Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Harga Sebuah Kedamaian
Aku perlahan melepaskan pelukan Ratri, duduk tegak di atas pasir putih yang masih terasa hangat. Tubuhku terasa ringan, segar. Aku menyentuh bahu kananku—kulitnya mulus, seolah luka menganga dan tulang yang kulihat tadi hanyalah mimpi buruk.
"Ratri," ucapku, suaraku sudah kembali jelas. "Gimana... gimana kita bisa sampai di sini? Ini pulau yang kita tuju, kan?"
Ratri mengangguk, matanya yang emas masih basah. "Aku... aku terbang membawamu dan Eveline. Begitu sampai di pelabuhan, aku merasa ada yang tidak beres melalui Echo Stone. Aku langsung kembali dan menemukanmu sudah pucat, hampir tidak bernapas." Suaranya bergetar mengenangnya. "Aku bawa kalian terbang ke sini secepat mungkin. Aku pikir... aku pikir udara segar dan kedamaian pulau ini mungkin bisa..."
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Lalu, ekspresinya berubah bingung.
"Tapi, lukumu..." lanjutnya, menatap bahuku yang sudah sembuh. "Saat kita mendarat, lukamu masih parah. Tiba-tiba... ada cahaya putih yang sangat terang, tapi lembut, memancar dari lukamu. Aku tidak tahu dari mana asalnya. Itu bukan sihirku, bukan pula sihir penyembuh mana pun yang kukenal. Cahaya itu menyelimuti lukamu, dan dalam sekejap... lukamu tertutup. Sembuh total."
Dia menggeleng-gelangkan kepala, masih tak percaya. "Aku bahkan tidak sempat menggunakan ramuan herbal yang kubeli."
Aku terdiam, memproses penjelasannya. Cahaya putih yang menyembuhkan. Penglihatanku yang "berbicara" dengan Sang Maha Kuasa. Semuanya terhubung.
"Ratri," ucapku pelan, menatap laut biru di depan. "Aku pikir... aku tahu sumber cahaya itu."
Dia menatapku penuh tanya.
"Aku... 'berbicara' dengan sesuatu. Sesuatu yang Maha Kuasa. Dia bilang, kekuatanku ini adalah amanah. Dan mungkin... Dia menyembuhkanku karena... misiku di sini belum selesai." Aku tidak menjelaskan lebih detail. Itu terlalu personal.
Lalu, teringat sesuatu. "Obat yang kau beli... mana?"
Ratri mengeluarkan sebuah kantong kulit kecil dari sakunya. "Ini. Ramuan penahan darah dan daun Golden Moss yang bisa mencegah infeksi."
Aku menerimanya. Meski lukaku sudah sembuh, siapa tahu ini berguna di masa depan. "Simpan saja untuk persediaan. Siapa tahu nanti butuh. Lebih baik siap sedia."
Aku berdiri, menatap pulau di sekelilingku. Pantai berpasir putih, hutan hijau yang rimbun di belakang, dan gunung rendah di kejauhan. Tempat yang sempurna untuk memulai baru.
"Jadi, ini rumah kita sekarang," gumamku. Pengalaman mendekati kematian dan "percakapan" dengan Yang Maha Kuasa itu mengubah sudut pandangku. Rasa putus asa untuk pulang masih ada, tapi sekarang diimbangi dengan rasa penasaran. Amanah untuk memulihkan? Apa artinya?
Aku menatap Ratri dan Eveline. "Kita bangun kehidupan di sini. Tapi kali ini, tidak dengan melarikan diri. Tapi dengan... memahami." Aku tersenyum kecil pada Ratri. "Dan terima kasih. Kau menyelamatkanku, dengan membawaku ke sini."
Meski penyembuhan ajaibnya bukan berasal dari dia, usahanya yang membawaku ke tempat aman inilah yang memberiku kesempatan untuk mengalami penyembuhan itu.
Hidup di dunia fantasi ini mungkin memang takdirku untuk sementara. Dan sekarang, saatnya menjalaninya dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai korban atau buronan, tapi sebagai... seseorang yang sedang belajar memegang amanah, seberat apa pun itu.
Setelah beristirahat sejenak di pantai dan memastikan kondisiku benar-benar pulih, kami memutuskan untuk menjelajahi bagian dalam pulau. Kami menyusuri garis pantai, menemukan sungai kecil dengan air jernih yang mengalir dari arah bukit, lalu mengikuti alirannya masuk ke dalam hutan.
Perjalanan melalui hutan ini sungguh menakjubkan. Pepohonan tinggi dengan daun-daun lebar yang belum pernah kulihat, dihiasi oleh bunga-bunga berwarna cerah dan suara kicauan burung asing. Udara terasa bersih dan segar, sangat kontras dengan udara dingin dan suram di Frostwind Expanse. Setelah berjalan sekitar satu jam, kami tiba di sebuah pemandangan yang membuatku terpana.
