NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Impian yang Terkubur

Pak Jitomo mendekat, matanya meneliti Siman, lalu beralih ke tumpukan puing. Ia menghela napas panjang, semacam kelegaan terpancar di wajahnya. "Syukurlah kamu selamat, Man. Itu… untung bukan hari Senin kemarin aku menyuruhmu untuk ke gudang ini." Dia bergidik pelan, membayangkan seandainya Siman terluka atau lebih buruk lagi. Dia melirik Ujang, Dedi, dan Siman secara bergantian.

"Kayaknya kita harus perbaiki tumpukan ini," Ujang berkomentar, suaranya sedikit gemetar. Dedi mengangguk setuju, melangkah untuk mengecek. Sebuah kejadian yang cukup membuat nyali mereka menciut.

"Ujang! Dedi! Tolong bereskan ini!" perintah Pak Jitomo, raut wajahnya kini kembali serius. "Man, kamu duduk saja dulu, minum air. Sepertinya kamu syok berat."

Siman mengangguk. Ia melangkah keluar gudang, menuju bangku tua di luar, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih memburu. Aroma kopi pahit dari warung seberang membangkitkan akal sehatnya yang hampir melayang. Tubuhnya lemas, butuh sandaran. Ia mencengkeram akiknya. Dinginnya akik itu terasa menenangkan.

Ia menyadari satu hal yang fundamental: akik ini bukan hanya sekadar membawa keberuntungan finansial atau pendidikan. Akik ini, atau setidaknya apa pun yang bersemayam di dalamnya, telah menyelamatkan nyawanya. Tapi, bagaimana bisa?

Siman teringat lagi ucapan nenek misterius itu. "Akik itu tahu pemilik sejatinya, dan dia akan menuntun pemiliknya. Bukan untuk jalan pintas, tapi sebagai penuntun untuk melewati badai dan terowongan takdir. Dia adalah pusaka yang akan membimbingmu pada perjalanan hidupmu, memberikan jawaban yang tak dapat kau temukan sendirian."

Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, semakin relevan, semakin menusuk. Akik itu tidak hanya memberikan 'hadiah', tapi juga peringatan. Atau mungkin, semacam pelindung. Sebuah perisai. Tapi, apa ini berarti ada harga yang harus ia bayar di kemudian hari? Apa keberuntungan ini datang dengan timbal balik yang suatu saat akan menimpanya?

Pertanyaan itu menciutkan nyalinya. Ia memang bersyukur selamat, tetapi pikiran tentang "harga" itu mulai menghantui. Akiknya berdenyut lagi, lebih lembut, lebih tenang. Seolah menepis keraguannya. Seolah memberinya kekuatan untuk tidak pernah mundur.

Ia menyadari ia tidak bisa sembarangan menggunakannya, tidak bisa sekadar 'menyerah' pada takdir atau mengharapkan kebetulan instan seperti menemukan koin di jalan. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Ada tanggung jawab. Ia harus menggunakan intuisi atau dorongan ini dengan lebih hati-hati, dengan lebih bijak.

"Terima kasih," Siman berbisik kepada akiknya, menatap benda di jari manisnya itu. Kali ini, tidak ada rasa skeptis, tidak ada keraguan. Hanya sebuah penerimaan akan realitas baru yang jauh lebih besar dan kompleks daripada yang ia kira.

Ia kembali menghirup udara. Kakinya kini bisa menapak bumi dengan lebih stabil. Pandangannya menerawang ke depan, melihat Pak Jitomo dan para kuli lain yang kini masih bergotong royong, mencoba mengembalikan sisa-sisa bangunan dan kawat-kawat ke tempatnya.

"Untung aku bukan pekerja. Atau, entah apa yang akan aku lakukan hari ini, Man." Ujang tersentak. Dia melihat Dedi yang juga terdiam di dekat tumpukan.

Siman bangkit, perasaan segar tiba-tiba menyelimuti tubuhnya. Ini bukan syok yang membuat lemas, tetapi adrenalin yang membersihkan hatinya, membersihkan sebagian rasa trauma yang sudah ada di dalam dadanya. Ia kembali menggenggam akiknya, menatap sekitarnya dengan sorot mata yang lebih waspada. Ini baru awal dari sesuatu. Dari sesuatu yang mungkin, lebih besar dari sekadar hidup dan mati.

"Aku… aku harus melakukan sesuatu yang lebih penting daripada ini," gumamnya pelan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat mendekat. Pak Jitomo sudah berdiri di samping Siman, menyodorkan sekaleng minuman soda dingin.

