dia juga sering rewel kalau makan. Tapi hari ini… dia tenang sekali.”
Nayla menunduk sedikit, menatap Arkan yang masih asyik memainkan mainannya di pangkuannya.
“Arkan itu kekurangan kasih sayang,” lanjut Oma pelan.
Suasana tiba-tiba terasa berbeda.
Lebih berat.
“Ayahnya sibuk. Oma juga dulu sibuk. Baru beberapa bulan ini Oma bisa lebih sering menemaninya.”
Nayla terdiam.
“Ibunya Arkan… meninggal saat melahirkannya.”
Nayla menahan napas.
…
“Ayahnya dari dulu memang sangat sibuk,” lanjut Oma. “Ibunya Arkan dulu sempat tertekan karena kurang perhatian. Dia stres… dan itu memengaruhi kandungannya.”
Nayla menatap Arkan.
Anak kecil itu mulai menguap pelan.
Beberapa kali.
Hatinya terasa sesak.
Pantas saja… batinnya.
Dia bukan nakal… dia cuma kesepian.
“Ooh, tampannya Oma sudah mengantuk, ya,” ucap Oma lembut sambil mengusap kepala Arkan.
“Padahal tadi baru tidur,” lanjutnya, lalu menoleh pada Nayla. “Kamu tahu tidak, Nay? Arkan biasanya tidur paling cepat jam satu pagi. Paling sering malah jam tiga.”
Nayla sedikit terkejut.
“Sekarang, sana. Siapkan dia tidur. Nanti kita lanjut cerita lagi.”
Nayla mengangguk.
Ia pun menggendong Arkan menuju kamar.
**
“Arkan sayang, jangan tidur dulu, ya,” ucap Nayla pelan sambil menurunkannya dari pangkuan.
“Eem…” jawab Arkan dengan suara lucu, mengangguk pelan.
Nayla mulai membuka bajunya untuk diganti dengan jubah tidur.
Arkan langsung menatapnya bingung.
Sepertinya ia salah paham.
“Kakak…!” panggilnya.
“Iya, kenapa, Arkan?”
Arkan mau mandi, ya?” tanyanya dengan wajah memelas, seolah berharap jawabannya tidak.
Nayla tersenyum gemas.
“Tidak kok. Kita sikat gigi dulu, ya. Habis itu langsung tidur, oke?”
“Eh… hehe…” Arkan tampak lega.
Lucu banget… sampai mandi saja dia takut, batin Nayla.
Setelah selesai menyikat gigi dan mencuci kaki, Nayla membantu memakaikan baju tidur Arkan.
Kemudian ia mengajaknya berbaring di kasur.
Arkan langsung mendekat.
Lalu—
ia memeluk Nayla erat.
“Kakak…”
“Iya, Arkan? Mau dibacakan buku?” tanya Nayla lembut.
Arkan menggeleng.
Pelukannya semakin erat.
“Kakak jangan pergi, ya…!”
Nayla terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Dia… setakut ini aku pergi?
Tangannya refleks mengusap punggung kecil Arkan.
Pelan.
Menenangkan.
“Iya… kakak di sini,” bisiknya lembut.
Dan untuk pertama kalinya—
Nayla merasa,
ia tidak ingin pergi.
Iya… kalau kakak pergi, nanti kakak pamit dulu sama Arkan,” ucap Nayla lembut sambil mengusap punggungnya.
Namun tak lama—
ia mendengar isak tangis.
“Jangan…! Jangan pergi…” ucap Arkan terbata, diiringi tangis kecil.
Nayla langsung panik.
“Sayang, sudah… jangan nangis, ya. Kakak tidak akan pergi kok…”
“Janji…”
Arkan mengulurkan jari kelingkingnya.
Nayla terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Janji…
Ia menatap jari kecil itu.
Di satu sisi, ia sangat menjaga janjinya. Tapi di sisi lain… ia sendiri tidak tahu bagaimana ke depannya.
Namun melihat wajah Arkan yang sembab—
ia tidak sanggup menolak.
Perlahan, Nayla mengaitkan kelingkingnya.
“Janji…”
Arkan menatapnya seolah ingin memastikan.
Nayla tersenyum tipis, lalu mengusap air matanya.
“Maaf ya, sayang… maafin kakak, ya.”
Arkan mengangguk dalam pelukannya.
Entah kenapa—
Nayla merasa hatinya seperti terikat.
Tidak lama kemudian, pelukan Arkan mulai mengendur.
Ia tertidur.
Nayla perlahan melepaskan tangannya, berhati-hati agar tidak membangunkannya.
Sebelum pergi, ia mencium kening Arkan.
**
Setelah menyikat gigi dan melakukan rutinitas malam, Nayla baru teringat sesuatu.
Ia belum menghubungi teman-temannya.
Ia bahkan tidak memegang ponselnya sejak tadi.
Nayla melirik jam.
