NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Meja Kantor

Cahaya lampu neon di ruang kerja itu masih menyala terang, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan malam. Arga menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang empuk, tapi rasa pegal di lehernya tidak berkurang sedikit pun. Di hadapannya, layar monitor masih menampilkan grafik pertumbuhan perusahaan yang membosankan.

Sebagai CEO di usianya yang baru menginjak awal tiga puluhan, banyak orang menganggap hidup Arga itu sempurna. Tapi bagi Arga, jabatan ini cuma tumpukan tanggung jawab yang nggak ada habisnya. Hidupnya adalah rutinitas: bangun pagi, kopi pahit, rapat berjam-jam, dan pulang saat jalanan Jakarta sudah mulai lengang.

"Pak Arga, berkas untuk audit besok sudah saya siapkan di meja depan," suara sekretarisnya, melalu intercom, memecah keheningan.

"Oke, makasih. Kamu pulang saja duluan," jawab Arga singkat.

Arga menghela napas panjang. Ia bangkit berdiri, berjalan ke arah jendela besar yang langsung menghadap kerlap-kerlip lampu kota. Pikirannya mendadak kosong. Teman-temannya sering bertanya kapan dia bakal "serius" mencari pasangan. Arga selalu menjawab dengan tawa kecil atau pengalihan isu soal proyek terbaru.

Bukannya dia nggak mau, tapi bagi Arga, cinta itu konsep yang terlalu abstrak. Dia melihat pernikahan orang-orang di sekitarnya seperti sebuah kontrak kerja—ada yang berhasil, banyak yang gagal karena kurangnya manajemen emosi. Dia nggak butuh drama. Dia cuma butuh seseorang yang bisa mengerti bahwa dunianya adalah tentang kerja keras dan komitmen.

Cinta pertama? Arga hampir lupa rasanya. Baginya, itu cuma memori masa remaja yang sudah kadaluarsa. Fokusnya sekarang cuma satu: memastikan perusahaan ini tetap berdiri tegak, tak peduli seberapa lelah pundaknya menahan beban itu sendirian.

Dia tidak tahu kalau di luar sana, di sudut kota yang berbeda, ada seorang perempuan bernama Nara yang sedang menatap langit yang sama, memendam luka yang belum sembuh, dan membawa harapan yang mungkin akan bersinggungan dengan dunianya yang kaku.

Arga merapikan jasnya, mematikan lampu kantor, dan melangkah keluar. Langkah kakinya menggema di lorong sepi. Dia siap pulang, tanpa menyadari kalau ketenangan hidupnya yang membosankan ini akan segera berakhir.

-----------

Arga melangkah pelan menuju lift, bunyi pantulan sepatunya di lantai marmer yang mengkilap terasa sangat nyaring di telinga. Di dalam kotak besi yang bergerak turun itu, ia melihat bayangannya sendiri pada dinding lift yang memantul seperti cermin. Wajahnya tampak kaku, guratan lelah terlihat jelas di bawah matanya.

Ia melirik jam tangannya. Pukul 21:15. Baginya, waktu adalah aset yang paling berharga, lebih dari sekadar angka di rekening bank.

"Pak Arga? Belum pulang?" sapa Pak Satrio, petugas keamanan yang berjaga di lobi utama.

Arga hanya mengangguk tipis sambil memberikan senyum formal. "Baru mau, Pak. Masih ramai di luar?"

"Sudah agak lengang, Pak. Tapi gerimis mulai turun, hati-hati di jalan," sahut Pak Satrio ramah.

Arga melangkah keluar gedung, disambut aroma tanah basah dan udara malam yang mulai mendingin. Benar kata Pak Satrio, rintik hujan mulai jatuh satu per satu di aspal. Ia segera masuk ke dalam mobil SUV hitamnya yang terparkir tepat di depan pintu lobi.

Di dalam mobil, Arga tidak langsung menyalakan mesin. Ia terdiam sejenak, membiarkan keheningan menyelimutinya. Tangannya mencengkeram kemudi, pikirannya kembali melayang ke tumpukan berkas di meja kantor tadi. Ada satu proyek besar yang sedang ia kejar—sebuah ekspansi karir yang sudah ia rencanakan sejak dua tahun lalu. Baginya, kesuksesan adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa dia mampu berdiri sendiri tanpa bayang-bayang nama besar keluarganya.

Ponselnya bergetar di dasbor. Sebuah pesan masuk dari ibunya.

