Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum Terlambat
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Bagi Raka, waktu seperti berjalan sangat lambat.
Ia duduk di kamar kosnya sambil menatap ponselnya sejak pagi. Beberapa kali ia membuka chat Nadia,
mengetik sesuatu… lalu menghapusnya lagi.
Kalimat demi kalimat muncul di layar.
"Aku ingin bicara."
Hapus.
"Ada sesuatu yang harus aku bilang."
Hapus lagi.
Akhirnya ia hanya meletakkan ponsel itu di meja.
Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa sesulit ini…"
Di kepalanya, kata-kata Nadia kemarin terus terngiang.
"Kau selalu seperti teman."
Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.
"Iya… teman yang terlambat sadar."
Sementara itu di rumah Bayu…
Hari kelima dari tantangan satu minggu sedang berlangsung.
Ruang tamu rumah itu terasa lebih ramai dari biasanya.
Ayah Bayu baru pulang dari kantor.
Ibunya sedang menyiapkan teh.
Dan nenek Bayu duduk di kursinya seperti biasa.
Bayu dan Nadia duduk di sofa.
Namun suasana hari itu terasa sedikit berbeda.
Bayu terlihat lebih diam dari biasanya.
Akhirnya ia berkata pelan,
"Nadia."
"Iya?"
"Kau tidak merasa ini sudah terlalu jauh?"
Nadia menoleh.
"Maksudmu?"
Bayu menghela napas.
"Permainan nenekku."
Nadia tersenyum tipis.
"Sudah hampir selesai."
Bayu mengangguk.
"Iya."
Beberapa detik ia terlihat ragu.
Lalu berkata,
"Aku ingin jujur."
Nadia memperhatikannya.
Bayu menatap lantai.
"Awalnya aku cuma ingin menghindari perjodohan."
Nadia mengangguk.
"Aku tahu."
Bayu melanjutkan,
"Tapi… beberapa hari ini aku mulai berpikir."
Nadia sedikit mengernyit.
"Berpikir apa?"
Bayu menatapnya dengan serius.
"Mungkin… kalau kita benar-benar mencoba…"
Nadia langsung mengerti arah pembicaraan itu.
Ia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik ruangan terasa sunyi.
Di luar rumah…
Raka berdiri di depan gerbang rumah Bayu.
Tangannya memegang ponsel dengan kuat.
Ia sudah berdiri di sana hampir lima menit.
Hanya menatap gerbang.
Ia menarik napas panjang.
"Kalau tidak sekarang… mungkin tidak akan pernah."
Raka akhirnya membuka gerbang.
Di dalam rumah, Bayu masih berbicara dengan Nadia.
"Aku tahu kita hanya berpura-pura."
Nadia mendengarkan dengan tenang.
"Tapi… kau orang yang luar biasa."
Bayu tersenyum kecil.
"Dan aku berpikir… mungkin kita bisa mencoba sungguhan."
Kalimat itu membuat Nadia benar-benar terdiam.
Di saat yang sama…
Pintu ruang tamu terbuka.
Raka masuk.
Bayu dan Nadia menoleh bersamaan.
Raka berhenti beberapa langkah dari mereka.
Ia jelas mendengar kalimat terakhir Bayu.
Suasana langsung terasa canggung.
Bayu berkata,
"Raka?"
Raka mencoba tersenyum.
"Maaf… aku tidak tahu kalian sedang bicara."
Namun nenek Bayu yang sejak tadi duduk diam akhirnya berkata,
"Bagus."
Semua orang menoleh ke arahnya.
Nenek tersenyum kecil.
"Akhirnya semuanya ada di sini."
Raka mengernyit.
"Maksudnya?"
Nenek berdiri perlahan dengan tongkatnya.
Hari itu ekspresinya terlihat berbeda.
Lebih serius.
Ia menatap Bayu.
"Kamu."
Lalu menatap Nadia.
"Kamu juga."
Kemudian menatap Raka.
"Dan kamu."
Bayu bertanya bingung,
"Nek?"
Nenek berkata pelan,
"Permainan ini sudah cukup."
Ruang tamu itu langsung sunyi.
Ayah dan ibu Bayu juga ikut mendengarkan.
Nenek melanjutkan,
"Aku tahu sejak awal kalian berpura-pura."
Bayu menunduk.
Nadia juga diam.
Namun nenek kemudian berkata sesuatu yang membuat semua orang terkejut.
"Tapi aku tidak melakukan ini untuk Bayu."
Bayu mengangkat kepala.
"Bukan untukku?"
Nenek menunjuk Raka.
"Untuk dia."
Raka membeku.
"Apa?"
Nenek tersenyum kecil.
"Aku sudah hidup sangat lama."
Ia berjalan pelan mendekat.
"Aku bisa melihat perasaan orang."
Ia menatap Raka.
"Kamu mencintai Nadia."
Ruang tamu itu langsung sunyi total.
Bayu menoleh cepat ke Raka.
Nadia juga.
Raka tidak bisa berkata apa-apa.
Nenek melanjutkan,
"Tapi kamu terlalu lambat."
Ia menoleh ke Nadia.
"Gadis ini juga bodoh."
Nadia berkedip.
"Bodoh?"
Nenek mengangguk.
"Iya."
Lalu berkata pelan,
"Karena dia juga sebenarnya peduli padamu."
Raka menatap Nadia.
Untuk pertama kalinya…
Nadia terlihat benar-benar bingung.
Nenek akhirnya berkata,
"Jadi sekarang aku bosan menonton."
Ia duduk kembali di kursinya.
"Katakan saja yang sebenarnya."
Tidak ada yang bicara.
Beberapa detik terasa seperti satu jam.
Akhirnya…
Raka menarik napas panjang.
Ia menatap Nadia.
Dan berkata dengan suara pelan tapi jelas,
"Nadia…"
"Aku suka kamu."
Ruangan itu terasa sangat sunyi.
Nadia menatapnya.
Bayu juga menatap mereka.
Raka melanjutkan,
"Sudah lama."
Ia tertawa kecil.
"Tapi aku terlalu bodoh untuk menyadarinya."
Nadia masih tidak berbicara.
Raka berkata lagi,
"Aku tidak tahu apa yang akan kau jawab."
"Tapi aku tidak ingin menyesal karena tidak pernah mengatakannya."
Suasana ruang tamu menjadi sangat sunyi.
Semua orang menunggu jawaban Nadia.
Termasuk…
Raka sendiri.