Charlotte tidak pernah meminta dilahirkan kembali sebagai mekanik kelas teri di zona perang paling mematikan. Namun, sebuah antarmuka Sistem yang dingin dan sarkastik muncul di pelupuk matanya, mengubah setiap tetes keringat dan darah menjadi poin statistik yang berharga.
Masalahnya, sistem ini tidak didesain untuk menjadi pahlawan. Sistem Charlotte bekerja seperti algoritma pemangsa yang mengoptimalkan penderitaan demi keuntungan pribadi. Baginya, para "Pahlawan" terpilih hanyalah sumber daya pengalaman yang bisa diperas, dan kiamat yang mengancam dunia hanyalah sebuah fluktuasi data yang perlu dikelola.
Dengan kunci inggris berlumuran oli dan logika mesin yang tanpa ampun, Charlotte mulai memanipulasi takdir. Jika dunia harus hancur, setidaknya ia harus memastikan bahwa dialah yang memegang kendali atas rongsokannya. Siapa sangka, menjadi dalang di balik layar ternyata jauh lebih menguntungkan daripada menyelamatkan dunia yang sudah rusak ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: AKSI DEMONSTRATIF
Angin gurun yang membawa debu kasar berhembus kencang di perbatasan Sektor 4, menghantam barisan bunker pertahanan faksi Radiant. Di dalam pusat komando teknis yang tersembunyi jauh di bawah tanah Sektor 1, Charlotte duduk dengan tenang, memperhatikan layar pemantau yang menampilkan feed sensor dari ribuan unit Aegis yang kini aktif di medan pertempuran. Ruangan itu hanya diterangi oleh pendaran ungu dari konsol hologram, menciptakan suasana yang mencekam dan terisolasi. Bau kopi pahit yang mulai dingin dan dengungan konstan dari unit pendingin server menjadi satu-satunya pendamping Charlotte dalam kegelapan.
Setelah mekanisme langganan bulanan berhasil dipaksakan kepada para pengguna, Charlotte membutuhkan sebuah demonstrasi yang lebih besar untuk memastikan tidak ada lagi keraguan akan otoritasnya. Malfungsi kecil pada unit Iron Vanguard sebelumnya hanyalah peringatan pembuka. Kini, ia ingin menunjukkan bahwa ia memegang kendali atas daya serang mereka, bukan hanya pertahanan mereka.
Sistem, identifikasi unit pahlawan yang terlibat dalam kontak senjata di koordinat 44-B sekarang, perintah Charlotte dengan suara yang rendah namun tajam.
[Mengidentifikasi. Unit Penyerang Jarak Jauh Divisi Ketujuh. Status: Sedang Melakukan Baku Tembak dengan Kelompok Penjarah Padang Pasir.]
[Persenjataan: Senapan Plasma Aegis-X2 Tertaut pada Server Pusat.]
[Jumlah Target: 50 Personel Pahlawan.]
Charlotte menggeser jarinya di atas permukaan hologram, memperbesar visualisasi di layar. Di sana, para pahlawan dari Divisi Ketujuh sedang berada dalam posisi yang sangat menguntungkan. Mereka berada di atas bukit batu, menghujani musuh di bawahnya dengan tembakan plasma yang akurat dan mematikan. Senapan-senapan itu adalah produk kebanggaan baru Charlotte, senjata yang dijanjikan memiliki presisi tanpa tanding karena sinkronisasi saraf yang ia tanamkan.
"Mereka merasa terlalu nyaman," gumam Charlotte. Ia melihat bagaimana para prajurit itu tertawa kecil di balik komunikasi radio, merasa di atas angin karena senjata mereka bekerja dengan sangat optimal. "Mari kita ingatkan mereka bahwa kenyamanan ini adalah pinjaman."
Ia mulai mengakses protokol Backdoor yang tertanam dalam inti energi senapan-senapan tersebut. Di matanya yang ditutupi monokel Eye of the Raven, barisan kode enkripsi mulai terbuka seperti kelopak bunga yang beracun. Ia tidak perlu mematikan seluruh sistem; ia hanya perlu memberikan gangguan pada modul pemfokus laser di saat yang paling krusial.
Sistem, eksekusi pemadaman daya jarak jauh pada seluruh modul penyerangan Divisi Ketujuh dalam hitungan mundur tiga detik, perintah Charlotte.
[3... 2... 1...]
[Protokol Aksi Demonstratif Dieksekusi.]