"Bos..." Siman hendak berbicara, tetapi Pak Jitomo menggelengkan kepalanya.

"Sudahlah, kamu tidak usah syok lagi. Tapi dengar, Siman. Setelah seminggu bekerja, ini... Ini aku lihat kamu cekatan juga, ya," Pak Jitomo berdeham pelan. "Dan kamu juga bisa diandalkan. Aku sampai berpikir, kalau aku harus mengangkatmu menjadi pekerja tetap di sini."

Jantung Siman berdetak lagi. Menjadi pekerja tetap di bengkel ini? Itu impian lamanya! Siman terpaku menatap wajah bosnya itu, tak tahu harus menjawab apa.

Pak Jitomo tersenyum kecil. "Bagaimana menurutmu, Siman?"

Siman merasakan detak jantungnya berdebar, suaranya terasa begitu riuh di telinganya. Tawaran itu… sungguh nyata? Pekerja tetap di Roda Sakti? Otaknya memutar cepat, menimbang-nimbang antara angan-angan yang pernah ia ukir bertahun-tahun lalu dengan kenyataan baru di hadapannya. Ia menelan ludah. Ini adalah impian yang terkubur, impian yang tidak pernah berani ia ungkapkan lagi setelah dihina habis-habisan oleh Dina.

“S-saya…” Siman gagap, jari-jarinya tanpa sadar meremas akik biru laut. Sebuah denyutan lembut kembali merambati kulitnya, menenangkan kegelisahannya, namun di saat yang sama juga seperti mendesak sebuah keputusan.

Pak Jitomo, dengan senyum tipis, menunggu jawabannya. Ruangan bengkel itu terasa sunyi untuk Siman, meskipun suara obrolan kuli dan deru mesin dari jauh masih samar-samar terdengar.

“Pak Bos,” sebuah suara lain yang berat namun terdengar akrab tiba-tiba menyela dari ambang pintu bengkel. “Mobil saya sudah siap belum? Ini sudah masuk waktu janji lho.”

Pak Jitomo menoleh. Matanya membulat. “Oh, Pak Hartoko! Astaga, maafkan saya, Pak. Saya sampai lupa janji kita. Mobilnya sudah bisa diambil, ini si Siman baru saja saya ajak bicara.”

Siman menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria paruh baya, rapi dengan kemeja batik yang meskipun sedikit berbau oli tapi tetap terkesan mewah, berdiri dengan senyum ramah. Siman sering melihat pria ini; ia adalah pelanggan setia Pak Jitomo, yang dikenal karena sering merenovasi mobil mewahnya. Pak Hartoko punya sebuah usaha fotokopi yang cukup besar di tengah kota.

“Bapak saya tunggu sudah hampir sejam lho, Bos Jitomo,” keluh Pak Hartoko sambil tersenyum kecil. Ia lalu mengalihkan tatapannya ke Siman. Alisnya terangkat.

“I-iya, maaf, Pak. Ada insiden kecil tadi,” Pak Jitomo sedikit kikuk, namun dengan cepat menjelaskan. “Ini si Siman barusan nyaris tertimpa reruntuhan besi di gudang belakang, tapi entah bagaimana dia bisa lolos gitu aja. Makanya saya masih syok.”

Mata Pak Hartoko menyipit, mengamati Siman dengan seksama, dari ujung kepala hingga kaki yang masih kotor bekas oli dan debu. Ekspresinya tak terbaca, seolah dia mencoba menangkap sesuatu dari ekspresi tegang Siman. Siman merasakan akik di jarinya kembali berdenyut, agak cepat, seperti memberinya kode untuk tetap tenang. Sebuah ingatan aneh muncul; boneka pink kecil itu. Hampir saja.

“Begitu ya, Nuan?” tanya Pak Hartoko, beralih pada montir lain. “Benar begitu? Hampir kena dia?”

“Benar, Pak. Kami saja yang ada di sana kaget sekali. Sudah hampir kenalah, dia itu tiba-tiba saja melompat kayak orang kesurupan!” jawab Nuan, masih tampak terheran-heran.

Siman merasa malu mendengar cerita itu, terlebih di hadapan orang ‘penting’ seperti Pak Hartoko. Namun, ia tidak menyangka respon Pak Hartoko. Pria paruh baya itu justru mengangguk-angguk kecil, bibirnya membentuk sebuah senyum misterius.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!