“Arga, akhir pekan ini pulang ke rumah, ya? Ibu mau bicara penting. Jangan alasan sibuk terus.”

Arga mengembuskan napas berat. Ia tahu persis apa arti "bicara penting" bagi ibunya. Pasti soal perjodohan, atau setidaknya pertanyaan interogatif tentang siapa perempuan yang sedang dekat dengannya sekarang. Padahal, jangankan berkencan, waktu untuk tidur nyenyak saja sudah syukur.

"Pernikahan bukan prioritas sekarang," gumamnya pelan pada diri sendiri.

Ia menyalakan mesin mobil, deru halus mesin itu seolah memberi aba-aba untuk memulai perjalanan pulang yang monoton. Baginya, hidup adalah tentang tanggung jawab yang harus dituntaskan satu per satu. Ia belum tahu, bahwa di salah satu sudut jalanan yang akan ia lalui malam ini, takdir sedang menyiapkan pertemuan yang tidak masuk dalam jadwal kerja mana pun.

Arga memutar kemudi, meninggalkan gedung pencakar langit itu di belakangnya, membawa lelah dan keyakinan kaku tentang hidup yang sebentar lagi akan diuji oleh kehadiran seseorang yang sama sekali tidak ia duga.

-----------

Lampu lalu lintas berubah merah di perempatan tugu tani. Arga menginjak pedal rem, menghentikan mobilnya di barisan paling depan. Wiper mobil berayun ritmis, menyapu rintik hujan yang mulai menderas di kaca depan. Ia mengetukkan jari di kemudi, sedikit tidak sabar melihat angka di lampu lalu lintas yang masih menunjukkan hitungan mundur tiga puluh detik.

Di sebelah kirinya, sebuah kafe kecil dengan pencahayaan hangat tampak masih ramai. Matanya tak sengaja tertuju pada teras kafe itu. Di sana, seorang perempuan sedang berdiri kaku, mendekap sebuah tote bag kain di dadanya, mencoba berlindung dari tampias hujan di bawah kanopi yang sempit.

Perempuan itu—Nara—tampak sibuk menggeledah tasnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya berusaha menahan agar rambutnya tidak basah terkena angin malam. Ekspresinya tampak panik, mungkin menyadari kalau payungnya tertinggal atau menyadari kalau ojek online yang dipesannya tak kunjung datang karena cuaca buruk.

Arga hanya memperhatikannya datar. Adegan seperti ini biasa terjadi di Jakarta saat musim hujan. Tapi ada sesuatu yang menahan pandangannya sedikit lebih lama. Mungkin cara perempuan itu menghela napas panjang, sebuah gestur kelelahan yang sangat familiar bagi Arga. Atau mungkin sorot matanya yang, meski terlihat panik, menyimpan sejenis ketabahan yang aneh.

Nara mendongak, matanya menyapu jalanan yang basah, mencari taksi kosong. Dan untuk satu detik yang terasa lambat, pandangan mereka bertemu. Jarak antara kaca mobil Arga dan teras kafe itu tidak terlalu jauh. Nara tidak bisa melihat wajah Arga dengan jelas karena kaca film mobil yang gelap, tapi Arga bisa melihat jelas sepasang mata cokelat terang milik perempuan itu.

Hanya satu detik.

Lampu lalu lintas berubah hijau. Klakson mobil di belakang Arga berbunyi nyaring, memecah lamunan singkatnya. Arga segera mengalihkan pandangannya kembali ke jalan, menginjak pedal gas, dan melajukan mobilnya menjauh dari perempatan itu.

"Cuma orang asing yang terjebak hujan," gumam Arga pelan, mencoba menghapus bayangan mata cokelat itu dari benaknya.

Ia terus melaju, membelah malam yang basah, kembali fokus pada rencana kerjanya untuk besok pagi. Dia sama sekali tidak sadar bahwa satu detik di bawah rintik hujan itu adalah titik nol. Sebuah awal dari benih harapan yang, meski kelihatannya mustahil, akan mulai tumbuh pelan-pelan di tengah badai kehidupan yang kaku yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

Arga tiba di lobi apartemennya sepuluh menit kemudian. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, dia akan tidur sendirian, ditemani kesunyian yang dia anggap sebagai ketenangan. Namun, tanpa dia ketahui, hitungan mundur untuk perubahan besar dalam hidupnya baru saja dimulai.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!