NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Suara raungan mesin dua tak membelah kesunyian pulau tropis itu. Burung-burung berhamburan dari dahan pohon saat dua siluet hitam melesat cepat menembus rimbunnya hutan pinus yang mengarah ke tebing utara.

Anya memacu motor trail KTM barunya dengan liar. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang pas di badannya, celana jeans robek-robek, dan helm full-face dengan visor terbuka separuh agar angin bisa menerpa wajahnya. Adrenalin memompa deras di nadinya. Ia merasa hidup, sangat hidup, membelah jalur tanah bergelombang dengan kecepatan yang membuat perutnya seperti tertinggal di belakang.

Tepat di sebelah kanannya, Kaelan mengendarai motor trail Husqvarna yang ukurannya sedikit lebih besar. Sang Ketua Mafia terlihat sangat menyatu dengan mesin buas itu. Sikap tubuhnya tenang, namun setiap tarikan gasnya begitu presisi dan mematikan. Ia mengenakan kaus hitam ketat yang mencetak otot-ototnya, kacamata goggle, dan bandana hitam yang menutupi separuh wajah bawahnya dari debu.

"Awas akar pohon di depan!" teriak Kaelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin.

Anya mendengus di balik helmnya. "Jangan meremehkanku, Bos Es!"

Dengan lincah, Anya menarik tuas kopling, memindahkan gigi, dan sedikit mengangkat roda depannya (wheelie kecil) untuk melewati akar pohon raksasa yang melintang di jalur. Pendaratannya mulus, membuat debu cokelat mengepul ke udara.

Kaelan yang melihat aksi itu dari sudut matanya, tersenyum tipis di balik bandananya. Gadis liar, batin Kaelan. Preman pasar itu benar-benar memiliki insting bertahan hidup dan refleks yang luar biasa. Tidak heran ia bisa melumpuhkan dua pembunuh bayaran tempo hari.

Jalur hutan mulai menyempit dan menanjak tajam menuju puncak tebing. Ini adalah bagian tersulit. Tanah berbatu kerikil lepas membuat ban motor mudah tergelincir jika salah perhitungan.

"Yang sampai di puncak tebing duluan, dia yang menang!" tantang Anya, menoleh sekilas ke arah Kaelan dengan tatapan tengilnya yang tak tertutup oleh kacamata goggle.

"Apa taruhannya?" sahut Kaelan, memacu motornya hingga sejajar dengan Anya.

"Kalau aku menang, kau harus membersihkan motor ini sampai mengkilap!" seru Anya. "Kalau kau yang menang... terserah kau minta apa!"

Kaelan menaikkan alisnya. Terserah minta apa? Kesalahan fatal, Anya. "Setuju," jawab Kaelan singkat, namun matanya berkilat berbahaya.

Mereka berdua memacu motor menaiki tanjakan curam. Mesin meraung memekakkan telinga. Anya sedikit kesulitan mengendalikan keseimbangan karena kerikil yang terus berhamburan dari bawah bannya. Kaelan, dengan pengalamannya, melaju lebih mulus dan mulai mendahului Anya sejauh dua meter.

Anya menggigit bibirnya, menatap punggung lebar Kaelan yang menjauh. Sialan, dia curang! Pasti mesin motornya lebih besar! rutuk Anya dalam hati. Ia menambah tarikan gas, memaksa motornya untuk mengejar, tapi tanjakan berbatu ini benar-benar menguras tenaganya.

Kaelan melirik ke spion kecil di setangnya. Ia melihat Anya mulai tertinggal, tubuh gadis itu menegang menahan laju motor agar tidak tergelincir ke belakang.

Di titik ini, Kaelan sadar ia bisa memenangkan balapan ini dengan mata tertutup. Ia bisa sampai di puncak dalam hitungan detik, menagih janji 'terserah', dan mungkin meminta sebuah ciuman sebagai bayarannya—sebuah pikiran yang tiba-tiba membuat darah Kaelan berdesir panas.

Namun, saat Kaelan melihat pantulan mata cokelat Anya di spion yang memancarkan tekad keras kepala dan semangat pantang menyerah... hati sang mafia yang beku itu mendadak melunak.

Ia ingat bagaimana Anya tersenyum sangat lebar saat melihat motor ini di garasi. Ia ingat bagaimana Anya memeluknya dengan erat. Kaelan tahu betapa berartinya kebebasan dan 'kemenangan' kecil bagi gadis yang selama ini hidupnya selalu diinjak-injak oleh lintah darat dan kemiskinan.

