Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan yang Terlalu Jauh
Malam semakin dalam ketika mobil Rania akhirnya meninggalkan area parkir kantor Adrian.
Namun kali ini, mobil itu tidak kembali ke kantor Hartono Group.
Rania memandang lurus ke depan dengan wajah yang sulit ditebak.
Arsen duduk di sampingnya.
Sementara sopir mengemudi dalam diam.
Beberapa menit yang lalu mereka baru saja meninggalkan parkiran dengan bekas darah di aspal yang masih membekas di pikiran mereka.
Arsen akhirnya memecah keheningan.
“Kita tidak bisa mengabaikan ini.”
Rania tetap diam.
Arsen melanjutkan.
“Jika benar orang Darmawan yang melakukannya, ini sudah masuk kriminal serius.”
Rania menoleh perlahan.
Matanya tajam.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kita tidak langsung melapor ke polisi?”
Rania menghela napas pelan.
“Karena Darmawan tidak sebodoh itu.”
Arsen mengerutkan kening.
Rania menjelaskan dengan tenang.
“Orang seperti dia tidak akan meninggalkan bukti.”
Ia berhenti sejenak.
“Jika kita langsung ke polisi tanpa bukti kuat, dia justru bisa memutarbalikkan keadaan.”
Arsen tidak menjawab.
Ia tahu Rania benar.
Orang seperti Darmawan sudah terlalu lama bermain di dunia bisnis gelap.
Dan orang seperti itu biasanya memiliki cara untuk membersihkan jejaknya.
Mobil mereka berhenti di sebuah gedung tinggi di pusat kota.
Gedung itu milik Hartono Group.
Namun bukan kantor utama.
Melainkan pusat keamanan dan data perusahaan.
Rania keluar dari mobil dengan langkah cepat.
Arsen mengikutinya.
Begitu mereka masuk, beberapa staf keamanan langsung berdiri.
“Selamat malam, Bu Rania.”
Rania tidak membuang waktu.
“Aku butuh rekaman CCTV dari parkiran kantor Adrian malam ini.”
Petugas keamanan langsung terlihat sedikit terkejut.
“Sekarang juga?”
“Sekarang.”
Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di ruang kontrol.
Layar besar menampilkan rekaman dari berbagai kamera.
Seorang teknisi mulai memutar rekaman dari malam itu.
Layar menampilkan parkiran yang sunyi.
Kemudian mobil Adrian masuk.
Arsen memperhatikan dengan serius.
Adrian terlihat keluar dari mobilnya.
Ia berdiri beberapa detik.
Seolah sedang memikirkan sesuatu.
Lalu tiba-tiba dua pria muncul dari sisi gelap parkiran.
Salah satu dari mereka memukul Adrian dari belakang.
Rania menahan napas.
Di layar, tubuh Adrian langsung jatuh.
Pria-pria itu dengan cepat mengangkatnya.
Dan memasukkannya ke dalam mobil hitam.
Mobil itu langsung melaju keluar dari parkiran.
Rekaman berhenti.
Ruangan menjadi sunyi.
Arsen akhirnya berkata pelan,
“Setidaknya kita tahu dia masih hidup saat dibawa.”
Rania tidak menjawab.
Matanya masih menatap layar.
“Perbesar bagian mobil itu.”
Teknisi langsung mengikuti perintahnya.
Plat mobil terlihat.
Namun hanya sebagian.
Arsen menghela napas.
“Plat palsu.”
Rania mengangguk.
“Tentu saja.”
Ia berpikir sejenak.
Lalu berkata,
“Cari semua kamera lalu lintas yang mengarah keluar dari area itu.”
Teknisi terlihat ragu.
“Bu, akses ke kamera kota”
“Aku akan mengurus izinnya.”
Nada suara Rania membuat ruangan kembali sibuk.
Semua orang langsung bergerak.
Namun jauh dari sana…
Adrian perlahan membuka matanya.
Kepalanya terasa sangat berat.
Bau lembap memenuhi udara.
Ia mencoba menggerakkan tangannya.
Namun ia langsung menyadari sesuatu.
Tangannya terikat.
Pandangan Adrian masih kabur.
Namun perlahan-lahan ia mulai melihat ruangan di sekitarnya.
Ruangan itu besar.
Namun kosong.
Hanya ada lampu redup yang menggantung di langit-langit.
Lantai beton.
Dinding besi.
Gudang.
Adrian mencoba duduk.
Rasa sakit langsung menjalar dari belakang kepalanya.
Ia mengingat kembali apa yang terjadi.
Parkiran.
Langkah kaki.
Pukulan.
Dan kemudian…
gelap.
Suara pintu logam tiba-tiba terbuka.
Adrian mengangkat kepalanya.
Dua pria masuk ke dalam ruangan.
Mereka adalah pria yang sama dari parkiran.
Salah satu dari mereka tertawa kecil.
“Lihat.”
“Dia sudah bangun.”
Adrian menatap mereka dengan tajam.
“Siapa yang menyuruh kalian?”
Pria itu tidak menjawab.
Sebaliknya, ia mengambil kursi dan duduk di depan Adrian.
“Bos kami ingin bicara.”
Adrian mendengus pelan.
“Kalau dia ingin bicara, dia bisa datang sendiri.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Tenang.”
