Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
"Huwaaa, gelap! Ikan, kau di mana? Luna takut!" pekik Luna histeris.
Akibat siraman maut ke televisi tadi, terjadi korsleting listrik yang cukup parah. Suara ledakan kecil terdengar dari kotak sekring di sudut ruangan, dan seketika lampu kamar padam total.
Suasana yang tadinya penuh asap kini menjadi gelap gulita.
Mendengar teriakan melengking dan merasakan listrik yang tiba-tiba mati saat ia baru saja mengeringkan badan, Xavier bergegas keluar dari kamar mandi dengan langkah serampangan. Handuk putihnya masih melilit longgar di pinggang.
"Apa yang terjadi? Kenapa jadi gelap begini? Hei! Siapa pun yang ada di sana, jangan bergerak!" gumam Xavier sembari meraba sekeliling dalam kegelapan.
Baru setengah jalan melangkah melewati area akuarium yang tumpah, kaki Xavier menginjak genangan air yang licin.
Sret! Brug!
"Argh, shit! Hidungku!" pekiknya saat wajahnya menghantam lantai karpet yang basah. Ia pun langsung berbalik.
Bersamaan dengan itu, Luna yang sedang merangkak ketakutan juga kehilangan keseimbangan.
"Aaaa! Ada monster menabrak Luna!" jerit Luna.
Xavier menahan napas. Dunianya seolah berhenti berputar saat ia merasakan sesuatu yang sangat lembut, hangat, dan empuk menempel tepat di dada bidangnya. Harum tubuh seseorang yang ada diatasnya ini, mirip sekali dengan aroma hutan dan bunga liar. Langsung menyerbu indra penciumannya.
"A-apa itu tadi suara perempuan? Dan kenapa berat sekali? Aku merasa ada yang sedang menindih ku. Dan ini... benda empuk apa?" gumamnya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat.
Tiba-tiba, sistem listrik darurat mansion menyala. Lampu meredup sejenak sebelum bersinar terang kembali. Dan saat itulah, terlihatlah posisi keduanya yang begitu intim.
Xavier berbaring telentang di lantai, sementara Luna berada tepat di atas tubuh Xavier tanpa sehelai benang pun.
Yang paling membuat Xavier shock adalah, kedua benda kenyal milik Luna menempel sempurna di dada bidangnya. Mata biru sapphire Luna menatapnya dari jarak hanya beberapa sentimeter.
Xavier menelan ludah dengan susah payah. Matanya melotot, otaknya yang biasanya jenius dalam urusan strategi perang mafia mendadak blank.
"Manusia tampan? Kau sudah bangun?" ucap Luna dengan mata berbinar senang. Ia sama sekali tidak merasa malu dengan kondisinya.
"Kau?!" dengan refleks predatornya, Xavier mendorong pundak Luna hingga gadis itu jatuh terguling dari atas tubuhnya.
"Aw, sakit! Manusia tampan jahat! Rengek Luna dengan mata berkaca-kaca. Ia memegangi lengannya yang membentur kaki meja.
Bagaimana tidak sakit jika dirinya didorong sekuat tenaga oleh pria sekuat Xavier?
"Siapa kau, hah?! Berani sekali kau masuk ke kamarku, makhluk aneh! Pakai bajumu!" teriak Xavier sembari bangkit berdiri dan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia menutup matanya rapat-rapat, namun bayangan pemandangan tadi sudah terlanjur tersimpan di memori permanen otaknya.
Luna terdiam. Ia mengerutkan dahi karena tidak mengerti maksud ucapan Xavier.
"Luna tidak aneh. Luna cuma mau bantu padamkan api di kotak hitam itu!" serunya.
"Halah alasan! Jangan-jangan kau adalah mata-mata yang dikirim musuh! Kau sengaja masuk ke sini untuk menggodaku lalu saat lengah kau akan membunuhku kan?!" maki Xavier tanpa menoleh. "Dan tubuhmu itu, kenapa kau tidak memakai baju?! Kau pikir aku akan tertarik pada taktik murahanmu ini?!"
"Baju itu apa?" tanya Luna. Ia memiringkan kepalanya, menatap punggung Xavier.
Di dunianya, pakaian adalah hal yang asing. Mereka lahir dengan bulu, hidup dengan bulu, dan mati pun dengan bulu.
Xavier melongo. Ia berbalik sedikit, memastikan ia tidak salah dengar, tapi kemudian memalingkan wajah lagi saat melihat bahu polos Luna.
"Kau tidak tahu baju? Jangan berlagak bodoh! Kau wanita dewasa, bukan balita!"
"Luna bukan balita! Luna ini kucing... eh." Luna menutup mulutnya cepat. "Maksud Luna, manusia tampan baik-baik saja kan? Luna senang sekali melihatmu lagi!" Luna mencoba mendekati Xavier, hendak memeriksa apakah ada luka baru di tubuh pria itu.
"Jangan mendekat!" bentak Xavier sambil mengangkat tangan. " Lalu berhenti memanggilku manusia tampan. Kita tidak saling mengenal, dan aku tidak punya waktu untuk meladeni orang gila sepertimu!"
"Tapi kau memang manusia paling tampan yang pernah Luna temui kok. Wangimu juga enak," balas Luna dengan jujur tanpa dosa.
Mendengar pujian itu, pipi dan telinga Xavier sontak memerah. Seorang bos mafia yang ditakuti seluruh negeri kini dibuat salah tingkah oleh gadis tanpa busana.
"Menjauhlah dariku!" Xavier beranjak dengan langkah lebar menuju lemari pakaian mewahnya. Ia mengambil sebuah kemeja hitam miliknya yang paling besar, lalu melemparkannya ke arah Luna tanpa melihat.
"Pakai itu untuk menutupi tubuhmu. Jangan sampai kau melepaskannya lagi di sembarang tempat!"
"Ini apa?" Luna menenteng kemeja hitam itu dengan ujung jarinya. Ia membolak-balikkan kain sutra itu. "Kainnya halus, tapi cara pakainya bagaimana? Apa Luna harus membalut tubuh Luna seperti mumi?"
"Sial! Apa aku harus juga yang memakaikannya?!" geram Xavier frustrasi.
Luna mengangguk dengan semangat. "Iya! Luna benar-benar tidak tahu cara pakainya. Tolong Luna, manusia tampan."
Xavier mengacak-acak rambutnya yang masih basah. Ia mondar-mandir seperti harimau dalam kandang.
"Mungkin sebaiknya aku panggil pelayan saja," gumamnya. Namun, sedetik kemudian ia membatalkan niatnya. Jika ia memanggil pelayan, berita tentang adanya gadis telan-jang di kamarnya akan sampai ke telinga Isabella dalam waktu tiga detik.
Dan dalam lima detik, Isabella dan Jonas pasti akan masuk ke kamar ini membawa pendeta untuk menikahkannya secara paksa.
"Brengsek, kenapa hidupku jadi serumit ini?" keluh Xavier. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih tidak karuan.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu