NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali

"Tidak ada jalan keluar." Iago bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri, sambil mengalihkan pandangannya yang hampa ke luar jendela yang mulai dilapisi es tipis.

Keheningan di rumah yang tadinya hangat dan nyaman itu tiba-tiba berubah menjadi seperti es yang padat dan retak di bawah tekanan. Suara-suara yang tadinya samar—detak jantungnya sendiri yang kini bergemuruh keras di telinganya, dan deru badai salju yang menggila di luar dinding—memenuhi ruangan seperti orkestra kekacauan.

Kata-kata Iago itu menggantung berat di udara. Semua orang membeku. Yuki, Otto, bahkan Edward yang masih terlalu polos untuk sepenuhnya mengerti, semuanya kini memusatkan perhatian mereka sepenuhnya pada Iago.

"A-apa maksudmu, Iago?" Yuki akhirnya memecah kesunyian yang mencekik itu, suaranya bergetar halus.

Otto duduk membeku di lantai dekat perapian, mengamati dengan saksama suasana yang tiba-tiba berubah dari ketegangan biasa menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya,. Matanya yang biru bergerak cepat antara Yuki dan Iago, menganalisis setiap perubahan kecil.

Dia mulai bertanya-tanya dalam hatinya, apakah Tuannya masih bisa mengendalikan situasi yang sudah berubah menjadi bubuk mesiu siap meledak ini? Apakah ini memang yang diinginkan Master sejak awal?

Gadis ini... batin Otto dengan rasa kagum yang pahit bercampur kekhawatiran. Dia jauh lebih cerdas dari yang kukira.

"Kak Iago?" Wajah Edward dipenuhi kebingungan murni. Matanya yang besar dan bulat melebar, mulutnya yang mungil sedikit terbuka tanpa suara. "Kakak kenapa sih? Suara kakak aneh banget. Kayak orang sakit."

"Aku..." Iago menarik napas dalam. Lalu, dengan gerakan berat, ia memalingkan wajahnya dari jendela yang dingin kembali ke arah Yuki. Tatapannya kosong, tapi ada ketegangan yang jelas terlihat di sudut matanya, di rahangnya yang mengeras. "Aku adalah pendiri Organisasi IV."

Kata-kata itu menghantam ruangan, menghancurkan sisa-sisa kehangatan dan kepercayaan yang masih tersisa dalam satu pukulan telak.

Di saat yang bersamaan, seolah alam sendiri merespons, badai salju di luar mengamuk lebih kencang, mendera dinding kayu rumah yang ringkih dengan erangan angin yang panjang dan melengking.

Yuki, yang tadi matanya menyipit penuh kecurigaan dan analisis, kini membelalak lebar tak percaya. Seluruh warna menghilang dari wajahnya dalam sekejap, meninggalkan kulit pucat pasi. Tangannya yang diletakkan di atas meja kayu mulai gemetar hebat tak terkendali.

"A-apa...? Organisasi... IV?"

Ruangan kecil itu seakan dipenuhi oleh suara detak jantung yang berdentum-dentum. Bukan hanya Yuki yang mendengarnya; Iago sendiri bisa merasakan denyutnya yang kencang dan sakit di pelipis, dan Otto yang dari tadi sudah siaga, tangannya secara refleks meraih gagang belati.

Edward hanya melihat ke sekeliling dengan mata bingung, wajahnya semakin berkerut oleh diam yang mematikan dan tegang itu. Perlahan, tanpa suara, Otto meletakkan piring makanannya yang masih setengah penuh di lantai, tangannya yang bebas sudah meraih gagang belati tersembunyi di balik jubahnya yang masih basah.

"Kamu bercanda, kan?" tanya Yuki, suaranya kecil.

"Tidak."

Jawaban Iago yang singkat, datar, dan tak terbantahkan itu menusuk hati Yuki.

Selama ini, selama beberapa hari terakhir, pemuda yang tampak polos, rentan, dan penuh luka, yang dia rawat dengan segala kebaikan hatinya yang tulus, ternyata adalah monster yang bertanggung jawab atas kematian ribuan orang, atas teror yang melanda seluruh Cirland, atas kasus Pembunuh IV yang mengerikan itu.

Yuki seketika menutup mulutnya dengan telapak tangan, seperti menahan teriakan atau muntahan yang hendak keluar.

"Jadi... Jadi selama ini..." suaranya pecah, tertahan oleh air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya, siap tumpah. "Kau hanya memanfaatkan kami berdua? Aku dan Edward? Hanya untuk... untuk tempat persembunyian yang aman? Atau ada rencana lain yang lebih jahat?!"

Iago tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke depan, ke wajah Yuki.

"Jawab, Iago!" Suara Yuki mulai meninggi, dipenuhi oleh kepedihan yang dalam dan kemarahan yang meledak-ledak. "Aku butuh penjelasan yang masuk akal sekarang juga! Katakan yang sebenarnya, apa tujuanmu di sini?!"

"Aku tidak tahu," gumam Iago, suaranya hampir tak terdengar.