Sebuah padang rumput luas membentang di hadapan kami, dikelilingi oleh perbukitan rendah dan diapit oleh hutan di kedua sisinya. Rumputnya hijau dan lembut, dihiasi bunga-bunga liar berwarna ungu dan kuning. Sebuah belokan sungai kecil mengalir melintasi padang rumput itu, memantulkan cahaya matahari yang keemasan. Di ujung jauh, terlihat air terjun kecil yang jatuh dari tebing, mengalir ke sungai. Tempat ini terasa... sempurna. Terlindung, dekat dengan sumber air, tanahnya tampak subur, dan pemandangannya menakjubkan.
"Ini dia," gumamku, hati dipenuhi oleh sebuah kepastian. "Tempat yang tepat untuk membangun rumah."
Bayangan sebuah rumah kayu sederhana dengan kebun kecil sudah mulai terbentuk di kepalaku. Tempat di mana kami bisa hidup tenang, jauh dari kejaran dan kekacauan. Aku bahkan sudah membayangkan di mana meletakkan rumah, di mana membuat kebun sayur, dan di mana kandang jika suatu saat kami memelihara hewan.
Namun, antusiasme itu segera memudar ketika realitas menghantamku. Aku menatap sekeliling padang rumput yang masih perawan itu. Lalu, aku melihat kedua tanganku yang kosong.
Aku tidak memiliki alat apa pun.
Membangun rumah, bahkan yang paling sederhana sekalipun, membutuhkan perkakas. Kapak untuk menebang pohon. Gergaji untuk memotong kayu. Palu dan paku untuk menyambung. Pahat untuk meraut. Aku bahkan tidak memiliki sekop untuk menggali fondasi.
"Bodohnya aku," gerutuku dalam hati. Aku begitu fokus pada pelarian dan mencari tempat yang aman, sampai lupa pada kebutuhan paling dasar untuk memulai hidup baru. Uang yang diberikan Paman Alaric sudah hampir habis untuk membeli rumah di Frostwind yang akhirnya ditinggalkan. Kini, kami hanya memiliki sedikit koin yang tersisa dan obat-obatan yang tidak terpakai.
Aku terduduk di atas rumput, merasa sangat kewalahan. Rencana yang tadinya terasa begitu jelas, tiba-tiba berubah menjadi mimpi yang mustahil. Bagaimana bisa membangun rumah tanpa alat? Memakai tangan kosong?
Ratri, yang sedang mengamati bunga liar di dekat sungai, menoleh padaku. Dia mendekat, wajahnya menunjukkan keheranan.
"Rian? Ada apa? Kau terlihat... hilang arah."
Aku menghela napas panjang, merasa sedikit malu mengakui kelalaianku. "Aku... aku baru menyadari sesuatu yang penting, Ratri. Kita tidak bisa membangun rumah di sini."
"Kenapa tidak? Tempat ini sangat indah dan cocok."
"Karena kita tidak punya alat," jawabku, suara datar penuh kekecewaan. "Untuk membangun rumah, kita butuh kapak, gergaji, palu, paku... perkakas tukang kayu. Aku tidak memikirkan ini sebelumnya. Kita lari begitu cepat dari Frostwind, sampai-sampai aku lupa bahwa membangun dari nol membutuhkan... ya, alat untuk memulainya."
Aku menatap tanah di depanku. "Kita tidak bisa menebang pohon dengan tangan kosong. Kita tidak bisa memotong kayu menjadi balok tanpa gergaji. Bahkan untuk membuat pondasi yang sederhana, kita butuh sekop." Rasa frustrasi mulai menggelegak. "Ini semua kesalahanku. Aku tidak merencanakannya dengan matang."
Ratri mendengarkan dengan saksama, lalu wajahnya sedikit berkerut. "Oh. Aku mengerti." Dia diam sejenak, seolah memproses masalah yang baginya mungkin sepele, tapi bagiku sangat fundamental.
Lalu, dia mengajukan solusi yang, bagiku, mulai terdengar familier. "Aku bisa kembali ke Pelabuhan Frostwind. Membeli perkakas yang kau butuhkan. Aku akan cepat."
Dia sudah bersiap untuk melompat dan terbang, tapi aku segera mengangkat tangan. "Tunggu."
Aku memandangnya. Idenya masuk akal. Tapi, kekhawatiran lain muncul. "Berbahaya, Ratri. Tentara Kekaisaran masih ada di sana. Mereka pasti masih mencari kita. Wajahku mungkin sudah mereka ketahui, dan jika mereka memiliki cara untuk mendeteksi aura kita..." Aku tidak ingin dia mengambil risiko untukku lagi.
