NovelToon NovelToon
Ya Mungkin Besok

Ya Mungkin Besok

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Slice of Life
Popularitas:283
Nilai: 5
Nama Author: Budiarto Consultant

Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.

Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”

Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.

Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”

Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Tertunda

Raka menatap secangkir kopi yang mulai mendingin di depannya. Uapnya hampir hilang, meninggalkan aroma pahit yang samar bercampur sedikit manis. Aroma itu biasanya cukup untuk membuatnya terjaga, tapi hari ini, ia merasa tak ada urgensi untuk meneguknya. Ia hanya duduk diam, menatap layar laptop yang kosong, menunda menulis email yang seharusnya sudah dikirim kemarin, menunda mengubah hidupnya, dan bergumam pelan: “Ya… mungkin besok aku akan mulai.”

Di luar jendela kafe “Kopi dan Tawa”, hujan gerimis menetes di kaca, membuat jalanan berkilau dengan lampu kota yang remang-remang. Orang-orang berlari dengan payung di tangan, wajah mereka serius, langkah mereka cepat. Semua terlihat tahu kemana harus melangkah. Semua terlihat punya tujuan.

Sedangkan Raka? Ia hanya menunggu besok yang entah kapan akan datang. “Besok,” pikirnya, “selalu terdengar lebih aman daripada hari ini.”

Kafe itu sendiri hangat dan nyaman. Lampu kuning lembut menyoroti setiap meja, musik jazz pelan mengalun dari speaker di sudut ruangan, aroma kopi memenuhi udara. Bagi banyak orang, ini sekadar kafe biasa. Tapi bagi Raka, tempat ini adalah zona aman, zona di mana ia bisa duduk berlama-lama, menatap layar kosong, dan menunda hidup tanpa merasa bersalah. Seorang barista muda berjalan di antara meja-meja, meletakkan cangkir dan sendok, tersenyum ramah, seolah memahami semua kebiasaan Raka tanpa harus bertanya.

“Nak, kopi kamu mulai dingin lagi,” sapa barista itu sambil menaruh sendok di samping cangkir Raka. Suara itu lembut, namun cukup untuk menarik Raka keluar dari lamunannya.

Raka mengangkat kepala, tersenyum lemah. “Ya… mungkin besok aku akan minum kopi yang panas lagi,” jawabnya, jempol setengah hati terangkat, lebih sebagai kebiasaan daripada semangat nyata.

Barista itu menggeleng pelan. “Kalau begitu jangan salahkan aku kalau kamu jadi zombie besok,” katanya sambil tersenyum kecil, lalu kembali ke balik meja kasir. Raka tertawa tipis, tapi tawanya terdengar lebih seperti gumaman malas daripada tawa yang benar-benar lucu. Ia kembali menatap jendela, melihat dunia di luar bergerak maju, sementara ia tetap diam, terjebak dalam kebiasaan menunda yang terasa aman tapi sekaligus menyakitkan.

Ia mencondongkan tubuh di kursi, jari-jari tak sengaja menekan layar laptop yang kosong, membayangkan berbagai hal yang seharusnya ia lakukan: mengirim email lamaran, membaca buku yang tertunda, bahkan hanya berjalan-jalan sebentar di bawah hujan. Tapi semua itu tetap menunggu besok. Selalu besok.

“Besok,” gumamnya, “adalah tempat aku bersembunyi dari hari ini.”

Tiba-tiba, tubuhnya terbentur dari belakang. “BRUK!” Kopi hampir tumpah. Raka terkejut, menoleh dengan cepat, dan matanya bertemu dengan seorang wanita yang… sepertinya baru saja keluar dari halaman depan majalah bisnis. Rambutnya rapi, jasnya pas, sepatu haknya bersih dan berkilau, dan tatapan matanya tajam mata yang tampak bisa menembus semua alasan Raka untuk menunda.

“Maaf! Aku benar-benar nggak lihat ada orang di sini!” katanya cepat, suara sedikit terburu-buru, namun tidak tergesa-gesa. Ada ketegasan di setiap kata-katanya, seperti seseorang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan berikutnya.

Raka mencoba tersenyum. Senyum itu canggung, mirip seseorang yang baru bangun tidur, belum siap menghadapi dunia. “Ya… mungkin besok aku akan lebih siap,” gumamnya sambil menyentuh wajahnya, mencoba menenangkan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

Wanita itu menatapnya lama, alis terangkat. Ia menahan senyum, atau mungkin menahan tawa. “Kamu… orang yang aneh,” katanya akhirnya, singkat, tapi cukup untuk membuat Raka merasa seluruh tubuhnya hangat sekaligus malu.

