Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Andin terdiam beberapa detik setelah ucapan Nathan. Ia menatap pria itu sejenak, seolah mencoba memahami maksud di balik kata-katanya.
“Kamu bisa gak sih, sekali saja nurut?” tandas Nathan lagi. “Kalau dia bangun dan cari kamu… gimana?”
Andin menghela napas pelan. “Darrel anak yang pintar,” jawabnya tenang. “Dia pasti mengerti.”
Nathan menatapnya semakin tajam.
“Kamu selalu seperti ini ya,” gumamnya.
Andin mengerutkan dahi. “Seperti apa?”
“Seolah semuanya bisa kamu tangani sendiri.”
Kalimat itu membuat Andin terdiam sesaat. Lalu perlahan ia tersenyum tipis, senyum yang terasa pahit.
“Memang harus begitu, kan?” jawabnya lirih.
Nathan tidak langsung mengerti dan Andin melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
“Karena dari dulu… memang cuma aku yang harus mengurus semuanya sendiri.”
Deg.
Nathan langsung terdiam. Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan, tapi entah kenapa rasanya jauh lebih menampar.
Andin tidak menatapnya lagi. Ia hanya merapikan tas kecil yang sejak tadi ada di tangannya.
“Lagian,” lanjut Andin pelan, “aku bukan siapa-siapa di rumah sakit ini.”
Nathan mengepalkan tangannya. “Jadi kamu pikir aku menyuruhmu tinggal di sini karena kasihan?” tanyanya tiba-tiba.
Andin akhirnya menatapnya lagi. “Bukannya begitu?”
Nathan terdiam. Untuk beberapa detik, ia tidak bisa menjawab, tatapan mereka saling bertemu dalam keheningan yang aneh.
Andin akhirnya memecah suasana. “Aku harus pergi,” ucapnya lembut.
Namun sebelum ia sempat melangkah, Nathan kembali bersuara. “Din.”
Langkah Andin berhenti.
Nathan menatap punggung perempuan itu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan.
“Kalau… kalau nanti Darrel benar-benar mencarimu…” Ia berhenti sebentar. “…kamu datang lagi, kan?”
Andin tidak langsung menjawab. Beberapa detik hanya berdiri diam, lalu perlahan ia menoleh sedikit.
“Aku datang bukan karena kamu,” ucapnya tenang.
Nathan tidak bersuara lagi.
“Kalau aku datang nanti… itu karena Darrel.”
Setelah mengatakan itu, Andin akhirnya melangkah keluar dari kamar rawat.
Nathan hanya bisa berdiri di tempatnya. Menatap pintu yang perlahan tertutup. Entah kenapa ia merasa seperti orang yang benar-benar kehilangan sesuatu yang dulu pernah sangat berharga dalam hidupnya.
Andin menutup pintu dengan pelan, perempuan dewasa itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit, yang masih disinari oleh lampu temaram yang bercampur dengan semburat pagi yang masuk dari jendela-jendela di sepanjang kamar.
Andin terus berjalan sambil menggenggam tas kecilnya, di dalam hatinya masih terasa aneh setelah percakapannya bersama Nathan barusan.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan suara dari ujung menghentikan langkahnya.
"Wah pagi-pagi sekali baru keluar dari kamar cucuku?"
Deg.
Andin mengangkat kepalanya, dan ternyata di ujung lorong, Vivian berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapan wanita itu dingin, bahkan senyum tipis di bibirnya terasa lebih seperti sindiran.
Andin menarik napas pelan sebelum akhirnya berdiri tegak. “Selamat pagi, Bu.”
Vivian melangkah mendekat perlahan. Sepatu haknya berbunyi pelan di lantai keramik yang sunyi. Matanya meneliti Andin dari ujung kepala hingga kaki.
“Hm…,” gumamnya.
"Hebat ya ... belasan tahun menghilang, sekarang muncul lagi dan langsung masuk ke ruang anakku." Nada suaranya terdengar santai, tapi setiap katanya seperti jarum yang menusuk.
Andin tidak langsung menjawab, perempuan itu tersenyum tipis seolah sudah tahu cara menghadapi wanita paruh baya itu.
Vivian berhenti tepat di depannya.
“Boleh juga caramu,” lanjut wanita itu sambil tersenyum tipis. “Memanfaatkan cucuku untuk masuk lagi ke kehidupan Nathan.”
Andin mengangkat wajahnya perlahan, kali ini ia benar-benar tidak takut, dan tetap menegakkan pandangannya tanpa berkedip sedetik pun.