"TIDAK TAHU?!" Yuki menjerit, suaranya memecah kesunyian. Ia bangkit dari kursinya begitu cepat dan kuat sehingga kursi kayu itu terlempar ke belakang dengan bunyi KRAK yang keras, jatuh terbalik di lantai.

Dia menarik Edward yang masih bingung dan memeluknya erat-erat ke dadanya, sambil tangan kanannya yang lain meraih pisau dapur kecil yang tadi tergeletak di meja. Bilah logam sederhana itu berkilat lemah di cahaya api perapian. "Apa kau mempermainkan kami, Iago?! Apa selama ini kau hanya berpura-pura?!"

Edward terkejut setengah mati, terisak kecil ketakutan, tubuhnya gemetar dalam pelukan kakaknya. "Ka-kakak? Ada apa sebenarnya? Kenapa kakak pegang pisau? Kenapa semua orang jadi aneh?"

"Jangan bergerak, Edward, tetap di belakang kakak," bisik Yuki dengan suara bergetar, pelukannya semakin erat hingga anak itu mendesah, namun matanya yang basah tak lepas dari Iago dan Otto yang kini sudah berdiri.

"Apa maumu?!" teriak Yuki ke arah Iago, suaranya pecah. "Tidak, tunggu—apa yang ingin kalian berdua lakukan pada kami?! Bunuh kami seperti yang lain?"

Otto yang melihat tuannya diancam tidak bisa tinggal diam lebih lama. Dengan gerakan yang gesit, dua bilah belati lempar muncul di tangannya, ujungnya yang runcing mengarah tepat ke Yuki. Matanya yang biru menyipit, menatap gadis itu.

"Ka-kakak?" Edward mulai menangis tersedu-sedu, gemetaran hebat menyebar melalui seluruh tubuh kecilnya yang dipeluk erat kakaknya. "A-ada apa ini semua? Kenapa kakak dan pria itu tiba-tiba mengeluarkan pisau? Kenapa Kak Iago juga cuma diam saja?"

Melihat pengikut setianya yang siap melesat dan membunuh kapan saja, Iago mengangkat tangan kanannya dengan lambat. Otto melihat isyarat itu, rahangnya mengeras, tetapi perlahan dia menurunkan tangannya sedikit, meski kedua belatinya masih terkunci erat di genggaman.

"Apa kau tahu, Yuki?" Iago mulai berbicara lagi setelah hening yang panjang. "Kau tidak hanya mempercayai apa yang kau lihat."

Yuki terdiam sejenak, napasnya tersengal-sengal tak beraturan, dadanya naik turun cepat. "Apa... Apa maksudmu?!"

"Kau justru," lanjut Iago, perlahan menoleh untuk benar-benar menatap mata Yuki yang basah oleh air mata, "melihat apa yang sudah kau percayai selama ini."

Mendengar penjelasan itu, ekspresi Yuki berubah drastis. Kemarahan dan rasa sakitnya tertahan sejenak, digantikan oleh kebingungan yang mendalam dan menyakitkan. Dia mengerutkan alisnya dalam-dalam, mencerna kata-kata Iago.

Iago kini bangkit perlahan dari kursinya. Gerakannya lambat, penuh beban. Dia menghela napas panjang yang segera keluar sebagai kabut putih tebal di udara dingin ruangan.

"Sekarang," ucapnya, "aku akhirnya tahu apa yang harus kulakukan."

Tangan Yuki yang memegang pisau semakin bergetar hebat. Pelukannya pada Edward begitu kencang hingga anak itu mendesah kecil kesakitan. "Jangan... Jangan mendekat, Iago! Aku peringatkan!"

Iago tidak mendekat. Sebaliknya, dia menoleh, melirik Otto sekilas lalu berbalik dan berjalan dengan tenang menuju pintu kayu. Otto, setelah memastikan tuannya aman dari belakang, melirik terakhir kali pada kakak-beradik yang ketakutan itu dengan tatapan dingin, lalu berbalik dan mengikuti Iago, melangkah mundur dengan waspada.

"Tunggu!" suara Yuki pecah, panik murni sekarang menggantikan kemarahan dan rasa sakit. "Kau mau ke mana di tengah badai seperti ini? Kau tidak bisa begitu saja pergi—!"

Iago meraih gagang pintu, membukanya dengan satu tarikan. Angin dan salju langsung menerobos masuk dengan ganas, membawa hawa beku yang menyengat kulit.

"IAGO!"

Iago berhenti sejenak. Dia menoleh, hanya memberikan profil wajahnya pada Yuki dari balik bahu. Cahaya hangat dari dalam rumah menyinari separuh wajahnya.

"Maaf," ucapnya, dan sebuah senyum tipis. "Sepertinya aku memang memanfaatkan kebaikan kalian. Sejak awal."

"Apa kau ingin pergi begitu saja?!" teriak Yuki, air matanya akhirnya meluber deras membasahi pipinya yang pucat. "Tanpa menjelaskan apa-apa padaku?! Tanpa... tanpa alasan yang lebih baik dari sekadar itu?!"

