Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Dinding yang Berbisik
Dua jam telah berlalu sejak Damian merebahkan tubuhnya di atas ranjang kayu yang terasa kaku dan berderit setiap kali ia bernapas. Biasanya, ia akan segera terlelap di atas kasur king size dengan keheningan yang mutlak. Namun malam ini, matanya terjaga lebar. Pikirannya dipenuhi oleh tawa Selene, aroma cokelatnya, dan jentikan jari di dahinya yang masih terasa hangat.
Tiba-tiba, telinganya yang tajam menangkap suara samar dari balik dinding kayu yang memisahkan mereka. Suara langkah kaki yang ringan, diikuti oleh gemericik air yang baru saja berhenti. Selene sedang mandi, pikirnya.
Damian mencoba memejamkan mata, namun rasa penasaran yang gelap dan posesif mulai merayap di benaknya. Ia tidak bisa menahannya lagi. Dengan gerakan perlahan agar ranjangnya tidak bersuara, Damian bangkit dan mendekati dinding kayu tua tersebut.
Ia menempelkan tubuhnya pada dinding yang dingin, mencoba merasakan keberadaan Selene di balik sana. Saat itulah, matanya menangkap sesuatu. Sebuah celah kecil—mungkin bekas lubang paku yang membesar atau kayu yang menyusut dimakan usia—tersembunyi di balik bayang-bayang lemari tua.
Damian ragu sejenak. Hati nuraninya berteriak bahwa ini salah, namun sisi gelapnya ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar nyata, bukan sekadar mimpi di tengah malam yang asing ini.
Ia mendekatkan matanya ke lubang kecil itu.
Di balik sana, kamar Selene hanya diterangi oleh lampu tidur kecil yang berpijar warna jingga hangat. Cahaya itu memberikan atmosfer yang temaram namun sangat intim. Selene berdiri membelakangi dinding, rupanya ia baru saja selesai berganti pakaian setelah mandi. Rambutnya yang masih basah tersampir di bahu, meneteskan air ke atas handuk yang melingkar di lehernya.
Damian menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia memenangkan kesepakatan bisnis bernilai triliunan. Di bawah cahaya jingga yang lembut itu, Selene terlihat seperti mahakarya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Gadis itu tampak sangat tenang, jauh dari sosok tegas yang ia tampilkan di depan anak-anak panti.
Ia melihat Selene mengusap rambutnya perlahan, lalu duduk di tepi ranjang sambil menghela napas panjang—napas yang terdengar lelah namun penuh syukur.
Damian merasa seperti seorang pencuri, namun ia tidak bisa berpaling. Baginya, pemandangan ini bukan sekadar nafsu, melainkan sebuah konfirmasi bahwa ia menginginkan gadis ini lebih dari apa pun. Ia ingin memiliki semua sisi Selene; keberaniannya, ketulusannya, bahkan kesunyiannya di tengah malam seperti ini.
"Kau benar-benar akan menghancurkanku, Selene," bisik Damian dalam hati, suaranya nyaris tak terdengar.
Tiba-tiba, Selene berhenti mengusap rambutnya. Ia menoleh ke arah dinding, tepat ke arah tempat Damian mengintip, seolah-olah ia merasakan ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.
Damian terpaku, tubuhnya seolah menyatu dengan dinding kayu yang dingin itu. Melalui celah kecil di sana, ia menyaksikan pemandangan yang sanggup menghentikan detak jantung pria manapun. Di bawah temaram lampu jingga, Selene sedang mengeringkan tubuhnya dengan perlahan. Kulitnya tampak seputih porselen yang memantulkan cahaya hangat, setiap lengkungan tubuhnya terlihat begitu sempurna tanpa sehelai benang pun yang menutupi.
"Dingin sekali malam ini," gumam Selene pelan. Suaranya terdengar sangat dekat, membuat Damian bisa membayangkan hembusan napas gadis itu.
Selene sempat berhenti menggosok lengannya dengan handuk. Ia menatap ke arah dinding tempat Damian berada dengan kening berkerut. "Apa itu tadi?" bisiknya pada diri sendiri.
Damian menahan napas sekuat tenaga. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya akan menembus dinding.
"Ah, paling cuma tikus atau kayu yang memuai," Selene tertawa kecil, berusaha mengusir rasa curiganya. "Damian tidak mungkin mengintip. Dia pria yang sopan, meski bicaranya suka sembarangan. Lagipula, dia pasti sudah tertidur pulas di kasur keras itu."
Mendengar gumaman Selene yang begitu memercayainya, Damian merasa sebuah hantaman rasa bersalah sekaligus gairah yang meledak di dalam dadanya.
"Maafkan aku, Selene... tapi kau terlalu indah untuk diabaikan," desis Damian sangat pelan, nyaris seperti embusan angin.
Damian tak berpaling. Alih-alih menjauh karena rasa bersalah, ia justru terpaku dengan napas yang semakin berat. Matanya seolah terkunci pada setiap inci kulit mulus Selene yang tertimpa cahaya jingga. Pemandangan itu begitu nyata, begitu dekat, hingga imajinasinya mulai liar membayangkan bagaimana rasanya menyentuh permukaan kulit yang tampak selembut sutra itu.
Gejolak gairah yang masif menghantamnya seketika. Damian merasakannya—reaksi alami tubuhnya yang tak terbendung. Penisnya mengeras hebat, mendesak di balik celana kain yang ia kenakan. Rasa sesak itu membuat ia harus menggigit bibir bawahnya sendiri demi meredam erangan yang hampir lolos dari tenggorokannya.
"Sial..." umpat Damian dalam hati. Suaranya serak, matanya masih menempel pada celah kecil itu.
Ia bisa melihat Selene sedikit merenggangkan tubuhnya, menonjolkan lekuk pinggang dan dadanya yang sempurna. Setiap gerakan kecil gadis itu seolah menjadi cambukan bagi gairah Damian yang sudah berada di puncak. Pria itu mencengkeram dinding kayu di sampingnya hingga kuku-kukunya memutih.
"Aku ingin masuk ke sana. Aku ingin merobohkan dinding ini sekarang juga," batinnya dengan pikiran yang sudah gelap oleh obsesi.
Di balik sana, Selene masih bersenandung kecil, sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang ia puji sebagai "orang baik" sedang menatapnya dengan pandangan lapar dan penuh damba.
"Hmm, bantalnya sepertinya kurang empuk. Kasihan Damian, dia pasti tidak terbiasa," gumam Selene pelan sambil menepuk-nepuk bantal di ranjangnya.
Mendengar perhatian kecil itu di tengah kondisinya yang sedang terangsang hebat membuat Damian merasa hampir gila. Kontradiksi antara kebaikan hati Selene dan pikiran kotor yang kini menguasai kepalanya menciptakan ketegangan yang menyiksa.
Damian terpaksa memejamkan mata dan menarik kepalanya menjauh saat Selene mulai mengenakan pakaian tidurnya. Ia menyandarkan punggungnya di dinding, terduduk di lantai dengan tangan yang mengepal kuat di atas lututnya, mencoba mengatur napasnya yang menderu.
Darahnya berdesir kencang, dan bagian bawah tubuhnya masih terasa berdenyut nyeri karena ketegangan yang belum terlampiaskan.
"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan padaku, Selene," bisik Damian pada kegelapan kamarnya. "Setelah malam ini, jangan harap aku akan membiarkan pria lain menatapmu seperti ini. Kau hanya milikku. Seutuhnya."