Raka hanya mengangguk. “Ya… mungkin besok aku akan menjelaskan semuanya,” balasnya, dan seketika menyesal. Kalimat itu terdengar lebih seperti janji kosong daripada sesuatu yang bermakna.

Wanita itu menatapnya beberapa detik lagi, lalu berjalan pergi dengan langkah mantap, meninggalkan Raka menatap punggungnya dengan campuran kebingungan, kagum, dan rasa penasaran yang aneh.

Ia menelan ludah, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, hatinya merasa sedikit tergerak, sedikit hidup, meski ia sendiri tak ingin mengakuinya.

Beberapa hari kemudian, wanita itu muncul lagi. Kali ini ia duduk di meja dekat jendela, membawa laptop dan beberapa dokumen. Setiap gerakannya efisien, penuh tujuan, seperti tarian yang sudah diatur sedemikian rupa. Raka masih di kursi yang sama, kopi dingin di depannya, laptop kosong, dan hati yang sedikit panas karena rasa penasaran yang tak bisa ia hindari.

“Eh… kamu lagi?” Wanita itu menatapnya, setengah kesal, setengah penasaran.

Raka tersenyum, ringan dan canggung. “Ya… mungkin besok aku akan bilang halo,” jawabnya, seperti biasa, menunda lagi sesuatu yang seharusnya bisa ia lakukan sekarang.

Wanita itu menghela napas panjang. “Kamu memang suka menunda segalanya, ya?”

Raka mengangkat bahu. “Ya… mungkin besok aku akan mulai berubah.”

Nina nama wanita itu menatapnya lama, seolah menilai apakah pria ini serius atau hanya bercanda. Akhirnya ia duduk di meja seberang, membuka laptop, dan kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Raka menatapnya diam-diam, mencoba mengamati seseorang yang tampak sempurna menjalani hidupnya tanpa menunggu besok.

Hari demi hari, mereka sering bertemu di kafe yang sama. Raka masih membawa kopi dingin, laptop kosong, dan kebiasaan menunda yang sama. Nina selalu datang dengan rencana matang, daftar tugas, dan fokus yang membuat Raka merasa seperti anak kecil yang terseret ke dunia orang dewasa.

Suatu hari, Raka memberanikan diri mendekat. “Eh… kamu suka kopi dingin juga, kan?” tanyanya, mencoba memecah kebekuan dengan caranya sendiri.

Nina menatapnya tajam. “Aku tidak suka kopi dingin. Itu membuang waktu.”

Raka tersenyum, setengah malu, setengah senang. “Ya… mungkin besok aku akan membeli kopi panas lagi, dan kita bisa ngobrol lebih lama.”

Nina menatapnya dengan tatapan sulit dibaca, tapi di bibirnya muncul senyum tipis senyum yang hanya bisa dilihat oleh orang yang cukup berani menatapnya lama-lama. Raka merasa hatinya berdegup lebih cepat, bukan karena cinta, tapi karena sesuatu yang lebih lembut: rasa penasaran, rasa ingin tahu, dan… harapan kecil.

Seiring waktu, interaksi mereka berkembang. Raka mulai meniru sedikit kebiasaan Nina: menyelesaikan tugas kecil, datang tepat waktu sekali-sekali, dan bahkan membeli kopi panas (walau kadang lupa membayar). Nina, di sisi lain, mulai menikmati momen-momen lucu dengan Raka, seperti ketika ia secara tidak sengaja menumpahkan kopi sendiri, atau ketika ia salah menebak tanggal lahir Nina.

Mereka berbeda, tapi anehnya, itu yang membuat mereka saling menarik. Raka yang santai, kadang ceroboh, tapi lucu dan polos. Nina yang fokus, serius, dan efisien. Keseimbangan mereka aneh, tapi menyenangkan.

Dan meskipun Raka selalu berkata: “Ya… mungkin besok aku akan berubah,” Nina tahu, entah kenapa, bahwa besok itu mungkin lebih dekat daripada yang mereka kira.

Raka menatap Nina yang sedang sibuk dengan laptopnya. Dalam hati, ia berkata, “Ya… mungkin besok aku akan bilang sesuatu yang penting padanya.” Tapi tentu saja… Raka menunda itu juga sampai besok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!