"Kalian," kata Iago, suaranya hampir hilang diterpa angin dan salju yang menderu, "tidak boleh terlibat lebih dalam lagi."

Dengan itu, tanpa menoleh lagi, dia melangkah keluar, menyatu dengan tirai salju putih yang pekat dan tak menembus pandang. Otto, setelah memberikan tatapan peringatan terakhir yang menusuk pada Yuki, segera mengikuti tuannya, menutup pintu kayu di belakangnya.

Suasana di dalam rumah yang hangat itu tiba-tiba terasa seperti kuburan yang dingin. Kehangatan telah lari dan menghilang bersama dengan kedua pria itu. Yuki perlahan-lahan mengendurkan pelukannya pada Edward, membiarkan anak itu menarik napas lega dan terisak.

Untuk beberapa saat, dia hanya bisa berdiri di sana. Akalnya yang rasional berkata untuk membiarkan mereka pergi, untuk bersyukur mereka masih hidup. Tapi hatinya yang hancur berteriak dan memerintahkan untuk mengejar, untuk menuntut jawaban yang sebenarnya.

Akhirnya, dengan gerakan kaku dan putus asa, dia melepaskan Edward yang masih terisak dan berlari ke pintu. Dia membukanya dengan kasar, membantingnya hingga terbuka lebar, menerpa hembusan angin dan salju yang menyakitkan dan membekukan kulitnya yang basah oleh air mata.

Tapi dia sudah terlambat.

Jalanan di depan rumahnya yang sederhana itu kosong melompong, hanya hamparan putih yang tak berujung. Hanya ada jejak kaki samar yang dengan cepat ditelan dan dihapus oleh badai yang semakin menjadi-jadi.

Gadis berambut merah itu berdiri terpaku di ambang pintu, tubuhnya yang ringkih terguncang oleh isakan yang tak lagi bisa ditahan. Udara dingin menyayat kulitnya yang basah. Tangisnya pecah, suara hati yang hancur berkeping-keping memenuhi kesunyian yang putih dan dingin.

"Kakak?" Edward menghampirinya dari belakang dengan langkah ragu, suaranya kecil dan ketakutan, matanya merah oleh tangis.

Yuki tak menjawab. Dia hanya berlutut di ambang pintu yang masih terbuka lebar, menyerah pada badai salju di luar dan badai yang lebih dahsyat di dalam dirinya. Salju mulai menumpuk di rambut merahnya yang indah dan di bahunya yang gemetar, tapi dia tak peduli lagi.

Di tengah samudra salju yang putih dan kegelapan yang pekat, dua sosok berjalan berdampingan tanpa tujuan. Suara satu-satunya yang menemani mereka adalah derap kaki yang tenggelam dalam salju tebal dan raungan angin yang tak kenal ampun, menderu di antara pepohonan yang membeku.

Iago memimpin di depan, langkahnya pasti meski tak punya tujuan jelas, punggungnya tegak membelakangi Otto yang mengikutinya dengan setia.

Master... Apakah ini memang sesuai dengan rencana besarmu? pikir Otto dalam hati, ketakutan dan keraguan mulai menggerogoti pikirannya yang biasanya tenang. Atau... apakah ini semua salahku? Apakah aku yang memicu semua ini dengan kemunculanku yang gegabah?

"Master..." Otto akhirnya memberanikan diri untuk memecah kesunyian yang mencekam, suaranya hampir hilang ditelan terpaan angin yang dahsyat. "Master tidak kedinginan? Pakaian Master terlalu tipis untuk badai seperti ini."

Iago diam seribu bahasa, terus berjalan tanpa memperlambat langkah.

"Saya bisa meminjamkan jubah saya untuk Master. Saya sudah cukup hangat setelah di dekat api tadi."

Iago tetap tak bereaksi, seolah tidak mendengar.

"Master?" Otto merasa panik kecil mulai menjalari dadanya. "Master bisa sakit parah jika terus—"

"Otto." Iago berhenti tiba-tiba, begitu mendadak hingga Otto hampir menabraknya dari belakang. Dia masih membelakangi Otto.

"Y-ya, Master?" Otto merasa jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat.

Ini dia. Saatnya. Dia akan menghukumku karena gagal, karena membuat segalanya berantakan, batin Otto dengan perasaan pasrah.

Aku yakin Master marah besar padaku sekarang.

"Beritahukan semuanya padaku," perintah Iago dengan suara rendah.

"Ya?" Otto bingung, tidak memahami maksud tuannya yang ambigu. "Maksud Master... tentang apa?"

Lalu, dengan gerakan yang lambat, Iago berbalik. Di tengah amukan badai salju yang dahsyat, di balik awan tebal, wajahnya yang pucat dan mata hitamnya menatap lurus ke arah Otto.

"Ceritakan semuanya," ulang Iago. "Rencana diriku yang lama. Tentang Organisasi IV. Tentang siapa aku sebenarnya."

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!