Dunia Andini Kharisma Sulistia (21 tahun) runtuh seketika saat kecelakaan maut merenggut nyawa suaminya, Keenan Adiwijaya. Di tengah duka yang masih basah, Andini harus menghadapi kenyataan pahit tanpa sosok pendamping. Namun, hadirnya Farhady Sastranegara (41 tahun) membawa kebimbangan baru.
Farhady bukanlah orang asing; ia adalah mantan ayah mertua yang ternyata hanyalah ayah sambung Keenan. Meski tak ada ikatan darah, lamaran Farhady memicu badai emosi dan stigma sosial yang tajam. Terjebak antara kesetiaan pada mendiang suami dan kasih sayang tulus Farhady, Andini harus menentukan arah hatinya dalam balutan dilema cinta yang rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fragmen Kaca
Bau karbol yang tajam dan dingin menusuk penciuman Andini bahkan sebelum kakinya benar-benar menapak di lantai rumah sakit. Langkah kakinya yang biasanya anggun kini limbung, diseret oleh sisa-sisa tenaga yang hampir habis. Ia masih mengenakan daster batik sutra yang tadi pagi dipuji oleh Keenan, kini tertutup jaket tebal yang kancingnya terpasang berantakan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi, kini lepek terkena tempias hujan Lembang yang kejam.
"Mas Keenan... di mana Mas Keenan?" bisiknya parau, suaranya nyaris tenggelam di antara hilir mudik perawat dan aroma duka yang menggantung di udara.
Di ujung lorong ruang operasi yang steril, ia melihat sesosok pria yang selama ini menjadi lambang ketegaran. Farhady bersimpuh di kursi tunggu kayu yang keras. Pria berusia 41 tahun itu tidak lagi tampak seperti pengusaha karismatik yang semalam berdansa penuh wibawa. Jas abu-abunya kusut, dasinya sudah ditarik lepas, dan yang paling menyayat hati: tangannya yang gemetar menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.
"Ayah..." suara Andini memecah keheningan lorong.
Farhady mendongak. Begitu melihat menantunya, ia bangkit dengan sisa wibawa yang tersisa, namun lututnya seolah tak sanggup menopang beratnya rasa bersalah. Ia merengkuh Andini ke dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang tidak lagi berisi perlindungan, melainkan keputusasaan yang saling berbagi.
"Maafkan Ayah, Andini... Maafkan Ayah," isak Farhady di bahu Andini. "Seharusnya Ayah tidak menyuruhnya datang pagi ini. Seharusnya Ayah yang ke Lembang. Ini semua salah Ayah..."
Andini tidak menjawab. Matanya tertuju pada lampu merah di atas pintu ruang operasi yang masih menyala—sebuah tanda bahwa maut dan kehidupan sedang bertarung hebat di dalam sana. Bibit, bebet, dan bobot Andini yang terdidik untuk selalu tenang kini hancur lebur. Ia hanya seorang wanita berusia 21 tahun yang baru saja mencicipi puncak kebahagiaan dan kini dipaksa berdiri di tepi jurang kehancuran.
"Ayah jangan bicara begitu," bisik Andini, meski suaranya sendiri bergetar hebat. "Mas Keenan kuat. Dia pernah bertahan hidup di panti asuhan yang dingin sendirian. Dia tidak akan meninggalkan kita sekarang."
Namun, batin Andini berteriak. Ia teringat cangkir porselen yang pecah pagi tadi. Ia teringat senyum terakhir Keenan di ambang pintu. Emosi pembaca akan dibawa pada kontras yang mengerikan: bayangan tarian Aurora yang indah di Skandinavia kini digantikan oleh ritme mesin EKG yang monoton dan dingin.
Tiga jam berlalu seperti ribuan tahun. Setiap kali pintu operasi terbuka, jantung Andini seolah berhenti berdetak. Farhady terus mondar-mandi, sesekali berhenti untuk berdoa di pojok lorong, sebuah pemandangan yang menunjukkan sisi religiusitas seorang pria yang biasanya sangat mengandalkan logika. Ia menatap Andini dengan tatapan yang sangat kompleks—ada kasih sayang mendalam, ada rasa tanggung jawab sebagai ayah, dan ada luka yang sama besarnya karena Keenan adalah satu-satunya nyawa yang membuatnya merasa memiliki keluarga setelah istrinya wafat.
Tepat pukul dua siang, lampu merah itu padam. Seorang dokter dengan masker yang masih menggantung di leher keluar dengan wajah yang sulit diartikan.
Andini dan Farhady serentak berdiri. Dunia seolah berhenti berputar. Hening yang tercipta begitu pekat, hingga suara tetesan air dari payung yang tersandar di pojok ruangan terdengar seperti dentuman keras.
"Dokter... bagaimana suami saya?" tanya Andini, tangannya meremas ujung jaketnya hingga memutih.
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Andini lalu beralih ke Farhady. Ada keheningan sesaat sebelum ia membuka suara. "Kami sudah melakukan yang terbaik. Benturan di bagian dadanya terlalu hebat, menyebabkan pendarahan internal yang luas..."
Kalimat itu menggantung, namun maknanya sudah menghujam jantung Andini seperti belati yang berkarat. Pandangan Andini mendadak gelap. Suara tangisan Farhady yang pecah menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum tubuhnya meluruh ke lantai rumah sakit yang dingin. Kebahagiaan sutra itu kini benar-benar telah robek, meninggalkan fragmen-fragmen kaca yang akan melukai siapa pun yang mencoba menyatukannya kembali.