Di medan perang, suasana berubah seketika. Kapten Divisi Ketujuh baru saja menarik pelatuk senjatanya untuk menghabisi komandan musuh, namun yang keluar dari moncong senapannya bukanlah kilatan plasma biru, melainkan hanya suara desis lemah dan asap tipis yang berbau logam terbakar. Hal yang sama terjadi pada seluruh prajurit di sepanjang garis pertahanan bukit tersebut.
Senjata-senjata itu tiba-tiba menjadi tumpukan logam yang tidak berguna. Layar bidik pada helm mereka berkedip merah dengan pesan teks yang dingin: Kegagalan Sinkronisasi – Hubungi Administrator.
"Apa yang terjadi? Senjataku mati!" teriak salah satu prajurit di saluran komunikasi yang disadap oleh Charlotte.
"Senjataku juga! Sial, mereka mulai mendekat! Berikan perlindungan!" suara panik lainnya menimpali.
Kepanikan menyebar seperti api yang tersiram bensin. Para pahlawan yang tadinya begitu angkuh kini tampak sangat rentan. Musuh di bawah bukit, yang menyadari bahwa hujan plasma telah berhenti, mulai merangkak naik dengan teriakan penuh semangat. Charlotte memperhatikan melalui feed biometrik bahwa tingkat adrenalin dan detak jantung para pahlawan itu melonjak ke zona merah. Kepanikan adalah emosi yang sangat mahal, dan Charlotte sedang memanen setiap tetesnya.
"Sistem, aktifkan audio komunikasi publik di ruangan ini. Aku ingin mendengar ketakutan mereka dengan jelas," kata Charlotte.
Suara teriakan, dentuman peluru konvensional yang menghantam batu, dan napas yang terengah-engah memenuhi ruang kendali. Charlotte mendengarkannya seolah-olah itu adalah komposisi musik klasik yang indah. Ia melihat dari satelit bagaimana para pahlawan itu mulai berlarian mundur, meninggalkan posisi strategis mereka karena senjata jarak jauh mereka tidak lagi berfungsi.
"Tuan Charlotte! Tolong! Ini mendesak!" suara Mayor Silas terdengar melalui jalur prioritas, memutus keheningan ruang kendali. "Divisi Ketujuh melaporkan kegagalan senjata massal di Sektor 4! Mereka akan dibantai jika senjata itu tidak segera berfungsi kembali! Jenderal Kaelen sedang menuju ke ruanganmu sekarang!"
Charlotte tidak terburu-buru. Ia membiarkan waktu berlalu selama tiga puluh detik lagi—waktu yang cukup bagi dua prajurit di lapangan untuk terluka parah akibat serbuan musuh. Baginya, luka-luka itu adalah biaya pemasaran yang diperlukan.
Pintu ruang kendali terbuka dengan kasar. Jenderal Kaelen masuk dengan wajah pucat dan mata yang melotot penuh kengerian. "Charlotte! Apa yang terjadi? Senjata Aegis kita mati total di tengah pertempuran! Kau bilang sistem ini tidak bisa ditembus!"
Charlotte perlahan memutar kursinya, menatap Kaelen dengan pandangan yang tenang dan penuh kepura-puraan akan rasa terkejut. "Jenderal, saya baru saja mendeteksi anomali pada jalur transmisi data di sektor tersebut. Tampaknya ada interferensi frekuensi tinggi dari pihak luar yang mencoba menyusup ke protokol keamanan kita. Karena sistem Aegis dirancang untuk mengutamakan keamanan data, senjata-senjata itu secara otomatis melakukan lockdown untuk mencegah peretasan senjata oleh musuh."
"Lockdown? Sekarang bukan waktunya untuk lockdown! Mereka sedang mati di sana!" teriak Kaelen sambil menunjuk ke arah layar simulasi pertempuran.
"Itulah sebabnya mengapa saya selalu menekankan pentingnya pembaruan enkripsi premium, Jenderal," balas Charlotte dengan nada bicara yang sopan namun menusuk. "Jika Divisi Ketujuh belum menyelesaikan administrasi pembaruan keamanan mereka pagi ini, sistem akan menganggap mereka sebagai unit yang rentan terhadap penyusupan. Saya bisa mencoba melakukan override manual, tapi itu akan memakan energi server yang besar."
"Lakukan sekarang! Aku tidak peduli soal biaya! Selamatkan mereka!" perintah Kaelen dengan suara serak.
Charlotte kembali ke konsolnya. Jarinya bergerak cepat, melakukan override pada Backdoor yang ia buat sendiri. Ia memberikan perintah agar modul energi kembali online, namun dengan catatan tambahan bahwa kejadian ini akan tercatat sebagai kegagalan akibat kelalaian pengguna dalam mematuhi protokol keamanan bulanan.