Kaelan menghela napas pelan. Dasar lemah, rutuk Kaelan pada dirinya sendiri.

Tanpa kentara, Kaelan perlahan mengurangi tarikan gasnya. Ia menggeser berat tubuhnya sedikit ke kiri, membuat ban belakangnya seolah kehilangan traksi selama sepersekian detik. Motor Husqvarna itu sedikit oleng, memaksanya untuk menurunkan kecepatan secara drastis untuk menstabilkan diri.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Anya.

Melihat celah, Anya langsung memacu motornya ke sisi kanan Kaelan yang terbuka. "Makan debuku, Tuan Mafia!" teriak Anya girang.

Motor KTM hitam itu melesat melewati Kaelan, menembus sisa tanjakan terakhir, dan akhirnya melompat kecil ke atas tanah datar di puncak tebing.

Kaelan menyusul beberapa detik kemudian, mematikan mesin motornya, dan membuka bandana serta kacamatanya. Ia menatap Anya yang kini sedang berdiri di tepi tebing, melepas helmnya, dan merentangkan kedua tangannya ke arah hamparan samudra biru yang luas tak bertepi. Angin laut yang kencang meniup rambut wolf-cut-nya.

Gadis itu tertawa sangat keras, tawa kemenangan yang murni dan tanpa beban. Wajahnya yang memerah karena panas matahari terlihat begitu bersinar, jauh lebih cantik dari wanita mana pun yang pernah Kaelan kenal.

"Aku menang! Aku menang!" seru Anya, berbalik menatap Kaelan sambil menunjuk wajah pria itu. "Kau lihat itu, kan?! Kau kalah dari preman pasar! Bersiaplah membersihkan motor!"

Kaelan turun dari motornya, berjalan perlahan menghampiri Anya. Wajahnya tetap datar, menyembunyikan fakta bahwa ia sengaja mengalah.

"Jalur tadi penuh kerikil. Ban belakangku sedikit selip," alibi Kaelan dengan nada tenang, berdiri di sebelah Anya.

Anya menyipitkan matanya, berkacak pinggang, menatap Kaelan dengan penuh selidik. "Oh, benarkah? Selip? Bos klan mafia yang punya sepuluh mobil mewah dan pulau pribadi... selip di tanjakan kerikil?"

Anya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu boots mereka bersentuhan. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata hitam legam Kaelan yang tajam.

"Kau sengaja mengalah, kan?" tembak Anya tepat sasaran, senyum tengilnya mengembang sempurna. "Kau memperlambat motormu saat aku hampir menyusul. Aku lihat dari spionku."

Kaelan terdiam. Sial, mata gadis ini terlalu tajam.

"Tidak," sangkal Kaelan dingin, mengalihkan pandangannya ke arah laut. "Aku tidak pernah mengalah pada siapa pun."

Anya tertawa pelan, suara tawa yang anehnya terdengar sangat merdu di telinga Kaelan. Tanpa diduga, gadis tomboy itu berjinjit, lalu...

Cup.

Sebuah kecupan singkat mendarat di rahang keras Kaelan yang sedikit berkeringat.

Tubuh Kaelan membeku seketika. Jantungnya, yang sedari tadi berdetak normal meski habis membalap di jalur ekstrem, kini berdegup liar seolah baru saja ditembak dengan bazoka dari jarak dekat. Ia menoleh perlahan ke arah Anya, matanya membelalak tak percaya.

Bos mafia yang biasa membantai musuh tanpa berkedip itu... kini mati kutu hanya karena kecupan seringan bulu di rahangnya.

Anya, yang wajahnya kini semerah kepiting rebus karena keberaniannya sendiri, langsung mundur selangkah dan membuang muka ke arah laut, berpura-pura membersihkan debu di jaketnya.

"I-itu... itu hadiah hiburan untuk yang kalah," ucap Anya dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha mati-matian mempertahankan nada tengilnya. "Jangan kegeeran. Dan kau tetap harus menyikat motorku nanti."

Kaelan menatap telinga Anya yang memerah. Sebuah seringai tipis, sangat tipis namun sarat akan kepuasan yang mendalam, perlahan terukir di bibir sang mafia. Ia mungkin kehilangan balapan hari ini dan kehilangan harga diri.

Tapi, menatap gadis tomboy yang kini salah tingkah di sebelahnya, Kaelan tahu... ia baru saja memenangkan hadiah yang jauh lebih berharga dari apa pun di dunia ini.

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!