NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

BAB 5: Catur Sang Kaisar dan Pintu yang Terkunci

Gema notifikasi di tablet pribadi Takeshi Shimada pagi itu bukan sekadar pesan biasa. Itu adalah guncangan tektonik dalam dunia bisnis global. Sebuah pesan terenkripsi tingkat militer, dengan segel digital berlambang elang emas Hohenzollern, mendarat di pusat komando kediaman Shimada. Isinya singkat, dingin, namun mematikan: Aurelius Renzo von Hohenzollern mengundang Takeshi Shimada untuk jamuan makan malam privat di "L'Éclat du Ciel". Pukul 20.00.

Takeshi, pria yang biasanya memandang rendah seluruh pengusaha di Asia, merasakan tangannya sedikit bergetar. Ia segera memanggil Kaito. "Persiapkan dirimu, Kaito! Sang Pewaris Hantu akhirnya menampakkan diri. Jika kita bisa mengamankan kontrak malam ini, keluarga kita tidak akan hanya menjadi nomor tiga. Kita akan menginjak dunia."

Di sisi lain Tokyo, Hana Asuka sedang berada di ambang keputusasaan. Rasa perih di rahangnya akibat cengkeraman Kaito semalam tidak sebanding dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Dengan alasan ingin membeli keperluan pribadi yang mendesak, ia berhasil mengelabui pengawal barunya selama tiga puluh menit. Ia berlari, napasnya tersengal, menuju satu-satunya titik koordinat yang ia anggap sebagai rumah.

Namun, saat kakinya menginjak aspal berdebu di depan Kuroda Motor, dunianya seolah runtuh. Pintu besi besar itu tertutup rapat. Gembok baja hitam yang dingin dan berat menggantung di sana, mengunci segala kenangan tentang teh hangat dan suara rendah yang menenangkan. Tidak ada deru mesin. Tidak ada aroma oli. Tidak ada Ren.

Hana memukul pintu besi itu dengan tangan kosong. Duk! Duk! Duk! "Ren-san! Ren! Buka pintunya!" teriaknya, suaranya pecah di tengah kesunyian distrik Ota. Ia mencari-cari celah, mengintip melalui lubang kunci, namun di dalam hanya ada kegelapan yang hampa. "Kenapa kau pergi? Kau bilang ini tempat perlindungan... kenapa kau meninggalkanku?"

Frustrasi dan air mata yang mengalir tak terbendung membuatnya terduduk di depan pintu itu. Ia merasa dikhianati oleh takdir. Tempat satu-satunya di mana ia merasa menjadi manusia kini telah lenyap, seolah-olah sosok Ren Kuroda hanyalah halusinasi dari pikirannya yang lelah. Dengan sisa tenaga, ia bangkit, menghapus air matanya, dan kembali ke mobil perusahaan dengan wajah yang mengeras seperti porselen retak. Ia kembali ke kantor, memaksakan diri bekerja dengan mesin pencari di kepalanya yang terus bertanya-tanya: Ke mana kau, Ren?

Malam tiba dengan kemegahan yang mengintimidasi. L'Éclat du Ciel, restoran paling eksklusif di Tokyo yang terletak di puncak menara tertinggi milik keluarga Hohenzollern, telah dikosongkan untuk satu tamu. Takeshi Shimada melangkah masuk dengan asisten pribadinya, melewati deretan pelayan yang membungkuk kaku. Udara di dalam ruangan itu terasa berat, seolah oksigen di sana hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kekuasaan mutlak.

Di meja bundar paling tengah, menghadap pemandangan lampu-lampu Tokyo yang seperti hamparan berlian, seorang pria duduk dengan santai.

Ia tidak berdiri untuk menyambut tamunya.

Aurelius Renzo—pria yang selama ini disembunyikan dunia—tampak seperti dewa kematian yang sedang beristirahat. Ia mengenakan kemeja hitam berbahan sutra terbaik yang kancing atasnya terbuka, dibalut jas hitam yang dijahit sempurna. Sebuah mantel hitam panjang tersampir di bahu lebarnya, memberikan siluet yang mengintimidasi. Di tangan kanannya, sebuah cerutu tipis mengepulkan asap kelabu ke udara, aromanya maskulin dan sangat mahal.

Takeshi tertegun. Pria di depannya ini... meskipun tertutup cahaya remang, memiliki aura yang belum pernah ia temui sepanjang hidupnya. "Tuan Aurelius Renzo? Suatu kehormatan besar bagi keluarga Shimada bisa memenuhi undangan Anda," ucap Takeshi dengan nada yang paling hormat yang bisa ia buat.

Aurelius tidak menjawab segera. Ia menyesap cerutunya, mengembuskan asapnya perlahan ke arah Takeshi, seolah-olah pria tua di depannya itu hanyalah partikel debu yang mengganggu pandangannya. Matanya yang tajam dan sedingin es menatap Takeshi tanpa emosi.