[Override Sukses. Senjata Divisi Ketujuh Kembali Online.]
Di layar pemantau, senapan-senapan di lapangan kembali berpendar ungu. Para pahlawan yang tadinya sudah pasrah melihat musuh di depan mata, tiba-tiba merasakan senjata mereka kembali berdenyut hangat. Dengan kepanikan yang masih tersisa, mereka segera memberondong musuh yang sudah sangat dekat. Pertempuran berubah menjadi pembantaian jarak dekat yang brutal, namun Divisi Ketujuh berhasil selamat dari kehancuran total.
"Sistem kembali stabil, Jenderal," kata Charlotte, berbalik menghadap Kaelen yang masih mengatur napasnya. "Namun, kejadian ini membuktikan satu hal. Tanpa jaminan keamanan dan pengawasan teknis penuh dari pusat, senjata-senjata ini bisa menjadi bumerang. Saya sarankan kita memperketat kontrol terhadap siapa yang diizinkan memegang otoritas operasional di lapangan."
Kaelen jatuh terduduk di kursi di sudut ruangan, menyeka keringat di dahinya. "Aku tidak bisa mengalami serangan jantung seperti ini lagi, Charlotte. Pastikan kejadian ini tidak terulang di divisi lain. Apa pun yang kau butuhkan untuk menjamin keamanan sistem ini, ambil saja."
[Misi Aksi Demonstratif Sukses.]
[Perolehan Poin: 18.000 MP dari kepanikan massal pahlawan dan peningkatan ketergantungan otoritas.]
[Status: Jenderal Kaelen kini berada dalam kendali psikologis penuh Anda.]
Setelah Kaelen keluar dari ruangan dengan langkah yang lunglai, Charlotte mematikan feed audio pertempuran. Kesunyian kembali merajai ruang kendali. Ia melihat angka poin Administrator miliknya meroket tajam. Kepanikan yang ia ciptakan hari ini telah mengirimkan pesan yang jelas ke seluruh faksi: Tanpa Charlotte dan sistem Aegis-nya, mereka hanyalah manusia biasa yang menunggu ajal.
"Panik adalah guru yang sangat baik," bisik Charlotte pada kegelapan. "Mereka akan belajar untuk tidak pernah mempertanyakan biaya lagi. Mereka akan belajar bahwa senjata mereka adalah milikku, dan nyawa mereka hanyalah konsekuensi dari ketaatan mereka."
Ia berjalan menuju tangki pendingin server, melihat cahaya ungu yang berkedip dengan ritme yang sama dengan detak jantungnya. Aksi demonstratif ini hanyalah permulaan dari monopoli yang akan ia paksakan secara perlahan. Ia tidak hanya ingin menjadi pemasok senjata; ia ingin menjadi pemilik dari setiap kemenangan dan setiap kekalahan yang dialami oleh faksi pahlawan.
Aroma ozon di ruangan itu terasa semakin pekat, seolah-olah mesin-mesin di sana sedang merayakan keberhasilan manipulasi yang baru saja terjadi. Charlotte tahu bahwa mulai hari ini, tidak akan ada satu pun pahlawan yang berani menarik pelatuk tanpa rasa takut yang terselip di hati mereka—takut bahwa senjata itu mungkin akan mati lagi jika mereka tidak cukup patuh.
[Sistem: Perolehan Data Biometrik Selama Kepanikan Selesai. Menyiapkan Profil untuk Pahlawan yang Bandel.]
[Status Administrator: Tak Tergoyahkan.]
Charlotte duduk kembali di kursinya, matanya terpaku pada layar yang menampilkan angka kematian yang baru saja terjadi di Divisi Ketujuh. Baginya, kematian-kematian itu hanyalah angka yang membuktikan efektivitas sistemnya. Ia telah mematikan senjata, ia telah menciptakan kepanikan, dan sekarang, ia akan menawarkan jaminan keamanan palsu yang akan membuat mereka terjerat semakin dalam ke dalam monopolinya.
"Badai belum benar-benar datang," gumamnya pelan sambil mengusap permukaan logam Phantom Reach-nya. "Tapi setidaknya, aku sudah memegang payungnya, dan aku akan memutuskan siapa yang boleh tetap kering."
Malam itu, di Sektor 1, semua orang membicarakan tentang mukjizat kembalinya sistem Aegis di tengah pertempuran. Mereka memuji Charlotte sebagai penyelamat teknis yang bertindak cepat. Mereka tidak tahu bahwa tangan yang menyelamatkan mereka adalah tangan yang sama yang mencekik mereka beberapa saat sebelumnya. Dan itulah keindahan dari rencana Charlotte.