"Tapi, kita butuh alat-alat itu, Rian," bantahnya dengan logika yang sederhana. "Tanpa itu, kita tidak bisa membangun rumah. Kita akan terus tidur di bawah langit terbuka. Dan aku... aku bisa menyamar. Aku akan berhati-hati. Aku hanya akan membeli yang diperlukan dan langsung pergi."
Dia memiliki tekad di matanya. Dia ingin membantu. Dia ingin kami memiliki rumah.
Aku memandangi padang rumput yang indah ini, lalu pada wajah Ratri yang penuh keyakinan, dan akhirnya pada Eveline yang berdiri tenang, siap menerima apa pun keputusanku.
Akhirnya, aku menghela napas. "Baik," kukatakan, meski hatiku masih was-was. "Tapi, dengarkan baik-baik syaratnya."
Aku berdiri, menatapnya langsung. "Pertama, kau harus tetap dalam wujud remaja. Jangan menarik perhatian. Kedua, gunakan uang yang tersisa dengan bijak. Beli hanya yang paling penting: sebuah kapak yang bagus, gergaji, palu, dan paku. Jika ada uang sisa, mungkin sekop dan pahat. Prioritas pada perkakas kayu. Ketiga," tekanku, "jangan gunakan kekuatanmu. Jangan mempengaruhi pikiran orang, jangan terbang di area ramai, dan jangan, under any circumstances, terlibat masalah dengan siapa pun. Jika kau merasa ada yang mencurigakan, tinggalkan segalanya dan langsung kembali ke sini. Apakah kamu mengerti?"
Ratri mengangguk, wajahnya serius. "Aku mengerti. Aku akan berhati-hati."
"Dan yang terakhir," tambahku, menyentuh kalung Echo Stone di leherku. "Jika ada bahaya, panggil aku. Kami akan siap di sini."
Dia tersenyum, sebuah senyum kecil yang penuh keyakinan. "Aku akan segera kembali."
Kali ini, dia tidak langsung terbang. Dia berbalik dan berjalan masuk ke hutan, akan berjalan kaki seperti orang biasa menuju pantai, baru dari sana mungkin akan menggunakan kekuatannya untuk mempercepat perjalanan laut.
Aku dan Eveline terdiam, menyaksikan sosoknya menghilang di antara pepohonan. Sekali lagi, kami menunggu. Tapi kali ini, di tempat yang penuh harapan, dengan sebuah rencana yang—meski berisiko—memberikan kami cahaya untuk masa depan. Aku duduk kembali di rumput, memandangi tempat di mana rumah kami nanti akan berdiri, berdoa dalam hati agar Ratri kembali dengan selamat dan membawa serta awal dari kehidupan baru kami.
Matahari sudah mulai condong ke barat, membayangkan panjang di padang rumput yang masih perawan itu. Aku dan Eveline menunggu dalam kesunyian yang tegang. Setiap desau daun atau kicauan burung membuatku menengok, berharap itu adalah Ratri yang kembali. Kekhawatiran itu nyata—bagaimana jika dia tertangkap? Bagaimana jika kekuatan dewinya terdeteksi?
Lalu, akhirnya, sebuah bayangan melintas cepat di atas kami. Aku mendongak, dan melihat sosok ramping Ratri dalam wujud remajanya turun dengan anggun, seperti daun yang dihembus angin. Dia mendarat dengan lembut di rumput, beberapa meter dariku, wajahnya sedikit memerah karena usaha.
Dia tidak langsung terbang ke tengah-tengah kami, dan aku menghargai itu. Di tempat yang sepi begini pun, siapa tahu ada mata-mata yang tak terlihat. Kehati-hatian adalah kunci.
"Maaf terlambat," ucap Ratri, napasnya sedikit tersengal. Di tangannya, ada sebuah karung kain kasar yang terlihat berat.
Aku tidak marah. Justru, rasa lega yang besar mengaliri diriku. Dia kembali dengan selamat. Itu yang utama.
"Gak apa-apa. Yang penting kau balik dengan selamat," jawabku, bangkit dan mendekat. "Loe terbang dari arah laut?"
Dia mengangguk. "Ya. Aku hindari area pemukiman. Langsung ke toko tukang kayu di pinggir pelabuhan, lalu pergi."
Dia membuka karung itu, dan mataku berbinar. Isinya persis seperti yang kuminta. Sebuah kapak bermata besi dengan gagang kayu yang kokoh. Sebuah gergaji dengan gigi-gigi yang tajam. Sebuah palu besar yang berat. Beberapa paku dalam kantong kecil. Dan bahkan ada pahat dan pengukur kayu. Semuanya berkualitas sederhana, tapi terlihat kuat dan siap pakai.
"Ini... semuanya," ucapku, hampir tidak percaya. Aku mengambil kapak itu, merasakan keseimbangannya yang sempurna di tanganku. Alat-alat ini adalah kunci. Kunci untuk membangun rumah, untuk memulai kehidupan.
"Ada yang aneh, Rian," bisik Ratri, suaranya tiba-tiba rendah dan serius. Ekspresi cerahnya memudar, digantikan oleh kekhawatiran. "Kota itu... seperti sarang semut yang diganggu. Seragam Kekaisaran ada di mana-mana. Bahkan pasukan Kadipaten Lindenroth—pasukan Paman Alaric—tampak berjaga ketat, wajah mereka tegang."
Dia menatapku. "Mereka masih mencari mu. Dan kali ini... lebih gencar."
"Oleh kedua belah pihak?" tanyaku, mencoba memahami politik rumit ini.
"Terutama Kekaisaran," jelas Ratri. "Mereka telah mengeluarkan maklumat resmi. Tertulis di papan pengumuman di pusat kota."
Dia berhenti sejenak, seolah memastikan ingatannya. "Isinya... 'Hadiah. Untuk siapapun yang bisa menangkap Rian, yang dikenal sebagai Pembangkit Terlarang, dan menyerahkannya—dalam keadaan hidup atau mati—kepada Kekaisaran Aethelgard.'"
Aku mendengarkan, jantung berdetak sedikit lebih kencang.
"Hadiahnya..." Ratri melanjutkan, matanya yang emas menatapku dalam-dalam, "...adalah gelar Bangsawan Tinggi dengan tanah seluas satu county, 100,000 koin emas, dan jaminan tiga permintaan apa pun yang tidak melanggar hukum langsung dari Kaisar sendiri."
Udara seakan tersedot dari paru-paruku. Itu bukan hadiah. Itu adalah kekayaan yang mengubah hidup. Sebuah imbalan yang begitu fantastis, begitu gila, sehingga hampir setiap orang di kekaisaran—dari petani sampai bangsawan—akan tergoda untuk memburuku. Satu county? Itu setara dengan kabupaten kecil! 100,000 koin emas? Itu cukup untuk menghidupi keturunan sampai tujuh generasi. Dan tiga permintaan dari Kaisar? Itu adalah kekuatan politik yang hampir tak terbatas.
Untuk beberapa detik, aku hanya bisa terdiam. Bayangan itu menghantuiku. Setiap orang asing yang kulihat, setiap bisikan di pasar, setiap tatapan sekilas—bisa jadi adalah calon pemburu yang mengincar kepalaku. Aku bukan lagi sekadar buronan. Aku adalah tiket lotere hidup yang berjalan.
Lalu, sebuah helaan napas panjang keluar dari dadaku. Dalam, dan penuh dengan kelelahan yang begitu mendasar.
"Ah... sudahlah."
Hanya itu yang bisa kukatakan. Tidak ada amarah, tidak ada teriakan, tidak ada kepanikan. Hanya... penerimaan yang getir terhadap kenyataan yang semakin gila. Dunia ini benar-benar tidak akan membiarkanku hidup damai.
Ratri memandangiku, mungkin mengharapkan reaksi yang lebih dramatis. "Rian? Kau... baik-baik saja?"
Aku mengangguk, memutar-mutar gagang kapak di tanganku. "Ya. Cuma... capek aja, rasanya. Dikejar-kejar terus kayak binatang buruan, harganya terus naik." Aku mencoba bercanda, tapi nada suaraku datar.
Tawaran yang begitu besar itu bukan hanya ancaman. Itu adalah pengakuan. Pengakuan bahwa Kekaisaran benar-benar takut padaku. Atau mungkin, mereka sangat menginginkanku. "Hidup atau mati" — artinya, mereka lebih memilihku hidup untuk dieksploitasi, tapi jika tidak bisa, mayatku pun masih sangat berharga.
Aku menatap alat-alat di tanah. Mimpi tentang rumah kayu sederhana, kehidupan tenang di pulau ini, tiba-tiba terasa sangat naif. Tapi...
"Kita tetap akan membangun rumah ini," ucapku tiba-tiba, suaraku lebih tegas dari yang kukira.
Ratri dan Eveline menatapku.
"Mereka bisa menawarkan seluruh kekaisaran sebagai hadiah," kataku, menatap padang rumput yang damai. "Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa kita butuh tempat tinggal. Kita butuh tempat untuk berlindung, untuk beristirahat, untuk merencanakan langkah selanjutnya."
Aku memungut palu. Berat, tapi terasa mantap di genggamanku.
"Jadi, mari kita mulai. Sebelum pemburu pertama menemukan kita di pulau ini."
Kenyataan mungkin telah berubah menjadi lebih berbahaya, tapi tekadku untuk bertahan hidup tidak. Jika dunia ini ingin menjadikanku buruan, maka aku akan membangun benteng pertahananku sendiri. Dan semua itu dimulai dengan satu ayunan kapak pertama.