"Duduklah, Shimada," suara Aurelius keluar. Itu adalah suara yang sama dengan Ren si mekanik, namun kali ini, kelembutannya telah hilang, digantikan oleh otoritas yang mutlak dan mematikan.

Takeshi duduk dengan kaku, asistennya berdiri di belakang seperti patung. "Saya mendengar Anda tertarik dengan ekspansi energi di Asia. Keluarga Shimada memiliki infrastruktur yang—"

"Aku tidak memanggilmu ke sini untuk mendengarkan presentasi membosankanmu, Takeshi," potong Aurelius. Ia meletakkan cerutunya di asbak kristal, lalu mencondongkan tubuh ke depan. Cahaya lampu mengenai wajahnya secara langsung, dan jika Hana berada di sana, ia mungkin akan pingsan melihat bahwa "Ren" yang lembut kini telah berubah menjadi predator puncak yang mengerikan.

Aurelius menatap Takeshi dengan tatapan yang seolah bisa menembus tengkorak pria itu. "Aku memanggilmu ke sini untuk menawarkan sebuah kerja sama. Sebuah merger antara Hohenzollern Group dan Shimada Global untuk proyek satelit energi di Pasifik. Aku akan menyuntikkan dana sebesar lima triliun yen ke perusahaanmu besok pagi."

Takeshi menelan ludah. Lima triliun yen? Itu adalah jumlah yang bisa membuat keluarganya melampaui posisi kedua dunia dalam semalam. "Syaratnya, Tuan Aurelius? Tidak ada uang sebesar itu tanpa syarat."

Aurelius tersenyum—sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahan. Ia menyandarkan punggungnya kembali, mantel hitamnya bergerak mengikuti bahu lebarnya. "Syaratnya sederhana. Aku ingin kontrol penuh atas aset domestikmu di Jepang. Termasuk seluruh kontrak yang kau miliki dengan Asuka Group."

Takeshi ragu sejenak. "Asuka Group? Itu hanya perusahaan kecil yang kami gunakan untuk—"

"Aku tidak bertanya pendapatmu," desis Aurelius, suaranya kini seberat hantaman palu. Ia mengambil sebuah tablet dan menggesernya ke arah Takeshi. Di sana terpampang data kerugian rahasia keluarga Shimada yang bahkan Takeshi sendiri belum mengetahuinya. "Kau sedang di ambang kehancuran teknis karena kegagalan investasi di Eropa Timur. Aku tahu itu. Anakmu, Kaito, adalah pecundang yang menghamburkan uang untuk ego pribadinya. Tandatangani kontrak kerja sama ini, dan aku akan menyelamatkanmu. Tolak, dan besok pagi, keluarga Shimada akan menjadi sejarah."

Takeshi berkeringat dingin. Ia melihat kontrak itu—sebuah rencana jahat yang terlihat seperti penyelamatan, namun sebenarnya adalah jerat leher. Dengan menandatangani ini, ia memberikan kunci "kerajaannya" kepada Aurelius secara sukarela. Namun, ia tidak punya pilihan.

"Aku akan menandatanganinya," suara Takeshi bergetar.

Aurelius mengambil kembali cerutunya, matanya berkilat penuh kemenangan yang gelap. "Pilihan cerdas. Namun, ada satu hal lagi, Takeshi." Aurelius berdiri, mantel hitamnya berkibar pelan. Ia melangkah mendekati Takeshi hingga bayangannya yang besar menelan pria tua itu. "Beritahu putramu, Kaito. Jika dia berani menyentuh apa yang bukan miliknya lagi, aku tidak akan hanya menghancurkan perusahaannya. Aku akan menghancurkan setiap inci kehidupannya hingga dia berharap tidak pernah dilahirkan."

Aurelius berbalik, meninggalkan Takeshi yang gemetar di kursinya. Saat ia berjalan menuju pintu keluar, Yoto sudah menunggu dengan pintu mobil yang terbuka.

"Tuan Muda, semua berjalan sesuai rencana," bisik Yoto.

Aurelius masuk ke dalam mobil, melepaskan mantelnya. Ia menatap ponselnya, melihat foto Hana yang sedang menangis di depan bengkelnya tadi siang melalui kamera tersembunyi yang dipasang Julian. Tangannya mengepal kuat. "Beri tahu Julian untuk memulai fase kedua. Besok, aku ingin Kaito Shimada melihat bahwa uang yang dia banggakan hanyalah debu di bawah kakiku. Dan pastikan Hana mendapatkan 'pesan' bahwa pelindungnya tidak pernah pergi."

Di kegelapan kabin mobil, Aurelius Renzo kembali menjadi dingin. Ia bukan lagi Ren yang memberikan teh hangat; ia adalah kaisar yang sedang mempersiapkan panggung untuk pembantaian musuh-musuhnya demi seorang wanita yang ia tandai sebagai miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!