NovelToon NovelToon
Clean Off

Clean Off

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambang Batas

Malam setelah kejutan ulang tahun itu tidak berakhir di parkiran restoran. Atmosfer manis yang dibangun Zeus melalui tumpukan strawberry dan balon-balon rose gold terbawa hingga ke dalam kamar utama mereka yang luas.

Di balik pintu yang tertutup rapat dari dunia luar, lampu kristal diredupkan hingga hanya menyisakan pendar keemasan yang hangat, menciptakan bayangan-bayangan intim di dinding sutra.

Zeus membimbing Nomella menuju tempat tidur dengan kelembutan yang seolah-olah ia sedang memegang porselen paling berharga di dunia. Tidak ada lagi sisa-sisa pria dingin yang sering dibicarakan oleh dokter psikolognya. Malam ini, Zeus adalah definisi dari seorang suami yang sedang memuja istrinya seperti beberapa Minggu terakhir.

Saat mereka berbaring bersama, kain sutra yang dingin bersentuhan dengan kulit mereka yang hangat. Zeus tidak langsung bergerak. Ia justru menumpu tubuhnya dengan kedua tangan, menatap Nomella dengan binar mata yang begitu jernih. Tangannya merayap pelan, mengusap perut Nomella yang kini menjadi pusat semesta bagi dunianya.

"Sayang... apa kau merasa nyaman?" bisik Zeus, suaranya rendah dan sarat akan emosi.

Nomella hanya bisa mengangguk, napasnya mulai sedikit tidak teratur. "Iya, Zeus. Sangat nyaman."

Penyatuan malam itu berlangsung dalam ritme yang sangat berbeda dari malam-malam awal pernikahan mereka yang penuh amarah. Zeus bergerak dengan penuh kehati-hatian yang luar biasa.

Setiap gerakannya adalah sebuah pertanyaan, dan setiap sentuhannya adalah sebuah perlindungan. Ia seolah-olah sedang menari di atas garis tipis antara gairah seorang pria dan tanggung jawab seorang ayah.

"Sayang... apa kau puas dengan gerakan ini?" Zeus berbisik tepat di telinga Nomella, napasnya yang panas membuat bulu kuduk Nomella meremang. "Apa aku terlalu berat untukmu? Katakan padaku jika kau merasa tidak nyaman sedikit saja. Aku tidak ingin menyakiti kalian."

Nomella merasakan dadanya sesak oleh rasa haru yang meluap. Ia melingkarkan tangannya di leher Zeus, menarik pria itu lebih dekat. "Tidak, Zeus. Ini sempurna. Jangan berhenti."

Di tengah penyatuan yang penuh harmoni itu, Nomella menatap wajah suaminya. Ia melihat keringat yang membasahi kening Zeus, ia melihat rahang yang mengeras karena pria itu mencoba menahan diri agar tidak kehilangan kendali. Nomella mulai berpikir bahwa mungkin dokter itu salah. Mungkin benar apa yang dikatakan Zeus—bahwa obatnya adalah Nomella dan anak mereka.

Jika tanpa kimiawi Zeus bisa menjadi sehangat ini, apakah ia benar-benar butuh dokter? Apakah cinta yang begitu besar ini tidak cukup untuk menyembuhkan luka masa lalu?

"Aku mencintaimu, Nomella," ucap Zeus dengan lantang, suaranya bergetar karena emosi yang memuncak. Ia tidak mengatakannya pada perut Nomella, ia mengatakannya sambil menatap dalam-dalam ke manik mata istrinya. Ia ingin Nomella tahu bahwa ia dicintai bukan hanya sebagai wadah, tapi sebagai satu-satunya wanita yang berhasil meruntuhkan dinding esnya.

"Aku juga mencintaimu, Zeus," balas Nomella, suaranya pecah oleh isak kebahagiaan.

Untuk pertama kalinya, kata "Cinta" itu mengalir dari kedua belah pihak tanpa ada paksaan, tanpa ada sandiwara publik. Ini adalah pengakuan jiwa yang jujur di tengah labirin kebohongan yang mereka ciptakan. Nomella membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan itu. Ia membuang jauh-maksud untuk melakukan tes mandiri besok pagi. Ia hanya ingin menikmati momen ini—momen di mana suaminya adalah pria paling sempurna yang pernah ia temui.

"Daddy sangat mencintai kalian berdua," gumam Zeus lagi, mencium bahu Nomella dengan lembut saat ritme mereka mencapai puncaknya. "Kalian adalah segalanya bagiku. Aku berjanji akan menjaga kalian sampai napas terakhirku."

Nomella memejamkan mata, memeluk Zeus dengan kekuatan yang ia miliki. Ia merasakan denyut jantung Zeus yang beradu dengan miliknya, sebuah simfoni kehidupan yang terasa begitu nyata. Ia tidak peduli lagi apakah ini delusi atau bukan. Jika kegilaan bisa menciptakan surga seperti ini, maka Nomella bersedia untuk ikut gila bersama Zeus.

Namun, di balik kebahagiaan itu, mereka tidak menyadari satu hal.

Di luar gedung apartemen mereka, di bawah bayang-bayang pohon palem yang gelap, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap terparkir diam. Seseorang di dalamnya sedang memperhatikan jendela kamar mereka yang bercahaya temaram.

Di tangan orang itu, terdapat sebuah map bertuliskan nama Zayn Sterling dan sebuah foto kecelakaan tiga tahun lalu yang menunjukkan detail yang tidak pernah masuk dalam laporan polisi.

Malam yang penuh cinta di atas ranjang itu seolah menjadi tenang sebelum badai besar datang.

Saat Zeus akhirnya tertidur dengan kepala di dada Nomella, tangannya masih setia melingkar di pinggang istrinya, telapak tangannya menempel hangat di perut Nomella. Zeus tidur dengan senyuman tipis, sebuah ketenangan yang jarang ia dapatkan.

Nomella mengusap rambut suaminya, menatap wajah Zeus yang tampak begitu damai. "Semoga kau tetap seperti ini, Zeus. Semoga cinta kita cukup untuk membungkam hantu-hantu di kepalamu," bisik Nomella pelan.

Ia mencium kening Zeus, lalu perlahan ikut terlelap. Namun, mimpinya kali ini tidak lagi tentang strawberry atau nanas, melainkan tentang bayangan mobil yang terbakar dan suara tawa Zayn yang memudar, seolah-olah masa lalu tidak akan pernah membiarkan mereka bahagia terlalu lama tanpa menuntut bayaran yang mahal.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!