Hampir pukul sebelas malam.
Ternyata aku ngobrol sama Oma selama itu…
Ia meraih ponselnya.
“Oh, sial… lowbat.”
Setelah ponselnya menyala kembali, notifikasi langsung bermunculan.
Termasuk dari seseorang.
Nayla mengernyit.
Mirna sialan… dia ngetik apa lagi ke orang itu?
Ia langsung mengarsipkan pesan itu tanpa membacanya.
Saat ini, ia tidak ingin berurusan dengan itu.
Di grup chat, ketiga temannya terlihat mencarinya. Bahkan mulai panik karena ia tidak bisa dihubungi.
Begitu Nayla online—
panggilan grup langsung masuk.
Drettt… dretttt…
“Hei! Nayla, kamu ke mana saja, hah?!”
Nayla refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.
Untung saja tidak menyalakan loudspeaker.
Mirna terlihat seperti sedang di luar rumah, berjalan mondar-mandir sambil mengomel panjang lebar.
Nah, ini dia… mode radio rusak, batin Nayla pasrah.
Karen dan Caca terlihat sama khawatirnya, tapi memilih diam.
Setelah Mirna selesai mengomel, Nayla mulai menceritakan semuanya.
Mereka hanya saling pandang, lalu mengangguk.
Pada akhirnya—
mereka menyetujui keputusan Nayla.
Setelah panggilan berakhir, Nayla memutuskan untuk tidur.
Namun—
baru saja matanya terpejam—
ia mendengar isak tangis.
Disusul gedoran pintu.
Nayla langsung bangkit dan berlari ke kamar Arkan.
“Arkan sayang…!” panggilnya lembut sambil membuka pintu.
Ia segera menggendong Arkan.
“Kakak tadi cuma sikat gigi… habis ganti baju juga. Nih, lihat…”
Arkan menatapnya lekat, seolah memastikan ia tidak berbohong.
Beberapa detik kemudian—
ia menyandarkan kepalanya di leher Nayla.
Erat.
Ternyata suara tadi juga membangunkan Oma dan Mbak Rani.
Nayla menjelaskan apa yang terjadi.
Mereka hanya saling pandang, lalu menghela napas pelan.
Seolah sudah terbiasa.
Setelah itu, Nayla kembali ke kamar Arkan dan berbaring di sana.
Oma memintanya untuk sementara menemani Arkan tidur, sambil perlahan memberi pengertian.
Nayla menatap anak itu.
Aku memang pernah membayangkan jadi seorang ibu…
Ia tersenyum tipis.
Tapi aku tidak pernah membayangkan jadi seorang istri…
Sebelum menutup mata, Nayla mencium wajah Arkan.
Lalu tertidur sambil mengusap punggungnya.
**
Jam berapa ini…?
Dalam setengah sadar, Nayla merasa seperti ada yang mengawasinya.
Namun ia terlalu mengantuk.
Dan kembali tertidur.
**
Pagi hari.
Nayla terbangun oleh kecupan kecil di pipinya.
Dan suara tawa mungil.
Matanya perlahan terbuka—
lalu ia tersentak.
Arkan sedang mencium pipinya.
Beberapa kali.
Nayla terdiam sesaat.
Otaknya langsung memutar semua kejadian semalam.
…ini bukan mimpi.
Ia langsung memeluk Arkan.
Erat.
Jam menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit.
Waktu paling pagi ia pernah bangun.
Biasanya saja paling lambat pukul tujuh Nayla bangun.
Tanpa banyak bicara, Nayla langsung memandikan Arkan dengan air hangat.
Anehnya, Arkan sama sekali tidak rewel.
Sejak bangun, ia terus tersenyum.
Bahkan beberapa kali tertawa kecil.
Nayla ikut tertawa.
Mereka mengobrol hal-hal acak.
Dan entah kenapa—
terasa menyenangkan.
Setelah selesai, Nayla memakaikan baju Arkan.
“Arkan tunggu di kamar, ya. Kakak mau mandi sebentar.”
Arkan langsung menggeleng.
“Mau nunggu di kamar kakak…”
Nayla mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Takut kakak hilang…”
Nayla terdiam.
Lalu menghela napas kecil.
Ya ampun…
“Ayo,” ucapnya akhirnya sambil menggandeng tangan kecil itu.
Saat Nayla membuka pintu—
ia langsung berhenti.
Di depannya, berdiri seorang pria tinggi.
Tatapannya tajam.
Sepertinya ia juga hendak membuka pintu.
Pria itu menatap Nayla dari atas sampai bawah.
Nayla langsung gugup.
Ada rasa aneh yang membuatnya tidak nyaman.
Ia hanya bisa berdiri kaku.
“Kakak…?” Arkan menggoyangkan tangannya, bingung kenapa Nayla tidak bergerak.
Lalu—
dengan suara kecil,
“Papah.”