Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : JALAN PULANG YANG PANJANG
Sinar matahari mulai meredup saat menjelang sore, meninggalkan warna jingga yang memantul pada permukaan bak cuci yang kini sudah kosong dari tumpukan pakaian pasien. Lia menggosok tangan kirinya dengan kain lap yang sudah mulai aus, menghilangkan sisa deterjen yang masih menempel pada kulitnya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja dengan bahan kimia keras. Di mejanya yang kini sudah ditambahkan alas kain tipis untuk melindungi permukaannya, sebuah buku catatan baru dengan sampul kulit hitam terpampang jelas – setiap halamannya berisi catatan rinci tentang anak-anak yang pernah dia rawat di rumah sakit, termasuk ciri-ciri fisik dan tanggal lahir yang mungkin bisa membantu dalam pencarian Adit yang sudah berlangsung selama delapan tahun lamanya.
“Sudah cukup kerja hari ini, Lia. Kamu pulang dulu aja ya,” ucap Pak Joko sambil menyapu debu dari lantai semen yang mulai terlihat kusam akibat banyaknya pakaian yang dicuci setiap hari. “Besok ada pesanan dari ruangan spesialis kulit – harus dicuci dengan air dingin dan deterjen tanpa pewangi ya, jangan sampai salah pakai lagi seperti kemarin.”
Lia mengangguk dengan senyum lembut, menyimpan buku catatan kecil ke dalam tas kerja yang sudah dia jahit ulang dengan benang kuat agar tidak mudah sobek. Dia merenungkan kata-kata Pak Joko sambil melihat ke arah jalan yang akan dilalui untuk pulang – jalanan yang sudah begitu akrab dengan semua lekukan dan lorong kecil yang sering dia lewati saat berjalan kaki dari rumah sakit menuju kontrakan milik Bu Warsih. Udara sore sudah mulai terasa panas dengan campuran asap dari kendaraan yang berlalu lalang dan aroma makanan dari warung-warung pinggir jalan yang mulai membuka kiosnya.
“Siang sudah, Lia. Mau minum teh hangat nggak?” tanya Bu Warsih yang baru saja keluar dari rumah kontrakan, tangannya masih memegang ember berisi air bersih yang baru saja diambil dari sumur belakang. “Anak-anak udah pulang dari sekolah, Mal lagi nungguin kamu di depan pintu lho.”
Lia menerima cangkir teh hangat dengan rasa terima kasih yang mendalam, merasakan kehangatan yang diberikan oleh tetangga yang selalu ada untuknya seperti keluarga sendiri. Dia melihat sekeliling halaman belakang rumah sakit yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun – tembok bata yang lapuk, bak cuci besar yang sudah terbiasa digunakan setiap hari, hingga pepohonan yang memberikan naungan saat matahari mulai menyengat. Di dinding tembok bata yang sudah lapuk akibat cuaca, terdapat beberapa potongan kayu bekas yang dia kumpulkan untuk membuat mainan kecil bagi Mal dan Rini ketika mereka masih kecil.
“Terima kasih Bu Warsih,” ucap Lia dengan suara lembut sambil menyimpan cangkir kosong ke dalam baskom yang sudah biasa digunakan untuk mencuci piring. “Saya akan pulang segera setelah menyelesaikan cucian dari ruangan dokter yang harus dibersihkan sebelum jam empat sore.”
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan pagi, Lia mulai membersihkan bak cuci dari sisa deterjen dan noda yang menempel. Dia memisahkan pakaian berdasarkan jenis kain dan warna agar tidak saling mewarnai, seperti yang diajarkan oleh Pak Joko sejak pertama kali bekerja di bagian cuci rumah sakit. Setiap langkahnya dilakukan dengan hati-hati – dari mengoleskan deterjen pada kain yang kotor hingga membilasnya dengan air bersih hingga benar-benar bersih dari semua kotoran dan zat kimia yang digunakan.
Di dalam tas kerjanya, selain buku catatan kecil yang selalu dia bawa, terdapat sebuah amplop kecil berisi foto lama yang sudah mulai menguning akibat usia. Foto itu menunjukkan wajah tiga bayi yang sedang tertidur berdampingan di bak mandi plastik – wajah mereka yang masih kusam namun bisa dikenali dengan jelas. Mal dengan lekukan di bibir bawahnya yang mirip Lia, Rini dengan alis yang menyerupai ayahnya, dan Adit dengan bintik merah kecil berbentuk hati di punggungnya yang menjadi ciri khas yang tidak akan pernah dilupakan.
Setiap malam Lia selalu melihat foto itu dengan mata yang penuh harap, berdoa agar suatu hari bisa menemukan jejak anaknya yang hilang. Dia merenungkan keputusan yang paling sulit dalam hidupnya – ketika terpaksa menyerahkan Adit pada lembaga yang katanya bisa memberikan kehidupan yang lebih baik, namun kemudian menyadari bahwa dia telah diperdaya oleh mereka yang tidak bertanggung jawab.
“Saya harus tetap kuat untuk Mal dan Rini,” ucap Lia pada dirinya sendiri sambil menyimpan foto itu kembali ke dalam tasnya yang sudah dipastikan terkunci rapat. “Hidup harus terus berjalan, dan saya akan terus mencari hingga menemukan dia kembali.”
Di halaman belakang rumah sakit, matahari mulai meremajakan langit menjadi warna jingga yang hangat. Udara sore mulai terasa lebih sejuk dengan hembusan angin dari arah kebun yang terletak tidak jauh dari sana. Lia melihat ke arah langit yang mulai berubah warna, berdoa agar cinta yang dia berikan pada anak-anaknya tidak akan pernah hilang meskipun mereka berada di tempat yang berbeda.