"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pengakuan Terlambat Sang Mantan
Aula utama istana D’Arcy telah disulap menjadi katedral bunga putih yang melayang di atas air. Ribuan lilin kristal berpendar, memantulkan cahaya pada deretan tamu dari kalangan elit dunia bawah hingga petinggi negara yang hadir dengan napas tertahan.
Namun, bagi Kieran Marva D’Arcy, dunia seolah berhenti berputar saat pintu besar aula terbuka.
Velin melangkah masuk. Gaun pengantin berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, dihiasi ribuan mutiara kecil yang berkilau setiap kali ia bergerak. Rambutnya disanggul modern dengan tiara berlian yang melingkar anggun. Namun, bukan kemewahan itu yang membuat Kieran terpaku.
Sepasang mata Velin yang biasanya penuh dengan banyolan konyol dan rencana "materialistis", kini menatapnya dengan binar ketulusan yang murni.
"Wanita ini..." batin Kieran. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi asing yang lebih dahsyat daripada adrenalin saat berperang. Ada getaran hebat di dadanya—sebuah pengakuan bahwa ia tidak lagi hanya menginginkan Velin karena cincin itu, tapi karena ia benar-benar jatuh sejatuh-jatuhnya pada wanita ajaib ini.
Velin sampai di hadapan Kieran. Kieran menyambut tangannya, merasakan jemari Velin yang sedikit dingin dan gemetar. Ia membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Velin, "Jangan takut. Mulai detik ini, kau adalah hidupku."
Velin tersenyum, wajahnya merona merah. Ia merasa seolah-olah jiwanya yang dulu terperangkap dalam tumpukan revisi kantor kini benar-benar telah menemukan rumah yang megah.
Pendeta mulai membuka kitab suci. Suasana menjadi hening, begitu sakral.
"Kieran Marva D’Arcy, apakah kau bersedia menerima—"
"SAYA TIDAK SETUJU! HENTIKAN PERNIKAHAN INI SEKARANG JUGA!"
BRAKKKK!
Pintu aula didobrak paksa. Suara teriakan itu membelah kesakralan ruangan seperti petir di siang bolong. Adriano berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata merah yang menyala karena amarah. Di belakangnya, beberapa pria berseragam tampak ragu-ragu menghadapi ratusan moncong senjata pengawal D’Arcy yang langsung siaga.
Adriano melangkah maju di atas karpet merah, menunjuk Kieran dengan telunjuk yang bergetar. "Pernikahan ini tidak sah! Kalian semua ditipu! Pria ini menculik istriku dan memaksanya melakukan perceraian di bawah ancaman!"
Velin mematung, genggaman tangannya pada Kieran mengerat. Adriano menatap Velin dengan tatapan memohon yang bercampur ego. "Velin, jangan takut! Aku di sini untuk menyelamatkanmu dari monster ini! Dia hanya merebutmu dariku karena dia tidak punya cara lain untuk mendapatkan cinta!"
Kieran menarik Velin ke belakang punggungnya, auranya berubah seketika—dari pengantin yang penuh kasih menjadi predator yang siap mencabik. "Kau berani mengotori hariku dengan mulut kotormu, Mally?"
"Aku tidak takut padamu!" tantang Adriano tanpa malu. "Velin, ikut aku sekarang sebelum kau menyesal seumur hidup karena menikahi iblis!"
Velin menatap Kieran yang rahangnya mengeras, lalu menatap Adriano yang tampak seperti orang gila. "Mas... biarkan aku bicara dengannya sebentar," bisik Velin pada Kieran. "Aku harus menyelesaikan ini agar dia tidak mengganggu kita lagi."
Kieran menatap Velin tajam, mencari kepastian. "Lima menit. Jika dia menyentuhmu selai rambut pun, aku akan memastikannya tidak keluar dari pulau ini hidup-hidup."
...****************...
Di Taman Samping Aula...
Angin bertiup kencang, menerbangkan ujung gaun pengantin Velin. Adriano langsung berlutut di depan Velin, memegang ujung tangan wanita itu.
"Velin, aku mohon... maafkan aku soal malam itu. Aku di bawah pengaruh alkohol, aku mengira Mirabella adalah kau! Aku baru sadar sekarang bahwa aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu!" Adriano meracau dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah terlambat, Mas," sahut Velin dingin.
"Belum! Belum terlambat!" Adriano berdiri, suaranya merendah dan penuh peringatan. "Velin, kau tidak tahu siapa mereka. Keluarga D'Arcy itu terkutuk! Aku sudah mencari tahu semuanya. Mereka mafia kejam yang menumbalkan keluarga sendiri demi kejayaan. Kau tahu ibu Kieran? Dia meninggal bukan karena kecelakaan biasa, tapi karena kutukan cincin darah yang kau pakai itu!"
Velin tertegun, namun ia tetap diam.
"Cincin itu akan membawamu pada kematian, Velin! Kieran hanya memanfaatkanmu sebagai wadah segel darahnya. Ikut aku pulang, aku akan memberikan semua hartaku, semua perusahaanku, apa pun! Asal kau selamat dari pria iblis itu!" Adriano memohon dengan sangat ugal-ugalan.
Velin menatap jari manisnya, lalu menatap Adriano dengan tatapan kasihan. "Mas, kau bilang mereka kejam? Tapi saat aku bersamamu, jiwaku yang mati. Di sini, meski ada peluru yang mengancam, aku merasa hidup. Dan soal kutukan..."
...****************...
Velin terhenti saat merasakan aura dingin yang sangat kuat dari balik pohon besar di belakang mereka.
Di sana, Kieran berdiri mematung. Ia mendengar setiap kata-kata Adriano—terutama bagian tentang ibunya yang dianggap sebagai tumbal. Wajah Kieran tampak pucat, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Rasa sakit di hatinya kembali terbuka lebar, ia takut jika perkataan Adriano benar, bahwa kehadirannya hanya akan membawa celaka bagi Velin.
Velin menyadari kehadiran Kieran. Ia menoleh dan melihat mata Kieran yang penuh luka.
"Tuan Kieran..." panggil Velin lirih.
Adriano ikut menoleh dan menyeringai licik. "Dengar itu, Kieran? Kau hanya akan membunuhnya seperti kau membunuh ibumu sendiri!"
terimakasih 🙏🙏🙏