“Saya tidak memanfaatkan siapa pun, Bu," sahutnya tenang.
Vivian tertawa kecil, tawa yang sama sekali tidak terdengar hangat.
“Tidak?” Wanita itu sedikit mendekat. “Lalu apa yang kamu lakukan di kamar sampai subuh begini?”
Andin menahan napas sebentar sebelum menjawab dengan santai. “Menemani Darrel.”
Vivian langsung menyipitkan mata. “Kamu pikir aku bodoh?”
Andin tetap berdiri di tempatnya. “Tidak, Bu.”
“Bagus kalau begitu.” Vivian menegakkan tubuhnya lagi. “Karena aku sangat tahu perempuan seperti kamu.”
Kalimat itu membuat udara di lorong terasa semakin dingin. Sakit itu pasti namun Andin tidak lagi mundur, ia masih tetap ada dihadapan Vivian dengan bahu yang tegap.
“Saya juga sudah sangat tahu bagaimana Ibu,” balasnya pelan.
Vivian langsung menatapnya tajam.
Andin melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. “Dulu saya pergi bukan karena saya bersalah.”
Kalimat itu membuat rahang Vivian sedikit mengeras, dengan tatapan yang sinis.
“Tapi karena saya sadar… melawan orang yang punya kuasa seperti Ibu tidak akan pernah ada gunanya.”
Beberapa detik mereka saling menatap tanpa suara. Lalu Vivian tiba-tiba tersenyum lagi, kali ini lebih tipis.
“Kalau kamu sudah sadar… harusnya kamu tidak kembali lagi.”
Andin mengangkat dagunya sedikit. “Saya tidak kembali untuk masa lalu.”
Vivian mengangkat alisnya. “Lalu untuk apa?”
Andin menjawab tanpa ragu. “Untuk Darrel.”
Jawaban itu membuat Vivian terdiam sejenak, darahnya berdesir, seolah ingin mengajarkan pada perempuan di hadapannya itu tentang arti kata 'tahu diri'
“Kalau begitu dengarkan baik-baik,” ucapnya perlahan. “Jangan pernah berpikir kamu bisa masuk lagi ke keluarga ini.”
Ia mendekat sedikit lagi, suaranya berubah lebih rendah, tapi menyakitkan. “Karena selama aku masih hidup… itu tidak akan pernah terjadi.”
Andin tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Vivian beberapa detik, lalu berkata dengan suara yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
“Saya tidak ingin masuk ke keluarga ini, Bu.”
Vivian mengerutkan kening, ada emosi yang memuncak namun hanya bisa tertahan di dalam hatinya saja.
Andin melanjutkan, katanya dengan cukup keberanian. “Tapi kalau suatu hari kebenaran itu terbongkar… saya ingin melihat apakah Ibu masih bisa menatap saya seperti sekarang.”
Senyum Andin terukir jelas dari sudut bibirnya, Vivian yang mendengar kalimat itu benar-benar membeku, ada ketakutan yang perlahan mulai ia tutupi, dan itu terlihat jelas.
"Kurang ajar!" desis Vivian.
"Siapa Bu?" tanya Andin. "Aku atau Ibu," lanjutnya kembali.
Vivian mulai mengangkat tangannya tapi tertahan di udara karena sadar ini tempat umum siapapun orangnya jika lewat pasti akan mengetahuinya.
Sementara Andin tetap santai seolah menyodorkan wajahnya. "Kok gak jadi Bu."
Tatapan Vivian semakin mengeras bahkan wajahnya sudah merah padam menahan amarah.
"Malam itu Ibu begitu berani loh menampar pipiku," ucapnya sengaja mengingatkan pada peristiwa itu.
"Kau memang pantas mendapatkannya," sahut Vivian hampir tidak terdengar.
"Kalau begitu kenapa sekarang Ibu takut," kata Andin sambil menunjuk ke arah pipinya. "Oups aku lupa di sini kan CCTV ada di mana-mana, takut ya topengnya nanti kebuka," lanjutnya.
Vivian tidak memberikan pembelaan selain tatapan tajam dan sinis.
Sementara Andin membungkuk tipis sebagai tanda sopan.
“Permisi, Bu.”
Lalu ia melangkah pergi menyusuri lorong rumah sakit tanpa menoleh lagi.
Vivian membeku, ia tidak menyangka jika gadis yang dianggapnya lemah mempunyai keberanian seperti ini.
Bersambung.....