“Dia akan datang.”
Di sisi lain kota…
Rania masih berdiri di ruang kontrol.
Beberapa layar kini menampilkan rekaman dari berbagai jalan.
Teknisi menunjuk salah satu layar.
“Bu, mobil ini kemungkinan yang sama.”
Rania mendekat.
Mobil hitam itu terlihat melewati persimpangan.
Arsen memperhatikan dengan serius.
“Ke arah kawasan industri.”
Rania langsung mengerti.
Kawasan industri di pinggiran kota memiliki banyak gudang kosong.
Tempat sempurna untuk menyembunyikan seseorang.
Namun sebelum mereka sempat berbicara lagi, Ponsel Rania bergetar.
Nomor tak dikenal.
Arsen langsung menatapnya.
“Angkat.”
Rania menekan tombol jawab.
Suara berat terdengar dari seberang.
“Selamat malam, Rania.”
Rania langsung mengenali suara itu.
Darahnya terasa sedikit mendidih.
“Darmawan.”
Pria itu tertawa kecil.
“Aku senang kau masih mengenal suaraku.”
Rania tidak membuang waktu.
“Di mana Adrian?”
Beberapa detik hening.
Lalu Darmawan menjawab dengan santai.
“Jadi kau sudah tahu.”
Rania mengepalkan tangannya.
“Jika kau menyentuhnya?”
“Tenang.”
Nada suara Darmawan terdengar hampir seperti bercanda.
“Dia masih hidup.”
Rania menahan emosinya.
“Apa yang kau inginkan?”
Darmawan menjawab tanpa ragu.
“Datang sendiri.”
Arsen langsung menatap Rania dengan tajam.
Seolah mengatakan jangan lakukan itu.
Namun Rania tetap diam.
Darmawan melanjutkan.
“Jika kau datang sendirian…”
“Pria itu akan pulang dengan selamat.”
Rania berkata dingin.
“Dan jika tidak?”
Suara Darmawan berubah sedikit lebih gelap.
“Maka permainan ini akan menjadi jauh lebih menyenangkan bagiku.”
Panggilan itu terputus.
Ruangan kembali sunyi.
Arsen langsung berkata,
“Kita tidak bisa mengikuti permintaannya.”
Rania menatap ponselnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Dia tahu aku akan datang.”
Arsen menggeleng.
“Itu jebakan.”
Rania menatapnya.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
“Karena jika aku tidak datang…”
Ia berhenti sejenak.
“Adrian mungkin tidak akan keluar dari sana hidup-hidup.”
Arsen terdiam.
Ia tahu Rania bukan orang yang mengambil keputusan emosional.
Jika dia mengatakan sesuatu seperti itu…
Berarti dia sudah memikirkan semua kemungkinan.
Beberapa menit kemudian…
Mobil Rania kembali melaju di jalanan malam.
Namun kali ini arah mereka berbeda.
Menuju kawasan industri di pinggiran kota.
Langit malam terlihat gelap tanpa bintang.
Lampu-lampu jalan semakin jarang.
Dan semakin jauh mereka pergi…
Suasana kota mulai terasa asing.
Rania menatap keluar jendela.
Pikirannya dipenuhi banyak hal.
Tentang masa lalu.
Tentang Adrian.
Tentang keputusan yang akan ia ambil malam ini.
Arsen akhirnya berkata pelan,
“Kau tidak perlu melakukan ini sendirian.”
Rania menoleh.
Namun kali ini ekspresinya lebih tenang.
“Aku tahu.”
Mobil mereka akhirnya berhenti di sebuah jalan sempit di kawasan industri.
Beberapa gudang tua berdiri di kedua sisi jalan.
Lampu-lampu hampir tidak ada.
Suasana terasa sepi.
Terlalu sepi.
Rania membuka pintu mobil.
Arsen langsung berkata,
“Aku ikut.”
Rania menatapnya.
Lalu berkata dengan suara tenang.
“Kau tunggu di sini.”
Arsen ingin membantah.
Namun Rania sudah berjalan menjauh.
Langkahnya mantap menuju salah satu gudang yang lampunya masih menyala redup.
Di dalam gudang itu…
Adrian masih duduk di lantai dengan tangan terikat.
Ketika pintu logam terbuka lagi—
Ia mengangkat kepalanya.
Namun kali ini orang yang masuk bukan dua pria tadi.
Seorang pria tua berjalan masuk dengan langkah tenang.
Wajahnya penuh kerutan.
Namun matanya tajam seperti pisau.
Adrian langsung mengenalinya.
“Darmawan.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Akhirnya kita bertemu.”
Adrian menatapnya dengan dingin.
“Kalau ini caramu berbisnis, kau lebih pengecut dari yang aku kira.”
Darmawan tertawa kecil.
“Ini bukan bisnis.”
Ia berhenti di depan Adrian.
“Ini strategi.”
Beberapa detik kemudian…
Pintu gudang kembali terbuka.
Darmawan menoleh.
Dan tersenyum lebih lebar.
“Ah.”
“Dia datang.”
Adrian mengerutkan kening.
Namun ketika ia melihat ke arah pintu jantungnya langsung berdetak lebih keras.
Rania berdiri di sana.
Sendirian.
Dengan wajah tenang.
Namun matanya penuh kemarahan.